BAB 2 TINJAUAN UMUM
2.9 Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197 Tahun 2004 pengelolaan perbekalan farmasi merupakan suatu siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, penghapusan, administrasi, dan pelaporan serta evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan. Adapun tujuan pengelolaan perbekalan farmasi antara lain : mengelola perbekalan farmasi yang efektif dan efisien, menerapkan farmakoekonomi dalam pelayanana, meningkatkan kompetensi/kemamapuan tenaga farmasi, mewujudkan sistem informasi manajemen berdaya guna dan tepat guna serta melaksanakan pengendalian mutu pelayanan.
2.9.1. Pemilihan
Merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat. Penentuan seleksi obat merupakan peran aktif apoteker dalam Panitia Farmasi dan Terapi untuk menetapkan kualitas dan efektifitas, serta jaminan purna transaksi pembelian (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004).
2.9.2. Perencanaan
Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan seperti metode konsumsi,
epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004).
2.9.2.1 Tujuan Perencanaan
Tujuan utama dari perencanaan dalam farmasi adalah untuk menetapkan jenis dan jumlah perbekalan farmasi sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
2.9.2.2 Prinsip Perencanaan
Perencanaan obat harus ditetapkan berdasarkan pada pedoman perencanaan, yaitu (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004) :
a. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) untuk tingkat nasional, formularium Rumah Sakit untuk tingkat Rumah Sakit, standar diagnosis dan terapi untuk unit pelayanan fungsional (UPF), dan juga berdasarkan permintaan perbekalan farmasi.
b. Data catatan medik, untuk mengetahui macam-macam penyakit yang diderita pasien, rata-rata lama perawatan pasien, serta jumlah pasien dalam kurun waktu tertentu.
c. Sesuai dengan anggaran yang tersedia.
d. Penetapan prioritas berdasarkan sasaran unit pelayanan, jenis perbekalan farmasi, dan fungsinya.
e. Siklus penyakit
f. Jumlah stok barang yang tersisa. g. Data pemakaian periode lalu h. Rencana pengembangan
2.9.2.3 Metode-Metode Perhitungan Obat
Perhitungan kebutuhan obat dilakukan untuk menghindari masalah kekosongan obat atau kelebihan obat. Metode yang biasa digunakan dalam perhitungan kebutuhan obat, antara lain (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008) :
17
a. Metode Konsumsi
Secara umum, metode konsumsi menggunakan data konsumsi obat individual dalam memproyeksikan kebutuhan yang akan datang berdasarkan data konsumsi tahun sebelumnya. Dasarnya adalah data riil konsumsi obat per periode yang lalu dengan berbagai penyesuaian dan koreksi.
b. Metode Morbiditas
Metode morbiditas menggunakan data jumlah pasien pengguna fasilitas kesehatan yang ada dan tingkat morbiditas (frekuensi masalah kesehatan yang umum) untuk membuat rencana kesehatan obat yang dibutuhkan. Dasarnya adalah jumlah kebutuhan obat yang digunakan untuk beban kesakitan. Metode morbiditas membutuhkan sebuah daftar tentang masalah kesehatan umum, sebuah daftar obat-obatan yang penting mencakup terapi untuk masalah-masalah tersebut dan satu set pengobatan standar untuk tujuan perhitungan (berdasarkan pada praktek rata-rata atau pedoman pengobatan).
c. Metode kombinasi
Pada kasus tertentu digunakan metode morbiditas/epidemiologi, selain itu dihitung dengan menggunakan metode konsumsi. Misalnya metode morbiditas digunakan untuk meghitung obat-obat yang digunakan untuk kasus demam berdarah berdasarkan angka prevalensinya, sisanya dihitung dengan menggunakan metode konsumsi
2.9.3 Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui melalui: pembelian (secara tender dan secara langsung), produksi (steril dan non steril) serta sumbangan/droping/hibah (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
Terdapat empat metode pada proses pengadaan, yaitu (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008) :
a. Pelelangan (tender) terbuka
Berlaku untuk semua rekanan yang terdaftar, dan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Pada penentuan harga metode ini lebih menguntungkan.
Untuk pelaksanaannya memerlukan staf yang kuat, waktu yang lama serta perhatian penuh.
b. Tender terbatas
Sering disebutkan sebagai lelang tertutup. Hanya dilakukan pada rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan memiliki riwayat yang baik. Harga masih dapat dikendalikan, tenaga dan beban kerja lebih ringan bila dibandingkan dengan lelang terbuka.
c. Pembelian dengan tawar-menawar
Metode dilakukan bila item tidak penting, tidak banyak dan biasanya dilakukan pendekatan langsung untuk item tertentu.
d. Pembelian langsung
Pembelian jumlah kecil, perlu segera tersedia. Harga tertentu, relatif agak lebih mahal
2.9.4 Produksi
Produksi merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk, dan mengemas kembali sediaan farmasi steril atau non steril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. Kriteria obat yang diproduksi adalah (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008) :
a. Sediaan farmasi dengan formula khusus. b. Sediaan farmasi dengan harga murah.
c. Sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil. d. Sediaan farmasi yang tidak tersedia dipasaran. e. Sediaan farmasi untuk penelitian.
f. Sediaan nutrisi parenteral.
g. Rekonstruksi sediaan obat kanker. h. Sediaan farmasi yang harus dibuat baru.
19
2.9.4.1 Jenis Sediaan Farmasi yang Diproduksi (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008) :
a. Produksi Steril
Persyaratan teknis untuk produksi steril: ruangan aseptis, peralatan, contohnya laminar air flow (horizontal dan vertikal), autoclave, oven, Cytoguard, dan alat pelindung diri, sumber daya manusia : petugas terlatih.
Kegiatan produksi steril meliputi:
a. Pembuatan Sediaan Steril. contoh: pembuatan methylen blue, triple dye, aqua steril
b. Total Parenteral Nutrisi (TPN)
TPN adalah nutrisi dasar yang diperlukan bagi penderita secara intravena yang kebutuhan nutrisinya tidak dapat terpenuhi secara enteral. Contoh TPN adalah campuran sediaan karbohidrat, protein, lipid, vitamin, dan mineral untuk kebutuhan individual dan dikemas ke dalam kantong khusus untuk nutrisi.
c. Pencampuran Obat Suntik/ Sediaan Intravena (IV admixture)
IV admixture adalah pencampuran sediaan steril ke dalam larutan intravena secara aseptis untuk menghasilkan suatu sediaan steril. Contoh kegiatan IV admixture adalah mencampur sediaan intravena ke dalam cairan infus dan melarutkan sediaan intravena dalam bentuk serbuk dengan pelarut yang sesuai.
d. Pengemasan Kembali (Re-Packing) e. Rekonstitusi Sediaan Sitostatika b. Produksi Nonsteril
Kegiatan produksi nonsteril meliputi : a. Pembuatan Sirup
Contoh sirup yang umum dibuat di Rumah Sakit adalah OBH (Obat Batuk Hitam).
b. Pembuatan Salep Contoh : Salep AAV. c. Pembuatan Puyer
d. Pengemasan Kembali (Re-Packing) Contoh : Alkohol, Povidon Iodine e. Pengenceran
Contoh : H2O2 3%
Sediaan farmasi yang diproduksi oleh IFRS harus akurat dalam identitas, kekuatan, kemurnian, dan mutu. Oleh karena itu, harus ada pengendalian proses dan produk untuk semua sediaan yang diproduksi atau pembuatan sediaan ruah dan pengemasan yang memenuhi syarat. Formula induk dan batch harus terdokumentasi dengan baik (termasuk hasil pengujian produk).
2.9.5 Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian melalui pembelian langsung, tender, konsinyasi atau sumbangan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008). Pedoman dalam penerimaan perbekalan farmasi (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004):
a. Setiap produk jadi yang telah di produksi oleh pabrik harus mempunyai certificate of analyse (CA).
b. Barang harus bersumber dari distributor utama.
c. Harus mempunyai Material Safety Data Sheet (MSDS) untuk kategori bahan-bahan berbahaya.
d. Khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai certificate of origin (CO).
e. Waktu kadaluarsa minimal 2 tahun. 2.9.6 Penyimpanan
Penyimpanana merupakan suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengen cara menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
21
Tujuan penyimpanan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008) : a. Memelihara mutu sediaan farmasi.
b. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab. c. Menjaga ketersediaan.
d. Memudahkan pencarian dan pengawasan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/MENKES /SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, penyimpanan merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi dengan ketentuan antara lain:
a. Dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya. b. Dibedakan menurut suhu dan kestabilannya. c. Mudah tidaknya meledak/terbakar.
d. Tahan/tidaknya terhadap cahaya.
e. Disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan.
Ruang penyimpanan harus memperhatikan penempatan rak dan pallet untuk kemudahan bergerak, suhu, sinar/cahaya, kelembaban, sirkulasi udara, pemisahan untuk menjamin mutu produk, dan keamanan petugas. Umumnya, penyimpanan dibagi berdasarkan :
a. Bentuk sediaan b. Kelas terapi c. Alfabetis
d. First in First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO) e. Kestabilan sediaan.
2.9.7 Pendistribusian
Kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit untuk pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untuk menunjang pelayanan medis. Tujuan pendistribusian adalah tersedianya perbekalan farmasi di unit-unit pelayanan secara tepat waktu tepat jenis dan jumlah (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008). Distribusi
sistem. Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk dijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan (Departemen Kesehatan Republlik Indonesia, 2004) :
a. Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada. b. Metode sentralisasi atau desentralisasi.
c. Sistem total floor stock, resep individu, dispensing dosis unit atau kombinasi Beberapa kategori sistem pendistribusian perbekalan farmasi adalah : a. Sistem Persediaan Lengkap di Ruangan (Total Floor Stock)
Tatatan kegiatan penghantaran sediaan perbekalan farmasi yang disiapkan dari persediaan di ruang oleh perawat dengan mengambil dosis/unit perbekalan farmasi dari wadah persediaan yang langsung diberikan kepada pasien di ruang tersebut (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008). Pendistribusian perbekalan farmasi menjadi tanggung jawab perawat ruangan. Perbekalan yang disimpan tidak dalam jumlah besar dan dapat dikontrol secara berkala oleh petugas farmasi (Departemen Kesehatan, 2004). Sistem ini seharusnya diminalisasi tetapi dalam beberapa kondisi sistem ini dapat digunakan, yaitu (Quick, 1997) :
a. Pada unit gawat darurat atau ruang operasi biasanya dibutuhkan obat atau alat kesehatan dengan segera sehingga lebih baik disediakan stok. Akan tetapi, jika terdapat satelit farmasi di dekat ruangan tersebut maka sistem ini bisa dihindari.
b. Dalam keadaan gawat darurat, obat-obatan diharuskan tersedia di ruang pelayanan pasien. Oleh sebab itu, umumnya disediakan stok obat-obat gawat darurat di ruang rawat. Farmasi bertanggung jawab melakukan pengawasan untuk obat-obat tersebut.
c. Untuk obat-obatan yang dibutuhkan dalam jumlah banyak dan biayanya murah dapat dilakukan distribusi dengan sistem ini. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan resiko bahaya keamanan pasien atas obat tersebut rendah.
Keuntungan dari sistem ini antara lain: pelayanan lebih cepat, menghindari pengembalian perbekalan farmasi yang tidak terpakai ke IFRS dan mengurangi
23
penyalinanan order perbekalan farmasi (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
Kelemahan dari sistem ini antara lain: meningkatnya kesalahan, persediaan diruang rawat dengan fasilitas terbtas, kehilangan dan kerusakan perbekalan farmasi, pengendalian persediaan dan mutu kurang diperhatikan perawat, serta menambah beban kerja perawat (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
b. Sistem Resep Perorangan (Resep Individual)
Pada distribusi dengan sistem resep individual, perbekalan farmasi diberikan kepada pasien sesuai dengan yang tertulis di resep. Pendistribusian perbekalan farmasi dengan sistem resep individual dilakukan melalui instalasi farmasi (Departmen Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
Keuntungan dari sistem ini adalah : pengkajian langsung oleh apoteker, terjadi interaksi profesional (apoteker, dokter, dan perawat), pengendalian persediaan serta mempermudah penagihan biaya perbekalan farmasi bagi pasien (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
Kelemahan dari sistem ini adalah : memerlukan waktu yang lama untuk obat sampai ke pasien dan pasien membayar obat yang kemungkinan tidak digunakan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
c. Sistem Unit Dosis
Sistem distribusi perbekalan farmasi yang diorder oleh dokter untuk pasien terdiri atas satu atau beberapa jenis perbekalan farmasi yang masing-masing dalam kemasan dosis unit tunggal dalam jumlah persediaan yang cukup untuk suatu waktu tertentu (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008). Pada sistem unit dosis, pendistribusian obat dilakukan melalui resep perorangan yang disiapkan, diberikan/digunakan, dan dibayar dalam unit untuk penggunaan satu kali dosis (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004). Penyiapan dan pengendalian obat dilakukan oleh instalasi farmasi untuk tiap waktu penggunaan dalam sehari. Selanjutnya, obat diserahkan kepada perawat untuk diberikan ke pasien. Sistem unit dosis hanya dapat dilakukan untuk pasien rawat inap bukan untuk pasien rawat jalan.
Keuntungan dari sistem ini adalah: pasien hanya membayar obat yang telah dipakainya, tidak ada kelebihan obat yang tidak terpakai di ruang perawatan, semua obat dipersiapkan oleh farmasi sehingga perawat mempunyai waktu yang lebih untuk merawat pasien, menciptakan sistem pengawasan ganda yaitu oleh farmasi ketika membaca resep dokter, sebelum dan sesudah menyiapkan obat serta oleh perawat ketika membaca formulir instruksi obat sebelum memberikan obat kepada pasien, mengurangi kesalahan pengobatan (medication error), memperbesar kesempatan komunikasi antara farmasi, perawat dan dokter serta pasien, memungkinkan farmasi mempunyai profil farmasi penderita yang dibutuhkan untuk Drug Use Review (pengkajian penggunan obat) serta mempermudah pengendalian dan pemantauan penggunaan persediaan farmasi (Departemen Kesehatan jRepublik Indonesia, 2008).
Kelemahan dari sistem ini adalah : membutuhkan banyak tenaga farmasi dan meningkatkannya biaya operasional (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
.
2.10. Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit (Departemen