2. Skema KSP
2.2.9 Pembiayaan KPBU Pembiayaan KPBU mencakup:
2.2.9.3 Isu Spesifik Terkait Pembiayaan Proyek
Beberapa isu terkait pembiayaan proyek meliputi:
1. Aset yang Dapat Dijaminkan Sehubungan dengan Proyek
Mengingat bahwa Proyek akan dikembangkan di atas tanah milik Pemerintah (Kementerian Keuangan), berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara (“UU No. 1/2004”), aset yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah, termasuk tanah, tidak dapat dijaminkan untuk mendapatkan pinjaman. Pembatasan ini berlaku baik untuk badan swasta yang menggunakan aset serta entitas Pemerintah yang memiliki aset tersebut.86Dengan demikian, Badan Usaha tidak memiliki kesepakatan apapun yang terkait dengan tujuan menjaminkan tanah untuk mendapatkan pembiayaan. 2. Periode untuk memperolehpembiayaan
BerdasarkanPeraturan KPBU, Badan Usaha Pelaksana diharapkan mendapatkan pembiayaan dalam waktu satu tahun terhitung sejakpenandatanganan Perjanjian KPBU. Hal ini harus dibuktikan baik dengan penandatanganan kesepakatan pinjaman dan pinjaman tersebut telah siap untuk pencairan. Kegagalan untuk mendapatkanpembiayaan dalam 12 (dua belas) bulan tersebut atau perpanjangannya apabila diberikan oleh PJPK, memberikan hak kepada PJPK untuk mencairkanbank garansi yang disediakan oleh Badan Usaha Pelaksana.
3. Kewajiban PenggunaanMata Uang Rupiah
Pada 1 Juni 2015 Bank Indonesia menerbitkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 17/11/DSKP/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (“SEBI No.
17/11/DSKP/2015”), yang mengimplementasikan dan lebih lanjut menjelaskan ketentuan-ketentuan yang
82Pasal 1 ayat (11) PBI No. 16/20/PBI/2014.
83Pasal 5 PBI No. 16/20/PBI/2014.
84Pasal 7 jo. Pasal 13 PBI No. 16/20/PBI/2014.
85Pasal 6 PBI No. 16/20/PBI/2014.
ditetapkan oleh peraturan induknya yaitu PBI No. 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (“PBI No. 17/3/PBI/2015”). PBI No. 17/3/PBI/2015 dan Surat Edaran BI No. 17/11/DSKP/2015 menyatakan bahwa semua transaksi keuangan dalam yurisdiksi Indonesia yang berlangsung pada atau setelah tanggal 1 Juli 2015, harus dinominasikan dan diselesaikan dalam kurs Rupiah.87
Berdasarkan PBI dan SEBI tersebut, kewajiban penggunaan mata uang Rupiah berlaku untuk transaksi yang memenuhi kriteria berikut:
a. transaksi yang dilakukan untuk:88
- transaksi untuk tujuan pembayaran;
- penyelesaian kewajiban lain yang harus dipenuhi menggunakan uang; - transaksi keuangan lainnya.
b. transaksi terjadi di Indonesia; dan
c. transaksi tersebut bukanlah sebuah transaksi yang dikecualikan. Beberapa jenis transaksi yang dikecualikan disampaikan pada Tabel 2.3.
Walaupun proyek infrastruktur kereta api tidak termasuk dalam daftar proyek infrastruktur dalam SEBI tersebut, namun masih dapat dimintakan pengecualian atas kewajiban penggunaan Rupiah, dengan prosedur kementerian dan lembaga berwenang mengajukan surat keterangan mengenai penangguhan atas kewajiban tersebut dengan penjelasan bahwa proyek tersebut adalah Proyek Infrastruktur Strategis. Permohonan pengecualian kewajiban penggunaan Rupiahdiajukan oleh pihak yang memerlukan pengecualian kewajiban tersebut disertai dengan alasan untuk menggunakanvaluta asing dalam pembayaran atau penyelesaian kewajiban.89
Dalam hal proyek dilaksanakan oleh konsorsium, permohonandapat diajukan oleh salah satu anggota konsorsium untuk danatas nama konsorsium atau diajukan secara bersama-sama olehanggota konsorsium tersebut.90
Dalam memberikan persetujuan, Bank Indonesia mempertimbangkan antara lain sumber pembiayaan proyek dan dampak proyek terhadap stabilitas ekonomi makro.91Bank Indonesia memberikan persetujuan atau penolakan secara tertulis paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan diterima secara lengkap.92
87Pasal 23 PBI No. 17/3/PBI/2015.
88Pasal 2 ayat (2) PBI No. 17/3/PBI/2015.
89Bagian III huruf E SEBI No. 17/11/DSKP/2015.
90Bagian III huruf F SEBI No. 17/11/DSKP/2015.
91Bagian III huruf C SEBI No. 17/11/DSKP/2015.
Tabel 2.3 Jenis Transaksi Yang Dikecualikan
No Jenis Transaksi Penjelasan
1 Transaksi tertentu dalam implementasi
APBN93 - Pembayaran utang asing;
- Pembayaran utang dalam negeri yang di denominasi dalam valuta asing; - Pembelian barang dari luar negeri;
- Pembelian modal dari luar negeri;
- Penerimaan negara yang berasal dari penjualan obligasi dalam valuta asing; dan - Transaksi lain dalam hal implementasi APBN.
Untuk semua hal diatas, pembayaran yang menggunakan valuta asing harus disetujui secara tertulis. 2 Penerimaan atau pencairan hibah dari
atau ke luar negeri94 Mata uang asing hanya dapat digunakan jika penerima atau pemberi berlokasi di luar negeri.
Untuk hal tersebut di atas, pembayaran menggunakan mata uang asing harus disetujui secara tertulis. 3 Transaksi Perdagangan Internasional95 a. Ekspor dari atau impor ke kawasan pabean Indonesia; dan/atau
b. Layanan internasional dilakukan dengan metode sebagai berikut: - Pasokan lintas batas; dan
- Konsumsi di luar negeri.
Untuk hal di atas, pembayaran menggunakan mata uang asing harus disetujui secara tertulis. Catatan:
Nilai tambah kegiatan dalam kegiatan ekspor dan/atau impor barang ke atau di luar wilayah pabean Republik Indonesia tidak dikategorikan sebagai transaksi perdagangan internasional, maka diharuskan menggunakan Rupiah.
4 Tabungan bank dalam mata uang
asing96 Pembayaran menggunakan mata uang asing harus disetujui secara tertulis.
5 Transaksi Pembiayaan Internasional97 - Hanya diizinkan jika salah satu pihak transaksi pembiayaan berdomisili di luar negeri;
- Dalam hal pemberi dana adalah bank di Indonesia, transaksi harus memenuhi peraturan mengenai transaksi valuta antara sebuah bank di Indonesia dan pihak asing.
Untuk hal di atas, pembayaran menggunakan mata uang asing harus disetujui secara tertulis. 6 Transaksi dalam mata uang asing yang
dilakukan menurut hukum98 - Kegiatan usaha valuta asing yang dilakukan oleh bank berdasarkan undang-undang yang mengatur tentang perbankan dan perbankan syariah;
93Pasal 4(a) jo. Pasal 6 PBI No. 17/3/PBI/2015.
94Pasal 4(b) jo. Pasal 7 PBI No. 17/3/PBI/2015.
95Pasal 4(c) jo. Pasal 8 PBI No17/3/PBI/2015.
96Pasal 4(d) PBI No. 17/3/PBI/2015.
97Pasal 4(e) jo. Pasal 9 PBI No17/3/PBI/2015.
No Jenis Transaksi Penjelasan
- Transaksi penerbitan surat berharga oleh Pemerintah dalam mata uang asing di pasar primer atau sekunder berdasarkan pada Undang-Undang yang mengatur obligasi pemerintah dan obligasi syariah;
- Transaksi lainnya dalam mata uang asing berdasarkan pada Undang-Undang.
Untuk hal di atas, pembayaran menggunakan mata uang asing harus disetujui secara tertulis. 7 Transaksi lainnya99 - Penukaran valuta asing yang dilakukan oleh pengusaha penukaran valuta asing;
- Pembawaan uang kertas asing ke dalam atau ke luar wilayah pabean Republik Indonesia. Merupakan kegiatan yang tidak dikategorikan sebagai transaksi yang wajib menggunakan Rupiah. 8 Proyek Infrastruktur Strategis100 Membutuhkan persetujuan dari Bank Indonesia.
“Proyek Infrastruktur Srategis” didefinisikan sebagai proyek infrastruktur yang dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang luar negeri korporasi nonbank dan harus dibuktikan dengan surat keterangan dari kementerian dan lembaga yang berwenang.
99Pasal 14 PBI Nomor 17/3/PBI/2015.
Persetujuan pengecualian penggunaan Rupiah dalam proyekinfrastruktur strategis yang diberikan oleh Bank Indonesia dapatmencakup:101
a. transaksi dalam rangka pembangunan proyek infrastrukturstrategis sampai dengan proyek selesai dibangun; dan/atau
b. transaksi dalam rangka penjualan produk atau jasa yangdihasilkan oleh proyek infrastruktur strategis sampai denganjangka waktu tertentu, dengan syarat penjualan produk ataujasa tersebut telah diperjanjikan sejak awal pembangunanproyek dimaksud.
Dengan kata lain, persetujuan pengecualian atas kewajiban penggunaan Rupiah berlaku untuk setiap transaksi dan perjanjian yang dilakukan untuk pelaksanaan proyek infrastruktur strategis yang dikecualikan dari kewajiban tersebut.