• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENDAFTARAN HAK CIPTA ARSITEKTUR YANG

F. Pendaftaran Hak Cipta Arsitektur di Kota Medan

Pendaftaran ciptaan bertujuan untuk menjamin kepastian hukum dan kepastian hak, dengan adanya pendaftaran akan di ketahui dengan tepat siapa pemilik dari hak cipta tersebut. Dengan pendaftaran, kepemilikan atas hak cipta itu secara umum khalayak ramai akan mengetahui siapa yang mempunyai kewenangan kebendaan atas hak cipta yang bersangkutan. Ini merupakan salah satu proses penting dalam bidang hukum benda yang pada kenyataannya menyangkut permasalahan

97

O.K. Saidin,Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 91

tentang status kepemilikannya, sehingga terjawab secara pasti dengan adanya pendaftaran itu.98

Pendaftaran dalam kaitannya dengan Hak Kekayaan Intelektual adalah kegiatan pemeriksaan dan pencatatan setiap hak Kekayaan Intelektual seseorang, oleh pejabat pendaftaran, dalam buku daftar yang disediakan untuk itu, berdasarkan permohonan pemilik/ pemegang hak, menurut syarat dan tatacara yang diatur oleh Undang-Undang dengan tujuan untuk memperoleh kepastian dari status kepemilikan dan perlindungan hukum, dan sebagai bukti pendaftaran diterbitkan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual.99

Dimana kita ketahui bahwa terhadap hak cipta tidak diharuskan untuk didaftarkan karena hukum telah melindungi ciptaan tersebut sejak ciptaan itu lahir, walaupun tidak didaftarkan. Jadi aparat penegak hukum sulit untuk mengetahui bahwa suatu karya arsitektur yang seharusnya dilindungi telah terjadi pelanggaran hak cipta.100

Karena UUHC Tahun 2002 menganut sistem pendaftaran deklaratif maka sangat sulit bagi PPNS-HAKI untuk mengetahui siapakah pemilik atas suatu karya arsitektur. Oleh karena itu tuntutan pidana pun tidak pernah dilakukan oleh aparat penegak hukurn. Mereka khawatir kalau mereka akan salah dalam rnelakukan

98

Jawasmer, SH. M.Kn., PPNS HaKI pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Sumatera Utara,wawancara, 12 Desember 2012.

99

Abdulkadir Muhammad,Op Cit, hal. 153 100

Jawasmer, SH. M.Kn., PPNS HaKI pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Sumatera Utara,wawancara, 12 Desember 2012.

penyelidikan karena bisa saja orang yang telah diperiksa bahwa ia telah rnelakukan pelanggaran hak cipta ternyata memang benar bahwa hak cipta itu miliknya.101

Dalam praktik di lapangan pendaftaran ciptaan arsitektur belum pernah dilakukan oleh arsitek di Kota Medan. Jawasmer SH., M.Kn., PPNS dan Kepala Bidang Pelayanan Hukum mengatakan bahwa Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Medan belum pernah menerima pendaftaran Hak Cipta Arsitektur yang dilakukan oleh arsitek.102

Sedangkan dari hasil wawancara dengan Ketua IAI Kota Medan, menegaskan harus ada prosedur yang lebih terbuka bagi arsitek untuk mendaftarkan hak cipta arsitektur, karena bagaimana prosedurnya selama ini tidak jelas, bahkan hak cipta arsitektur ternyata diatur dalam undang-undang di Indonesia juga tidak semua arsitek mengetahuinya, kemudian bagaimana prosedurnya pun juga tidak diketahui, SOP atau standar operasionalnya bagaimana, mula-mula harus didaftrkan kemana, dan seterusnya.103

Walaupun, Hak Cipta tidak memiliki keharusan untuk didaftarkan, namun agar memiliki bukti hukum yang kuat untuk dapat membuktikan bahwa karya cipta tersebut merupakan karya seseorang, maka proses pendaftaran diperlukan, apalagi jika karya cipta tersebut bertujuan untuk mendapat manfaat ekonomis. Sehingga

101

Jawasmer, SH. M.Kn., PPNS HaKI pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Sumatera Utara,wawancara, 12 Desember 2012.

102

Jawasmer, SH. M.Kn., PPNS HaKI dan KASUBID Pelayanan Hukum umum pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Sumatera Utara,wawancara, 12 Desember 2012.

103

Achmad Delianur, ketua IAI Wilayah Sumatera Utara,wawancara, tanggal 5 Februari 2012

pemilik hak tidak kehilangan hak ekonomisnya atas tindakan pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh orang lain.

Fungsi pendaftaran untuk mempermudah pembuktian kepemilikan atas ciptaan yang dimiliki seseorang apabila dikemudian hari terdapat pelanggaran hak atas ciptaan dan apabila ciptaan itu tidak didaftarkan akan ditemui kesulitan dalam pembuktian kepemilikan.

Untuk memperkuat perlindungan hukum terhadap hak cipta tersebut didaftarkan pada Departemen Hukum dan HAM. Namun demikian pendaftaran tersebut bukan merupakan kewajiban bagi pencipta. Pendaftaran hak cipta tidak mengandung arti sebagai pengesahan atas isi, arti atau bentuk dari ciptaan yang didaftarkan, Hal itu berguna untuk memeperkuat kedudukan hak cipta sebagai alat bukti apabila terjadi sengketa atau pelanggaran hak cipta.104

Menurut hasil penelitian, hak cipta arsitektur pada dasarnya adalah hak privat (perdata), dalam arti pencipta atau pemegang hak cipta bebas untuk mengajukan permohonan bagi pendaftaran dan perlindungan atas hak ciptanya atau tidak. Jika tidak dilakukan tidak akan dituntut apa-apa, tetapi akan rugi sendiri jika orang lain atau perusahaannya tempat bekerja seenaknya memanfaatkan, atau bahkan mengaku-aku ciptaannya. Dari uraian ini, menurut peneliti jika pendaftaran hak cipta tidak merupakan keharusan, maka perlu dipikirkan tentang upaya apa yang harus dilakukan untuk menarik minat para pencipta untuk mendaftarkan hasil karyanya (hak

104

Jawasmer, SH. M.Kn., PPNS HaKI dan KASUBID Pelayanan Hukum umum pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Sumatera Utara,wawancara, 5 Desember 2012.

ciptanya), tentu saja dengan keuntungan yang dapat dirasakan oleh Pencipta itu sendiri, dibanding apabila tidak melakukan pendaftaran.

Berkarya itu penting, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah mengurus status hukumnya, agar haknya dapat terjamin. Demikian pula, tidak ada salahnya menikmati hasil ciptaan orang lain, selama tidak mengabaikan hak-hak pembuatnya. Dengan adanya pendaftaran dan perlindungan, diharapkan kreativitas para arsitek juga akan terdokumentasi dengan baik sehingga lebih mudah dan akhirnya lebih murah, untuk dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Selain itu kepastian hukum yang lebih baik sehingga terhindar dari pembajakan, penyalahgunaan, dan perampasan.

BAB III

HAK CIPTA ARSITEKTUR YANG DIBUAT BERDASARKAN HUBUNGAN KERJA

A. Pengaturan Hak Cipta Arsitektur dalam suatu Hubungan Kerja

Pada dasarnya, hubungan kerja yaitu hubungan antara pekerja dan pengusaha, terjadi setelah diadakan perjanjian oleh pekerja dengan pengusaha, di mana pekerja menyatakan kesanggupannya untuk bekerja pada pengusaha dengan menerima upah dan di mana pengusaha menyatakan kesanggupannya untuk mempekerjakan pekerja dengan membayar upah. Perjanjian yang sedemikian itu disebut perjanjian kerja. Dari pengertian tersebut jelaslah bahwa hubungan kerja sebagai bentuk hubungan hukum lahir atau tercipta setelah adanya perjanjian kerja antara pekerja dengan pengusaha.105 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, Pasal 1 angka 1 mendefinisikan

Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh

berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah. Menurut Hartono Widodo dan Judiantoro, hubungan kerja adalah kegiatan-kegiatan pengerahan tenaga/jasa seseorang secara teratur demi kepentingan orang lain yang memerintahnya (pengusaha/majikan) sesuai dengan perjanjian kerja yang telah disepakati.106

105

Arianto Sam, 28 September 2012, Pengertian hubungan Kerja, sobatbaru.blogspot.com /hub kerja/pengertian-hubungan-kerja.html, Internet, diakses tanggal 2 Oktober 2012.

106

Hartono, Judiantoro,Segi Hukum Penyelesaian Perselisihan Perburuhan, Jakarta: Rajawali Pers, 1992, hal. 10.

Selanjutnya Tjepi F. Aloewir, mengemukakan bahwa pengertian hubungan kerja adalah hubungan yang terjalin antara pengusaha dan pekerja yang timbul dari perjanjian yang diadakan untuk jangka waktu tertentu maupun tidak tertentu.107

Hubungan kerja pada dasarnya meliputi hal-hal mengenai:

1. Pembuatan Perjanjian Kerja (merupakan titik tolak adanya suatu hubungan kerja)

2. Kewajiban Pekerja (yaitu melakukan pekerjaan, sekaligus merupakan hak dari pengusaha atas pekerjaan tersebut)

3. Kewajiban Pengusaha (yaitu membayar upah kepada pekerja, sekaligus merupakan hak dari si pekerja atas upah)

4. Berakhirnya Hubungan Kerja

5. Cara Penyelesaian Perselisihan antara pihak-pihak yang bersangkutan

Perjanjian kerja menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 1 angka 14 adalah suatu perjanjian antara pekerja dan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja hak dan kewajiban kedua belah pihak. Perjanjian kerja pada dasarnya harus memuat pula ketentuan-ketentuan yang berkenaan dengan hubungan kerja itu, yaitu hak dan kewajiban buruh serta hak dan kewajiban majikan.

Selanjutnya perihal pengertian perjanjian kerja, ada lagi pendapat Subekti beliau menyatakan bahwa perjanjian kerja adalah perjanjian antara seorang buruh dengan majikan, perjanjian mana ditandai oleh ciri-ciri adanya suatu upah atau gaji

107

Tjepi F. Aloewic, Naskah Akademis Tentang Pemutusan Hubungan Kerja dan Penyelesaian Perselisihan Industrial, Cetakan ke-11, Jakarta: BPHN, 1996, hal. 32.

tertentu yang diperjanjikan dan adanya suatu hubungan di peratas (bahasa Belanda “dierstverhanding”) yaitu suatu hubungan berdasarkan mana pihak yang satu (majikan) berhak memberikan perintah-perintah yang harus ditaati oleh pihak yang lain (buruh).108

Kehendak para pihak dapat dinyatakan dalam berbagai cara baik lisan maupun tertulis dam mengikat para pihak dengan segala akibat hukumnya.109Perjanjian kerja yang didasarkan pada pengertian Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak disebutkan bentuk perjanjiannya tertulis atau lisan; demikian juga mengenai jangka waktunya ditentukan atau tidak sebagaiman sebelumnya diatur dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan.

Bagi perjanjian kerja tidak dimintakan bentuk yang tertentu. Jadi dapat dilakukan secara lisan, dengan surat pengangkatan oleh pihak pengusaha atau secara tertulis, yaitu surat perjanjian yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Undang-undang hanya menetapkan bahwa jika perjanjian diadakan secara tertulis, biaya surat dan biaya tambahan lainnya harus dipikul oleh pengusaha. Apalagi perjanjian yang diadakan secara lisan, perjanjian yang dibuat tertulispun biasanya diadakan dengan singkat sekali, tidak memuat semua hak dan kewajiban kedua belah pihak.110

Sebagai bagian dari perjanjian pada umumnya, maka perjanjian kerja harus memenuhi syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Ketentuan ini juga tertuang dalam

108

Soebekti, Aneka Perjanjian, Bandung: Penerbit Alumni, 2005, hal. 63. 109

Suharnoko, Hukum Perjanjian, Prenada Media, Jakarta, 2004, hal. 3 110

pasal 52 ayat 1 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa perjanjian kerja dibuat atas dasar:

1. Kesepakatan kedua belah pihak;

2. Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum; 3. Adanya pekerjaan yang dijanjkan;

4. Pekerjaan yang dijanjikan tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Suatu hubungan kerja dianggap telah terjadi sejak adanya suatu penugasan dari pemberi tugas kepada arsitek yang dilaksanakan secara tertulis ataupun tidak. Selanjutnya arsitek harus menegaskan penugasan tersebut secara tertulis atau disetujui oleh kedua belah pihak dimana Arsitek secara resmi menyatakan menerima tugas tersebut.111

Unsur-unsur yang ada dalam suatu perjanjian kerja:112

1. Adanya unsur work atau pekerjaan, dalam suatu perjanjian kerja harus ada

pekerjaan yang diperjanjikan (obyek perjanjian), pekerjaan tersebut haruslah dilakukan sendiri oleh pekerja, hanya dengan seizin pengusaha dapat menyuruh orang lain.

2. Adanya unsur perintah, manifestasi dari pekerjaan yang diberikan kepada pekerja oleh pengusaha adalah pekerja yang bersangkutan harus tunduk pada

111Achmad Delianur, ketua IAI Wilayah Sumatera Utara,wawancara, tanggal 5 Februari 2012

112

perintah pengusaha untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diperjanjikan.

3. Adanya upah, upah memegang peranan penting dalam hubungan kerja (perjanjian kerja), bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan utama seorang pekerja bekerja pada pengusaha adalah untuk memperoleh upah. Sehingga jika tidak ada unsur upah, maka suatu hubungan tersebut bukan merupakan hubungan kerja.

4. WaktuTertentu, yang hendak ditunjuk oleh perkataan waktu sebagai unsur yang harus ada dalam perjanjian kerja adalah bahwa hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja tidak berlangsung terus-menerus atau abadi. Jadi bukan waktu tertentu yang dikaitkan dengan lamanya hubungan kerja antara pengusaha dengan pekerja. Waktu tertentu tersebut dapat ditetapkan dalam perjanjian kerja, dapat pula tidak ditetapkan. Di samping itu, waktu tertentu tersebut, meskipun tidak ditetapkan dalam perjanjian kerja mungkin pula didasarkan pada peraturan perundang-undangan atau kebiasaan.

Arsitek dalam berkarya, pastinya berhubungan langsung dengan pengguna jasa, masyarakat, pemerintah, lingkungan, bisa juga manajemen konstruksi.Intensitas

yang demikian kuat antar para pihak, maka perlu adanya aturan yang memandu hubungan kerja tersebut.

IAI mengeluarkan Pedoman Hubungan Kerja Antara Arsitek dan Pengguna Jasa. Pedoman ini berlaku bagi setiap penugasan dan arsitek sebagai penyedia jasa perancangan mengadakan perjanjian kerja untuk melakukan layanan jasa keahliannya

atas penugasan dari pihak pengguna jasa, baik atas nama perorangan, kelompok arsitek atau badan usaha.

Hubungan kerja tersebut diatur dalam Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah, yaitu: UU Republik Indonesia No 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, UU Republik Indonesia No 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, Peraturan Pemerintah No 28 tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi, Peraturan Pemerintah No 29 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, dan Peraturan Pemerintah No 30 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi.

Dalam Pedoman Hubungan Kerja Antara Arsitek dan Pengguna Jasa, dijabarkan Kewajiban dan Hak Arsitek (pasal 28) begitu pula Kewajiban dan Hak Pengguna Jasa (pasal 29), bahkan sampai Hak Milik dan Hak Kekayaan Intelektual (pasal 31).

B. Hak Cipta Arsitektur dalam Kontrak Kerja yang Dibuat Berdasarkan Hubungan Kerja

Peran arsitek dalam usaha jasa konstruksi menurut Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi yang selanjutnya disebut Undang-Undang Jasa Konstruksi atau UUJK, arsitek termasuk dalam perencana konstruksi. Arsitek bekerja dengan keahliannya guna memenuhi permintaan pengguna jasa dalam merancang sebuah bangunan atau proyek.

Dalam pasal 1 ayat (2) UUJK menyebutkan pekerjaan konstruksi adalah “keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perncanaan dan/atau pelaksanaan

beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain”.

Pasal 1 ayat (5) UUJK menyatakan bahwa kontrak kerja konstruksi adalah “keseluruhan dokumen yag mengatur hubungan hukum antara penggunan jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi”. Jadi, pihak-pihak yan terlibat dalam penyelenggaraaan pekerjaan konstruksi adalah pengguna jasa dan peyedia jasa.

Sejauh ini, arsitek pada umumnya hanya membuat perjanjian yang sangat sederhana yang hanya mengatur mengenai identitas para pihak, lokasi lahan yang akan dibangun, kewajiban arsitek yang tidak terlalu detail dan metode pembayaran. Resiko dari perjanjian semacam ini apabila terjadi perselisihan diluar dari hal-hal yang diperjanjikan, unsur kerugian harus dapat dibuktikan. Tentunya, harus diingat bahwa dalam pekerjaan pembangunan karya arsitektur akan banyak pihak yang terkait sehingga untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab akan terjadinya peristiwa akan cukup sulit apabila dalam perjanjian dicantumkan siapa uang menjadi penanggung jawab. Oleh karena itu, sangat diperlukan dibuatnya kontrak atau Surat Perjanjian antara arsitek dan pengguna jasa yang mengatur hak dan kewajiban arsitek dan pengguna jasa secara mendetail.113

Kontrak atau Surat Perjanjian antara arsitek dengan Pengguna Jasa selain bermanfaat untuk memberikan aturan-aturan mengukat berisi hak dan kewajiban dari

113

masing-masing pihak, juga merupakan salah satu cara untuk mengantisipasi adanya kerugian yang ditimbulkan dari pemanfaatan Hak Cipta secara tanpa hak atas suatu karya arsitektur. Tentunya akan timbul pendapat bahwa mengenai kepemilikan hak Cipta sudah ditentukan berdasarkan UUHC, dan karena tidak diperlukan pendaftaran menurut UUHC, tidak perlu ketentuan mengenai hal ini dicantumkan dalam suatu perjanjian. Namun harus dimengerti, kondisi-kondisi pada penciptaan suatu karya arsitektur berada pada batas-batas yang sulit untuk menentukan siapa yang disebut pencipta dan siapa yang disebut Pemegang Hak Cipta. Misalnya, dalam suatu pembuatan desain rumah, peran Pengguna Jasa begitu besardalam mendesain sehingga peran arsitek hanya sebagai drafter. Siapakah yang dalam hal ini menjadi Pencipta dan Pemegang Hak Cipta. Absennya perjanjian akan membawa pada polemik yang berkepanjangan. Sehingga akan sangat baik apabila kepemilikan Hak Cipta ditentukan dalam suatu kontrak yang telah disepakati kedua belah pihak.

Suatu perjanjian harus memperhatikan kerentuan-ketentuan bagaimana perjanjian yang benar. Kalimat ‘kecuali diperjanjikan lain’ sering dijumpai dalam undang-undang. Kalimat ini merujuk pada kesepakatan antara pihak-pihak yang terkait didalamnya untuk hal-hal tertentu. Kesepakatan ini dituag dalam bentuk tertulis sebagai suatu kontrak atau perjanjian.114

Dalam praktiknya terdapat perjanjian-perjanjian yang dibuat tidak dengan sukarela. Salah satu pihak yang berjanji berada dalam posisi yang mengharuskannya untuk bersepakat. Konsep sukarela itu sendiri adalah perjanjian tidak dibuat dengan

kondisi salah satu pihak salah pengertian, berada dalam paksaan atau penipuan. Unsur

paksaan dalam hal ini seperti mengancam dengan kekerasan sihingga

mengkondisikan seseorang tidak dapat menolak untuk bersepakat. Tidak

menyebabkan perjanjian batal, maka dalam hal ini seorang Pengguna Jasa membuat kesepakatan dengan arsiteknya bahwa yang disebut sebagai pencipta adalah Pengguna Jasa tersebut, sepanjang tidak adanya unsur paksaan fisik dan syarat sah nya perjanjian yang lain juga terpenuhi, perjanjian ini tidak dapat dibatalkan. Begitu juga, seorang arsitek dapat meminta Pengguna Jasanya menandatangani kontrak kerja yang didalamnya terdapat klausul kepemilikan Hak Cipta atas arsitektur selaku objek Hak Cipta dalam pejanjian tersebut. Belum semua arsitek sadar akan kepemilikan Hak Cipta atas karyanya. Suatu kontrak akan menjadi solusi yang paling baik dalam melindungi hak-hak arsitek.115

Kontrak antara arsitek dan Pengguna Jasa dapat berupa kontrak standar dengan ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat yang sudah ditentukan sebelumnya oleh salah satu pihak dalam hal ini arsitek, seperti misalnya kewajiban-kewajiban arsitek, metode pembayaran yang harus dipatuhi Pengguna Jasa, dan lainnya. Namun,

kontrak ini tidak sekaku kontrak yang terdapat pada kontrak baku di bidang

perbankan. Pengguna jasa dapat mengajukan usulan-usulan perubahan seperti misalnya terhadap metode pembayaran.116

115

Ibid, hal 96 116ibid

Pengaturan hubungan kerja antara arsitek dengan pengguna jasa, dituangkan dalam sebuah kontrak kerja yang disebut kontrak kerja konstruksi. Berdasarkan Pasal 22 ayat 2 Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi, menyatakan bahwa kontrak kerja konstruksi sekurang-kurangnya harus mencakup uraian mengenai :

a. Para pihak, yang memuat secara jelas identitas para pihak;

b. Rumusan pekerjaan, yang memuat uraian yang jelas dan rinci tentang lingkup pekerjaan, nilai pekerjaan, dan batasan waktu pelaksanaan;

c. Masa pertanggungan dan/atau pemeliharaan, yang memuat tentang jangka waktu pertanggungan dan/atau pemeliharaan yang menjadi tanggungjawab penyedia jasa;

d. Tenaga ahli, yang memuat tentang ketentuan jumlah, klasifikasi dan kualifikasi tenaga ahli untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi;

e. Hak dan Kewajiban, yang memuat hak pengguna jasa untuk memperoleh hasil pekerjaan konstruksi serta kewajiban untuk memenuhi ketentuan yang diperjanjikan serta hak penyedia jasa untuk memperoleh informasi dan imbalan jasa serta kewajibannya melaksanakan pekerjaan konstruksi;

f. Cara pembayaran, yang memuat ketentuan tentang kewajiban pengguna jasa dalam melakukan pembayaran hasil pekerjaan konstruksi;

g. Cidera janji, yang memuat ketentuan tentang tanggungjawab dalam hal salah satu pihak tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana diperjanjikan;

h. Penyelesaian perselisihan, yang memuat ketentuan tentang tata cara penyelesaian perselisihan akibat ketidaksepakatan;

i. Pemutusan kontrak konstruksi, yang memuat ketentuan tentang pemutusan kontrak kerja kontruksi yang timbul akibat tidak dipenuhinya kewajiban salah satu pihak;

j. Keadaan memaksa(force majeure), yang memuat ketentuan tentang kejadian

yang timbul di luar kemauan dan kemampuan para pihak, yang menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak;

k. Kegagalan bangunan, yang memuat ketentuan tentang kewajiban penyedia jasa dan/atau pengguna jasa atas kegagalan bangunan;

l. Perlindungan pekerja, yang memuat ketentuan tentang kewajiban para pihak dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja serta jaminan social; m. Aspek lingkungan, yang memuat kewajiban para pihak dalam pemenuhan

Kontrak kerja konstruksi harus dibuat dalam bahasa Indonesia, dan apabila perjanjian pekerjaan di laksanakan dengan pihak asing, kontrak kerja dapat di buat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Menurut Pasal 22 ayat 3 Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi, bahwa kontrak kerja konstruksi untuk pekerjaan perencanaan harus memuat ketentuan tentang hak atas kekayaan intelektual. Maksudnya untuk melindungi rancangan dalam suatu kontrak konstruksi. Selanjutnya dalam penjelasan pasal tersebut dijelaskan kekayaan intelektual adalah hasil inovasi perencanan konstruksi dalam suatu pelaksanaan kontrak kerja konstruksi baik bentuk hasil akhir perencanaan dan/atau bagian-bagiannya yang kepemiikannya dapat diperjanjikan.

Menurut pasal 23 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik indonesia Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi menyebutkan kontrak kerja konstruksi harus memuat ketentuan tentang hak kekayaan intelektual yang mencakup:

a. Kepemilikan hasil perencanaan berdasarkan kesepakatan

b. Pemenuhan kewajiban terhadap hak cipta atas hasil perencanaan yang telah dimiliki oleh pemegang hak cipta dan hak paten yang telah dimiliki oleh pemegang hak paten sesuai undang tentang hak cipta dan undang-undang tentang hak paten.

Menurut penjelasan pasal tersebut ketentuan hak atas kekayaan intelektual ini dimaksudkan agar para pihak membuat kesepakatan untuk hak memiliki hasil penemuan atau inovasi pelaksanaan pekerjaan dalam pekerjaan yang diperjanjiakan.

Dalam surat keputusan Bersama Menteri Keuangan Republik Indonesia dan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tentang Petunjuk Pelaksanaan Teknis Pengadaan Barang/jasa Instansi Pemerintah pada Bab II tentang syarat-syarat umum kontrak, dalam point (e) tentang jak Paten, Hak Cipta, dan Merek ditentukan bahwa ketentuan yang mengatur kewajiban penyedia barang/ jasa untuk melindungi