• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Skema KSP

2.2.9 Pembiayaan KPBU Pembiayaan KPBU mencakup:

2.2.9.2 Pembiayaan melalui Pinjaman Luar Negeri (PLN)

Dalam melakukan PLN, Badan Usaha terlebih dahulu wajib mengajukan permohonan disertai bahan keterangan yang lengkap mengenai rencana penggunaannya kepada Tim PKLN untuk mendapatkan persetujuan mencari pinjaman komersial luar negeri.60 Kemudian, Badan Usaha diwajibkan untuk menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan pinjaman komersial luar negeri yang diperoleh.61

Pinjaman tersebut termasuk dalam jenis pinjaman yang dikoordinasi pengelolaannya oleh Tim PKLN, yaitu:62

a. Pinjaman yang berhubungan dengan proyek-proyek pembangunan yang pembiayaannya bersifat"non-recourse", "limited-recourse" "advanced payment", "trustee borrowing", "leasing" dan sebagainya;

b. Pinjaman yang berhubungan dengan proyek-proyek pembangunan yang pembiayaannya didasarkankepadaBuild, Operate, and Transfer("BOT"), Build and Transfer ("B&T") dan sebagainya.

58PMK No. 100/PMK.010/2009.

59Karim, Iswahjudi A., Makalah “Kredit Sindikasi”, 2005.

60Diktum Kesembilan Keppres No. 39/1991.

61Diktum Keduabelas Keppres No. 39/1991.

Kemudian, Badan Usaha juga harus mematuhi peraturan PLN yang sebagaimana diatur oleh Bank Indonesia (bank sentral di Indonesia) terkait pelaporan kegiatan lalu lintas devisa dan pelaporan kegiatan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan hutang luar negeri korporasi nonbank.

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia tersebut, terdapat 2 (dua) kewajiban yang harus dilakukan oleh Badan Usaha dalam melakukan PLN, yaitu:

1. Kewajiban Pelaporan

Setiap perusahaan yang bermaksud untuk mendapatkan PLN wajib menyampaikan laporan kepada Bank Indonesia, dengan prosedur sebagai berikut:

a. Laporan Lalu Lintas Devisa

Pelaporan kegiatan lalu lintas devisa (“LLD”)diperlukan untuk mendukung penerapan sistem devisa bebas dan perumusan kebijakan, baik di bidang moneter, perbankan khususnya aspek makroprudensial, maupun sistem pembayaran. Laporan LLD meliputi keterangan dan data mengenai:63

- transaksi perdagangan barang, jasa, dan transaksi lainnya antara Penduduk dengan bukan Penduduk;

- posisi dan perubahan Aset Finansial Luar Negeri (“AFLN”)64 dan/atau Kewajiban Finansial Luar Negeri (“KFLN”)65; dan/atau

- rencana dan/atau Utang Luar Negeri (“ULN”).

Laporan ini juga dilengkapi dengan keterangan dan data pendukung mengenai kegiatan LLD, pelapor LLD dan/atau nasabah atau pihak lain. Kegiatan LLD yang dilaporkan mencakup kegiatan untuk kepentingan Pelapor LLD sendiri maupun nasabah atau pihak lain.66

Pelapor LLD wajib menyampaikan Laporan LLD kepada Bank Indonesia secara lengkap, benar, dan tepat waktu dengan cara online.67Pelaporan ini dilakukan secara bulanan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya. Kemudian, khusus untuk Laporan LLD yang berupa rencana ULN selama tahun berjalan disampaikan setiap awal tahun, paling lambat tanggal 15 Maret, untuk Rencana ULN dan disampaikan paling lambat 1 Juli, untuk perubahan Rencana ULN.68

b. Laporan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri

Setiap Devisa Utang Luar Negeri (“DULN”) wajib ditarik oleh Debitur Utang Luar Negeri (“ULN”) melalui Bank Devisa69.70Laporan penarikan tersebut wajib diberikan kepada Bank Indonesia secara benar dan lengkap serta tepat waktu. Laporan tersebut menggunakan laporan data realisasi penarikan ULN.71 Penyampaiannya dilakukan setiap bulan, dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 10 pada bulan berikutnya. Laporan disampaikan dengan disertai dokumen

63Pasal 2 ayat (1) PBI No. 16/22/PBI/2014.

64AFLN adalah aktiva Penduduk pada bukan Penduduk baik dalam Valuta Asing maupun Rupiah, antara lain dalam bentuk kas Valuta Asing, simpanan, piutang dagang/usaha, surat berharga, dan penyertaan modal.

65KFLN adalah pasiva Penduduk pada bukan Penduduk baik dalam valuta asing maupun Rupiah, antara lain dalam bentuk ULN dan ekuitas dari bukan Penduduk.

66Pasal 2 ayat (2) dan (3) PBI No. 16/22/PBI/2014.

67Pasal 4 PBI No. 16/22/PBI/2014.

68Pasal 6 PBI No. 16/22/PBI/2014.

69Bank Devisa adalah Bank yang memperoleh surat penunjukan dari BankIndonesia untuk dapat melakukan kegiatan usaha perbankan dalam valutaasing, termasuk kantor cabang bank asing di Indonesia.

70Pasal 2 PBI No. 13/22/PBI/2011.

pendukung yang dapat membuktikan bahwa penarikan DULN telah melakukan Bank Devisa.72

Bank Indonesia akan meneliti kebenaran atas laporan penarikan DULN yangdisampaikan oleh Pelapor DULN.Dalam hal terdapat keraguan atas kebenaran penarikan DULN yangdisampaikan oleh Pelapor DULN, Bank Indonesia dapat meminta penjelasankepada Pelapor DULN yang disampaikan paling lama 6 (enam) bulan sejak berakhirnyajangka waktu kewajiban penyampaian laporan. Jika Pelapor DULN tidak menyampaikan laporan dalam jangka waktu tersebut, maka Pelapor DULN dianggap tidak melakukan penarikan DULN melalui Bank Devisa.73Kemudian, dalam hal Pelapor DULN terlambat dan tidak menyampaikan laporan, maka akan dikenakan sanksi administratif.74

2. Penerapan Prinsip Kehati-hatian

Badan Usaha yang memiliki ULN dalam Valuta Asing wajibmenerapkan prinsip kehati-hatian.75Tujuan dilakukannya hal ini adalah untuk melakukan manajemen terhadap beberapa risiko, yaitu risiko nilai tukar (currency risk), risiko likuiditas (liquidity risk), dan risiko beban utang yang berlebihan (overleverage risk). Prinsip kehati-hatian meliputi pemenuhan:76

a. Rasio Lindung Nilai

Badan Usaha yang memiliki ULN dalam Valuta Asing wajibmemenuhi Rasio Lindung Nilai minimum tertentu dengan melakukanLindung Nilai Valuta Asing terhadap Rupiah.

Rasio Lindung Nilai minimum ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari selisih negatif antara:77

- Aset Valas terhadap Kewajiban Valas yang jatuh waktu sampai dengan 3 (tiga) bulansejak akhir triwulan; dan

- Aset Valas terhadap Kewajiban Valas yang jatuh waktu lebih dari 3 (tiga) bulansampai dengan 6 (enam) bulan ke depan sejak akhir triwulan.

Jika tidak terdapat selisih negatif, Badan Usaha tidak memiliki kewajiban melakukan lindung nilai. Namun, pada saat ini Rasio Lindung Nilai minimum ditetapkan paling rendah sebesar 20% (dua puluh persen) sampai dengan 31 Desember 2015.78

b. Rasio Likuiditas

Badan Usaha yang memiliki ULN dalam Valuta Asing wajibmemenuhi Rasio Likuiditas minimum tertentu dengan menyediakanAset Valuta Asing yang memadai terhadap Kewajiban Valuta Asingyang akan jatuh waktu sampai dengan 3 (tiga) bulan ke depan sejakakhir triwulan.79Rasio Likuiditas minimum tertentu paling rendah sebesar70% (tujuh puluh persen).80Tetapi, Rasio Likuiditas minimum ditetapkan paling rendah sebesar 50% (lima puluh persen) sampai dengan 31 Desember 2015.81

72Pasal 4 PBI No. 13/22/PBI/2011.

73Pasal 7 PBI No. 13/22/PBI/2011.

74Pasal 10 PBI No. 13/22/PBI/2011.

75Pasal 2 ayat (1) PBI No. 16/20/PBI/2014.

76Pasal 2 ayat (2) PBI No. 16/20/PBI/2014.

77Pasal 3 PBI No. 16/20/PBI/2014.

78Pasal 12 PBI No. 16/20/PBI/2014.

79Pasal 4 ayat (1) PBI No. 16/20/PBI/2014.

80Pasal 4 ayat (2) PBI No. 16/20/PBI/2014.

c. Peringkat Utang (Credit Rating)

Peringkat Utang merupakan penilaian yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan atau kemampuanperusahaan dalam memenuhi kewajibannya secara tepat waktu (credit worthiness).82

Badan Usaha yang melakukan ULN dalam Valuta Asing wajibmemenuhi Peringkat Utang paling kurang setara BByang dikeluarkan oleh Lembaga Pemeringkat yang diakui oleh otoritasyang berwenang.83

Kewajiban ini berlaku bagi ULN yang ditandatangani atau diterbitkan sejak tanggal 1 Januari 2016, tetapi tidak berlaku bagi ULN valas yang merupakan refinancing serta ULN valas yang diperoleh dari kreditor lembaga internasional (bilateral/multilateral) terkait pembiayaan proyek infrastruktur.84

Kewajiban pemenuhan ini tidak berlaku bagi ULN dalam Valuta Asing yang berupa utang dagang (trade credit) yang diberikan oleh supplier luar negeri atas transaksi barang dan/atau jasa.85Dalam melaksanakan kewajiban ini, Badan Usaha wajib menyampaikan laporan kepada Bank Indonesia dengan dokumen pendukung dengan lengkap, benar, dan tepat waktu.