KEGIATAN BELAJAR 2 Social Group Work
2. Treatment group
Istilah treatment group memiliki arti yang luas dan mencakup beberapa kelompok yang satu sama lain memiliki kemiripan tujuan. Toseland & Rivas mengemukakan 5 tipe treatment group, antara lain:
a. Growth groups
Growth groups didesain untuk mendorong dan mendukung perkembangan individual anggota kelompok. Anggapannya adalah bahwa individu dapat berkembang dengan cara membantu mereka mencapai pemahaman akan dirinya yang lebih mendalam. Pengalaman yang terjadi dalam growth groups ini terdiri dari berbagai macam aktivitas yang didesain untuk membantu para partisipan meraih tujuannya. Misalnya, growth group yang mefokuskan kegiatannya untuk membantu para pasangan agar bisa berkomunikasi lebih baik satu sama lainnya. Pendekatan latihan yang dilakukan bisa berupa mendengarkan keterampilan masing-masing, klasrifikasi nilai yang ada di antara pasangan, dan saling mengirimkan pesan yang jelas. Growth groups berfokus pada membantu individu meraih potensinya dan tanpa anggapan bahwa partisipan orang yang ikut serta didalamnya adalah mereka yang selalu mempunyai masalah.
b. Remedial groups
mengubah beberapa aspek dari perilaku klien. Istilah dari remedial group ini diartikan sebagai kelompok yang memiliki tujuan untuk menyembuhkan klien dari problematika pengalaman hidupnya. Fokus dari jenis kelompok ini adalah memperbaiki masalah yang dirasakan secara intrapersonal maupun interpersonal atau pada pembelajaran terhadap pemecahan masalah yang lebih baik dan terhadap gaya mengatasi masalah. Peran Pekerja Sosial memiliki visibilitas yang sangat tinggi di kelompok jenis ini. Pekerja Sosial bisa memulai perannya dengan menjadi direktur, menjadi tenaga ahli, tergantung pada kebutuhan dari kelompok itu sendiri, dan mungkin saja Pekerja Sosial bisa menjadi fasilitator kemajuan dari kelompok ini.
c. Educational groups
Merupakan sejumlah kelompok yang didesain untuk menyediakan informasi bagi para anggotanya tentang diri mereka sendiri ataupun tentang orang lain. Tujuannya adalah untuk mendidik atau mengajari anggota kelompok tentang beberapa isu atau topik. Hal tersebut bisa dilakukan melalui bermain peran, presentasi yang mendidik, aktivitas-aktivitas, dan diskusi. Contohnya kelompok orangtua pengadopsi yang prospektif, kelompok wanita dengan minat melahirkan dengan cara normal, kelompok praktik parenting. Sama dengan growth groups, educational groups ini bekerja dengan tanpa anggapan bahwa mereka yang menjadi anggota adalah mereka yang mempunyai masalah. Para Pekerja Sosial, sama seperti pada remedial group, bisa menjadi pemimpin kelompok ini. Pekerja
Sosial bisa melakukan banyak presentasi yang menyajikan informasi-informasi baru dan menjadai tenaga ahli dari kelompok tersebut.
d. Socialization group
Kelompok ini membantu partisipan dalam menjadikan kebutuhan akan keterampilan menjadi hal yang tersosialisasi di masyarakat. Anggapannya adalah bahwa anggota kelompok adalah orang-orang yang memiliki sedikit jenis keterampilan sosial. Contohnya, kelompok yang dikembangkan untuk remaja yang pernah mengalami perilaku menyimpang. Program konseling yang berbasis petualangan adalah salah satu contoh kegiatan yang dilakukan kelompok ini. Program ini menitikberatkan pada keterampilan fisik, uji keberanian, membangun kerjasama tim dan kepercayaan diri yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilan sosial mereka dan menyalurkan energi mereka kepada aktivitas sosial yang diakui masyarakat. Visibilitas peran Pekerja Sosial dalam kelompok ini termasuk dalam kategori tinggi. Pekerja Sosial bisa menjadi seorang direktur atau tim ahli yang mendesain program dan memimpin anggota kelompok melewati setiap proses dan latihan.
e. Mutual aid groups
Mutual aid groups merupakan sekelompok orang yang terdiri dari berbagi karakteristik tertentu untuk mendukung satu sama lain dengan saran, dukungan emosional, informasi, dan bantuan lainnya (Barker, 1991). Kelompok ini memiliki pemimpin yang
Istilah mutual aid group ini sering ditukarbalikan dengan istilah “self-help group” karena keduanya bertujuan menjadikan anggota-anggotanya saling mendukung satu sama lain. Tapi yang paling penting adalah istilah mutual aid group ini digunakan dalam Pekerjaan Sosial untuk menerangkan kelompok dengan pendekatan saling mendukung yang kuat. Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peran Pekerja Sosial dalam setiap jenis dari treatment group ini memiliki kesamaan dan perbedaan satu sama lainnya. Singkatnya, peran sebagai pemimpin memiliki visibilitas yang tinggi dalam educational groups, remedial groups, maupun socialization groups. Dalam setiap kasus, Pekerja Sosial bisa menjadi direktur, tenaga ahli, atau tokoh pemimpin.
Dalam Growth groups dan beberapa remedial groups Pekerja Sosial yang menjadi pemimpin dalam kelompok tersebut bisa menjadi fasilitator, yang secara sederhana membantu anggota kelompok mencapai tujuannya. Biasanya Pekerja Sosial akan bekerja lebih aktif pada tahap pertama perkembangan setiap jenis kelompok. Untuk tahap perkembangan yang lebih lanjut, peran Pekerja Sosial mengarah pada konsultan, tenaga ahli, dan peran panutan. Kebutuhan setiap jenis kelompok menentukan peran yang akan dimainkan oleh Pekerja Sosial. Jadi, Pekerja Sosial harus bisa “melueskan” atau membuat fleksibel dan memodifikasi tipe dan tingkat keterlibatan mereka dalam kelompok sesuai dengan kebutuhan. Para Pekerja Sosial juga perlu menggunakan keterampilan yang bervariasi tergantung pada tahap perkembangan kelompok, keterampilan para anggotanya, dan jenis dari kelompok itu sendiri.
Peran Pekerja Sosial dalam Kelompok diantaranya adalah sebagai:
1. Broker, yaitu semacam penghubung antara klien dengan pihak- pihak yang dapat membantunya
2. Mediator, yaitu Pekerja Sosial yang membantu menyelesaikan konflik, pertikaian ataupun perselisihan anggota kelompok 3. Educator, yaitu sebagai guru, Pekerja Sosial memberikan
informasi baru, model-model untuk membantu partisipan mempelajari keterampilan baru
4. Fasilitator, yaitu sebagai orang yang akan mempermudah dan meringankan jalan partisipan
Dasar Dinamika Kelompok
Setiap kelompok mengalami tahapan perkembangan, adapun tahapan perkembangan sebuah kelompok adalah sebagai berikut:
1. Tahap pertama, dalam tahapan ini semua anggota sangat bergantung dan mengharapkan arahan dari pimpinan
2. Tahap kedua, anggota mulai fokus pada dirinya sendiri, dan mulai mengambil tanggung jawab yang lebih besar
3. Tahap ketiga adalah tahap bekerja, dalam tahapan ini, anggota mulai menyukai berada dalam kelompok, dan memiliki gairah yang tinggi untuk bekerja
4. Tahap keempat adalah tahapan yang menunjukkan bahwa kelompok sudah mencapai tujuannya dan para anggota kelompok mulai terpisah secara emosi
Budaya Kelompok, Norma dan Kekuasaan
Setiap kelompok akan mengembangkan budayanya sendiri, termasuk didalamnya tradisi, kebiasaan dan nilai/kepercayaan yang dianut bersama oleh para anggotanya. Budaya ini akan menentukan bagaimana para anggota bereaksi dan berinteraksi satu dengan yang lainnya dan juga dengan pimpinannya.
Ukuran Kelompok, Komposisi dan Durasi
Beberapa hal ini perlu dipahami oleh Pekerja Sosial karena ada beberapa kelompok yang tidak bisa diganggu gugat (seperti keluarga; kita tidak bisa mengubah ukuran ataupun komposisinya), dan ada juga yang bisa diubah serta bersifat fleksibel.
Pengambilan Keputusan dalam Kelompok
Proses pengambilan keputusan dalam sebuah kelompok dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah:
1. Pengambilan keputusan dengan konsesus
Yaitu sebuah proses dengan jalan individu dan kelompok mencapai persetujuan umum tentang tujuan bersama dan cara untuk mencapainya
2. Pengambilan keputusan dengan kompromi
Kelompok mencari satu solusi yang hampir/sebagian besar anggota dapat mendukungnya, atau suatu keadaan yang mengharuskan seseorang berkata “dalam situasi ini, inilah yang bisa kita sepakati”
3. Pengambilan keputusan dengan Mayoritas
4. Diputuskan/keputusan tergantung oleh individu
Hal ini terjadi bila ada satu orang yang sangat dihargai (ditakuti), sehingga seluruh anggota menyerahkan pengambilan keputusan ke satu orang tersebut
5. Persuasi/keputusan mempertimbangkan pendapat ahli
Jika anggota tim terdiri dari multi disiplin, maka masing-masing disiplin akan mendapat kehormatan untuk pengambilan keputusan di bidang yang dikuasainya
6. Rata-rata pendapat anggota
Keputusan dibuat berdasarkan rata-rata pendapat anggota; hal ini lebih mudah jika keputusan yang ingin dibuat sifatnya rangking angka
7. Ditentukan oleh minoritas
Ini terjadi ketika sekelompok minoritas memiliki perasaan yang sangat kuat terhadap putusan tertentu. Keputusan ini dapat terjadi ketika kelompok minoritas tersebut memiliki sikap yang kuat atau konsentrasi terhadap isu tertentu
8. Teknik Nominal kelompok
Tujuan dari teknik ini adalah untuk meng-assess masalah, kebutuhan, minat dan tujuan yang ada (Barker 1987). Diawali dengan setiap anggota menuliskan ide-idenya tentang permasalahan. Kemudian pimpinan mempersilakan satu demi satu diungkapkan dan ditulis di papan yang besar. Setiap anggota juga bebas untuk menambahkan idenya ketika ia mendengarkan ide orang lain, begitu selanjutnya.
Seluruh peserta mengemukakan idenya dalam waktu singkat tanpa boleh ada sanggahan, dan pemimpin menuliskannya di papan yang besar