PROFESI PERTOLONGAN LAINNYA
5. Pekerja Sosial – Psikiater
Seorang Pekerja Sosial bukanlah seorang Psikiater tanggung. Peranan-peranan Pekerja Sosial dan Psikiater tentunya berbeda. Namun, keduanya dapat bekerja sama. Seorang Psikiater dan seorang Pekerja Sosial seringkali harus bersama-sama menjadi anggota suatu tim profesional, dan keduanya memberikan sumbangan yang berbeda sesuai dengan bidang keahlian masing-masing, sehingga menghasilkan suatu kegiatan profesional secara terkoordinasi.
Noyes dan Kolb mendefinisikan Psikiater sebagai suatu cabang dari ilmu kedokteran yang berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut keturunan, dinamika-dinamika, manifestasi-manifestasi, pengobatan terhadap penyakit serta pelaksanaan fungsi-fungsi
individu atau mengganggu hubungannya dengan orang lain atau hubungannya dengan masyarakat” (Arthur P. Noyes and Lawrence C. Kolb, Modern Clinical Psychiatry, 1961, hlm.1)
Seorang Psikiater dan Pekerja Sosial mempunyai banyak persamaan. Keduanya bekerja dengan orang-orang yang mengalami masalah-masalah pribadi dan sosial. Keduanya membantu orang untuk meningkatkan kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain. Keduanya menaruh perhatian kepada kepekaan, dan kemampuan orang untuk memahami dan mengarahkan perasaan-perasaan dan emosi- emosinya.
Berikut dipaparkan beberapa aspek yang dapat membedakan antara profesi Pekerja Sosial dengan seorang Psikiater:
Tabel 4
Perbedaan antara Profesi Pekerja Sosial dengan Psikiater Bidang Profesi
Aspek Perbedaan Psikiater Pekerja Sosial Cara Memandang
Permasalahan Klien
Psikiater terutama berhubungan dengan ke- dalam-an masalah-masalah pribadi dan sosial
Pekerja Sosial terutama berhubungan dengan ke-luas-an masalah-masalah pribadi dan sosial
Fokus Penanganan Permasalahan
Psikiater menyelidiki dan menangani motivasi bawah sadar dan faktor-faktor di dalam pribadi klien, terutama bekerja guna mengadakan reorganisasi kepribadian secara individual.
Pekerja Sosial mendayagunakan sumber-sumber lingkungan dan biasanya beroperasi di dalam atau dengan tingkah laku yang disadari oleh klien
Penggunaan Sumber di Luar Diri Klien
Psikiater berhubungan dengan pasien-pasien dengan dasar ilmu kedokteran, memberikan resep dan mengirimkan pasien ke rumah sakit – jika
diperlukan –
Pekerja Sosial cenderung untuk menggunakan keseluruhan sumber-sumber di masyarakat, kadangkala menggunakan berbagai sumber materiil, ekonomi, dalam memperbaiki antarhubungan sosial
Cakupan Klien yang Dihadapi
Seorang Psikiater biasanya menghadapi gangguan- gangguan mental perorangan.
Pekerja Sosial lebih sering bekerja menghadapi lembaga perkawinan atau keluarga sebagai suatu kesatuan daripada
menghadapi orang secara perseorangan.
Fokus Praktik Psikiater menekankan kepada dinamika-dinamika internal di dalam pribadi orang dari tingkah laku individu, biasanya berupa gangguan- gangguan mental
Pekerja Sosial terutama menaruh minat pada kemampuan orang untuk melaksanakan fungsi sosialnya yang mencakup faktor-faktor sosial dan lingkungan masyarakat, serta interaksi- interaksi di antara orang dengan orang-orang lain, dan di antara orang dengan lingkungannya. Untuk lebih mudah memahami Pekerjaan Sosial dalam kaitannya dengan bidang-bidang disiplin lain, kiranya perlu selalu diingat bahwa Pekerjaan Sosial adalah suatu profesi, dan salah satu karakteristik profesi adalah adanya suatu kerangka pengetahuan yang mendasari praktiknya. Pekerjaan Sosial mengambil berbagai konsep, dalil, hukum, maupun teori dari berbagai disiplin ilmu yang mempunyai objek penelaahan atas manusia. Dengan dasar-dasar pemahamannya terhadap manusia yang diperolehnya dari berbagai disiplin ilmu yang lain, serta pertimbangannya terhadap nilai-nilai sosial budaya yang berlaku ditempatnya melaksanakan praktik, dan pemahamannya terhadap diri sendiri; maka Pekerja Sosial melaksanakan praktik profesionalnya, yang seringkali dilakukan melalui kerjasama, bahkan tumpang tindih dengan praktik-praktik profesi-profesi lain.
KEGIATAN BELAJAR 2
DASAR PENGETAHUAN PEKERJAAN SOSIAL
Menurut Johnson & Schwartz (19951), dasar pengetahuan (knowledge base) pengetahuan pekerjaan sosial umumnya terdiri dari:
1. Pengetahuan yang diperoleh dari ilmu alam, sosial, dan perilaku;
2. Pengetahuan yang dikembangkan dari para pekerja sosial sendiri berdasarkan pengalaman dalam melakukan dan membantu orang, dikatakan sebagai “pactice wisdom”;
3. Pengetahuan yang dikembangkan melalui upaya-upaya penelitian.
Pengetahuan-pengetahuan tersebut akan tidak ada relevansinya kecuali kalau jika menggabungkannya dalam usaha pertolongan. Selanjutnya Siporin (1975) menyatakan bahwa dasar pengetahuan dapat dibagi menjadi dua bagian komponen praktik, pengetahuan assessment dan pengetahuan intervensi. Pengetahuan assessment memungkinkan pekerja sosial untuk menilai dan memahami perhatian (urusan), kebutuhan, dan masalah-masalah manusia sesuai dengan situasi yang mereka hadapi. Pengetahuan intervensi adalah pengetahuan yang digunakan oleh pekerja sosial untuk melakukan proses pemecahan masalah, yaitu membantu perseorangan, kelompok- kelompok, atau masyarakat agar secara efektif mampu manghaapi permasalahan. Pengetahuan intervensi biasanya spesifik pada permasalahan klien, seting lembaga, dan bidang praktik khusus.
Lebih lanjut Johnson & Schwartz menyatakan , seorang pekerja sosial harus memperluas dasar pengetahuan namun tetap dengan batasan pengetahuan sebagai berikut:
1. Pengetahuan mengenai perkembangan dan perilaku manusia, yang menekankan suatu pandangan holistik manusia dan dengan timbalbalik pengaruh lingkungan, termasuk pengaruh- pengaruh sosial, psikologis, ekonomik, politik dan budaya. Sumber utama dari bagian dasar pengetahuan ini diperoleh dari kekuatan dan keluasan pendidikan yang ada. Hal ini termasuk: a. Pengetahuan yang diperoleh dari ilmu-ilmu sosial dan
perilaku: sosiologi, psikologi, antropologi, sejarah, ilmu politik, dan ekonomi
b. Pengetahuan yang diperoleh dari ilmu alam guna memahami aspek-aspek fisik keberfungsian manusia; dan
c. Pengetahuan yang diperoleh melalui studi dalam kemanusiaan yang membantu menjelaskan kondisi kemanusiaan dengan menjelaskan budaya filofosi, dan cara- cara berfikir dan berekspresi kondisi manusia.
2. Pengetahuan mengenai hubungan dan interkasi manusia. Di sisni termasuk pengetahuan komunikasi manusia, pemahaman orang-per-orang, keluarga, kelompok kecil, dan hubungan dan interaksi kelompok-per-kelompok, sebagaimana juga hubungan dan interaksi antara individu-individu, kelompok-kelompok, dan organisasi dan kelembagaan masyarakat.
3. Pengetahuan mengenai teori-teori praktik pekerjaan sosial yang sesuai (siap digunakan) dalam interaksi, proses pertolongan , serta metode dan strategi intervensi yang tepat untuk berbagai situasi praktik.
yang menyediakan pelayanan terhadap orang yang membutuhkan pertolongan, dan pengetahuan sejarah pergerakan yang telah mempengaruhi kebijakan, dampak kebijakan sosial terhadap keberfungsian manusia, dan peran pekerja sosial dalam pengembangan kebijakan sosial.
5. Self-knowledge (pengetahuan diri), yang membuat sadar para pekerja sosial dan melakukan tanggungjawab terhadap emosi, nilai-nilai, sikap-sikap dan tindakan sendiri, ketika mereka melakukan praktik profesional.
6. Pengetahuan khusus yang memungkinkan pekerja sosial bekerja dengan kelompok populasi tertentu atau situasi praktik tertentu. Pengetahuan ini termasuk klien, seting praktik, dan badan pelayanan khusus.
Sedangkan Morales & Sheafor (1980) mengidentifikasi terdapat lima jenis pengetahuan yang dibutuhkan oleh pekerja sosial, yaitu dasar pengetahuan pekerjaan sosial umum, pengetahuan mengenai seting praktik khusus, pengetahuan mengenai badan pelayanan khusus, pengetahuan mengenai klien khusus, dan pengetahuan mengenai kontak khusus. Sebagaimana terlihat pada gambar berikut:
Luas P e n ge ta h u a n D a sa r Mendalam D a r i U m u m k e K h u su
Gambar: Kebutuhan Pengetahuan Pekerjaan Sosial, Morales & Sheafor (1980) Pengetahuan Pekerjaan Sosial Umum Pengetahuan Mengenai Seting Praktik Khusus
Pengetahuan Mengenai Badan Pelayanan Khusus Pengetahuan mengenai Klien Khusus Pengetahuan Ttg. kontak Khusus
Gambar 2. Model Praktik Pekerjaan Sosial Profesional, Siporin (1975)
Model praktik pekerjaan sosial profesional yang dikembangkan oleh Max Siporin tidak terlepas dari pengertian pekerjaan sosial sebagai ‘constelltion of value, purpose, sanction, knowledge and methode’. Praktik pekerjaan sosial secara umum mengacu pada pengetahuan- pengetahuan berikut:
1. Perkembangan manusia dan karakteristik tingkah laku yang menekankan pada kesatuan individu dan pengaruh timbal balik
Fungsi Kemasyarakatan dan Tugas Sosial
Metode, Proses, Peran pertolongan Keterampilan dan Gaya dalam
Assessment Perencanaan
Intervensi Evaluasi
Etika Basic Teknikal Praktik Model Pertolongan Praktik Prinsip-Prinsip dan Teori Prinsip-Prinsip
Pendekatan Teori Khusus Filosofi Ideologi Pengetahuan Dasar Ilmu Terapan Teori Praktik Kegiatan Intervensi
dari manusia dan lingkungan totalnya – manusia, sosial, ekonomi dan budaya.
2. Psikologi memberi dan menerima bantuan dari orang lain atau sumber di luar individu.
3. Cara-cara dimana orang-orang berkomunikasi satu dengan yang lainnya dan memberikan tanggapan terhadap perasaan terdalam, seperti kata-kata, sikap dan kegiatan.
4. Proses kelompok dan efek dari proses kelompok terhadap individu dan pengaruh timbal balik dari individu terhadap kelompok.
5. Arti dan efek terhadap individu, kelompok dan masyarakat dari warisan budaya termasuk agama, nilai spiritual, hukum-hukum dan institusi sosial lainnya.
6. Hubungan, yaitu proses interaksional antara individu, antara individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok.
7. Masyarakat, proses internal, mode perkembangan dan perubahan, pelayanan sosial dan sumber dayanya.
8. Pelayanan sosial, struktur, organisasi dan metode-metodenya. 9. Diri sendiri, yang membuat seorang praktisi secara individual
mampu menyadari dan mengambil tindakan dan bertanggung jawab terhadap emosi dan sikapnya sendiri sebagaimana kedua hal tersebut mempengaruhi fungsi profesional pekerja sosial.
Tentu saja, kemampuan untuk berubah pada seseorang, tidak termasuk lingkungannya, memerlukan penerapan pengetahuan yang
usai atau pasti, pekerja sosial disarankan untuk mempertimbangkan keadaan umum dan untuk menyadari dan bersiap untuk berurusan dengan tingkah laku manusia yang spontan dan tidak dapat diperkirakan.
KEGIATAN BELAJAR 3
KEBUTUHAN PENGETAHUAN PEKERJA SOSIAL SAAT INI
Untuk menggambarkan pengetahuan dasar yang seharusnya dimiliki seorang pekerja sosial saat ini, modifikasi rumus konseptual yang dikembangkan oleh Kadushin cukup membantu. Rumusan ini mengidentifikasi lima tingkat pengetahuan pekerja sosial yang harus digunakan dalam proses pemberian bantuan. Pengetahuan ini berkisar dari pengetahuan umum digunakan oleh semua profesi hingga pengetahuan spesifik yang digunakan dalam berhubungan dengan kelayan secara individual.
Dengan menggunakan kerangka dasar konseptual tersebut, memungkinkan para pekerja sosial menguji pengetahuan dasar yang digunakan oleh seorang praktisi pekerja sosial dalam sebuah setting ‘koreksi’ pada saat ia bekerja dengan kelayan tertentu. Analisis kasus ini membantu mengidentifikasi pengetahuan dasar umum pekerjaan sosial, pengetahuan mengenai setting praktik yang spesifik (koreksi), pengetahuan mengenai institusi tertentu (fasilitas penangkapan tunasusila yang selalu siap), pengetahuan mengenai kelayan tertentu (kejahatan pada anak perempuan), dan pengetahuan mengenai kontak khusus/spesifik (wawancara awal).