TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Tinjauan Pustaka
2.2.1. Pendekatan Imajinatif dalam Mengkonstruksi Realitas
Paul Edwards mengkonsepsikan imajinasi, secara umum, adalah daya untuk membentuk gambaran atau konsep-konsep mental yang tidak secara langsung didapatkan dari sensasi (penginderaan).81
Jika menyimak konsepsi tersebut, maka kita akan lebih berhati-hati dalam penggunaannya karena dalam prakteknya terdapat banyak kesalahpahaman penempatan dan penggunaan istilah imajinasi. Seringkali penggunaan istilah yang keliru itu karena sudah menjadi kebiasaan, maka akan menjadi “sebuah kebenaran” (hasil konvensi sosial).
Sedangkan menurut Jean Paul Sartre, imaji berarti cara dimana obyek menampakkan dirinya dalam kesadaran, atau suatu cara dimana kesadaran menghadirkan obyek untuk kesadaran itu sendiri. Imaji tidak lain adalah sebuah hubungan. Secara lebih detail, Sartre menjabarkan bahwa imaji adalah sebuah tindakan yang mengangankan sebuah obyek yang tidak hadir atau tidak ada sebagai sebuah benda yang sesungguhnya dengan cara kandungan fisik atau mental, tetapi yang hanya muncul melalui sebuah ‘representatif analogis’ dari obyek yang dibayangkan. Dalam kaitannya dengan imaji mental, kandungannya tidak memiliki obyektivitas.
Pada hakikatnya, imaji itu ditentukan oleh intensinya. Apabila intensi ini diambil pada sumbernya, yaitu ketika intensi itu baru
81 Tedjoworo, Imaji dan Imajinasi : Suatu Telaah Filsafat Postmodern. Yogyakarta, Kanisius. 2001, hal. 67.
muncul pertama kali dari spontanitas kita, intensi itu sudah mengimplikasikan sebuah pengetahuan tertentu, tanpa memperhatikan seberapa benar dan kosongnya pengetahuan yang muncul pada kita itu. Namun dalam kenyataannya, imaji mental memang membayangkan sebuah benda riil yang eksis diantara benda-benda lainnya dalam dunia persepsi, tetapi imaji tersebut membayangkan benda itu dengan sebuah kandungan mental.
Sedangkan kandungan mental dari imaji mental itu tidak bisa lepas dari teori bahwa kesadaran yang menghadapi benda yang dibayangkannya adalah sebuah kesadaran perseptual, kesadaran yang membayangkan sebuah benda seperti benda kosong adalah suatu kesadaran pengertian murni. Oleh karenanya, Dwelshauvers menyimpulkan bahwa imaji-imaji mental yang terjadi merupakan terjemahan sadar dari perilaku-perilaku otot. Perilaku-perilaku ini tidak terlihat oleh subyek, tetapi perilaku-perilaku itu muncul pada imaji dalam kesadaran subyek yang sangat berbeda dari perilaku- perilaku itu sendiri.
Dengan perkataan lain, yang terjadi adalah bahwa asal mula imaji-imaji mental kita adalah sebagai berikut : Pertama, gagasan suatu gerakan yang dilakukan. Kedua, perilaku otot yang mengobyektifikasikan gagasan itu. Intensi motor itu tanpa adanya kesadaran subyek akan reaksi motornya, tetapi kesadaran akan perilakunya begitu saja. Ketiga, sebuah imaji muncul dalam
kesadaran sebagai rekaman reaksi motor dan secara kualitatif berbeda dari unsur-unsur dari reaksi itu sendiri.82
Pada penggunaan keseharian, imajinasi senantiasa diidentikkan dengan fantasi, ilusi dan khayalan. Padahal istilah “fantasi” itu lebih berkaitan dengan daya untuk membayangkan sesuatu, khususnya hal yang tidak real atau yang tidak mungkin terjadi. Fantasi juga bisa diartikan mirip dengan khayalan. Menurut W.L. Reese, istilah “khayalan” lebih sering diartikan sebagai hasil fantasi seseorang, sedangkan “ilusi” adalah ide, keyakinan, atau kesan yang salah tentang sesuatu, persepsi atau konsepsi yang keliru akan sesuatu.
Jika fantasi (daya yang menghasilkan khayalan) itu biasanya dikaitkan dengan gambaran obyek yang tidak mungkin dan memang tidak ada dalam kenyataan, maka imajinasi dipahami sebagai daya yang menghasilkan gambaran obyek yang mungkin (dapat ada) atau logis. Ada beberapa variasi kata “imajinasi” dalam bahasa Inggris, yakni imagery, imaginary dan imagine. Mengutip pendapat J.A. Cuddon, Tedjoworo menyatakan bahwa imagery sesungguhnya berarti suatu penggunaan bahasa figuratif untuk menghasilkan gambaran, obyek, aksi, perasaan, pemikiran, ide, atau pengalaman dalam pikiran pembaca atau pendengar. Untuk konteks Indonesia kata tersebut berarti “perumpamaan/tamsil”, namun pada hakikatnya
imagery itu lebih luas maknanya.
82 Jean-P Sartre, Psikologi Imajinasi. Silvester G. Sukur (peny.). Yogyakarta, Bentang, 2000, hal. 10-17.
Oleh karenanya, masih menurut Tedjoworo, ia (imagery) banyak digunakan oleh para penyair dalam menorehkan karya- karyanya. Berikutnya adalah kata imaginary yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang berarti “imajiner/khayal”. Terakhir adalah imagine (kata kerja) yang berarti “membentuk suatu gambaran (imaji) mental tentang sesuatu atau memikirkan sesuatu yang bisa terjadi atau mungkin”. Kata ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “membayangkan”. Perbedaannya dengan imajinasi adalah bahwa imajinasi mempunyai cakupan dan kompleksitas yang lebih besar daripada sekedar membayangkan.83
Salah satu kelebihan imajinasi adalah kemampuannya untuk menghadirkan realitas.
Adapun pendekatan yang dimaksud untuk menjelaskan hal ini, yakni84 : Pertama, selain menghasilkan gambaran-gambaran mental,
imajinasi menghasilkan konsep-konsep imajerial, yakni konsep- konsep yang mengandaikan adanya rangkaian imaji-imaji untuk memperjelasnya. Sebaliknya, konsep-konsep yang hanya dapat muncul dari rangkaian imaji-imaji. Kedua, pengertian tentang konsep-konsep imajinatif. Konsep-konsep imajinatif itu sebenarnya tumbuh dari satu tahap intelektual yang sifatnya lebih re- konstruktif.85
83 Tedjoworo. op. cit., hal. 22-25. 84Ibid., hal. 96.
85 Istilah re-konstruksi berbeda dengan rekonstruksi dalam pengertiannya. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memahami proses dekonstruksi-nya Derrida secara lebih tepat. Dekonstruksi itu memecah-mecah suatu keseluruhan atau tatanan (imaji) yang sudah ada, namun kedalam fragmen-fragmen yang sama sekali berbeda dengan imaji-imaji awal. Di sisi lain, re-konstruksi
Akan tetapi dalam konteks iklan (televisi), tayangannya sarat dengan tampilan-tampilan realitas yang sudah terkonstruksi. Istilah konstruksi realitas secara komperehensif dibahas dalam buku The Social Construction of Reality : A Treatise in the Sociological of Knowledge karangan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966). Dengan memisahkan pemahaman tentang “kenyataan” dan “pengetahuan”, Berger dan Luckmann berhasil mengkombinasikan teori Weber dan Durkheim secara lebih komperehensif tentang tindakan sosial. Realitas dipahami sebagai kualitas yang terdapat didalam realitas-realitas, dimana realitas memiliki keberadaan yang tidak bergantung pada kehendak subyektif kita. Sementara itu, pengetahuan dipahami sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata dan memiliki karakteristik secara spesifik.86
Hal ini sangat signifikan dalam memandang secara tepat pola perubahan tatanan masyarakat yang mulai tercerabut dari akar budayanya. Terlebih dengan suguhan penggalan realitas dibelahan dunia lain, yang seringkali justru dipersepsikan sebagai realitas seutuhnya, seolah mengilhami masyarakat untuk berpaling dari sebuah tatanan yang sebelumnya dipegang erat. Selanjutnya, mereka berpendapat bahwa institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan
hanya mungkin sesudah dekonstruksi. Sedangkan rekonstruksi tidak harus mengandaikan dekonstruksi. Dengan perkataan lain, re-konstruksi merupakan tahap ketiga yang terjadi sesudah
konstruksi dan dekonstruksi—seperti halnya dengan thesis – antithesis – synthesis. Untuk penjabaran secara lebih jelas, lihat tulisan Kevin Hart tentang Jacques Derrida pada buku Teori- Teori Sosial : Observasi Kritis terhadap Para Filosof Terkemuka, Peter Beilharz. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002, hal. 73-84.
atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia. Dengan perkataan lain, baik tatanan masyarakat maupun institusi sosial, dibangun dalam definisi subyektif melalui proses interaksi.
Pada akhirnya, penegasan secara berulang-ulang oleh orang yang punya kesamaan definisi subyektif inilah yang memunculkan obyektivitas. Dan dalam memberi makna tentang kehidupannya, manusia menciptakan dunia dalam lingkaran makna simbolik, yaitu sebuah pandangan hidup secara menyeluruh, yang memberi legitimasi dan mengatur bentuk-bentuk sosial. Adapun proses pembentukan (konstruksi) realitas sosial tersebut, menurut Berger dan Luckmann, adalah melalui proses eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi. Konstruksi sosial tidak berlangsung dalam ruang hampa, namun sarat dengan kepentingan-kepentingan.87
Kepentingan senantiasa berbanding lurus dengan kekuasaan, karena kekuasaanlah yang mengantarkan kepada tersalurnya kepentingan. Namun dalam konteks ini, seperti yang dikemukakan oleh Michel Foucault, kuasa tidak dimiliki tetapi dipraktekkan dalam suatu ruang lingkup dimana ada banyak posisi yang secara strategis berkaitan satu sama lain dan senantiasa mengalami pergeseran. Meskipun biasanya kuasa disamakan dengan milik sehingga ia identik dengan penindasan dan kesewenang-wenangan.
Hal ini disebabkan adanya sebuah anggapan bahwa kuasa adalah subyek yang berkuasa (raja, penguasa, tuan tanah dan
kehendak umum), dimana pada gilirannya subyek tersebut selalu mengorientasikan tindakannya pada pelarangan, pembatasan, penindasan dan yang lainnya. Pada kenyataannya, kuasa menurut Foucault adalah memproduksi. Kuasa memproduksi realitas, kuasa memproduksi lingkup obyek dan ritus-ritus kebenaran. Baik manusia perorangan maupun pengetahuan yang dapat diperoleh daripadanya termasuk produksi ini.
Strategi kuasa tidak bekerja melalui jalan penindasan, melainkan melalui normalisasi (menyesuaikan dengan norma-norma, mengadakan norma-norma) dan regulasi (menyesuaikan dengan aturan-aturan, mengadakan aturan-aturan).88 Tegasnya, kuasa tidak
menghancurkan tetapi menghasilkan sesuatu, kendatipun pada sisi lain, kuasa identik dengan sesuatu yang jahat dan harus ditolak. Tetapi, menurutnya, menolak kuasa termasuk strategi kuasa itu sendiri. Kuasa itu produktif, kuasa memungkinkan segala sesuatu. Akhirnya Foucault berpendapat bahwa kuasa bukanlah merupakan suatu faktor ontologis, melainkan suatu yang taktis belaka. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat tidak merasa dibodohi atau ditindas, sebab penggunaan kekuasaan tidak dilakukan secara konvensional, tetapi secara kreatif dan penuh dengan harapan dan polesan mimpi.
88 Untuk lebih jelasnya lihat sub bab Michel Foucault Riwayat dan Karyanya dalam karya K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Prancis. Jakarta, Gramedia, 1996, hal. 297-325.
2.2.2. Iklan dan Media Massa (Televisi) sebagai Wahana Konstruksi