• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanaman nilai keluarga mengenai hubungan dengan lawan jenis T dibesarkan dalam keluarga jawa yang memegang teguh sopan santun dan

Dalam dokumen Pemaknaan khalayak terhadap relasi gende (Halaman 54-58)

ANALISIS DATA 4.1 Analisis Iklan Axe

4.3.1 Penanaman nilai keluarga mengenai hubungan dengan lawan jenis T dibesarkan dalam keluarga jawa yang memegang teguh sopan santun dan

tata cara jawa. Walaupun begitu, informan tidak terlalu dekat dengan kedua orang tuanya karena kesibukan keduanya dan lebih dekat kepada kakak laki-lakinya

“nyokap jawa, tp jawanya parah”

“gw pernah ga tinggal sama ortu. ortu gw kan dua-duanya sama sibuk, jadi pas umur berapa gitu gw tinggal sama eyang gw. kalo gw tinggal sama ortu gw kan jadinya malah sama pembantu”

“bokap gw bukit tinggi. ya tapi bokap gw sibuk dan jarang di rumah. jadi bokap gw mempercayakan anaknya sama istrinya. jadi sopan santun & tata krama, gimana cara bersikap sama org, itu nyokap yg ngajarin”

Karena hubungannya yang tidak terlalu dekat dengan orang tuanya, T hanya dekat dengan kakak laki-lakinya, namun hal itupun dikarenakan mereka tidur sekamar. T terkadang membahas masalah hubungannya dengan lawan jenis dengan kakak laki-lakinya karena menganggap kakaknya lebih berpengalaman dengan banyak perempuan.

Dalam hal batasan pacaran, kakaknya sempat memberi batasan untuk tidak mencium pacarnya. Selain itu, dalam keluarganya, ibu dianggap sebagai yang paling dominan menanamkan nilai kepada T. Ibu T melarang informan untuk tidak mengambil pacar dari kalangan suku tertentu. Tetapi secara keseluruhan, keluarga mempercayakan masalah pacaran kepada informan karena informan bisa membedakan sendiri mana yang baik dan buruk

MF berasal dari keluarga batak. Orang tua MF menginginkan MF mendapatkan pasangan berdasarkan standar suku batak. Dalam hal hubungan dengan lawan jenis, orang tua dan kakak tidak terlalu memperdulikan dan begitu pula dengan informan yang tidak pernah menceritakan masalah hubungannya dengan lawan jenis kepada keluarga.

Hal ini tidak terlepas dari kedua kakak MF yang belum menikah sampai sekarang

“ada 1 hal pengganjal antara kakak dan gw yaitu status dia yang blom nikah dan masih menjomblo, soalnya idealnya kluarga gw harusnya udah ada cucu dengan umur mak gw juga. Tapi gw gak bisa nyalahin kakak gw belum punya suami, gw Cuma berharap tapi kok usaha ni orang kaga keliatan ya..”

Dengan statusnya kakaknya yang belum menikah, MF menganggap tidaklah perlu untuk menceritakan perihal lawan jenis. Selain itu pula MF merasa bahwa ibunya masih sangat konservatif dan menganggap seks dan hubungan dengan lawan jenis dan tabu untuk diperbincangkan sehingga MF merasa belajar banyak justru dari luar keluarganya sendiri.

Sama halnya dengan MF dan T, M pun dibesarkan dalam keluarga yang tidak terlalu memperdulikan perihal hubungan dengan lawan jenis. Sesekali M menceritakan hubungannya dengan seorang pria kepada kakaknya namun bukan dalam satu sesi khusus, dan hanya bersifat selingan.

Dalam keluarga M norma yang ditanamkan secara dominan adalah bahwa perempuan harus sopan. Hal ini tidak terlepas dari ibu M yang masih memegang teguh budaya kesopanan jawa.

“jadi di rumah gw, kan meja pendek kalo baca majalah suka angkat kaki, terus nyokap bilang, anak cewek kalo kaya gitu dosa, terus main sama tetangga di pintu, suka lupa makan terus dimarahin la, kalo makan gak boleh di pintu”

Selain itu dalam memberikan pemahaman mengenai relasi dengan lawan jenis, keluarga M lebih memberikan contoh dalam mengajarkan hal yang harus dipatuhi sebagai seorang anak namun dengan bertanggungjawab.

“kalo di keluarga gw si bebas, tapi suka mencontohkan kan tetangga gw ada beberapa yang MBA (Married by accident) gitu kan, jadi ya kaya tuh gitu tuh masa sih bikin malu orang tua, kan lebih impact-nya ke mereka, bukan kamu gak boleh gini gak boleh gitu, lebih ke persuasif gitu ya, jadi kebentuk di pikiran gw, gw gak boleh kaya gitu, jadi bukan dipaksa gw tau sendiri dan gw gak mao kalo kaya gitu…”

HI dibesarkan dalam keluarga islam yang menganut paham salafi. Ayah informan sejak kecil membesarkan HI dengan dasar agama yang kuat. HI pun merasa pemahaman agamanya luas. Namun, ayah HI keras dalam mendidik anak- anaknya. HI semasa kecil sering mendapat perlakuan yang kasar dari ayahnya.

“sama bokap lebih kaku ya, karena dia orang kampung, maksudnya dia orang rantau, konservatif banget”

“bokap gw termasuk berasal dari latar belakang keluarga yang purist. Jadi kalo sekarang kan islam banyak campur-campuran yang asimilasi budaya lokal. Kalo bokap gw dari keluarganya termasuk puritan, salafi gitu lahh”

Ibu HI relatif berbeda dengan HI karena dibesarkan dalam keluarga perkotaan sehingga bersikap lebih moderat kepada anaknya. HI pun merasa lebih dekat dengan ibunya dan menganggap ibunya seperti temannya sendiri.

Mengenai relasi lawan jenis dalam keluarganya, ayah HI karena menganut ajaran islam secara kuat, melarang HI untuk berpacaran. Namun lain halnya dengan ibunya yang membolehkannya berpacaran asalkan tidak berbuat dosa.

“Tapi beda sama nyokap gw, dia kan dulu sering pacaran. Intinya kalo bokap gw bilang pacaran itu gak boleh. Tapi ya gw bodo amat la ya karena nyokap gw juga bilang ya udah kamu pacaran aja tapi jangan dosa, kalaupun gw cerita sama nyokap gw tentang hal-hal yang nyerempet, ma aku abis kaya gitu sama cewek aku.. katanya ya itu dosa ya jangan kaya gitu la”

Kedua orang tuanya berbeda pendapat mengenai pacaran kepada informan, HI berkesimpulan bahwa orang tuanya tidak terlalu memperdulikan masalah hubungannya dengan lawan jenis. Keluarga HI lebih memperdulikan masalah keagamaan HI

“nyokap bokap gw gak ngurusin hal-hal kaya gitu ke gw. Paling nyokap bokap gw ngurusin gw solat apa nggak sama pendidikan gw. Kalo masalah cewe nggak… paling jangan sampe ngehamilin anak orang, jangan bikin malu nama keluarga, jangan bikin dosa, karena itu berimbas sama orang tua kamu”

Walaupun dibesarkan dalam lingkungan keagamaan yang kuat, HI mengaku tidak memeluk satu kepercayaan tertentu. Namun bila di depan orang tuanya HI akan berpura-pura melakukan ibadah solat. Hal ini berawal ketika masih kecil dimana ayahnya sangat keras mendidik masalah agama dan sering memperlakukan HI secara kasar sehingga akhirnya HI mencari dan mengkritisi agamanya sendiri.

“intinya karena gw dididik dengan dasar agama yang kuat kaya gini aja deh misalnya anak rohis disuru debat sama gw, gw pasti tau banyak dibanding dia tapi gw gak ngambil sudut pandang. Jadi kan gw belajar agama, perbandingan agama dari pagan, pre pagan, zoroaster, sampe sekarang drew’s jadi gw belajar dan melihat baik buruknya terus gw kepikiran kenapa gw gak membongkar agama gw sendiri dan akhirnya gw menemukan semua jelek-jeleknya islam yang gak pernah ada di media karena orang islam gak akan pernah mao mengakui itu dan akan selalu ditutup-tutupi…”

LN dibesarkan dalam keluarga yang relatif kuat menanamkan nilai mengenai relasi gender. Ibu LN mendominasi dalam keluarga dan LN menganggap posisi ayahnya di keluarganya lemah. Dalam keluarga, LN mengaku paling dekat dengan ibunya dan tidak terlalu dekat dengan ayahnya

“gw deket banget sama nyokap. Jadi gak mungkin gak cerita ya apa aja juga diceritain, tentang pacar gw, temen-temen gw, semuanya sih.”

Nilai mengenai relasi gender yang sangat kuat ditanamkan oleh ibu LN adalah bahwa perempuan harus diperlakukan dengan baik oleh lelaki

“gimana ya, kalo gw liat dari karakter gw… nyokap sih… iya, cewek tuh mesti dianterin, cewek mesti dijemput, cewek mesti diagung-agungkan, gak boleh ini, gak boleh itu. Gw selama 18 tahun hidup selalu didoktrin sama pemikiran itu…”

Selain itu, ibu informan juga secara ketat mendidik LN agar berperilaku sesuai norma ketimuran namun membedakan perlakuannya dengan adik laki- lakinya.

“gw gak boleh pulang pagi, kaya kalo gw pulang pagi nyokap gw pasti, weee anak perempuan pulang pagi! tapi kalo adik gw itu lebih dibebasin, gak pulang kaya misalnya ma aku ngantuk ni, ya udah dibolehin… kalo gw tuh harus pulang…”

Mengenai hubungannya dengan lawan jenis, ibunya selalu mengingatkan bahwa sebagai seorang perempuan LN harus bisa menahan diri sebagai bentuk penghargaan diri sebagai perempuan

“kaya yang gw bilang, jangan terlalu menyodorkan diri lah di depan lelaki, maksudnya jangan terlalu keliatan kalo kita suka sama itu orang, kaya lebih lu lebih menghargai diri lu, kelakuan lu jangan kaya perempuan rendahan, kaya gitu…”

Selain itu pula, ibu informan sangat memperdulikan masalah keagamaan informan khususnya mengenai solat lima waktu.

“…nyokap gw kan orangnya sangat muslimah dan muslimin gitu ya, selalu hati-hati ya,”

“sangat! Nyokap gw sih yang lebih… ayo teh kamu solat donk, kaya gitu…”

Dari ajaran yang diberikan orang tuanya sejak kecil, LN sangat memegang kuat prinsip bahwa perempuan harus diistimewakan oleh lelaki dan tidak berperilaku agresif kepada pria hingga membuat dirinya terkesan murahan.

Berdasarkan pemaparan di atas, kelima orang tua kesemuanya memberikan pemahaman yang relatif sama sebagai masyarakat timur. Keluarga MF, T, dan M, LN, dan HI memberikan pemahaman bagaimana seseorang harus bertindak namun dengan penekanan yang berbeda terutama mengenai hubungan dengan lawan jenis.

Bila dikelompokkan, keluarga MF, M, dan T relatif longgar dalam mengajarkan dan mendidik informan mengenai relasi lawan jenis. Orang tua MF terkesan tidak memperdulikan sama sekali mengenai hubungannya dengan lawan jenis sehingga MF akhirnya belajar dari lingkungan luar. Orang tua M dan T memiliki pandangan yang hampir sama dengan memberikan kebebasan bagi

anaknya untuk bergaul walaupun terkesan lebih tidak peduli mengenai hubungan dengan lawan jenis. Lain halnya dengan keluarga HI dan LN yang memiliki batasan yang cukup kuat dalam relasi lawan jenis dimana HI tidak diperbolehkan pacaran dan LN yang dilarang untuk bersikap agresif terhadap lelaki.

4.3.2 Pengaruh peer group terhadap relasi gender dan nilai yang dimiliki

Dalam dokumen Pemaknaan khalayak terhadap relasi gende (Halaman 54-58)