• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Singkat KLHS untuk Gagasan Rencana Jalan

Dalam dokumen KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (Halaman 136-0)

BAB V PENGKAJIAN PENGARUH 80

5.2 Gagasan Rencana Jalan Tembus/Jalan Lintas Lawe Kinga (Kutacane) -

5.2.1 Pembahasan Singkat KLHS untuk Gagasan Rencana Jalan

Gagasan rencana jalan tembus/Jalan lintas Lawe Kinga (Kutacane) – Langkat turut menjadi salah satu bahasan pada lokakarya integrasi hasil KLHS pada tanggal 23-25 Juni 2014 di Medan. Pada lokakarya ini, dipaparkan gagasan ini, latar belakang dan alternatif dan keinginan kuat untuk memasukan gagasan ini pada proses evaluasi RTRW pertama sekitar tahun 2017.

Pembahasan potensi dampak negative dari gagasan pembangunan trase jalan arteri primer/ jalan Nasional Lawe Kinga – Bohorok (Kutacane – Langkat), antara lain: risiko kerusakan lingkungan sepanjang sisi trase jalan, terutama lingkungan hayati, hal ini disebabkan oleh pembangunan fisik jalan tersebut dan potensi meluasnya penggunaan area kanan kiri jalan yang merupakan hutan lindung menjadi area penggunaan lain.; Namun demikian gagasan ini diyakini memiliki dampak positif yaitu (a) meningkatkan intensitas hubungan ekonomi

126 Kabupaten Aceh Tengara dengan Sumatera Utara dan (b) penghematan biaya perjalanan ke Sumatera Utara.

Untuk mengoptimalkan program pembangunan jalan tembus/terowongan dimaksud, perlu dipertimbangkan beberapa hal, antara lain: (a) melakukan rangkaian kajian ilmiah untuk mendukung penyusunan studi kelayakan dan Masterplan, (b) melakukan kajian risiko lingkungan, (c) melakukan diskusi pakar dalam rangka persiapan kajian Masterplan.

Untuk mendapat gambaran yang lebih luas tentang keterkaitan beberapa program perwujudan ruang kabupaten Aceh Tenggara dengan potensi Aceh Tenggara sebagai sentra ekonomi regional, disajikan hasil telaah implikasi program dan mitigasi, yang disajikan pada tabel di bawah.

Tabel 20. Telaah Pengaruh Program PPL, Jalan tembus Kutacane Langkat dan Pengembangan Kawasan Strategis

No. Program

Perwujudan Ruang Implikasi Pelaksanaan

Program Mitigasi/ Alternatif

Meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan

Membuka kesempatan kerja dan berusaha

Mengurangi volume lalu lintas ke Sumatera Utara

Mendorong peningkatan kualitas perkebunan

Menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Menyusun Masterplan Induk dan Masterplan tiap lokasi

Mengintegrasikan Masterplan ke dalam RPJMD dan Renstra SKPD

Meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan

Meningkatkan kapasitas masyarakat perkebunan

Melakukan kajian dengan melibatkan pemangku kepentingan perkebunan termasuk Perguruan Tinggi.

Menjamin sinergi hubungan kerja dengan SKPD Kabupaten Aceh Tenggara dan pemangku kepentingan perkebunan 3. Jalan kolektor primer

K1/ Jalan nasional

Melakukan rangkaian kajian ilmiah untuk mendukung penyusunan studi kelayakan dan Masterplan

Melakukan kajian risiko lingkungan

Melakukan diskusi pakar dalam rangka persiapan kajian Masterplan.

127 No. Program

Perwujudan Ruang Implikasi Pelaksanaan

Program Mitigasi/ Alternatif

Membuka peluang kerja dan berusaha KSK ke dalam RPJMD &

Renstra

5.2.2 Rekomendasi KLHS untuk Gagasan Rencana Jalan Tembus/Jalan Lintas Lawe Kinga (Kutacane) - Langkat

Pembahasan gagaran rencana jalan tembus/jalan lintas Lawe Kinga (Kutacane) – Langkat pada lokakarya integrasi hasil KLHS tersebut diatas, didiskusikan pula mengenai rekomendasi KLHS terhadap gagasan ini, dan berikut ini rekomendasi yang dapat disampaikan mengenai gagasan ini :

(1) Rekomendasi agar mengintegrasikan trase jalan tembus Kutacane – Langkat (Kulang) dalam proses peninjauan pertama RTRW Kabupaten Aceh Tenggara

(2) Rekomendasi menyusun atau melakukan studi tematik terkait dengan rencana baru yaitu pembangunan jalan nasional dalam bentuk jalan tembus yang menghubungkan Kutacane – Langkat (Kulang) Sumatera Utara sebagian dari studi kelayakan pembangunan trase jalan tersebut (3) Rekomendasi untuk menyusun kerangka kerja terpadu Pemerintah

Pusat dengan Pemerintah Daerah di bidang penyelamatan ekosistem TNGL dengan mewujudkan jalan tembus/ jalan terowongan Kutacane – Langkat (Kulang) Sumatera Utara

128 (4) Rekomendasi agar menyusun Road Map Kabupaten Aceh Tenggara

sebagai sentra ekonomi industri hasil pertanian

(5) Rekomendasi agar menyusun kerangka kerja kolaboratif komperhensif antara Pemda, DPRK dan Balai Besar TNGL dalam rangka pelestarian TNGL

129

BAB VI

STRATEGI PEMBANGUNAN EMISI RENDAH (SPER)

Strategi Pembangunan Emisi Rendah(SPER) merupakan kerangka strategis yang menggambarkan aksi konkret, kebijakan, program dan rencana implementasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, perbaikan pengelolaan lingkungan dan pemenuhan target pembangunan. Pada KLHS RTRW Kabupaten Aceh Tenggara ini, Tim KLHS juga melakukan analisa emisi pada rencana pola ruang RTRW. Hal ini dimaksudkan memberikan dukungan pada upaya-upaya mitigasi yang disusun atau dihasilkan dari proses KLHS ini. Sehingga dengan demikian KLHS ini sudah mengintegrasikan pertimbangan emisi didalamnya.

Pendekatan dan tahapan yang dilakukan dalam penyusunan SPER ini adalah sebagai berikut:

 Mengetahui kondisi yang berlaku saat ini pada tiap kabupaten. Hal ini dilakukan dengan mempelajari profil daerah.

 Melakukan analisis tutupan lahan

 Menghitung emisi exisiting sebagai baseline (business as usual) menggunakan metode historical based melalui tutupan lahan sejak tahun 2000 – 2011.

Menghitung perubahan emisi menggunakan metode forward looking non parametric, yaitu metode untuk memprediksi emisi berdasarkan scenario yang didasarkan pada rencana tata ruang wilayah setempat

 Identifikasi aksi mitigasi

 penyusunan strategi

Pendekatan dan metode yang disebutkan diatas, memiliki catatan sebagai berikut: Penghitungan proyeksi emisi GRK di masa yang akan datang dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu: 1) ekstrapolasi berdasarkan perubahan emisi di masa lalu; 2) perubahan emisi sebagai dampak dari implementasi RTRW. Namun untuk cara kedua sebenarnya diperlukan data yang lebih detail terkait dengan proyeksi tutupan lahan di tahun 2032 yang memperhitungkan rencana pola ruang.

Laporan lengkap mengenai penghitungan emisi pada tiap tahapan yang disebutkan diatas dimuat pada lampiran. Pada bagian ini akan dimuat hasil emisi dan analisanya serta strategi dan aksi untuk mencapai pembangunan rendah emisi.

130

7.1 Ringkasan Hasil Analisa Emisi

Kabupaten Aceh Tenggara sebagian besar atau 82,64% wilayahnya memiliki tutupan lahan hutan, untuk itu kegiatan yang berpotensi menimbulkan emisi adalah kegiatan manusia yang menimbulkan perubahan penggunaan lahan hutan menjadi bukan hutan (deforestasi ataupun degradasi hutan). Berdasarkan hasil pelingkupan oleh beberapa pemangku lintas kepentingan (stakeholders) maka emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihitung adalah Emisi GRK berasal dari kegiatan manusia dalam bidang Land Use, Land Use Change and Forestry (LULUCF). Selama kurun waktu kurang lebih sepuluh tahun terakhir, penurunan tutupan lahan hutan sebagian besar (5.134,41 ha) berubah menjadi semak belukar seluas 1.530 Ha, pertanian lahan kering seluas 2.872 Ha dan 732 ha berubah menjadi pertanian lahan kering campur. Ada pula hutan tanaman yang berubah menjadi semak belukar seluas 16 Ha dan berubah menjadi lahan terbuka seluas 278 Ha. Berikut ini ringkasan perhitungan emisi di Aceh Tenggara:

1. Perubahan tutupan lahan yang terjadi di Aceh Tenggara dalam kurun waktu 9 tahun terakhir (tahun 2000 – 2009) memperlihatkan atau menghasilkan emisi sebesar 4,43 ton/Ha atau 0,49 ton/ha/tahun dalam kurun waktu 9 tahun. Emisi ini diakibatkan oleh perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi belukar, tanah terbuka, dan pertanian lahan kering sebagian terjadi di Darul Hasanah, Lawe Alas, Ketambe, Badar dan lainnya.

2. Perhitungan Baseline emisi CO2e Kabupaten Aceh Tenggara berdasarkan Data Tutupan Lahan Tahun 2000-2009, diprediksi pada tahun 2032, emisi di Aceh Tenggara dengan pola perubahan tutupan lahan yang sama dengan 9 tahun terakhir adalah 20,67 CO2e (ton/ha).

3. Perhitungan pendugaan emisi berdasarkan data pelaksanaan pemanfaatan ruang RTRW Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2012-2032 adalah sebesar -81,07 CO2e yang menandakan apabila pelaksanaan pemanfaatan ruang RTRW Kabupaten Aceh Tenggara dilakukan seutuhnya, maka akan ada penyerapan emisi sebesar -81,07 CO2e (ton/ha). Pendugaan emisi ini bernilai positif, karena perhitungan bahwa ada beberapa area pada kawasan hutan lindung yang pada tutupan lahan 2009 telah terbuka menjadi pertanian lahan kering dan semak belukar kemudian pada rencana pola ruang RTRWK direncanakan dikembalikan

131 menjadi hutan sekunder. Contohnya area di Kecamatan Darul Hasanah, Ketambe, Lawe Alas, dan lainnya. Hal lainnya ada enclave di dalam (tengah) hutan lindung yang selama 9 tahun terakhir berupa savanna dan semak belukar, kemudian pada RTRWK direncanakan dikembalikan menjadi hutan sekunder.

4. Catatan rencana pola ruang RTRWK yang dapat diperhatikan ini agar sekuestrasi emisi sebesar -81,07 CO2e yang disampaikan sebelumnya dari pola ruang RTRW ini dapat tercapai adalah bahwa dalam 20 tahun ke depan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara akan bekerja keras: 1) melakukan reboisasi daerah-daerah pada hutan lindung dan TNGL yang saat ini sudah terbuka baik menjadi pertanian lahan kering ataupun berupa semak belukar, mengembalikan kondisi tersebut menjadi hutan kering sekunder; 2) tidak ada lagi perambahan atau pemanfaatan lahan hutan (lindung & TNGL) menjadi lahan budidaya (diluar peruntukannya);

dan 3) implementasi seluruh rencana baik struktur ruang dan pola ruang dilakukan sesuai dengan arahan RTRW dan mitigasi yang disarankan pada KLHS.

5. Memahami implementasi dari suatu rencana yang seringkali terjadi penyimpangan, yang bisa saja terjadi karena beberapa hal diantaranya pengawasan dan penegakan hukum yang lemah, pola berkebun masyarakat yang sulit berubah, atau adanya kepentingan dari elit pimpinan daerah bahkan masyarakat atau hal lainnya terkait dengan lahan hutan, maka diperkirakan atau dilakukan pendugaan bagaimana penyimpangan kemungkinan akan terjadi pada implementasi RTRW ini.

Pendugaan penyimpangan diperkirakan berdasarkan kondisi tutupan lahan di tahun 2009 dimana diduga akan terjadi semakin meluasnya daerah yang terbuka di kawasan sepanjang kanan kiri jalan di Taman Nasional Gunung Leuser, Hutan Lindung dan dan Hutan produksi, dan Hutan produksi terbatas. Pendugaan Emisi CO2e dilakukan dengan menghitung luasan area semak belukar dan tanah kosong di kawasan sepanjang kanan kiri jalan di Taman Nasional Gunung Leuser, Hutan Lindung dan dan Hutan produksi (dan diproyeksikan dalam 20 tahun ke depan), sedangkan untuk kawasan lain pemanfaatan ruang sesuai dengan RTRWK. Hasil pendugaan emisi untuk kondisi semacam ini adalah bahwa dua puluh tahun ke depan bila kondisi penyimpangan seperti ini yang terjadi maka Kabupaten Aceh Tenggara hanya akan mampu

132 mensekuestrasi emisi sebesar -48,65 ton/ha. Namun walaupun demikian yang perlu mendapat perhatian adalah berkurangnya jumlah luasan hutan kering sekunder yang diperkirakan berkurang seluas 10.270 Ha yang diperkirakan akan berubah menjadi pertanian lahan kering dan lahan kering campur.

7.2 Strategi Pembangunan Emisi Rendah Kabupaten Aceh Tenggara

Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis emisi di Kabupaten Aceh Tenggara, dapat diketahui bahwa rencana pola ruang dari RTRWK Aceh Tenggara bila dilaksanakan dengan baik, memenuhi seluruh rencana yang dibuat dan tidak ada penyimpangan yang terjadi maka Kabupaten Aceh tenggara dalam 20 tahun ke depan akan mampu melakukan sekuestrasi emisi sebesar -81,07 ton/ha. Untuk itu terdapat beberapa strategi yang menjadi masukan bagi KLHS yaitu :

1. Peningkatan atau pemantapan jalan yang memperhatikan peruntukan pemanfaatan ruang kawasan lindung;

2. Penetapan, pemeliharaan, pengelolaan, pengendalian, dan pengawasan pemanfaatan ruang kawasan lindung yang melibatkan masyarakat dan memberi peluang pengembangan alternatif mata pencaharian;

3. Pengembangan agroindustri yang berwawasan lingkungan;

4. Peningkatan produksi komoditas unggulan (Kakao, Karet dan Kelapa Sawit) melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pada lahan Areal Penggunaan Lain;

5. Pengembangan lahan hortikultura dengan intensifikasi dan penggunaan teknologi;

6. Pembangunan infrastruktur pendukung perkebunan yang memperhatikan pemanfaatan ruang di kawasan lindung serta dampak lingkungannya;

7. Peningkatan peran serta masyarakat dalam memanfaatkan dan memelihara kawasan lindung melalui pengembangan perkebunan rakyat mandiri.

133

BAB VII

KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT

7.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil kajian yang dipaparkan pada Bab III dan IV dapat disimpulkan bahwa secara umum rencanas truktur ruang, rencana pola ruang, dan penetapan kawasan strategis kabupaten di Kabupaten Aceh Tenggara telah dilakukan secara seksama. Namun demikian, dalam telaah dampak yang dilakukan melalui KLHS, ditemukan adanya dampak atau pengaruh dari sebagian rencana tata ruang yang berpotensi mempengaruhi isu strategis. Hasil identifikasi isu strategis lingkungan hidup dalam KLHS menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan merupakan persoalan terpenting di Aceh Tenggara. Hal ini terlihat dari identifikasi isu strategis di mana 4 dari 6 isu strategis ternyata terkait dengan persoalan perubahan penggunaan lahan. Keempat isu tersebut adalah sempit atau terbatasnya lahan pertanian, zonasi dan peruntukan Taman Nasional Gunung Leuser, alih fungsi hutan menjadi Areal Penggunaan Lain (APL) serta tingginya potensi bencana alam. Kedua isu lainnya tidak terlalu banyak dibahas dalam laporan KLHS ini.

Dari hasil identifikasi isu strategis tersebut, proses review terhadap RTRW menemukan sejumlah muatan berupa program baik dari struktur ruang, pola ruang maupun kawasan strategis yang dapat berpengaruh secara negatif terhadap isu strategis dalam pengertian memperburuk atau menambah kerusakan yang mungkin terjadi. Ada beberapa program yang secara langsung akan berpengaruh atas meluasnya APL di kawasan lindung seperti usulan peningkatan lahan, pembukaan jalan, pembangunan infrastruktur pendukung perkebunan. Beberapa program lain yang tidak secara langsung di lakukan di kawasan lindung juga perlu dicermati dapat membuka kesempatan alih fungsi dalam beberapa tahun mendatang jika tidak dilakukan pengendalian.

Untuk meminimalisasi dampak dari program tata ruang tersebut, hasil kajian ini mengusulkan tindakan mitigasi atas setiap program yang dinilai memiliki implikasi jika diimplementasikan. Rencana tindakan mitigasi yang kemudian direkomendasikan bagi pelaksanaan rencana tata ruang Kabupaten Aceh Tenggara disusun berdasarkan pertimbangan prinsip pembangunan berkelanjutan agar pembangunan yang dilakukan dapat tetap menjamin keberlangsungan kehidupan di masa datang. Pertimbangan yang digunakan

134 adalah prinsip keseimbangan antara kepentingan lingkungan, ekonomi, dan sosial; prinsip keterkaitan antar-sektor dan antar-wilayah; serta prinsip keadilan untuk memberikan akses bagi masyarakat terhadap pengelolaan sumber daya alam di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara. Seperti halnya isu strategis yang terfokus pada isu perubahan penggunaan lahan terutama alih fungsi kawasan lindung, mitigasi yang direkomendasikan berupaya mengurangi dampak dari alih fungsi tersebut.

Upaya pengurangan dampak antara lain dilakukan melalui penegakan hukum atas perambahan yang baru di dalam kawasan lindung namun tidak ditujukan atas lahan yang terbukti sudah lama didiami oleh masyarakat. Sebaliknya, masyarakat yang berdiam di wilayah yang berbatasan dengan TNGL dan/ atau Hutan Lindung perlu dilibatkan untuk mencegah kerusakan hutan yang lebih jauh melalui program yang dapat memberikan alternatif sumber mata pencaharian dan penanaman kembali areal kritis dengan tanaman pohon keras.

Upaya menjaga dan memelihara kawasan lindung tidak dapat hanya diserahkan kepada Balai Besar TNGL dengan kapasitasnya yang terbatas. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan memelihara hutan harus terus ditingkatkan.

Hal lainnya terkait dengan rencana pembangunan ruas jalan yang menghubungkan Lawe Kinga Kutacane – Bohorok di Kabupaten Langkat Sumatera Utara, direkomendasikan agar rencana jalan ini masuk dalam pembahasan proses peninjauan pertama RTRW Kabupaten Aceh Tenggara dan agar dilakukan studi tematik terkait dengan rencana tersebut.

7.2. Tindak Lanjut

Sebagaimana telah disampaikan pada bagian pendahuluan laporan ini, KLHS bertujuan untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan. Bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, proses penyelenggaraan KLHS ini masih jauh dari sempurna, dan sebagai bagian dari proses perbaikan penyusunan perencanaan daerah, maka Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara akan memeriksa, memperhatikan dan menyempurnakan dari sisi mekanisme penyelenggaraan KLHS, juga dari sisi pendukung substansi seperti pemutakhiran data dan informasi. Selain dari pada itu, kami sangat menghargai masukan perbaikan yang membangun untuk penyempurnaan dokumen serupa di masa akan datang.

135

Daftar Pustaka

[BBTNGL] Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. 2010. Rencana pengelolaan TNGL 2010-2029. BBTNGL: Medan.

Dairiana A. 2011. Kajian konflik lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (Studi kasus Desa Lawe Mamas dan Desa Jambur Lak-lak STPN wilayah Iv Badar Bptn Wilayah Ii Kutacane, Aceh Aenggara). Departemen Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Jika Didukung Infrastruktur, Agara Bisa Jadi Sentra Ekonomi, Media Bisnis 24 Maret 2014 Kabupaten Aceh Tenggara Dalam Angka 2010 dan 2012.

Materi Teknis Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, 2012 – 2032.

SLHD Kabupaten Aceh Tenggara, 2011.

Sugandhy, Aca dan Rustam Hakim, 2007, Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan , Cetakan I, Bumi Aksara, Jakarta.

UNDP, Global Sustainable Development Brierf, 2013.

Utomo, Tri Widodo W., tanpa tahun, Keseimbangan Kepentingan Ekonomis dan Ekologis dalam Menunjang Kebijakan Pembanguna Berkelanjutan, Universitas Padjadjaran, Bandung. Makalah.

van Beukering PJH, Cesar HSJ, Janssen MA. 203. Analysis Economic valuation of the Leuser National Park on Sumatra, Indonesia. Ecological Economics 44: 43-/62.

136

Daftar Lampiran

Lampiran 1: Surat Keputusan Bupati Aceh Tenggara Nomor 136/ 2013 Tentang Penunjukan Tim Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013

Lampiran 2: Daftar Panjang Isu Strategis

Lampiran 3: Berita Acara Daftar Pendek Pelingkupan Isu Strategis KLHS RTRW Kabupaten Aceh Tenggara

Lampiran 4: Penyajian Isu Strategis RTRW Kabupaten Aceh Tenggara Lampiran 5: Matriks Identifikasi Muatan Program RTRW

Lampiran 6: Pengaruh Rencana Pembangunan dan Pengembangan Jalan Kolekstor Primer K1/Jalan Nasional Kutacane - Langkat/Batas Sumatera Utara (KULANG)

Lampiran 7: Berita Acara Pembahasan Integrasi KLHS pada RTRW Kabupaten Aceh Tenggara

Lampiran 8: Berita Acara Konsultasi Publik Hasil KLHS RTRW Kabupaten Aceh Tenggara

Lampiran 9: Laporan Strategi Pembangunan Emisi Rendah di Kabupaten Aceh Tenggara

Lampiran 1.

Surat Keputusan Bupati Aceh Tenggara Nomor 136/ 2013 Tentang Penunjukan Tim Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)

Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013

Dalam dokumen KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (Halaman 136-0)