Word of Mouth : Strategi Promosi Perpustakaan Yang Murah dan Efisien
PEMBAHASAN 1. Pengertian Pemasaran
Pemasaran, seperti yang kita ketahui merupakan rangkaian kegiatan manajemen. Umumnya berkaitan erat dengan memasarkan suatu produk yang nyata dalam hal ini seperti barang dan bersifat profit oriented. Pemasaran tidak terbatas pada dunia bisnis saja, namun juga penting bagi lembaga, instansi, atau organisasi yang bersifat non profit oriented termasuk perpustakaan. Ani Sistarina (2013 : 11).
Pemasaran adalah penganalisaan, perencanaan, penerapan, dan pengawasan program agar terjadi pertukaran nilai dengan pasar yang ditargetkan demi tujuan organisasi. Sementara itu, Majaro (1993) mengatakan
marketing is the management process responsible for identifying, anticipating and satisfying customer requiremens profitably. Pemasaran dilakukan dengan
cara memenuhi kebutuhan dan keinginan traget pasar dan dengan menggunakan harga, komunikasi, dan distribusi guna memberitahu, memotivasi, dan melayani pasar, Qolyubi (2003 : 259). Pemasaran atau promosi perpustakaan adalah langkah parktis yang dapat dilakukan perpustakaan untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan.
2. Unsur-unsur Promosi
Hal lain yang harus diketahui untuk mempromosikan perpustakaan adalah unsur-unsur promosi, yaitu: attention (perhatian), interest (ketertarikan),
desire (keinginan, action (tindakan), dan satisfy (kepuasan). Qolyubi (2003:
261).
3. Tujuan Promosi Perpustakaan
Basu Swastha (2000 : 353) mengatakan, bahwa tujuan promosi adalah sebagai berikut:
a. Modifikasi tingkah laku
Orang-orang yang melakukan komunikasi ini mempunyai beberapa alasan antara lain : mencari kesenangan, mencari batuan, memberikan pertolongan atau instruksi, memberikan informasi, mengemukakan ide dan pendapat. Sedangkan promosi, dari segi lain, berusaha merubah tingkah laku dan pendapat, dan memperkuat tingkah laku yang ada.
b. Memberitahu
Kegiatan promosi itu dapat ditujukan untuk memberitahu pasar yang dituju tentang penawaran perusahaan. Promosi yang bersifat informatif umumnya lebih sesuai dilakukan pada tahap-tahap awal di dalam siklus kehidupan produk.
c. Membujuk
Yaitu membujuk calon konsumen agar mau membeli barang atau jasa yang ditawarkan. Yang perlu ditekankan di sini bahwasanya membujuk
bukan berarti memaksa calon konsumen. Membujuk dengan berlebih-lebihan akan memberikan kesan yang negatif pada calon konsumen sehingga keputusan yang diambil mungkin justru keputusan yang negatif. d. Mengingatkan
Mengingatkan komsumen tentang adanya barang tertentu, yang dibuat dan dijual perusahaan tertentu, di tempat tertentu dan dengan harga yang tertentu pula. Promosi yang bersifat mengingatkan dilakukan terutama untuk mempertahankan merk produk di hati masyarakat dan perlu dilakukan selama tahap kedewasaan di dalam siklus kehidupan produk. Sedangkan tujuan promosi perpustakaan menurut Widayat (2015:3)adalah:
a. Memperkenalkan fungsi perpustakaan kepada masyarakat pemakai.
b. Mendorong minat baca dan mendorong masyarakat agar menggunakan koleksi perpustakaan semaksimal mungkin.
c. Memperkenalkan pelayanan dan jasa perpustakaan kepada masyarakat. d. Hasil dari promosi adalah tumbuhnya kesadaran sampai tindakan untuk
memanfaatkannya.
4. Membangun citra pustakawan (librarian image)
Image atau Citra menurut Rinehart (1996:360)didefinisikan sebagai a
picture of mind, yaitu suatu gambaran yang ada di dalam benak seseorang.
Secara sederhana citra diri seorang pustakawan dapat diartikan sebagai gambaran kita terhadap diri sendiri atau pikiran kita tentang pandangan orang lain terhadap diri. Dengan pengertian tersebut maka akan mengajak kita untuk menjawab seluruh pertanyaan yang sangat fundamental: kita ingin dipahami oleh masyarakat sebagai apa? Atau, citra apa yang kita inginkan bagi diri kita sendiri?, citra positif atau citra negative?, Sebagian orang berpandangan (memberi kesan ) bahwa pustakawan adalah seorang yang susah senyum, judes, pakai kacamata, berpenampilan layaknya seorang penjaga yang kejam yang tidak bisa bernegosiasi, tetapi ada yang berpandangan seorang pustakawan adalah orang yang menarik, ramah, smart, bertanggung jawab, sosialita dsb. Triana Santi (2014:77).
Dalam konteks pengembangan perpustakaan, yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana pengembangan tenaga pustakwan untuk meningkatkan
kualitas dalam pelayanan secara optimal. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan itu, maka diperlukan adanya perilaku yang baik khususnya dalam berkomunikasi. Komunikasi yang perlu dilakukan oleh seorang pustakawan yaitu bagaimana agar sumber informasi dapat diakses sesuai kebutuhan pemakinya. Di samping itu adanya kecenderungan dari pustakawan itu sendiri, bahwa dalam memahami pekerjaannya kurang tanggap akan kebutuhan pemakainya. Bahkan seringkali pustakawan membuat citra buruk dengan mengesampingkan kebutuhan pemakai perpustakaan khususnya civitas akademika yang dilayaninya. Untuk itu perlunya pustakawan berupaya mengembangkan kepribadian atau personalitas dalam melakukan pelayanan. Triana Santi (2014:79)
Sebetulnya citra sangat ditentukan oleh kinerja. Dan kinerja sangat tergantung pada kompetensi atau kapasitas internal yang dimiliki. Jadi, untuk membangun citra pustakawan yang baik hal pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki kinerja kita. Untuk membangun citra positif pustakawan dan tenaga perpustakaan harus membekali dan membenahi diri dengan memiliki konsep diri yaitu dengan memiliki kepercayaan diri yang kuat dan kebanggan diri bahwa pustakawan bukanlah profesi yang harus dipandang sebelah mata.Selain itu seorang pustakawan di era teknologi yarus memiliki kompetensi daya saing , memiliki kemampuan menggunakan computer, berbahasa dan bersosialisasi terhadap lingkungannya, membangun kerjasama sesame pustakawan dan pustakawan,ikut serta dalam kegiatan perpustakaan dan profesi, dengan demikian kita dapat membangun citra dan kepercayaan publik. Triana Santi (2014:79-80)
5. Memahami citra perpustakaan
Citra merupakan bayangan, lukisan, gambaran tentang sesuatu yang mungkin tercipta dalam ketidaksengajaan atau terbentuk dari perilaku yang terus-menerus sehingga pihak pemerhati kemudian memberikan persepsi yang dipengaruhi bagaimana orang memandang, pola pikir, gambaran menurut orang-perorang atau khalayak. Namun citra yang sebenarnya bersifat alami, meskipun tentu tidak eksak karena ia hanyalah lukisan dan gambaran seseorang atau segala sesuatu, sering citra termanipulasi atau justru dimanipulasi untuk
sengaja dibangun (pencitraan diri) untuk maksud tertentu. Setiap perpustakaan mempunyai citra di masyarakat dan citra dapat berperingkat baik, sedang, atau buruk. Citra yang baik (positif) akan mempunyai dampak yang menguntungkan, sedangkan citra yang buruk sudah pasti akan merugikan bagi perpustakaan. Purwono (2013:157)
Gambaran citra positif perpustakaan meliputi perpustakaan merupakan pusat informasi, perpustakaan merupakan pusat belajar, perpustakaan merupakan lembaga pelestari khasanah budaya, serta perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana atau tempat rekreasi. Gambaran citra positif selanjutnya adalah perpustakaan merupakan agen perubahan, perpustakaan harus mampu memberikan layanan yang baik dan memuaskan penggunanya, perpustakaan merupakan salah satu layanan publik yang penting dan dibutuhkan masyarakat, dan perpustakaan harus mampu menjadi kebanggaan masyarakat penggunanya.
Citra perpustakaan merupakan cerminan kinerja perpustakaan yang dilihat, diterima dan dirasakan oleh pemustaka. Baik buruknya citra perpustakaan merupakan gambaran atas upaya yang dilakukan dan prestasi yang dicapai oleh perpustakaan. Oleh karena itu, citra positif perpustakaan merupakan tantangan bagi perpustakaan yang harus diwujudkan.
Tujuan citra positif meliputi empat hal. Pertama, turut membangun image institusi. Kedua, meningkatkan awareness terhadap eksistensi perpustakaan. Ketiga,meningkatkan awareness nilai perpustakaan di mata pustakawan, stakeholder danmasyarakat (public). Keempat, membangun kredibilitas perpustakanan. Anisa Sri Restanti (2015: 157)
6. Word Of Mouth (WOM)
Word of Mouth (WOM) bermakna pendapat mengenai suatu produk
tertentu yang diperjualbelikan di antara orang-orang pada suatu waktu tertentu (Rosen, 2004). Word of Mouth adalah komunikasi mengenai produk dan jasa yang dibicarakan oleh orang-orang (Silverman, 2001). Komunikasi ini dapat berupa pembicaraan atau testimonial. Sedangkan Wels dan Prensky (1996) menyatakan komunikasi Word of Mouth adalah komunikasi informal antara konsumen mengenai suatu produk. Dari definisi-definisi tersebutdapat
disimpulkan Word of Mouth (WOM) adalah komunikasi berupa pembicaraan maupun testimonial yang dilakukan orang yang membicarakan mengenai suatu produk atau jasa.
Menurut Mira Maulani Utami dan Ayu Noviani Hanum (2010 : 398-414) Word of mouth tidak dapat dibuat-buat atau diciptakan. Karena word of
mouth dilakukan oleh konsumen dengan sukarela atau tanpa mendapatkan
imbalan. Berusaha membuat-buat WOM sangat tidak etis dan dapat memberikan efek yang lebih buruk lagi, usaha tersebut dapat merusak brand dan merusak reputasi perusahaan.
7. Strategi Pemasaran Word of Mouth (WOM)
Pemasaran dari mulut ke mulut yang sering kita lihat disekitar kita itu lah
Word of Mouth (WOM). Menurut Yuda (2008) WOM merupakan pemasaran
yang simple, tidak membutuhkan biaya besar namun efektifitasnya sangat besar. Apalagi dengan behaviour masyarakat Asia khususnya Indonesia yang suka berkumpul dan bersosialisasi untuk bercerita akan hal-hal yang mereka sukai dan alami.
Di era modern ini pun WOM tidak hanya dilakukan melalui face to face, namun sudah memanfaatkan teknologi yang ada contoh memberitahukan sesuatu ke teman melalui e-mail dan juga website. Contoh ada pemustaka yang mendapatkan pelayanan prima dalam mencari sumber informasi kemudian dia menampilkan dalam website/blog dia. Tanpa sengaja orang tersebut sudah melakukan Word of Mouth. Yuda (2008)
Kunci utama dari WOM adalah perpustakaan a harus memiliki opinion
leader yaitu orang yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi sebuah
keputusan (influencer). Para opinion leader pada umumnya akan lebih didengar karena mereka mungkin dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih. Opinion leader merupakan aset penting bagi perpustakaan. Ketika kita dapat memuaskan mereka maka akan sangat menentukan efektifitas WOM yang kita lakukan. Yuda (2008)
Memang sulit untuk melakukan assestment terhadap keberhasilan dan efektifitas dari WOM. Namun Dari beberapa hasil penelitian pun telah menunjukkan bahwa WOM sangat memberikan pengaruh. Paling tidak strategi
pemasaran WOM ini dapat kita lakukan sebagai komplemen dari aktivitas promosi yang kita lakukan. Yuda (2008)
8. Langkah-langkah Word of Mouth Marketing di perpustakaan
Prinsip dasar dari Word of Mouth Marketing sebenarnya tercermin dari kalimat dibawah ini: “Happy customers are your best advertisers. If people
like you and like what you do, they will tell their friends”. Sangat sederhana,
dan pendekatan ini bisa muncul secara alami (natural) dari aktivitas pembicaraan yang juga memang sangat dekat dengan masyarakat kita. Kita semua tahu bahwa orang suka membicarakan hal-hal yang menurut mereka keren dan fantastis ataupun perlakuan yang berkesan bagi mereka dari sebuah perusahaan/brand yang mereka sukai. Edwin SA (2013)
Edwin SA (2013) menyatakan bahwa ada Empat Aturan Dasar Word of Mouth :
Aturan 1: Jadilah Menarik
• Tidak ada yang mau membicarakan perusahaan yang tidak menarik, produk yang membosankan, iklan yang tidak menarik. Setiap orang bisa menjadi menarik, apapun bisa dibuat menarik. Sebelum Anda meluncurkan sebuah produk, tanyakan pada pasangan Anda terlebih dahulu. Percayalah, jika ia menganggapnya menarik, maka Anda akan jadi pemenang
Aturan 2: Buat Orang Senang
• Membuat produk yang keren. Menyediakan layanan yang hebat. Dan teruskan sedikit effort Anda, jadikan pekerjaan yang Anda lakukan membuat orang lain jadi seperti kerasukan energi, gembira dan bersemangat untuk memberi tahu teman-teman lainnya.
Aturan 3: Dapatkan Kepercayaan dan Penghargaan (Respect)
• Tidak ada yang mau membicarakan sebuah perusahaan yang tidak mereka percayai atau tidak mereka sukai. Dapatkan respect dari pelanggan Anda. Berlakulah baik terhadap mereka. Bicara dengan mereka. Hargai mereka. Penuhi apa yang mereka inginkan. Tetap jujur. Setiap perusahaan pada dasarnya bisa berlaku lebih baik, dan setiap
orang bisa berusaha agar perusahaan mereka bisa lebih baik terhadap pelanggannya.
Aturan 4: Buatlah Jadi Mudah
• Carilah topik sederhana yang mudah untuk diulang. Bukan statement dari brand Anda yang formal, bukan deskripsi produk. Lupakan
elevator pitch yang biasa dilakukan pada pitch-pitch biasanya. Apa
yang bisa orang-orang ceritakan tentang Anda/produk Anda dalam satu kalimat?
• Lalu lakukan apa saja agar topik tersebut mudah dibagikan (share). Gunakan form tell-a-friend di website Anda, share-to-social media
button. Gunakan e-mail, flyers, blog, dan sebagainya.
KESIMPULAN
Pemasaran dari mulut ke mulut yang sering kita lihat disekitar kita itu lah
Word of Mouth . WoM merupakan pemasaran yang simple, tidak membutuhkan
biaya besar namun efektifitasnya sangat besar. Dalam perkembangannya Word of
Mouth dilakukan baik secara lisan maupun tertulis, online maupun offline, yang
dilakukan tanpa memungut biaya.
Ada Empat Aturan Dasar Word of Mouth dalam perpustakaan, aturan 1) jadilah menarik, aturan 2) membuat orang senang, aturan 3) dapatkan kepercayaan dan penghargaan (Respect), aturan 4) buatlah jadi mudah.
Dampak yang diharapkan dari Word of Mouth adalah dampak yang positif bagi perpustakaan, agar kesan bagus yang diterima langsung oleh pemustaka akan disampaikan kepada pemustaka lain baik secara langsung atau melalui media. Word of Mouth itu bersifat natural, maka yang pertama dilakukan adalah membangun citra terhadap pustakawan dan perpustakaan.
DAFTAR PUSTAKA
Anisa Sri Restanti, Tantangan dan Strategi untuk Mengembangkan Citra Positif Perpustakaan, dalam Record and Library Journal, Volume 1, Nomor 2, Juli-Desember 2015, hal. 153-163.
Ani Sistarina, Pengaruh promosi Terhadap Peningkatan Pemanfaatan
Perpustakaan di Universitas Airlangga, dalam Jurnal JPUA: Jurnal
Perpustakaan Universitas Airlangga, Vol. 3 No. 1 : 2013 : 6-10). Basu Swastha, Manajemen Pemasaran Modern, (Yogyakarta: Liberty, 2000). Edwin SA, Yang Perlu Diketahui tentang Word of Mouth Marketing, 2013.
https://bangwinissimo.com/2013/09/16/yang-perlu-diketahui-tentang-word-of-mouth-marketing/, diunduh pada tanggal 2 Agustus 2016.
Fauzan Muhammad Basalamah, Pengaruh Komunitas Merek terhadap Word of
Mouth, dalam Bisnis & Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan
Organisasi, Jan–Apr 2010, hlm. 79-89 Volume 17, Nomor 1. http://journal.ui.ac.id/index.php/jbb/article/viewFile/629/614, diunduh pada tanggal 2 Agustus 2016
Holt, Rinehart and Winston Inc. 1996. The Holt Dictionary of American English. New York. Hal.360).
Ivan Mulyadi, Word of Mouth: Efek dari Kepuasan atau Ketidakpuasan,2013 http://www.marketing.co.id/word-mouth-efek-dari-kepuasan-atau-ketidakpuasan/, diunduh pada tanggal 2 Agustus 2016. Mira Maulani Utami, Ayu Noviani Hanum, Analisis Faktor-Faktor Yang
Memperngaruhi Word of Mouth Mahasiswa UNIMUS, dalam Prosiding
Seminar Nasional Unimus 2010, hal. 398 – 414.
http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/108, diunduh pada tanggal 2 Agustus 2016
Purwono. (2013). Profesi Pustakawan Menghadapi Tantangan Perubahan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Qolyubi, Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta : jurusan Ilmu Perpustakaan dan Infrormasi, fak. Adab. 2003.
Rosen, Emanuel. 2004. Kiat Pemasaran dari Mulut ke Mulut. (Zoelkifli). Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Silverman, George. 2001. The Secrets of Word-of-MouthMarketing: How to
Trigger Expontential Sales throughRunaway Word-of-Mouth. US:
Triana Santi , Membangun Citra Pustakawan IAIN-SU Medan , dalam Jurnal
Iqra’ Volume 08 No.01 Mei, 2014, hal. 75-80.
http://library.uinsu.ac.id/journal/index.php/iqra/article/view/24, diunduh
pada tanggal 2 Agustus 2016
Wels, William D. & Prensky, David. 1996. Consumer Behavior.New York: John Wiley & Sons.
Widayat Prihartanta, Tujuan Promosi Perpustakaan , dalam Jurnal Adabiya, Vol.
3 No. 83 Tahun 2015,hal. 1-9.
https://www.academia.edu/19792333/Tujuan_Promosi_Perpustakaan,
diunduh pada tanggal 2 Agustus 2016
Yuda Wicaksana Putra, Strategi Pemasaran Word of Mouth WoM, dalam https://ymanajemen.wordpress.com/2008/04/12/strategi-pemasaran-word-of-mouth-wom/, diunduh pada tanggal 2 Agustus 2016.
Yulius Jatmiko Nuryatno, Kualitas Layanan dan Positive Word of Mouth, dalam Jurnal Dinamika Manajemen, JDM Vol. 3, No. 2, 2012, pp: 148-154 http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jdm. diunduh pada tanggal 2 Agustus 2016.