• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Dalam dokumen Panduan Pelayanan Medik PB PAPDI 2006 (Halaman 40-45)

Skrining dianjurkan pada semua pasien berusia 20 tahun, setiap 5 tahun sekah: Kadar kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida, glukosa darah, tes fiingsi hati, urin lengkap, tes flingsi ginjal, TSH, EKG

TERAPI

Untuk hiperkolesterolemia:

Penatalaksanaa n Non-famiakolopi s (Perubahan Gaya Hidup): • Diet, dengan komposisi:

- Lemakjenuh < 7 % kalori total

- PUFA hingga 10% kalori total - MUFA hingga 10% kalori total - Lemak total 25-35 % kalori total

27

Panduan Pelayanan Medik PAPDI

- Karbohidrat 50 - 60 % kalori total - Protein hingga 15 % kalori total - Serat 20-30 g/hari

- Kolesterol <200 mg/hari Latihanjasmani

Penurunan berat badan bagi yang gemuk

Menghentikan kebiasaan merokok, minuman alkohol

Pemantauan profil lipid dilakukan setiap 6 minggu. Bila target sudah tercapai (lihat tabel target di bawah ini), pemantauan setiap 4-6 bulan.

• Bila setelah 6 minggu PGH, target belum tercapai: intensifkan penurunan lemak jenuh dan kolesterol, tambahkan stanol/steroid nabati, tingkatkan konsumsi serat,

dan kerjasama dengan dietisien.

• Bila setelah 6 minggu berikutnya terapi non-farmakologis tidak berhasil menurunkan kadar kolesterol LDL, maka terapi farmakologis mulai diberikan, dengan tetap meneruskan pengaturan makan dan latihanjasmani.

Terapi Farmakologis: • Golongan statin: - Simvastatin 5-40 mg - Lovastatin 1 0 - 8 0 mg - Pravastatin 1 0 - 4 0 mg - Fluvastatin 20-80mg - Atorvastatin 10-80mg ♦ Golongan bile acid sequestrant.

- Kolestiramin 4 - 16 g • Golongan nicotinic acid:

- Nicotinic acid (immediate release) 2 x 100 mg s.d. 1,5 - 3 g

Target Kolesterol LDL (mg/dL) : Kategori Risiko PJK atau Ekivalen PJK (FRS > 20 %) Faktor risiko > 2 (FRS < 20 % ) Faktor risiko 0-1 Target Kadar LDL LDL untuk mulai PGH <100 >100 (100-129: opsional) <130 >130 <160 >160 Kadar LDL untuk

mulai terapi farmakologis 130

>130 (FRS 10-20% (160-189: opsional) >190

(160-189: opsional)

Terapi hiperkolesterolemia untuk pencegahan primer, dimulai dengan statin atau

bile acid sequestrant atau nicotinic acid.

Pemantauan profil lipid dilakukan setiap 6 minggu. Bila target sudah tercapai (lihat tabel target di atas), pemantauan setiap 4-6 bulan. Bila setelah 6 minggu terapi, target belum tercapai; intensifkan/ naikkan dosis statin atau kombinasi dengan yang lain. Bila setelah 6 minggu berikutnya terapi non-farmakologis tidak berhasil menurunkan kadar kolesterol LDL, maka terapi farmakologis diintensifkan,

28

Metabolik Endokrinobgi Pasien dengan PJK, kejadian koroner mayor atau dirawat untuk prosedur koroner, diberi terapi obat saat pulang dari RS jika kolesterol LDL > 100 mg/dL.

Pasien dengan hipertrigliseridemia:

• Penatalaksanaan non farmakologis sesuai di atas. • Penatalaksanaaan farmakologis:

Target terapi:

- Pasien dengan trigliserida borderline tinggi atau tinggi: tujuan utama terapi adalah mencapai target kolesterol LDL.

- Pasien dengan trigliserida tinggi: target sekunder adalah kadar kolesterol non-HDL, yakni sebesar 30 mg/dL lebih tinggi dari target kadar kolesterol LDL (lihat tabel di atas).

- Pendekatan terapi obat:

1. Obat penurun kadar kolesterol LDL, atau

2. Ditambahkan obat fibrat atau nicotinic acid. Golongan fibrat terdiri dari: • Gemfibrozil 2 x 600 mg atau 1 x 900 mg

Fenofibrat 1 x 200 mg

KOMPLIKASI

Aterosklerosis, penyakit jantung koroner, strok, pankreatitis akut

P RO GN OS IS

Dubia ad Bonam

WEWENANG

• RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan peserta PPDS Penyakit Dalam

• RS non pendidikan: Dokter Spesialis Penyakit Dalam

UNIT YANG MENANGANI

• RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam - Divisi Metabolik Endokrinologi / Divisi Kardiologi

• RS non pendidikan: Bagian Ilmu Penyakit Dalam

UNIT TERKAIT

• RS pendidikan: Divisi Kardiologi, Departemen Patologi Klinik, Gizi • RS non pendidikan: Bagian Patologi Klinik, Gizi

R EFE REN SI

1. PERKENI. Konsensus Pengelolaan Dislipidemia pada Diabetes Melitus di Indonesia. 1995.

2. Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment ofHigh Blood Cholesterol in Adults. Executive Summary of the Third Report of the National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment ofHigh Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel 111). JAMA, May 16, 2001;285(19):2486-97.

29 Panduan Pelayanan Medik PAPDI

3. Semiardji G National Cholesterol Education Program - Adult Treatment Panel III

(NCEP-ATP III): Adakah hal yang baru? Makalah Slang Klinik Bagian Metabolik Endokrinologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam, 2002.

4. Ginsberg HN, Goldberg IJ. Disorders of Lipoprotein Metabolism. In Braunwald E,

Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL. Harrison s Principles of Internal Medicine. 15'� ed. New York: McGraw-Hill; 2001.p. 2245-57.

5. Suyono S. Terapi Dislipidemia, Bagaimana Memilihnya dan Sampai Kapan? Prosiding Simposium Current Treatment in Internal Medicine 2000. Jakarta,11-12 November 2000:185-99.

30

MetaboUk Endokrindogi

STRUMA NODOSA NON TOKSIK

PENGERTIAN

Struma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang teraba sebagai suatu nodul, tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme.Berdasarkan jumlah nodul, dibagi:

• Struma mononodosa non toksik • Struma multinodosa non toksik

Berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif, nodul dibedakan menjadi: nodul dingin, nodul hangat, nodul panas

Sedangkan berdasarkan konsistensinya, nodul dibedakan menjadi; nodul lunak, odul kistik, nodul keras, nodul sangat keras

DIAGNOSIS

Anamnesis:

• Rasa nyeri spontan atau tidak spontan, berpindah atau tetap • Cara membesamya: cepat, atau lambat

• Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran leher saja

• Riwayat keluarga

• Riwayat penyinaran daerah leher pada waktu kecil/muda • Perubahan suara

• Gangguan menelan, sesak napas • Penurunan berat badan

• Keluhan tirotoksikosis

Pemeriksaan fisik:

UmumLokal:

- Nodul tunggal atau majemuk, atau difus - Nyeri tekan

- Konsistensi - Permukaan

- Perlekatan pada j aringan sekitamya - Pendesakan atau pendorongan trakea - Pembesaran kelenjar getah bening regional

- Pemberton � sign Penilaian risiko keganasan;

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostik penyakit tiroid jinak, tetapi tak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid:

• Riwayat keluarga dengan struma nodosa atau difiisa jinak

31

Panduan Pelayanan Medik PAPDI

• Riwayat keluarga dengan tiroiditis Hashimoto atau penyakit tiroid autoimun. • Gejala hipo atau hipertiroidisme.

• Nyeri berhubungan dengan nodul. • Nodul lunak, mudah digerakkan.

• Multinodul tanpa nodul yang dominan, dan konsistensi sama.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meningkatkan kecurigaan ke arah keganasan tiroid:

• Umur < 20 tahun atau > 70 tahun • Gender laki-laki

• Nodul disertai disfagi, serak, atau obstruksi jalan napas • Pertumbuhan nodul cepat (beberapa minggu - bulan)

Riwayat radiasi daerah leher waktu usia anak-anak atau dewasa Quga meningakatkan insiden penyakit nodul tiroidjinak)

• Riwayat keluarga kanker tiroid meduler

• Nodul yang tunggal, berbatas tegas, keras, irreguler dan sulit digerakkan • Paralisis pita suara,

• Temuan limfadenopati servikal • Metastasis jauh (paru-paru, dll)

Hasil; Non-toksik —> Langkah dia��ostik II: BAJAH nodul liroid Hasil: A. Ganas

B. Curiga C. Jinak

D. Tak cukup/sediaan tak representatif(dilanjutkan di kolom Terapi)

Dalam dokumen Panduan Pelayanan Medik PB PAPDI 2006 (Halaman 40-45)