GANGGUAN KULIT
13.1 PEMUTIH KULIT (ANTI HIPERPIGMENTASI) .1 Pendahuluan
Hiperpigmentasi merupakan suatu keadaan terjadinya penumpukan melanin pada permukaan kulit yang disebabkan oleh produksi melanin berlebih yang mengakibatkan kulit menjadi berwarna gelap. Melanin adalah pigmen berwarna kecoklatan yang berfungsi untuk melindungi jaringan kulit dari hamburan sinar UV. Sinar UV dari matahari dengan bantuan enzim tirosinase akan membentuk melanin, yang merupakan biokatalis berupa suatu enzim yang berperan untuk mempercepat pembentukan melanin yang akan menyebabkan kulit berwarna kecoklatan. Hiperpigmentasi dapat dicegah dengan adanya penghambatan (inhibisi) pada biokatalis pembentuk melanin yaitu enzim tirosinase, sehingga akan menyebabkan kulit mejadi lebih cerah atau lebih putih (Chang et al, 2009; Kumar et al., 2012).
13.1.2 Fitoterapi Pemutih Kulit (Antihiperpigmentasi)Pemutih Kulit (Antihiperpigmentasi) 1. Bengkoang (Pachyrhizus erosus (L.) Urb.)
BAB XIII GANGGUAN KULIT 13.1 PEMUTIH KULIT (ANTI HIPERPIGMENTASI) 13.1.1 Pendahuluan
Hiperpigmentasi merupakan suatu keadaan dimana terjadinya penumpukan melanin pada permukaan kulit yang disebabkan oleh produksi melanin berlebih yang mengakibatkan kulit menjadi berwarna gelap. Melanin adalah pigmen berwarna kecoklatan yang berfungsi untuk melindungi jaringan kulit dari hamburan sinar uv. Sinar UV dari matahari dengan bantuan enzim tirosinase akan membentuk melanin, yang merupakan biokatalis berupa suatu enzim yang berperan untuk mempercepat pembentukan melanin yang akan menyebabkan kulit berwarna kecoklatan. Hiperpigmentasi dapat dicegah dengan adanya penghambatan (inhibisi) pada biokatalis pembentuk melanin yaitu enzim tirosinase, sehingga akan menyebabkan kulit mejadi lebih cerah atau lebih putih (Chang et al, 2009; Kumar et al., 2012).
13.1.2 Fitoterapi Pemutih Kulit (Antihiperpigmentasi) 1. Bengkoang (Pachyrhizus erosus (L.) Urb.)
Gambar 13.1 Bengkoang (Pachyrhizus erosus (L.)Urb.). www.wikipedia.org. [18 Juli 2016] Enam senyawa aktif golongan flavonoid dalam Bengkoang dengan kemampuan sebagai antioksidan dan aktivitas pemutih kulit yaitu 5-hydroxyl-daidzein-7-O-ß-glucopyranose, daidzein-7-O-ß-glucopyranose daidzein,; dan (8,9)-furanyl-pterocarpan-3-ol (Lukitaningsih et al, 2014). Hasil penelitian secara in vitro menunjukkan kemampuan isolat dari akar bengkoang dalam menghambat enzim tirosinase (Lukitaningsih et all, 2013). Penghambatan terhadap enzim tersebut menyebabkan penghambatan produksi pigmen warna hitam pada kulit. Isolat dari bengkoang juga memiliki kemampuan sebagai antioksidan (Lukitaningsih et al, 2014). Kemampuan sebagai antioksidan dapat bersinergis dengan kemampuan dalam penghambat enzim tirosinase dalam memutihkan kulit. Penghambatan enzim tirosinase menunjukkan jenis penghambatan kompetitif pada senyawa daidzein,
Gambar 13.1 Bengkoang (Pachyrhizus erosus (L.) Urb.). www.wikipedia.org. [18 Juli 2016]
02
Enam senyawa aktif golongan flavonoid dalam Bengkoang dengan kemampuan sebagai antioksidan dan aktivitas pemutih kulityaitu5-hydroxyl-daidzein-7-O-ß-glucopyranose, daidzein-7-O-ß-glucopyranosedaidzein,; dan (8,9)-furanyl-pterocarpan-3-ol(Lukitaningsih et al, 2014). Hasil penelitian secara in vitro menunjukkan kemampuan isolat dari akar bengkoang dalam menghambat enzim tirosinase (Lukitaningsih et all, 2013). Penghambatan terhadap enzim tersebut menyebabkan penghambatan produksi pigmen warna hitam pada kulit. Isolat dari bengkoang juga memiliki kemampuan sebagai antioksidan (Lukitaningsih et al, 2014). Kemampuan sebagai antioksidan dapat bersinergis dengan kemampuan dalam penghambat enzim tirosinase dalam memutihkan kulit. Penghambatan enzim tirosinase menunjukkan jenis penghambatan kompetitif pada senyawa daidzein, daidzein-7-O-ß-glucopyranose, dan 5-hydroxyl-daidzein-7-O-ß-glucopyranose. Sedangkan pada senyawa 8,9-furanil-pterocarpan-3-ol terjadi penghambatan enzim secara non-kompetitif (Lukitaningsih et all, 2013).
2. Andalas (Morus macroura L.)
daidzein-7-O-ß-glucopyranose, dan 5-hydroxyl-daidzein-7-O-ß-glucopyranose. Sedangkan pada senyawa 8,9-furanil-pterocarpan-3-ol terjadi penghambatan enzim secara non-kompetitif (Lukitaningsih et all, 2013).
2. Andalas (Morus macroura L.)
Gambar 13.2 Andalas (Morus macroura L.) (Miljkovic et al, 2014)
Kandungan kimia dalam Morus macroura adalah senyawa turunan stilben yaitu oksiresveratrol, lunularin, dan andalasin A, andalasin B, turunan 2-arilbenzofuran, (morasin M), turunan kumarin (umbeliferon), dan β-resolsialdehid (Soekamto et al, 2003; Hakim et al, 2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Morus macroura memiliki aktivitas inhibitor tirosinase yang tinggi, dengan prosentase inhibisi 97 %. Aktivitas inhibitor tirosinase yang tinggi pada Andalas, disebabkan adanya kandungan senyawa turunan stilben yang pada tanaman Andalas berupa andalasin A dan oksiveratrol. Senyawa turunan stilben memiliki peranan sebagai agen pencerah atau pemutih kulit yang mekanisme kerjanya dengan cara menghambat enzim tirosinase atau fenol oksidase sebagai enzim pembentuk melanin, dimana jika melanin diproduksi berlebih pada lapisan epidermal akan menyebabkan kulit berwarna gelap (Hakim et al, 2008).
0
Kandungan kimia dalam Morus macroura adalah senyawa turunan stilben yaitu oksiresveratrol, lunularin, dan andalasin A, andalasin B, turunan 2-arilbenzofuran, (morasin M), turunan kumarin (umbeliferon), dan β-resolsialdehid (Soekamto et al, 2003; Hakim et al, 2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Morus macroura memiliki aktivitas inhibitor tirosinase yang tinggi, dengan prosentase inhibisi 97 %. Aktivitas inhibitor tirosinase yang tinggi pada Andalas, disebabkan adanya kandungan senyawa turunan stilben yang pada tanaman Andalas berupa andalasin A dan oksiveratrol. Senyawa turunan stilben memiliki peranan sebagai agen pencerah atau pemutih kulit yang mekanisme kerjanya dengan cara menghambat enzim tirosinase atau fenol oksidase sebagai enzim pembentuk melanin, jika melanin diproduksi berlebih pada lapisan epidermal akan menyebabkan kulit berwarna gelap (Hakim et al, 2008).
3. Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.)
3. Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.)
Gambar 13.3 Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) (Elevitch et al, 2006)
Pada kulit batang nangka mengandung golongan tanin, saponin, fenol, dan flavonoid. Senyawa yang terkandung diantaranya asam betulik, sikloheterofilin (fenolik), heteropirol, sikloartenon, sikloartenol, sitosterol (Prakash et al., 2009). Hasil isolasi pada batang didapat senyawa artokarpanon (Arung et al., 2006). Ekstrak metanol dari kulit batang nangka memiliki kemampuan dalam menghambat reaksi tirosin-tirosinase yang berperan dalam menyebabkan warna hitam pada kulit (Putri et al, 2009). Penelitian lainnya menyatakan kemampuan ekstrak batang nangka dalam penghambatan aktivitas tirosinase secara kuat. Selain itu, hasil isolat batang nangka yaitu artokarpanon memiliki kemampuan dalam menghambat produksi melanin (Arung et al., 2006). Penghambatan pada produksi melanin dapat menyebabkan penghambatan produksi pigmen warna pada kulit.
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, senyawa yang berperan dalam aktivitas inhibisi tirosinase pada tanaman nangka adalah golongan polifenol. Flavonoid merupakan salah satu golongan dari polifenol yang terkandung dalam kulit batang nangka. Flavonoid mengandung gugus fenol dan cincin pyren sehingga mampu menghambat enzim tirosinase dengan cara bertindak sebagai substrat dan berkompetisi sebagai inhibitor (Putri et al, 2009).
Gambar 13.3 Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) (Elevitch et al, 2006) Pada kulit batang nangka mengandung golongan tanin, saponin, fenol, dan flavonoid. Senyawa yang terkandung di antaranya asam betulik, sikloheterofilin (fenolik), heteropirol, sikloartenon, sikloartenol,
0
sitosterol (Prakash et al., 2009). Hasil isolasi pada batang didapat senyawa artokarpanon (Arung et al., 2006).Ekstrak metanol dari kulit batang nangka memiliki kemampuan dalam menghambat reaksi tirosin-tirosinase yang berperan dalam menyebabkan warna hitam pada kulit (Putri et al, 2009). Penelitian lainnya menyatakan kemampuan ekstrak batang nangka dalam penghambatan aktivitas tirosinase secara kuat. Selain itu, hasil isolat batang nangka yaitu artokarpanon memiliki kemampuan dalam menghambat produksi melanin (Arung et al., 2006). Penghambatan pada produksi melanin dapat menyebabkan penghambatan produksi pigmen warna pada kulit.
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, senyawa yang berperan dalam aktivitas inhibisi tirosinase pada tanaman nangka adalah golongan polifenol. Flavonoid merupakan salah satu golongan dari polifenol yang terkandung dalam kulit batang nangka. Flavonoid mengandung gugus fenol dan cincin pyren sehingga mampu menghambat enzim tirosinase dengan cara bertindak sebagai substrat dan berkompetisi sebagai inhibitor (Putri et al, 2009).
4. Teh Hijau (Camellia sinensis L.)
4. Teh Hijau (Camellia sinensis L.)
Gambar 13.4 Teh (Camellia sinensis L.) (Namita et al, 2012)
Senyawa metabolit sekunder terbesar di daun teh yaitu epigalokatekin galat, apigalokatekin, kafein, apikatekin galat, flavonon, asam elagik, dan epikatekin (Widyaningrum, 2013). Ekstrak metanol dari daun teh memiliki aktivitas antioksidan dan kemampuan dalam menghambat aktivitas tirosinase dengan IC50 mencapai 22 ppm (Sangsrichan & Ting, 2010). Asam elagat yang diisolasi dari daun teh diketahui memiliki kemampuan dalam menghambat melanogenesis, sehingga pigmen warna dapat ditekan (Shimogaki et al., 2000). Ekstrak daun teh juga diketahui memiliki korelasi antara penghambatan enzim tirosinase secara in vitro dengan kemampuan penghambatan pembentukan melanin yang diuji secara in vivo (Arini, 2013). Penelitian lain menyatakan epikatekin galat, galokatekin galat, dan epigalokatekin memiliki kemampuan yang kuat dalam menghambat aktivitas tirosinase secara kompetitif. Diantara ketiganya, galokatekin galat merupakan yang paling kuat aktivitasnya (No et al., 1999). Ekstrak air dari daun teh 0,15% (fenolik total 29,64 ± 0,82%) memiliki kemampuan penghambatan enzim tirosinase 4 kali lebih kuat dibanding vitamin C 0,15% (Irianti et al., 2008)
5. Lobak (Raphanus sativus L.)
Gambar 13.5 Lobak (Raphanus sativus L.) (Aruna et al, 2012)
Akar lobak mengandung senyawa utama sitokinin (alkaloid), arabinogalaktan, sianidin, komponen sulfunium, betakaroten, vitamin, dan senyawa fenol (Gutierrez et al., 2004). Kandungan fenol total, flavonoid total, dan asam askorbat pada perasan akar lobak mencapai 10,09; 0,51; dan 24,11 µg/mg ekstrak kering. Sedangkan pada
Gambar 13.4 Teh (Camellia sinensis L.) (Namita et al, 2012)
Senyawa metabolit sekunder terbesar di daun teh yaitu epigalokatekin galat, apigalokatekin, kafein, apikatekin galat, flavonon, asam elagik, dan epikatekin (Widyaningrum, 2013). Ekstrak metanol dari daun teh memiliki aktivitas antioksidan dan kemampuan dalam menghambat aktivitas tirosinase
Pemanfaatan dan Data Ilmiah Sebagai Sediaan Obat Bahan Alam
dengan IC50 mencapai 22 ppm (Sangsrichan & Ting, 2010). Asam elagat yang diisolasi dari daun teh diketahui memiliki kemampuan dalam menghambat melanogenesis, sehingga pigmen warna dapat ditekan (Shimogaki et al., 2000). Ekstrak daun teh juga diketahui memiliki korelasi antara penghambatan enzim tirosinase secara in vitro dengan kemampuan penghambatan pembentukan melanin yang diuji secara in vivo (Arini, 2013). Penelitian lain menyatakan epikatekin galat, galokatekin galat, dan epigalokatekin memiliki kemampuan yang kuat dalam menghambat aktivitas tirosinase secara kompetitif. Di antara ketiganya, galokatekin galat merupakan yang paling kuat aktivitasnya (No et al., 1999). Ekstrak air dari daun teh 0,15% (fenolik total 29,64 ± 0,82%) memiliki kemampuan penghambatan enzim tirosinase 4 kali lebih kuat dibanding vitamin C 0,15% (Irianti et al., 2008)
5. Lobak (Raphanus sativus L.)
199
Gambar 13.4 Teh (Camellia sinensis L.) (Namita et al, 2012)
Senyawa metabolit sekunder terbesar di daun teh yaitu epigalokatekin galat, apigalokatekin, kafein, apikatekin galat, flavonon, asam elagik, dan epikatekin (Widyaningrum, 2013). Ekstrak metanol dari daun teh memiliki aktivitas antioksidan dan kemampuan dalam menghambat aktivitas tirosinase dengan IC50 mencapai 22 ppm (Sangsrichan & Ting, 2010). Asam elagat yang diisolasi dari daun teh diketahui memiliki kemampuan dalam menghambat melanogenesis, sehingga pigmen warna dapat ditekan (Shimogaki et al., 2000). Ekstrak daun teh juga diketahui memiliki korelasi antara penghambatan enzim tirosinase secara in vitro dengan kemampuan penghambatan pembentukan melanin yang diuji secara in vivo (Arini, 2013). Penelitian lain menyatakan epikatekin galat, galokatekin galat, dan epigalokatekin memiliki kemampuan yang kuat dalam menghambat aktivitas tirosinase secara kompetitif. Diantara ketiganya, galokatekin galat merupakan yang paling kuat aktivitasnya (No et al., 1999). Ekstrak air dari daun teh 0,15% (fenolik total 29,64 ± 0,82%) memiliki kemampuan penghambatan enzim tirosinase 4 kali lebih kuat dibanding vitamin C 0,15% (Irianti et al., 2008)
5. Lobak (Raphanus sativus L.)
Gambar 13.5 Lobak (Raphanus sativus L.) (Aruna et al, 2012)
Akar lobak mengandung senyawa utama sitokinin (alkaloid), arabinogalaktan, sianidin, komponen sulfunium, betakaroten, vitamin, dan senyawa fenol (Gutierrez et al., 2004). Kandungan fenol total, flavonoid total, dan asam askorbat pada perasan akar lobak mencapai 10,09; 0,51; dan 24,11 µg/mg ekstrak kering. Sedangkan pada
Gambar 13.5 Lobak (Raphanus sativus L.) (Aruna et al, 2012)
Akar lobak mengandung senyawa utama sitokinin (alkaloid), arabinogalaktan, sianidin, komponen sulfunium, betakaroten, vitamin, dan senyawa fenol (Gutierrez et al., 2004). Kandungan fenol total, flavonoid total, dan asam askorbat pada perasan akar lobak mencapai 10,09; 0,51; dan 24,11 µg/mg ekstrak kering. Sedangkan pada ekstrak metanol sebesar 6,59; 0,33; dan 8,28 µg/mg ekstrak kering (Jakmatakul., et al 2009). Ekstrak propilenglikol 50% dari akar lobak diketahui memiliki kemampuan dalam menghambat aktivitas enzim tirosinase yang diuji secara in vitro. Kemampuan penghambatan enzim tirosinase mencapai 88%, hasil tersebut lebih baik
0
dibanding kontrol positif yang digunakan yaitu asam kojik yang memiliki daya hambat 82% (Kamkaen et al., 2007).
Penelitian lain menyatakan perasan akar lobak (IC50 = 3,09 mg/ml) memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan ekstrak metanol (IC50 = 9,62 mg/ml) dalam menghambat aktivitas tirosinase. Kedua ekstrak juga memiliki kemampuan sebagai antioksidan (Jakmatakulet al., 2009). Weerapreeyakul et al (2012) menyatakan bahwa ekstrak air dan metanol akar lobak memiliki kemampuan dalam menghambat tirosinase. Somman & Siwarungson (2014) juga menunjukkan kemampuan ekstrak metanol akar lobak dalam menghambat tirosinase. Jakmatakul et al (2009) menyatakan terdapat hubungan antara kadar fenol total dengan asam askorbat yang terkandung dalam akar lobak. Semakin tingga kadar fenol total dan asam askorbat, maka semakin besar aktivitas dalam menghambat tirosinase. Hal tersebut menunjukkan bahwa senyawa golongan fenol dan asam askorbat bertanggung jawab terhadap kemampuan akar lobak dalam menghambat tirosinase (Weerapreeyakul et al., 2012).
6. Lengkuas (Alpinia galanga L.)
ekstrak metanol sebesar 6,59; 0,33; dan 8,28 µg/mg ekstrak kering (Jakmatakul., et al 2009). Ekstrak propilenglikol 50% dari Akar lobak diketahui memiliki kemampuan dalam menghambat aktivitas enzim tirosinase yang diuji secara in vitro. Kemampuan penghambatan enzim tirosinase mencapai 88%, hasil tersebut lebih baik dibanding kontrol positif yang digunakan yaitu asam kojik yang memiliki daya hambat 82% (Kamkaen et al., 2007).
Penelitian lain menyatakan perasan akar lobak (IC50 = 3,09 mg/ml) memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan ekstrak metanol (IC50 = 9,62 mg/ml) dalam menghambat aktivitas tirosinase. Kedua ekstrak juga memiliki kemampuan sebagai antioksidan (Jakmatakul et al., 2009). Weerapreeyakul et al (2012) menyatakan bahwa ekstrak air dan metanol akar lobak memiliki kemampuan dalam menghambat tirosinase. Somman & Siwarungson (2014) juga menunjukkan kemampuan ekstrak metanol akar lobak dalam menghambat tirosinase. Jakmatakul et al (2009) menyatakan terdapat hubungan antara kadar fenol total dengan asam askorbat yang terkandung dalam akar lobak. Semakin tingga kadar fenol total dan asam askorbat, maka semakin besar aktivitas dalam menghambat tirosinase. Hal tersebut menunjukkan bahwa senyawa golongan fenol dan asam askorbat bertanggung jawab terhadap kemampuan akar lobak dalam menghambat tirosinase (Weerapreeyakul et al., 2012).
6. Lengkuas (Alpinia galanga L.)
Gambar 13.6 Lengkuas (Alpinia galanga L.) (Chudiwal et al, 2010)
Rimpang lengkuas mengandung golongan flavonoid diantaranya kaemperol, kaemferid, galangin, dan alpinin. Minyak atsiri yang terkandung yaitu 48% metil sinamat, 20-30% sineol, alfapinin, betapinin, dan camphor (Chudiwal et al., 2010). Rimpang lengkuas juga mengandung eugenol dan kurkuminoid (Panich et al., 2010). Dari rimpang lengkuas didapat dua isolat utama yaitu 1,7-bis(4-hydroxyphenyl)-1,4,6-heptatrien-3-on dan bisdemethoxycurcumin (Chih-Yu et al., 2013). Penelitian lain berhasil mengisolasi senyawa flavonoid yaitu galangoflavonosida (Jaju et al., 2009).
Hasil isolat dari ekstrak lengkuas menunjukkan kemampuan dalam menghambat aktivitas melanin dan tirosinase (Chih-Yu et al., 2013). Ekstrak air dan
Rimpang lengkuas mengandung golongan flavonoid di antaranya kaemperol, kaemferid, galangin, dan alpinin. Minyak atsiri yang terkandung yaitu 48% metil sinamat, 20-30% sineol, alfapinin, betapinin, dan camphor (Chudiwal et al., 2010). Rimpang lengkuas juga mengandung eugenol dan kurkuminoid (Panich et al., 2010). Dari rimpang lengkuas didapat dua isolat utama yaitu 1,7-bis(4-hydroxyphenyl)-1,4,6-heptatrien-3-on dan bisdeme thoxycurcumin(Chih-Yu et al., 2013). Penelitian lain berhasil mengisolasi senyawa flavonoid yaitu galangoflavonosida (Jaju et al., 2009).
Hasil isolat dari ekstrak lengkuas menunjukkan kemampuan dalam menghambat aktivitas melanin dan tirosinase (Chih-Yu et al., 2013). Ekstrak air dan etanol dari lengkuas memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam menghambat aktvitas enzim tirosinase. Daya hambat paling kuat yaitu pada ekstrak air dengan IC50 mencapai 3,33+1,9 µg/ml, sedangkan pada ekstrak metanol sebesar 14,2+1,9 µg/ml. Hasil tersebut melebihi kemampuan asam askorbat (IC50 = 19,6+1,5 µg/ml) dan trimetilhidrokuinon (31,7+0,9µg/ml) (Weerapreeyakul et al., 2012). Rimpang lengkuas memiliki kemampuan dalam mencegah peningkatan tirosinase dan produksi melanin, sehingga mencegah meningkatan produksi pigmen warna pada kulit (Paninch et al., 2010).
7. Murbei (Morus alba L.)
Daun murbei mengandung asam askorbat, 1-deoksinojirimisin, rutin, kuersetin, dan apigenin (Devi et al., 2013). Hasil isolasi dari ekstrak metanol didapat senyawa mulberosida F (39-di-Ob-D-glukopiranosid) (Sang-Hee et al., 2002). Daun murbei mengandung fenol total sebesar 50,9 mg/gram (Kuo-Hsien et al., 2006). Dari 24 tanaman yang ada di Cina, daun murbei merupakan salah satu dari empat tanaman di Cina yang memiliki kemampuan yang kuat dalam menghambat tirosinase dan sintesis melanin (Kuo-Hsien et al., 2006). Dari 263 tanaman yang di Pulau Jeju Korea Selatan, ekstrak daun murbei memiliki kemampuan paling kuat dalam menghambat tirosinase dengan IC50 sebesar 11,9 µg/ml (Ji-Young et al., 2010). Ekstrak etanol daun murbei diketahui memiliki kemampuan yang kuat dalam menghambat tirosinase dengan IC50 22,1+0,5 µg/ml. Kemampuan tersebut melebihi IC50 dari trimetilhidrokuinon (31,7+0,9µg/ml) (Weerapreeyakul et al., 2012).
Ekstrak metanol dari daun murbei yang diuji secara in vitro mampu menghambat biosintesis melanin. Hasil isolasi dari daun murbei yaitu mulberosid F (IC50 = 68,3 µg/ml) memiliki kemampuan dalam menghambat pembentukan melanin dan antioksidan, meskipun kemampuannya sedikit lebih rendah dibandingkan kontrol positif yaitu asam kojik (IC50 = 58,5 µg/ ml) (Sang-Hee et al., 2002). Krim yang mengandung ekstrak kulit akar dari murbei memiliki aktivitas dalam menghambat melanin dan mengurangi eritema pada kulit (Akhtar et al., 2012).
13.2 TABIR SURYA