Janda dalam kisah ini belum mengerti mengapa anaknya itu harus meninggal secara tiba-tiba. Lalu, ia menyadari bahwa melalui kebangkitan anaknya itulah kemuliaan Allah dinyatakan. Untunglah, Elia hadir untuk menolongnya melalui masa-masa sulit dan pada akhirnya, ia dapat memuji Allah dan tidak berpaling dari Allah karena kematian anaknya itu. Demikian pula, mungkin murid-murid belum mengerti mengapa segala peristiwa yang tidak diinginkan itu juga terjadi dalam kehidupan mereka dan orang di sekitar mereka. Tentu saja mungkin tidak harus selalu hal serumit kematian sebagai bencana besar untuk mereka pikirkan. Terkadang mendapat nilai buruk atau tidak memiliki teman adalah yang harus mereka hadapi. Apapun situasinya, adalah penting bagi kita untuk mendorong murid-murid tetap bersandar dan percaya kepada Allah. Ini menuntut dasar iman yang baik. Iman seperti ini akan menolong mereka melalui masa-masa yang sukar. Dengan demikian, mereka tidak akan bersungut-sungut kepada Allah dan bertanya mengapa semuanya terjadi kepada mereka. Perlu juga dijelaskan kepada mereka bahwa Allah memiliki rencana-Nya sendiri atas segala sesuatu dan sekalipun untuk sementara ini belum jelas apa maksudnya, tetapi sikap berserah kita kepada Allah akan menolong kita melalui semuanya itu. Sebagai guru, kita sama seperti Elia dalam kisah ini. Kita perlu memperhatikan murid-murid dalam menghadapi setiap permasalahan dan membuat mereka tetap berjalan di jalan Allah.
Ulasan
Pada minggu yang lalu, kita telah mempelajari mengenai bagaimana Elia menolong seorang janda dan anaknya. Elia pergi ke rumahnya dari jauh, karena sungai tempat ia bersembunyi itu telah kering. Bagaimana cara Elia pergi dan mencari janda ini? (Allah telah memberitahukannya.) Ketika Elia menemukan janda ini, apa yang ia minta dari padanya? (Sedikit air dan roti.) Sementara janda itu membawakan air, tetapi ia kesulitan untuk memberi nabi itu makanan. Mengapa? (Janda itu hanya memiliki cukup makanan untuk sekali makan untuk dirinya dan anaknya yang terakhir kali.) Tetapi karena janda tersebut percaya kepada Allah dan menuruti petunjuk Elia tentang apa yang harus dilakukan, maka ia dan anaknya tidak mati kelaparan. Bagaimana Allah mengatasi masalah mereka itu? (Allah membuat tepung dan minyaknya tidak habis-habis hingga masa kelaparan berakhir.) Dari kisah ini, kita dapat belajar pentingnya iman yang benar itu. Ketika
kita percaya kepada Allah, maka Dia akan selalu berada di sana untuk menolong kita, bahkan ketika kita pikir itu mustahil sekalipun. Ingatlah bahwa segala sesuatunya adalah mungkin bagi Allah.
Sebuah Tragedi Dalam Rumah
Setelah Allah menolong janda dan anaknya itu dengan mengatasi masalah makanan, mereka sungguh bersukacita karena telah menyaksikan kuasa Allah yang besar dan kemurahan-Nya. Mereka tahu bahwa Allah pasti akan memelihara mereka selama masa kelaparan ini. Di rumahnya, ada kamar kecil di atas atap. Karena berterima kasih kepadanya, maka janda itu memberikan izin kepada Elia untuk tinggal di kamar itu. Selama Elia tinggal bersama dengan mereka, Allah menyediakan tepung dan minyak untuk memberi makan mereka setiap harinya. Untuk sementara waktu, mereka memiliki banyak roti untuk dimakan. Tetapi pada suatu hari, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.
Tiba-tiba, anak janda itu sakit keras. Awalnya, sang ibu mengira bahwa anaknya akan membaik seiring dengan berjalannya waktu, tetapi setelah ia perhatikan, ternyata anaknya itu semakin hari semakin parah. Akhirnya, anak itu meninggal. Sang ibu sungguh bersedih hati dan terus menangis.
Sewaktu ia melihat Elia, maka janda ini bertanya kepadanya sambil terisak-isak, “Mengapa engkau pelihara aku dan anakku dari kematian akibat kelaparan, tetapi sekarang membiarkan anakku mati karena penyakitnya?” Janda ini mengatakan demikian karena merasa sungguh kecewa. Dia tidak menyangka bahwa anaknya akan mati secepat itu. Karena anaknya masih muda belia, sang ibu mengira bahwa dirinya telah lakukan sesuatu yang salah, sehingga Allah murka kepadanya, dan mengambil anaknya. Tetapi sesungguhnyan bukan karena sang ibu telah berdosa. Tetapi sebaliknya, Allah ingin menunjukkan kuasa dan kasih-Nya kepada sang ibu.
Doa Elia
Ketika Elia melihat hal ini, maka ia juga merasa turut bersimpati. Elia berkata kepada janda itu, “Berikan anakmu kepadaku.”
Elia mengangkat dan membawa anak itu ke kamar atas. Lalu ia baringkan anak itu di tempat tidur. Elia tahu bahwa dirinya tidak memiliki kuasa untuk melakukan apapun, tetapi tahu bahwa ia dapat berdoa kepada Allah mengenai hal ini.
Lalu Eli segera berlutut dan berdoa kepada Allah, katanya: “Ya Tuhan, Allahku, biarkanlah anak ini hidup kembali.” Saat Elia mengatakannya, maka ia merebahkan dirinya ke atas tubuh anak itu tiga kali.
Allah Mengabulkan Doa Elia
Allah mendengar doa Elia dan melakukan sesuatu yang ajaib. Allah membuat anak itu hidup kembali. Anak janda itu dibangkitkan. Elia mengangkat dan membawa anak janda itu ke bawah.
Elia berkata kepada janda itu, “Lihatlah, anakmu hidup.”
Ketika janda itu melihat mujizat yang besar itu, maka ia sadar akan kuasa dan kemurahan Allah yang besar.
Dengan takjub, ia berkata kepada Elia, “Engkau sungguh-sungguh seorang nabi Allah. Semua yang engkau katakan tentang Allah itu benar!”
Dari pengalaman ini janda itu belajar bahwa Allah sungguh-sungguh mendengar dan menjawab doa umat-Nya.
MENGULANG
DAN PERTANYAAN
Isilah Yang Tempat Yang Kosong Dan Tulislah Benar Atau Salah: 1. Anak janda itu sakit sehingga ia _______________. (meninggal)
2. Allah berkuasa untuk ____________________ (membangkitkan) orang mati. 3. Elia tahu bahwa dirinya dapat membangkitkan anak itu. (Salah)
4. Allah berjanji untuk mendengar dan menjawab semua doa kita. (Benar)
5. Allah mengutus Yesus, anak-Nya yang tunggal, untuk datang ke dunia, dan mati untuk kita agar kita dapat diselamatkan. (Benar)
Pertanyaan untuk Direnungkan:
1. Apakah janda itu berdoa sendiri kepada Allah ketika anaknya meninggal? Menurut kamu, apa yang akan terjadi?
2. Mengapa kita selalu berkata bahwa Allah itu adalah tabib yang terbesar? 3. Ketika kita berdoa kepada Allah dan memohon sesuatu kepada-Nya, maka Dia
dapat menjawab kita dengan tiga cara. Mungkin Dia akan berkata, “Ya” atau “Tidak” atau “Tunggu”. Menurut kamu, mengapa Allah memiliki jawaban yang berbeda untuk kita?
4. Dapatkah kamu memikirkan saat berdoa kepada Allah mana jawaban-Nya atas doa kamu yang merupakan penyelesaian yang terbaik?
AKTIVITAS 1
Tujuan:
Mengingatkan kembali cara Allah dalam menjawab doa Elia untuk janda itu. Petunjuk:
Mintalah murid-murid membaca setiap kalimat dan cocokkanlah dengan orang yang mengatakannya. Tulislah beberapa nama mereka di samping setiap kalimat. 1. Anakku dan aku tidak memiliki apapun untuk dimakan. (Janda)
2. Aku membiarkan nabi itu tidur di kamar atas. (Janda) 3. Aku dibawa ke kamar atas oleh nabi itu. (Anak janda)
4. Ibuku sungguh bersukacita bahwa aku hidup kembali. (Anak janda) 5. Raja Ahab dan ratu Izebel sedang mencariku. (Elia)
6. Allah telah sediakan cukup tepung dan minyak untuk membuat roti bagi keluargaku. (Janda)
7. Aku dipimpin oleh Allah ke tempat yang aman untuk bersembunyi. (Elia) 8. Terima kasih Allah, aku hidup kembali! (Anak janda)
9. Allah mengutusku ke rumah seorang janda yang jauh. (Elia) 10. Aku berdoa kepada Allah untuk membiarkan anak itu hidup. (Elia) 11. Allah mengutus seorang nabi untuk menolongku. (Janda)
12. Aku tidak memiliki kuasa, tetapi Allah mengizinkan anak itu hidup kembali. (Elia)