• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembagian Supervisi Pendidikan

Dalam dokumen Sunarno Basuki SUPERVISI PENDIDIKAN JASMANI (Halaman 49-55)

PEMBAGIAN, PENDEKATAN, METODE DAN TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN

A. Pembagian Supervisi Pendidikan

S

upervisi pendidikan sebagaimana sebuah konsep keilmuwan juga mempunyai perbedaan dalam pembagiannya. Secara umum dikenal ada supervisi pengajaran, klinis dan ilmiah. Namun, jenis supervisi pendidikan akan sangat tergantung pada hal­ hal yang dijadikan dasar dalam pembedaan dan penentuan jenisnya tersebut. Dilihat dari sudut pandang organisasi pelaksana supervisi, sebagaimana pengawasan, maka supervisi pendidikan dapat dibagi menjadi (Jasmani dan Mustofa, 2013) berikut ini.

1. Pengawasan intern, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh organisasi terhadap unit­unit kerja yang ada dalam organisasi yang bersangkutan.

2. Pengawasan ekstern, yaitu pengawasan terhadap organisasi yang dilakukan oleh pihak luar.

Pendapat ini menggunakan istilah pengawasan namun yang dimaksud adalah supervisi. Supervisi internal berarti yang melaksanakan adalah organisasi itu sendiri. Supervisi dapat dilakukan oleh unit atau departemen dalam organisasi yang diberi tugas supervisi. Supervisi eksternal berarti pelaksana (supervisor) adalah organisasi luar, yang mempunyai tugas supervisi. Tidak semua organisasi mempunyai tugas dan fungsi supervisi.

Menurut Jasmani dan Mustofa (2013) berdasarkan sudut pandang waktu dan pengawasannya. Supervisi dibagi menjadi tiga seperti yang dijabarkan serikut ini.

1. Pengawasan kontinu, artinya supervisor harus membuat program kerja yang memungkinkan untuk memonitoring kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, pengawasan ini bersifat rutin.

2. Pengawasan berkala, artinya pengawasan periodik yang dilakukan dalam waktu tertentu, dan bersifat rutin.

3. Pengawasan temporer, artinya supervisi dilakukan berdasarkan keperluan, dilakukan pada waktu­waktu tertentu.

Lebih lanjut Jasmani dan Mustofa (2013) mengemukakan bahwa berdasarkan sudut pandang substansinya atau bidang pekerjaan supervisi terdiri dari.

1. Bidang sarana dan prasarana 2. Bidang akademik

3. Bidang operasional atau proses kerja 4. Bidang kepesertadidikan

5. Bidang keuangan

6. Bidang hubungan dengan masyarakat

Sekolah sebagai organisasi terbagi ke dalam beberapa fungsi. Sekolah memiliki beberapa fungsi organisasi misalnya fungsi yang mengurusi bidang keuangan, kepesertadidikan dan lainnya. Supervisi dilakukan pada setiap bidang di sekolah.

Sahertian (2008) mengajukan pembagian supervisi pendidikan berdasarkan objeknya yang terbagi ke dalam beberapa jenis yaitu. 1. Supervisi akademik. Fokus kegiatan supervisi adakemik

adalah penekanan pengamatan dan perbaikan pada masalah akademik, yaitu langsung menangani permasalahan berada ruang lingkup pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik untuk membantu peserta didik ketika sedang dalam proses belajar atau mempelajari sesuatu. Aspek­aspek akademik menjadi obyek utama dalam supervisi ini sehingga disebut supervisi akademik yakni supervisi pembelajaran. Sasaran supervisi akademik adalah meningkatkan proses pembelajaran yang dimulai dari peningkatan persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, tindak lanjut setelah pembelajaran, dan termasuk hal­hal yang berpengaruh terhadap pembelajaran. Banyak faktor yang mempengaruhinya pembelajaran baik faktor yang berasal dari pendidik, peserta didik, program kurikulum yang digunakan,

buku teks yang dipakai peserta didik dan pendidik, fasilitas belajar dan media belajar termasuk alat peraga, kultur sekolah maupun lingkungan fisik sosial di sekitar sekolah. Oleh karena itu, supervisi hendaknya ditekankan untuk usaha memperbaiki dan meningkatkan situasi pembelajaran agar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

2. Supervisi administrasi. Objeknya pengamatan supervisi administrasi adalah aspek­aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan memperlancar terlaksananya proses pembelajaran dapat berupa kurikulum sekolah, penentuan pendidik pengampu mata pelajaran, penyusunan jadwal pelajaran, laporan nilai peserta didik, presensi kehadiran pendidik dan peserta didik, tingkat pedidikan pendidik dan tenaga kependidikan, dan prestasi yang diperoleh peserta didik. Supervisi administrasi dapat dilakukan oleh internal lembaga. Supervisi administrasi memfokuskan pengawasan supervisor pada bidang administrasi sebagai faktor pendukung penting dalam proses belajar mengajar. Selama ini supervisi sarana dan prasarana sekolah dilakukan oleh pihak lain yang menekankan pada kebenaran laporan keuangan dengan fakta fisik sarana dan prasarana dan kurang dikaitkan kepada kepentingan pembelajaran. Supervisi terhadap sarana dan prasarana di sekolah selama ini memunculkan kesan bahwa sekolah yang memiliki fisik yang terlihat bagus merupakan faktor yang hal paling penting dalam keberhasilan proses pembelajaran. Pengawasan terhadap sarana dan prasarana kurang memperhatian masalah. Supervisi administratif adalah supervisi yang ditujukan kepada pembinaan dalam memanfaatkan setiap sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran. Supervisi sarana dan prasarana seharusnya dikaitkan fasilitas belajar, media belajar, buku teks, perpustakaan, dan lain­lain yang memiliki andil dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

3. Supervisi institusional. Supervisi institusional merupakan supervisi lembaga yang memfokuskan objek pengamatan pada aspek­aspek yang berada di sekolah. Supervisi lembaga dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan. Supervisi ini berorientasi

pada pembinaan aspek organisasi dan manajemen sekolah sebagai lembaga yang meliputi semua aspek dalam bentuk pengaturan yang terkait dengan proses peningkatan mutu sekolah dalam rangka mensukseskan pembelajaran seperti: penerimaan peserta didik baru, rombongan belajar, pembagian tugas, pengembangan kurikulum dalam kegiatan ekstra dan intra, pengelolaan sarana dan fasilitas belajar, kalender akademik, hubungan kerja sama sekolah dengan orang tua dan masyarakat sekitar sekolah. Supervisi institusional ini lebih dikenal dengan supervisi kelembagaan, karena supervisi ini berkaitan lembaga yang berusaha untuk meningkatkan kinerjanya.

Pembagian supervisi menurut Sahertian (2010) dapat dilakukan berdasarkan model atau acuan pelaksanaannya. Supervisi pendidikan dibagi ke dalam empat model berikut ini.

1. Model konvensional (tradisonal))((((((((tradisional

Model konvensional ini masih bersifat feodal dimana pemimpin melakukan inspeksi yang mencari­cari kesalahan yang ada. Pada praktiknya supervisor dalam melakukan supervisi tugasnya sebagai seorang inspektor yang mengadakan inspeksi untuk mencari kesalahan dan harus menemukan kesalahan. Model konvensional ini cenderung hanya melihat kekurangan tanpa melihat hal positif yang ada.

Hal ini sangat bertentangan dengan prinsip supervisi. Dampaknya adalah ketidakpuasan pihak yang disupervisi dan menimbulkan sikap masa bodoh dan acuh tak acuh serta sikap menentang. 2. Model ilmiah

Supervisi yang dilakukan harus menunjukkan sifat­sifat ilmiah. Sifat ilmiah maksudnya supervisi yang dilakukan memiliki ciri­ ciri berikut ini: (1) program supervisi dilakukan secara terencana dan kontinu; (2) tersusun sistematis dan memiliki prosedur yang terukur serta teknik yang tepat; (3) menggunakan alat penggali data yang tepat; dan (4) data yang diperoleh harus objektif sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Penggunaan instrumen seperti merit rating atau checklist sesuai dengan peruntukannya. Hasil pengolahan data diberikan kepada pendidik sebagai

masukan positif terhadap penampilan pendidik. Data ini akan mengungkapkan penampilan pendidik selama diamati, berdasarkan data tersebut pendidik diberi masukan untuk melakukan perbaikan. Pada model ilmiah ini penggunaan alat perekam data diperbolehkan namun penggunaan alat perekam harus mendapat persetujuan dari pendidik yang sedang diamati. 3. Model klinis

Supervisi model ini berangkat dari bidang kedokteran yang diimplementasikan pada bidang pendidikan. Supervisi klinis difokuskan pada peningkatan kualitas pendidik mengajar melalui persiapan yang terstruktur, terencana, adanya pengamatan serta analisis yang tepat dan cermat terhadap penampilan pendidik saat mengajar. Supervisi klinis ini bertujuan membantu pendidik mendapatkan tingkah laku mengajar yang ideal sesuai dengan kondisi nyata di kelas.

4. Model supervisi mengajar

Model supervisi ini merupakan bentuk bahwa mengajar bukan hanya suatuu pengetahuann (knowledge) melainkan mengajar juga berhubungan dengan keterampilan dan seni. Dalam model ini supervisi adalah mendidik seseorang agar terjadi perubahan, peningkatan pengetahuan, dan kompetensinya.

Dasar pembagian supervisi pendidikan berikutnya diajukan oleh Sagala (2000) yang berdasarkan peranannya, yang dibagi berikut ini.

1. Corrective supervision. Supervisi dalam kegiatannya selalu berupaya mencari kesalahan orang yang disupervisi, sehingga penemuan kesalahan merupakan hal yang paling utama.

2. Preventive supervision. Supervisi ini dalam kegiatannya menekankan pada usaha untuk melindungi pendidik jika berbuat kesalahan.

3. Constructive supervision. Supervisi ini dalam kegiatannya berorientasi pada masa yang akan datang dengan mengamati data dan kesalahan pendidik dan membangunnya agar lebih baik serta berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkannya.

4. Supervision. Supervisi ini merupakan supervisi dalam arti yang sesungguhnya, yang lebih memperhatikan peranan pendidik dalam mengusahakan perbaikan proses pembelajaran, dan selalu berusaha untuk memperbaikinya.

Pembagian ini berarti, supervisi pendidikan yang berperan sebagai upaya koreksi disebut supervisi korektif. Demikian pula supervisi yang berperan sebagai upaya menumbuhkan kreativitas maka disebut supervisi kreatif. Begitu seterusnya dalam penjabaran supervisi berdasarkan peranannya.

Bagi penulis, pembagian lainnya yang dapat diajukan berdasarkan pada target dari supervisi. Pembagian ini juga didasarkan atas pendapat bahwa supervisi pendidikan mempunyai tujuan sebagai upaya perubahan. Pembagian supervisi pendidikan menurut penulis adalah berikut ini.

1. Supervisi pembelajaran. Supervisi pembelajaran ini mengacu pada pendapatnya Purwanto (2014) yang menyatakan bahwa supervisi pembelajaran adalah aktivitas supervisi yang bertujuan memperbaiki kondisi­kondisi tertentu sehingga situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan tujuan pendidikan tercapai. Supervisi pembelajaran ini lebih menekankan kegiatan pada kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Supervisi pembelajaran dibatasi sebagai usaha merangsang, bekerjasama, berkoordinir dan membina pertumbuhan karier pendidik secara berkesinambungan baik secara individual maupun kelompok agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien (Masaong, 2012). Supervisi pembelajaran merupakan bantuan dan pelayanan kepada kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan untuk mengembangkan profesionalitasnya sehingga kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan termotivasi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara maksimal.

2. Supervisi klinis. Menurut Purwanto (2014) supervisi klinis termasuk bagian dari jenis supervisi pendidikan yang sejenis dengan supervisi pengajaran. Supervisi klinis adalah bentuk pembimbingan dan pembinaan terhadap pendidik yang

difokuskan pada peningkatan pembelajaran dengan melalui program yang sistematis dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif tentang penampilan mengajar pendidik. Tujuan supervisi klinis adalah mengadakan perubahan pembelajaran kearah yang lebih baik secara rasional. Supervisi klinis diidentikkan dengan layanan kesehatan dokter dengan pasennya. Pada supervisi klinis terjadi pertemuan tatap muka antara supervisor dan pendidik, untuk membicarakan hal­ hal yang berkaitan dengan pembelajaran di dalam kelas guna memperbaiki pembelajaran dan mengembangkan profesionalitas pendidik secara kolegial.

Dalam dokumen Sunarno Basuki SUPERVISI PENDIDIKAN JASMANI (Halaman 49-55)