• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh peer group terhadap relasi gender dan nilai yang dimiliki bersama

Dalam dokumen Pemaknaan khalayak terhadap relasi gende (Halaman 58-64)

ANALISIS DATA 4.1 Analisis Iklan Axe

4.3.2 Pengaruh peer group terhadap relasi gender dan nilai yang dimiliki bersama

T memiliki teman terdekat yang sudah bersama semenjak masih anak-anak. Teman terdekat ini tinggal berdekatan dengan T dan menjadi pihak yang cukup berpengaruh dalam hidup T.

Dalam hubungannya dengan lawan jenis, T mengaku belajar banyak dari pertemanannya sejak kecil. Selain itu, teman terdekat T sangatlah permisif mengenai seks dimana pembicaraan mengenai pengalaman seks sangat terbuka dan T adalah satu-satunya yang masih perjaka dan berkomitmen untuk menjaganya sampai menikah kelak.

“ya itu td, kita berusaha untuk ngga melanggar prinsip masing2. lo-lo gw-gw. Gw punya prinsip dan gw ngga akan ganggu lo dengan satu syarat lo gak kan ganggu gw. Sempet juga gw tengsin, “ah, masa si lo di usia segini lo masi perjaka?”

“Gmn ya, maksudnya mereka mungkin karena pergaulan ya jadi kaya gitu. Dan kadang gw bingung, gw besar dan tumbuh bareng mereka, kok bisa ya gw beda ama mereka, ya gw si bersyukur.. dan itu ngga buruk kok, apa yang mereka lakukan tu kan pilihan. Mereka punya pilihan, dan mereka milih untuk seperti itu. Dan komitmen gw si, just for my wife.”

Walaupun berada di lingkungan yang permisif, T berusaha untuk tidak melanggar komitmennya dan bersikap untuk tidak saling mengganggu masalah seksual dengan temannya. Selain itu, lingkungan pertemanan yang cukup berpengaruh bagi T adalah lingkungan perkuliahannya di sastra arab dimana dalam lingkungan ini sangat kental nuansa islaminya. Lingkungan ini berpengaruh bagi T dalam hal keagamaan dan perilakunya.

“…arab tu pada akhirnya dengan sendirinya membentuk karakter gw. bayangin aja, lo seangkatan cuma 20 orang, lo berteman dengan orang-orang yang beriman sekali. gw dulu cenderung diincer sama senior2 gw, kan gw yang paling aneh. yang gak bisa diatur. akhirnya gw ngikutin gaya hidup mereka, yah bukan gaya hidup si, tapi pemikiran mereka. dan gw ngerasa itu baik dan positif buat gw, ya knapa ngga…”

pemahaman yang cukup. Pengaruh dari lingkungannya ini terlihat dari rutinnya T yang sampai sekarang menyempatkan untuk membaca Al-Qur’an setiap hari

“sebisa mungkin, gw berusaha rutin walo cuma satu lembar. Cuma kadang gak dapet, kalo gw punya waktu lebih, gw usahain.”

M mengaku tidak mempunyai kelompok pertemanan khusus yang selalu berkumpul kemanapun bersama. M mengaku tidak terlalu percaya dengan konsep sahabat. Hal ini dikarenakan M merasa pernah dikhianati oleh temannya.

“Gw kaya gini agak nge-judge si, gw gak percaya sama yang namanya sahabat, mereka adalah teman dekat tapi gw gak membagi semua rahasia ke satu keranjang. Gw punya rahasia gak akan gw bagi semuanya. Jadi gw bagi-bagi bukannya gak percaya si, gw gak pengen…”

Walaupun begitu, M tetap mempunyai teman terdekat yaitu teman perkuliahan dan teman SMAnya. Ketika menyukai seseorang, M sangat jarang membaginya kepada temannya. Dan kalaupun menceritakan, ia tidak akan menceritakan secara khusus dan lebih bersifat mendadak. Namun hal yang sebaliknya adalah M suka menggali permasalahan temannya dan bila ada temannya yang menanyakan masalahnya M akan berusaha berpaling.

“kalo mereka gw tau dan gw ngorek terus tentang mereka tapi gw penasaran banget, tapi giliran orang lain ngorek gw, ya gw ngeles, kaya bilang penting ya dibahas… gw gak akan cerita detail tapi gw bakal ngorek..”

Dalam pertemanan, M mempunyai prinsip tarik ulur dalam relasi temannya terhadap lawan jenis. Prinsip ini adalah sebagai perempuan tidak boleh untuk terlalu menunjukkan perasaan ketertarikan secara berlebihan kepada lelaki.

“pacaran boleh asal jangan merusak pertemanan. lu harus lihat sekitar, lu harus tau diri ,lu suka tapi gak boleh terlalu over, karena kan lu cewek jangan kesannya terlalu murahan, dan kalo suka ma orang gak ngejar, lebay aja..”

“kalo menurut gw untuk memulai si gak apa apa tapi ya tarik ulur lah, ok nih gw bikin first move tapi jangan dibombardir terus la, kaya ada satu momen dimana agak menjauh dan mundur. Gigih boleh tapi lu harus tau sikon dan tau diri”

Prinsip ini dipegang oleh M dan sering mengingatkan teman terdekatnya untuk menjaga prinsip ini dengan tujuan menjaga harga dirinya.

“misalnya I deh dengan satu oknum gw sering membuat kesempatan buat dia biar bisa bareng sama oknum itu, tapi gw bikin itu terlihat wajar dimana dia bisa bareng. Tapi kadang dia suka lebay, nah kalo udah gitu gw ingetin, I lebay… kan gw temennya juga, jadi gw gak mao nurunin nilainya dia…”

Selain itu, dalam pergaulan M teman terdekatnya masih menjaga batasan dalam artian M merasa temannya tidak menganut pergaulan bebas

“teman gw kan rata rata berada di jalur yang benar walaupun ada temen gw yang brengsek ya udah gw juga tau dan gw gak deket-deket”

Walaupun begitu, dalam lingkungan pertemanan informan kontak fisik antara lelaki dan perempuan masih ditoleransi dan dianggap wajar. Hal ini dikarenakan M menganggap sudah tahu banyak tentang temannya dan tidak akan menyukainya dalam hal percintaan.

“misalnya kalo fisik ya, kaya gelendotan ke si B kaya udah biasa aja… kaya kontak fisik ya udah biasa aja… kaya misalnya jalan berdua sama temen cowok terus nonton bareng ya kaya udah biasa aja…”

Dalam lingkungan pergaulannya, secara umum HI mempunyai teman di dunia maya dan dunia nyata. Di dunia maya, teman HI berjumlah sekitar 20 orang dan dalam dunia nyata terbagi dalam dua kelompok yakni teman sepermainan sejak smp dan teman dalam komunitas musik hiphop.

Di dalam dunia maya, HI biasa berdiskusi dengan temannya melalui fasilitas chatting atau berkirim e-mail mengenai berbagai macam topik. Topik yang sering dibicarakan mengkritisi berbagai macam gejala yang ada di media, selain itu juga topik yang dibicarakan mengenai filsafat dan pemikirnya.

Dengan pertemanan dengan komunitas hiphop HI merasa mendapat teman yang sesuai dengan dirinya karena memang dia menyukai musik hiphop dan

“jadi awalnya gw gabung karena gw bisa bikin musik hiphop dan emang hiphop termasuk susah jadinya orang nganggep gw hebat dan gw jadi tenar di komunitas gw dan ketika gw masuk ternyata gw menemukan orang-orang yang se pemikiran sama gw, bahkan yang tadinya gw pikir menemukan Cuma di hardcore sama punk ternyata ada di hiphop ya jadinya nyambung banget sama gw ya orang-orang yang self-consciousnessnya tinggi”

Di dalam komunitasnya ini, pergaulan yang terjadi sangatlah permisif dimana teman-temannya saling berbagi mengenai pengalaman seksual dan saling memamerkan maskulinitas.

“karena kita cowo semua ya sangat gamblang, kadang-kadang misoginis. Jadi kita suka ngebandingin seberapa maskulin kita dan ngebandingin udah ngapain aja kalo nge-seks. Kalo ada cewek lewat ya kita bahas sisi seks-nya”

HI: iya, jadi itu ukuran maskulin kaya lu udah ngapain aja.. P: maskulinnya jadi dalam hal seks?

HI: ya kaya gitu, kaya misalnya gw anal seks sama cewek, jadi pamer variasi-variasi kaya cewek lehernya dicekik dia akan lebih kenceng mengejangnya

Selain itu, dalam komunitasnya ini, lelaki tidak boleh untuk emosional. Hal ini menurut HI agar dirinya dihormati oleh temannta

“ya paling lu jangan lembek, jangan sampe kebawa suasana hati”

“ya kaya jadi harus begini, harus begitu, gw harus kuat, biar orang lebih respek”

Namun lain halnya dengan teman smp HI yang kurang terbuka dengan masalah seks. HI juga menuturkan bahwa teman smp dia tidak terlalu berpengaruh namun dia menganggap mereka bisa diajak berkumpul dan menerima dia apa adanya.

Dari pertemanannya HI dapat diambil kesimpulan bahwa komunitas hiphop menjadi tempat yang bagi informan paling nyaman untuk berteman karena kesamaan minat dan pandangan.

LN dalam kehidupannya sekarang mempunyai 2 kelompok pertemanan yaitu teman perkuliahan dan teman semasa SMA. Teman SMA LN adalah yang lebih berpengaruh bagi LN. Menurutnya dalam pertemanan dengan teman SMA dia lebih banyak bermain dan bersenang-senang bersama dibanding teman perkuliahan. LN menyadari hal ini dan berusaha untuk tidak terlalu sering berkumpul dengan teman SMA karena membuatnya tidak berkembang dan lebih banyak dengan teman kuliah.

“pergaulan gw termasuk pergaulan orang yang pinter itu temen kuliah, tapi teman SMA gw termasuk yang tidak pintar, tapi ini bukan pintar secara akademis ya, sosial gitu, kalo dilihat, sama SMA gw banyakan mainnya sih…”

Ketika berkumpul dengan temannya hal yang biasa dibahas adalah mengenai lelaki mencakup apa saja yang sudah dilakukan selama pacaran, dan latar belakang pasangan. Teman SMA LN termasuk dalam lingkungan yang permisif dalam hubungan antar lawan jenis dimana dalam kelompoknya semuanya pernah melakukan hubungan seksual pra nikah, temasuk LN.

“terbuka banget lah, kaya udah ngapain aja lo… iya kaya ngebahas cowo, dia itu siapa, ini baik gak, bau gak”

“paling nyeritain lu ngapain aja lu, kaya gitu…”

“iya terbuka banget, kaya lu ngapain aja ama cowo lu, kaya gini gini yuh pasti dibahas…”

Walaupun berada dalam lingkungan yang permisif dan menganggap seks pra nikah sebagai pilihan, LN mengaku masih memegang prinsip bahwa perempuan tidak boleh bersikap agresif dan memulai hubungan terlebih dahulu daripada lelaki. Selain itu perempuan juga sering diingatkan untuk tidak terlalu mudah dalam memberikan kesempatan kepada lelaki.

“kaya misalnya lu tertarik ma cowok gak sembarangan aja gitu, ngejar ato gimana gitu… nggak si, ya paling sekedar ngingetin kalo itu gak bener, kaya uu jangan cewek duluan donk, masih gitu si…”

Meskipun LN terkadang mengingatkan temannya untuk tidak terlalu agresif dalam hubungannya dengan lelaki, namun sanksi sosial dalam kelompok tidak terlalu kuat mengikat. LN menganggap temannya yang agresif adalah pilihan masing-masing

“ya paling kita ngeledekin, ih ih ih… ya gak masalah sih kalo masih dalam batas tertarik… Cuma lebih baik yang menyatakan duluan ya, harus laki-laki…”

Kelompok pertemanan SMA LN menurutnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dirinya hingga sekarang. Namun akhir-akhir ini LN menyadari bahwa dirinya berada dalam pergaulan yang salah.

“ngaruh banget si, dulu gw gak kaya gini… dulu gw suka menyepelekan orang, gak pedulian, gak bisa ngehargain orang, gw dulu ada di posisi nyaman ama lingkungan, berasa lingkungan gw segalanya dan akhirnya gw ngerasa pergaulan gw yang dulu salah aja”

Walaupun saat ini MF sudah menjalani perkuliahan selama 3 tahun, namun MF merasa lebih dekat dengan teman SMA-nya. Namun hal ini tidak membuatnya tertutup dengan teman perkuliahannya dimana dia bisa mencurahkan perasaanya kepada beberapa teman terdekatnya. Kedekatan dengan teman sms ini terlihat dimana mereka masih suka berkumpul bersama.

Ketika sedang berkumpul biasanya mereka berada di salah satu rumah temannya dan kemudian pergi bersama. Dalam pertemanannya ini MF menganggap bahwa dia berada dalam lingkungan yang sangat permisif dimana sudah tidak ada batasan dalam berbicara

“kalo mau tau lebih vulgar ama temen SMA,hehehe,,soalnya ud gak ada batasan lagi lo ngomong apa, tp gw nyaman-nyaman aja”

Selain itu pula, dalam lingkungan pertemanan MF semua temannya pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Namun MF berkomitmen untuk tidak melakukannya dan masih merasa nyaman dengan teman-temannya.

“itu biasanya gw ngerti ama temen SMA, kalo ama temen kuliah jarang ngebahas hal kayak gitu, rata-rata sih temen terdekat SMA yang cowok-cowoknya sayangnya udah gak punya batasan, having sex, tapi temen SMA deket gw, diluarnya gak tau gw”

“Ya temen-temen cowo gw yg deket udah, tp kadang-kadang gw heran ada temen gw yg polos dalam hal-hal seperti itu tapi terakhir gw ngobrol taunya udah pernah, ya gw kaget tapi Cuma ketawa2 aja dengernya”

Dari pergaulannya selama ini, MF mengaku mendapat banyak hal dari teman SMA nya terutama mengenai relasi gender. Dalam kelompok pertemanannya mereka menganggap bahwa dalam suatu hubungan lelaki yang harus menjadi pihak yang dominan dan menentukan arah hubungan.

“Gw rasa rata-rata mereka berpandangan bahwa cewek ngikut cowok, gw gak mau mempertahankan gw patriarki, tapi kalo gw liat temen-teman gw, ya gak udah yang udah nikah, yang masih pasangaa aja cowonya yg nentuin tujuan, tapi emang gak semua bidang mereka masi beranggapan bahwa cowo yg menentukan beberapa hal”

Walaupun begitu, MF berpendapat dalam suatu hubungan lawan jenis tidak selamanya lelaki yang menentukan arah hubungan. Menurutnya dalam suatu hubungan idealnya adalah perbandingan 51 berbanding 49 dimana perempuan tidak masalah unggul dalam beberapa bidang

“Sebenernya gak masalah cewe lebih unggul dlm beberapa bidang, kalo gw 51-49, kalo dibalikin ke gw beda lagi tapi bukan berarti gw munafik, ada baiknya dalam beberapa hal cewe lebih maju duluan, tapi bukan berarti tentang pekerjaan rumah tangga gitu gitu ya, justru sebaliknya, kalo cowo yg berpandangan maju justru ngeliat rumah tangga dikerjain berdua dan gak mutlak diurus cewe, mungkin akan sensitive kalo ngomongin gaji, kaya misalnya gaji cewe lebih gede, kalo gw liat perceraian kebanyakan gara-gara masalah ekonomi, kesuksesan wanita, blab ala bal, ujung-ujungnya emang balik lagi ke pasangan hidup kita sih , tp gw ngliatnya 51-49, kalo emg cowo lebih dominasi ya gak usa banyak2 lah”

Dibandingkan dengan keluarganya, MF menuturkan bahwa dalam hubungannya dengan lawan jenis MF lebih banyak belajar dari teman SMA nya dan menganggap teman SMA nya adalah yang paling berpengaruh dalam hidupnya walaupun berbeda pandangan mengenai seks pra nikah

“ya waktu SMA kan lagi puber, jd paling ngaruh ya SMA, kalo pas di kampus ya tahap pematangan, menurut gw pembelajaran yg paling penting pas SMA”

Berdasarkan pemasaran di atas 4 informan yaitu T, HI, MF dan LN berada dalam lingkungan yang sangat permisif mengenai seks. Dalam pergaulan mereka seks adalah hal yang tidak tabu untuk diperbincangkan dan menjadi bahan obrolan. Lain halnya dengan M yang berada dalam lingkungan yang masih menganggap bahwa keperawanan harus dipertahankan sebelum pernikahan namun tidak tabu untuk dibicarakan.

Mengenai batasan dalam relasi lawan jenis kelompok pertemanan HI, MF dan M tidak mempermasalahkan bila perempuan memulai suatu hubungan namun lelaki menjadi pihak yang lebih dominan. Agak berbeda dengan LN dan T yang beranggapan bahwa lelaki harus memulai terlebih dahulu dan tidak menyetujui bahwa perempuan yang memulai hubungan terlebih dahulu karena dianggap murahan.

Namun secara keseluruhan dari 4 informan kecuali M teman adalah pihak yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter dalam diri mereka. Dalam hal ini seperti T, MF, dan HI yang merasa tidak terlalu dekat dengan keluarga dan lebih banyak bercerita dengan teman. Berbeda dengan LN yang merasa lebih dekat dengan keluarga namun teman juga punya pengaruh yang besar

Dalam dokumen Pemaknaan khalayak terhadap relasi gende (Halaman 58-64)