BAB III PROSES DAN METODOLOGI PELAKSANAAN KLHS
3.2 Pelibatan Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lainnya
Pelibatan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam KLHS ditetapkan dalam beberapa pasal Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH 32/2009). Menurut UU PPLH 32/2009 Pasal 18, KLHS dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan. Dalam penjelasannya, pelibatan masyarakat dilakukan melalui dialog, diskusi, dan konsultasi publik. Sejalan dengan amanat UU PPLH 32/2009, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 09 Tahun 2011 (Permen LH 09/2011) menyebutkan bahwa salah satu prinsip KLHS yaitu “partisipatif”
menekankan bahwa KLHS harus dilakukan secara terbuka dan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya yang terkait dengan kebijakan, rencana, dan/atau program (KRP). Dengan prinsip ini diharapkan proses dan produk KRP semakin mendapatkan legitimasi atau kepercayaan publik.
3.2.2 Identifikasi Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lainnya
Dalam proses pengidentifikasian masyarakat dan pemangku kepentingan lain ini mengacu pada Undang-Undang Peraturan Pemerintah Lingkungan Hidup No.32 Tahun 2009 Pasal 65 yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak:
Atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia
44
Mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat
Mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.
Berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan melakukan pengaduan akibat dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
Berdasarkan regulasi tersebut, maka masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya yang dimaksud adalah:
Tabel 7: Pelibatan Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lainnya Pada Penyusunan KLHS Kabupaten Aceh Tenggara
Pelibatan Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lainnya Pada Penyusunan KLHS Aceh Tenggara Berdasarkan
UU PPLH 32/2009
Orang perseorangan atau kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat, korporasi, dan pemangku kepentingan lain
Perseorangan atau kelompok orang yang memiliki informasi dan keahlian sesuai kebutuhan penyelenggaraan KLHS, seperti akademisi, peneliti, pakar, profesional, kelompok peneliti, asosiasi profesi, lsm, dan lainnya
Perseorangan atau kelompok orang yang terpengaruh dan terkena dampak KRP :
o Perseorangan atau kelompok yang akan melaksanakan KRP o Perseorangan atau kelompok yang akan terkena akibat pelaksanaan KRP (tokoh masyarakat, wakil masyarakat pada skala wilayah, LSM, dunia usaha, penanggung jawab perlindungan dan pelestarian lingkungan, dan lainnya)
Perseorangan atau kelompok orang sebagai pemerhati (termasuk media massa).
Koordinator Dewan Adat JK MATRA
Mayarakat yang Terkait (Kades, Camat)
Akademisi dan Pakar (Universitar Gunung Leuser)
LSM Putri Sepakat
Lembaga Masyarakat Sipil FoLAT (Forum Leuser Aceh Tenggara),
Sumber : UU PPLH 32/2009 dan SK Tim KLHS oleh Bupati 2013
45 Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 9 Tahun 2011, tahap awal dalam pengkajian pengaruh KRP terhadap Kondisi Lingkungan Hidup di Wilayah Perencanaan adalah identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
Tujuan identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya ini adalah:
1) Menentukan secara tepat pihak-pihak yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan KLHS;
2) Menjamin diterapkannya azas partisipasi yang diamanatkan UU PPLH;
3) Menjamin bahwa hasil perencanaan dan evaluasi KRP memperoleh legitimasi atau penerimaan oleh publik;
4) Agar masyarakat dan pemangku kepentingan mendapatkan akses untuk menyampaikan informasi, saran, pendapat, dan pertimbangan tentang pembangunan berkelanjutan melalui proses penyelenggaraan KLHS.
Proses pengidentifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya di Kabupaten Aceh Tenggara telah dilakukan pada akhir tahun 2012.
3.2.3 Pelibatan Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lainnya dalam KLHS untuk RTRW Kabupaten Aceh Tenggara
Identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya yang representatif diawali dengan pemetaan pemangku kepentingan. Pemetaan ini untuk membantu pemilihan pemangku kepentingan yang tidak saja berpengaruh, tetapi juga mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap RTRW Kabupaten serta peduli terhadap lingkungan hidup.
Dalam KLHS untuk RTRW Kabupaten ini telah terbentuk Multi Stakeholder Forum (MSF) yang terdiri atas berbagai pihak dari pemerintah kabupaten, masyarakat sipil dan dunia usaha. Apabila anggota-anggota MSF dirasakan masih kurang representatif untuk permasalahan yang ada, maka ditambahkan lagi anggota-anggota masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya yang relevan, sehingga mencakup antara lain:
Pemerintah Kabupaten - penyusun RTRW (Bappeda), SKPK (kehutanan, perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan, kelautan, pertambangan, koperasi & UKM, dan yang terkait lainnya)
46
Masyarakat sipil yang memiliki informasi dan/atau keahlian (berbagai individu dan organisasi masyarakat sipil, akademisi dan dunia usaha)
Masyarakat yang terkena dampak (masyarakat di lokasi-lokasi yang berpotensi terkena pengaruh muatan RTRW Kabupaten).
Tabel 8: Pelibatan Pemangku Kepentingan Pada Penyusunan KLHS Kabupaten Aceh Tenggara
Pelibatan Pemangku Kepentingan Pada Penyusunan KLHS Aceh Tenggara Berdasarkan UU PPLH 32/2009
Pelibatan Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lainnya Pada Penyusunan
KLHS Kabupaten Aceh Tenggara
Orang perseorangan atau kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat, korporasi, dan pemangku kepentingan lain
Perseorangan atau kelompok orang yang memiliki informasi dan keahlian sesuai kebutuhan penyelenggaraan KLHS, seperti akademisi, peneliti, pakar, profesional, kelompok peneliti, asosiasi profesi, lsm, dan lainnya
Perseorangan atau kelompok orang yang terpengaruh dan terkena dampak KRP :
o Perseorangan atau kelompok yang akan melaksanakan KRP o Perseorangan atau kelompok yang akan terkena akibat
pelaksanaan KRP (tokoh masyarakat, wakil masyarakat pada skala wilayah, LSM, dunia usaha, penanggung jawab perlindungan dan pelestarian lingkungan, dan lainnya)
Perseorangan atau kelompok orang sebagai pemerhati (termasuk media massa)
Balai Besar TNGL
Pemerintah Kabuaten Aceh Tenggara
Bappeda Kabupaten Aceh Tenggara
Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tenggara
Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Kabupaten Aceh Tenggara
Sumber : UU PPLH 32/2009 dan SK Tim KLHS oleh Bupati 2013
Dalam pelibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya ini, dilakukan pengelompokansesuai dengan permasalahan yang akan didiskusikan. Kelompok-kelompok tersebut dibantu oleh tim fasilitator. Tim fasilitator bertugas menyiapkan bahan dan materi yang didiskusikan serta menyimpulkan dan merumuskan masukan, informasi, dan pertimbangan berdasarkan diskusi dan dialog.
47 Pelibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya dalam penyelenggaraannya dilakukan dalam berbagai tahapan KLHS. Hasil dari pelibatan tersebut berupa:
Pendapat, saran, dan usulan terkait dengan pemangku kepentingan yang relevan dan signifikan, yaitu dari perseorangan dan/atau kelompok orang yang perlu dilibatkan dalam proses KLHS.
Identifikasi isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan.
Pengaruh muatan RTRW Kabupaten terhadap isu strategis.
Alternatif dan mitigasi yang dibutuhkan.
Rumusan rekomendasi.
3.2.4 Komunikasi dan Negoisasi Dalam KLHS
Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 9 Tahun 2011, KLHS bukanlah proses teknokratik/ilmiah semata, melainkan juga proses partisipatif. Dengan demikian, proses KLHS juga sarat dengan proses negosiasi, dimana komunikasi terjadi. Dalam konteks ini, kemampuan mengembangkan dialog, diskusi, konsultasi, dan bahkan resolusi konflik, menjadi penting bagi yang terlibat dalam proses KLHS.