• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memang cukup banyak kelompok yang mengusung gagasan Marxisme untuk masuk dalam perdebatan konsep kaum pergerakan nasional di Indonesia. Tetapi paling tidak kita bisa dengan pasti mengatakan bahwa kaum pergerakan nasional cukup banyak dipengaruhi oleh Marxisme beserta derivart nya. Ide Marxisme bisa diidentifikasi sebagai sebuah modal gagasan yang cukup kaya dalam wacana berfikir kaum muda intelektual, yang kemudian di sinergiskan dengan konteks budaya nya pada masa itu. Sehingga mendorong kaum muda intelektual untuk melakukan pergerakan kemerdekaan nasional, terlebih ide itu melekat dalam aktivitas perjuangan kemerdekaan. Dalam kondisi ini pandangan kita akan mengarah pada sebuah situasi tertentu bahwa, peletatakan batu fondasi kemerdekaan juga diiringi dengan konsep-konsep perjuangan Marxisme. Jadi penting bagi kita untuk meneropong dan mencacah kembali proses rekonstruksi nasionalisme, dalam iklim apa wacana nasionalisme Indonesia tumbuh.

Dalam posisi ini kita berupaya kembali melacak sejarah sosialisme di Indonesia, yang tanpa menghilangakan aspek kesejarahan sosialisme itu sendiri. Cakrawala Sosialisme-Demokrasi adalah manifestasi politik yang dilahirkan melalui saluran pikiran Marxisme, yang kemudian

ditangkap oleh Bapak bangsa10 (Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka) sebagai gagasan perjuangan dan lantas di reintepretasi kedalam beberapa varian. Ide sosialisme yang kemudian dipahami sebagai jawaban atas isu ‘kesejahteraan’ yang melanda seluruh rakyat jajahan colonial, namun disisi lain ada persoalan kebangsaan yang harus di rekonstruksi menjadi gerakan kemerdekaan nasional.11

Pada awal-awal masuk gagasan sosialisme ke Indonesia sangat jelas dibawa oleh para aktivis Belanda yang kontra-Imperialisme dan dampak posistiv dari politik etis yang hanya bisa di nikmati anak muda kelas menengah ke atas. Namun dalam studi Mintz tentang akar sosialisme di Indonesia, menjelaskan bahwa Marxisme pertama kali dibawa oleh ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) atau Serikat Sosial Demokrasi Indonesia. Organisasi politik ini di didirikan (1914) sekaligus dipimpin oleh H.J.F.M Sneevliet, yang banyak bersinggungan dengan para intelektual pribumi dalam NIP (Nationale Indische Parij) dimana kedua nya sama-sama berafiliasi dengan poros perpolitikan SDAP (Sociaal Democratische Arbeider Parij) atau Partai Pekerja Sosial Demokrat di Belanda (Mintz, 2002: 29-31). Dan kemudian dalam perkembangan aktivitas nya partai ini banyak melahirkan organisasi maupun partai politik dikemudian hari. Dalam dimensi ideologi ini kita mulai melihat bahwa cita-cita kemerdekaan nasional, dibangun diatas kesadaran sebuah penindasan yang berpijak diatas karpet sosialisme. Hal ini yang kemudian memungkinkan terjadi sebuah epicentrum perjuangan yang hegemonic untuk mendirikan republic,dan atas keikutsertaan setiap kelompok pergerakan nasional (yang tidak terbatas pada keyakinan ideologis saja).

10

Dalam penulisan berikut nya ‘Bapak Bangsa’ dimaksudkan kepada Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka

11

Bukan berarti mengkonfrontasi dua diskursus ideology yang berbeda yaitu ‘sosialisme’ dan

‘nasionalisme’ akan tetapi dalam konteks perjuangan kemerdekaan menjadi satu kesatuan dalam rangka membangun kesadaran politik identitas.

Dengan fenomena ini kita tidak bisa menutup mata bahwa pergolakan pemikiran soal kemerdekaan dan nasionalisme Indonesia cukup di tancapkan dalam jalan pikiran barat. Hal ini terbukti ketika SDAP dengan sadar mendirikan sebuah biro pers jajahan (Persindo) yang di pimpin oleh L.N Palar yang sebelumnya memang pernah memimpin SDAP (Mintz, 2003: 67).

Proses-proses ini bisa kita pahami sebagai sebuah sikap dukungan politik kaum social-democrat Belanda, yang memang secara sadar di konstruksi kembali oleh para kelompok intelektual dalam rangka mengambil jarak dan batasan-batasan terhadap politik colonial (political frontier).12

12

Demarkasi politik yang dilakuakn memang belum mencakup secara utuh konsep ‘bangsa’ (nation) dikarenakan proses ini masih di dorong oleh kaum Sosdem Belanda, namun posisi-posisi ini bisa dikategorikan sebagai titik-titik perlawan (antagonism) terhadap politik kolonialisme yang akan terakumulasi dalam politik identitas kebangsan.

Sehingga lembaga-lembaga yang dijadikan saluran untuk berjuang secara demokratis yaitu partai politik, organisasi serikat-serikat dan pers memiliki peranan yang cukup significan untuk terus melakukan pembentukan identitas politik secara intensive. Seiring dengan perjuangan yang demokratis, para kaum terpelajar juga mengerjakan sebuah project besar yang kita sebut dengan

Imagine Community. Dalam proses-proses ini ada yang perlu dijelaskan bagaimana dinamika itu berjalan dan kemudian melahirkan blok historis (a new historical block) sebuah ‘ke-Indonesiaan’ yang mulai di perlihatkan oleh kaum muda intelektual. Wacana serta propaganda anti-kolonial dan perlawan-perlawan fisik adalah bukti kongkrit dari pekerjaan para kaum muda dan intelektual pada saat itu. Aktivitas ini terus terartikulasi menjadi sebuah imajinasi Indonesia Merdeka (Nation of Freedom), sampai titik ini kita boleh berpendapat bahwa pikiran-pikiran yang di formulasikan oleh Bapak bangsa cukup berhasil utuk membangun sebuah kesadaran bangsa yang merdeka.

Kegusaran kaum muda tidak berhenti pada posisi-posisi kesadaran kolektiv yang dibangun oleh media local pada saat itu, akan tetapi ada persoalan ekonomi yang juga menjadi pembatas antara pribumi dan colonial. Dalam karya Nasionalisme dan Revolusi Indonesia, Kahin menuliskan bahwa terjadi sebuah kegagalan pemerintah kolonial dalam pendistribusian pekerjaan terhadap kaum pribumi yang mengenyam pendidikan Barat. Mayoritas dari mereka justru mendapatkan pos-pos pekerjaan dimana membuat mereka berfikir bahwa keilmuan yang pernah diterima nya di negri Belanda kurang dihargai. Lantas kemudian kelompok-kelompok inilah yang menjadi avant- garde terhadap pergerkan kebangsaan karena memiliki modal intelektual yang cukup untuk menghasilkan para pemimpin baru ketimbang kalangan Pan-Islamisme yang lebih dulu ada (Kahin, 1995: 64). Pada awalnya pendidikan Barat digunakan colonial untuk melawan pikiran- pikiran Pan-Islamisme, ternyata kemampuan berbahasa Belanda kaum muda digeluti dalam ekstrakulikuler yang bersinggunan dengan politik, untuk mulai mengenal pikiran-pikiran Barat; Marx, Locke, Rousseau, Mazzini, Sorel, bahkan pikiran-pikiran Utopia Sosialis. Bukan hanya itu mereka juga membaca pikiran orientalis seperti Gandhi, Sun Yat Sen, dan Tigore (Kahin, 1995, 65). Ini satu fakta sejarah yang membuktikan bahwa alam sekolah Barat di Belanda pada saat itu yang mengajarkan nilai-nilai demokrasi, keadilan, kesetaaan dan hak-hak sebagai manusia lain nya, juga membentuk sebuah cara berfikir baru dari anak-anak muda yang tanah kelahiran nya sedang terjajah secara fisik dan mental. Di kemudian hari dengan adanya politik etis di Hindia- Belanda semakin membuka peluang anak-anak muda untuk belajar di sekolah-sekolah Belanda dengan dengan bobot penghetauan yang tidak jauh berbeda di Negri Belanda.

Situasi ini memberikan keyakinan pada kita bahwa proses kesadaran nasionalisme tidak tumbuh begitu saja, meskipun pengaruh pendidikan barat cukup kuat akan tetapi ada latar belakang sosio- ekonomi, politik, keyakinan (agama), bahasa dan sosio-kultural masyarakat (budaya dan tradisi)

yang juga memberikan kontribusi dalam membentuk kesadaran nasional. Segala sapek ini teragregasi menjadi satu kemudian membentuk system pembeda (nodal points) terhadap sesuatu yang meraka anggap musuh atau ‘the others’. Dalam konteks ini kita bisa membayangkan bahwa basis-basis pokok pembentuk kesadaran ‘nasional’ teragregasi dalam sebuah lokus kemudian bertindak vis a vis dengan pemerintahan colonial. Greak ini bersinergi dengan kemunculan lembaga-lembaga formal yang bisa dijadikan media berjuang seperti; sekolah, organisasi politik (intelektual dan pemuda), serikat-serikat, dan pers, meskipun motivasi kemunculannya memiliki latar belakang yang yang berfariatif (agama, primordialisme, ideology).

Proses-proses itu sebenarnya juga didukung secara teoritis dalam perspektif antropologi, para Antropolog yang yang mengusung paradigm ‘modernism’ cukup memiliki kesamaan dalam sudut pandang dalam proses pemebentukan kesadaran di Indonesia. Paling tidak Anthony D Smith menuliskan, dalam perkembangan-perkembangan historis yang memberikan substansi terdapat apa yang disebut ‘modernis’, modernis kemudian muncul dalam dua bentuk yaitu modernis kronologis dan sosiologis. Secara makna modernis kronologis dapat digolongkan bahwa

nasionalisme –yakni Ideologi, gerakan, dan simbolisme- relative masih hangat. Sedangkan sosiologis juga baru secara kualitatif. Kemudian Smith kembali mempertanyakan soal fenomena nasional dengan cirri-ciri modern, apa factor pendorong bangkitnya bangsa, negara nasional, dan nasionalisme? Pertnayaan ini dapat di jelaskan dalam paradigma ‘modernis’ dengan beberpa sudut pandang yang berbeda (Smith, 2001: 58-62).13

13

Sudut pandang itu secara singkat dapat dijelaskan; 1.Sosio-ekonomi: dimana nasiolasime berangkat dari factor ekonomi social (kapitalisme industry, konflik kelas) pandangan ini di dukung oleh Tom Nairn dan Michael Hecter. 2.Sosio-budaya: nasionalisme merupakan proses sosiologis yang didorong oleh intelektualitas secara massiv sehingga melahirkan ‘budaya tinggi’ (kemajuan modernitas dan

Dengan meminjam kerangka Smith, kita akan mengelaborasi lebih jauh pada temuan Kahin dimasa awal-awal revolusi nasional. Temuan Kahin yang cukup penting untuk pijakan kita adalah soal rivalitas kaum Nasionalis (sekuler) dan Pan-Islamisme dalam mengisi gerakan kebangsaaan. Dia menuliskan bahwa kaum muda yang mendapatkan pendidikan barat lebih banyak menjadi pucuk pimpinan organisasi pergerakan, ketimbang kaum Pan-Islamisme yang terikat pada tradisi dan agama. Disini kita melihat dalam spectrum yang lebih luas bahwa gagasan sekuler cukup mendominasi dalam soal ide dan agama tertinggal selangkah dibelakang nya. Disini intelektualitas menjadi titik tekan dalam pergerakan, karena intelektual juga menjadi pintu gerbang dalam bergaul dengan pikiran-pikiran global. Jadi kita akan terfokus pada kelompok- kelompok intelektual yang menggairahkan perjuangan nasional.

Penekanan dalam pembahasan kaum intelektual memang sebuah tema peting yang tidak bisa dipisahkan dalam proses pergolakan revolusi nasional. Bukan berarti tidak memasukan kaum- kaum agamawan yang juga berperang secara fisik (geriliya) dihutan-hutan pedalaman dalam pergolakan revolusi, akan tetapi apabila kita mengacu pada soal diskursus kemerdekaan secara luas, kaum nasionalis yang dilahirkan dengan intelektualitas barat cukup mewarnai opini kemerdekaan pada masa itu. Bahakan sebenarnya pembangkangan kaum muda terpelajar kepada pemerintahan colonial adalah sebuah arus balik dari politik etis itu sendiri, dimana awalnya

industrialisasi) pandangan ini di dukung Ernest Gellner. 3.Politik: nasionalisme di tempa dalam sebuah negara yang modern dan professional baik secara tegas berlawanan dengan Imperialisme (colonialism) pandangan ini di dukung oleh John Breuilly, Anthony Giddens. 4.Ideologis: konsep yang dipinjam dari kebangkitan nasionlaisme eropa masa klasik untuk melawan oligarki kerajaan (egalitarian) dan bersifat semi-religius, pandangan ini didukung Elie Kedourie. 5.Konstruksionis: sebuah konsep nasionalisme yang berbeda, menekan kan pada konsep nasionalisme modern dimana itu adalah produk dari sebuah rekayasa social yang dilakukan elite untuk mempengaruhi secara massive. Nasionlaisme dianggap sebagai sebuah imaginasi untuk mengisi sebuah kondisi-kondisi krisis social yang terjadi. Pendapat ini di dukung oleh Eric Hobsbawm dan Ben Anderson.

colonial berfikir dengan menghegemoni pendidikan Barat dapat menggerus resistensi yang dilakukan oleh kelopmok Islam.

Sebagian kecil mahasiswa Indonesia yang belajar di negri Belanda, sangat dipengaruhi oleh kodisi-kondisi politis maupun ide-ide politis yang mereka temukan disana. Kebebasan hak-sipil dan pemerintahan demokratis yang mereka lihat di negri Belanda sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia. Mereka juga memiliki minat pada satu kenyataan bahwa sampai pada tahun 1929 (di negri Belanda) Partai Komunis adalah satu-satu nya yang bersuara untuk memberikan kemerdekaan penuh terhadap Indonesia. Dan dikemudian hari kaum Sosialis (Pratai Sosialis Demokrat) juga meberi kesan yang positive terhadap mahasiswa Indonesia, karena Sosialis- Demokrat juga member dukungan penuh terhadap kemerdekaan Indonesia (Kahin, 1995: 66).

Selain itu alkulturasi ide Marxisme terhadap budaya dan agama pun terjadi dikalangan mayoritas penduduk Indonesia. Ide Barat dipinjam sebagai sintaksis perjuangan untuk menjelaskan konsep kemerdekaan, persamaan, dan imperialisme barat. Pada waktu yang bersamaan terjadi tinggi nya toleransi keagamaan dan ideology politik pada orang Indonesia, kondisi ini memberikan ruang kepada banyak orang untuk memadukan Marxisme dan keyakinan beragama mereka dalam rangka membangun langkah strategis. Pencerahan yang didorong mayoritas kaum terpelajar ini melahirkan kondisi yang bersifat egalitarian dan pada sebuah tataran konsep Sosialis-Marxisme, yang bersifat oposisi terhadap kapitalisme (Kahin, 1995: 69).

Penerimaan secara linear dan gradual masyarakat Indonesia terhadap pikiran barat adalah sebuah langkah maju dalam dimensi pergerakan politik anti-kolonial. Karena dengan adanya pintu gerbang pencerahan intelektual secara massiv, berdampak pada sebuah fase evolusi politik.

Pergolakan politik ini, dengan tegas memang di motori terhadap berkembangnya akses pendidikan secara public, tetapi kita juga harus mencatat ada semangat mengorganisir secara pribadi dan kelompok yang tumbuh pada kalangan muda masa itu. Semangat ini bisa dicirikan sebagai sebuah fase modern, dimana perlawan politik telah memiliki orientasi dan konsep berjuang dengan landasan ideologis. Maka dari itu, selain memahami muncul nya gagasan- gagasan baru (barat), lahirnya organisasi politik, pers-media dan serikat-serikat adalah sebuah alat (organisasi) yang dibentuk untuk menerjemahkan gagasan-gagasan barat dalam ruang public. Setidak nya para sejarawan cukup giat dalam mencatat sejarah masa pergolakan politik dengan mencantumkan perkembangan dan pengaruh dari organisasi politik, pers-media, dan serikat- serikat yang ada sebagai landasan otentik pergerakan politik.

EVOLUSI

POLITIK:

KEMUNCULAN

ORGANISASI

POLITIK

DALAM

PERJUANGAN

Garis besar

Dokumen terkait