• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN

C. PENGERTIAN BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang dipergunakan oleh masyarakat Indonesia untuk keperluan sehari-hari, misalnya belajar, bekerja sama, dan berinteraksi. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan bahasa resmi di Indonesia.Bahasa nasional adalah bahasa yang menjadi standar di Negara Indonesia. Sebagai bahasa nasional,bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk sesuai dengan kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara non resmi,santai dan bebas. Dalam pergaulan sehari – hari antar warga yang dipentingkan adalah makna yang disampaikan.

Pemakai bahasa Indonesia dalam konteks bahasa nasional dapat menggunakan dengan bebas menggunakan ujarannya baik lisan maupun tulis . Adapun bahasa resmi adalah bahasa yang digunakan dalam komunikasi resmi

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

8

seperti dalam perundang-undangan dan surat menyurat dinas. Dalam hal

ini,bahasa Indonesia harus digunakan

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

9

sesuai dengan kaidah,tertib,cermat,dan masuk akal. Bahasa Indonesia yang dipakai harus lengkap dan baku. Tingkat kebakuannya diukur oleh aturan kebahasaan dan logika pemakaian.

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

10

BAB II

HAKIKAT BAHASA INDONESIA

A. KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

Melalui Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 diikrarkan bahwa bahasa Indonesia telah menjadi bahasa nasional. Kejelasan ikrar tersebut terdapat pada urutan ketiga dalam isinya, yang diungkapkan dalam kalimat Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pernyataan ini berarti bahwa sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki kedudukan tertinggi di antara semua bahasa yang terdapat atau yang digunakan di wilayah kekuasaan RI. Termasuk di dalamnya 17 bahasa-bahasa daerah, yang jumlahnya hingga sekarang tercatat sudah mencapai 746 bahasa.

Dalam hubungan ini, bahasa Indonesialah yang digunakan sebagai wahana komunikasi untuk perwujudan kesatuan bagi seluruh masyarakat yang masing-masing memiliki bahasa daerah itu. Dinyatakannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional melalui momen bersejarah itu dengan mulus mendapat persetujuan dari khalayak bangsa karena bahasa yang dimaksud pada hakikatnya adalah bahasa Melayu dan sebagaimana yang kita ketahui bahwa sebelumnya bahasa Melayu telah berabad-abad dijadikan sebagai wahana komunikasi bersama (lingua franca) di antara berbagai suku bangsa di Nusantara. Tidak seperti pada sebagian negara lain yang dengan susah payah atau belum berhasil menentukan satu di antara bahasa yang dimilikinya sebagai bahasa nasional, Indonesia memperoleh anugerah yang sangat besar berupa ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tanpa ada halangan yang berarti.

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

10

Bagi Negara lain, bentrok dan protes terjadi saat salah satu di antara bahasa daerah atau bahasa etnik yang dimilikinya dijadikan sebagai bahasa

persatuan. Dengan

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

11

demikian terjadi karena masing-masing masyarakat daerah atau etnik menginginkan agar bahasanya yang dijadikan sebagai bahasa nasional. Bagi kita di Nusantara, Indonesia khususnya, adanya bahasa Melayu yang digunakan sebagai lingua franca dan dengan semangat nasionalisme diganti nama menjadi bahasa Indonesia, tidak akan mengambil alih peran atau fungsi bahasa daerah.

Bahasa daerah tetap berperan sebagai wahana komunikasi terbaik dalam lingkup budaya dan kehidupan masing-masing masyarakatnya. Ihwal yang menyangkut internal budaya dan kehidupan masyarakat daerah seperti itu tidak pas, atau setidaknya akan terasa janggal apabila diwahanai dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal lain yang dapat dipahami dari kalimat terikrar tersebut ialah adanya tugas dan tanggung jawab setiap warga dalam kepemilikannya terhadap bahasa Indonesia. Artinya, kita tidak hanya pada sebatas menjadikannya sebagai bahasa bersama, melainkan juga ikut berperan dalam menjaga kelangsungan dan keutuhannya. Kedudukan bahasa Indonesia terdapat juga dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Pada salah satu pasalnya (pasal 36 dalam Bab VX) secara khusus dinyatakan bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan UUD 1945 sebagai dasar negara, memberikan pengertian bahwa begitu merdeka kita telah memiliki bahasa resmi negara. Yang demikian adalah satu hal yang perlu disyukuri karena penentuan suatu bahasa sebagai bahasa resmi negara juga bukan pekerjaan yang mudah dilakukan. Sebagai bukti, hingga kini masih ada saja negara, seperti India, Filipina, Singapura, Malaysia, yang belum berhasil

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

11

menjadikan bahasanya sebagai bahasa resmi negaranya. Bahasa resmi yang digunakan di masingmasing negara tersebut adalah bahasa Inggris.

Buat kita bangsa Indonesia, kondisi seperti yang terjadi di sejumlah negara tetangga di atas tidak menjadi bagian dari pengalaman kita dalam memilih dan

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

12

menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara. Keberuntungan ini tentu tidak lepas dari keberhasilan bangsa kita sebelumnya dalam menetapkan bahasa Indonesia alias bahasa Melayu yang sudah menjadi milik bersama semua suku bangsa di Nusantara ini menjadi bahasa nasional. Selain itu, kenyataan pula bahwa apabila perhitungan dilakukan terhadap jumlah penutur bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa pertama maupun bahasa kedua, jumlahnya tetap pada posisi teratas. Peningkatan jumlah penutur bahasa Indonesia kelihatannya terus berlanjut. Hal itu tampaknya sejalan dengan faktor, antara lain, adanya urbanisasi dan perkawinan antarsuku.

Kondisi yang muncul akibat faktor di atas membuat bertambahnya jumlah warga yang merasa pentingnya penguasaan bahasa Indonesia. Sebaliknya, dalam kondisi demikian, semakin banyak pula warga bangsa kita yang tidak lagi merasa perlu menguasai bahasa 18 daerahnya. Kemudian, faktor adanya orang tua yang ingin menjadikan anaknya penutur asli bahasa Indonesia, juga dapat menjadi penyebab semakin banyaknya penutur bahasa Indonesia.

B. FUNGSI BAHASA INDONESIA

Fungsi bahasa Indonesia dibedakan menurut kedudukannya, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Hal itu terdapat pada hasil perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional, yang diselengarakan di Jakarta mulai tanggal 25 hingga 28 Februari 1975. Di dalamnya dirumuskan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara yang masing-masing memiliki fungsi, seperti dijelaskan berikut ini.

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

13

a) Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai berikut:

(1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional,

(3) alat pemersatu berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosialbudaya dan bahasanya, dan

(4) alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah.

Sebagai lambang kebanggaan nasional, mengisyaratkan bahwa bahasa Indonesia sebagai wahana komunikasi, padanya sarat juga nilai-nilai luhur bangsa yang amat berharga. Kita perlu berbangga atas hal itu dan sebagai bukti nyatanya akan terlihat pada sikap positif berbahasa kita yang berupaya menggunakan corak bahasa Indonesia yang memanifestasikan nilai-nilai luhur tersebut. Selain itu, kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesia dapat juga tergambar pada adanya upaya menjaga kelangsungan dan keutuhan bahasa Indonesia.

Sebaliknya, sikap tak acuh terhadap bahasa Indonesia serta adanya rasa malu atau rendah diri dalam menggunakannya merupakan indikasi tidak adanya rasa bangga memiliki bahasa nasional tersebut. Disebut sebagai lambang identitas nasional karena dia (bahasa Indonesia) merepresentasikan bangsa Indonesia, baik dalam skala pribadi maupun bangsa yang lebih besar. Ungkapan “bahasa menunjukkan bangsa” amat tepat dalam menunjukkan hubungan antara pribadi atau bangsa yang dilambangkan dengan bahasa yang digunakan sebagai pelambangnya.

Artinya, siapa dan betapa kita dengan segala sifat kepribadian kita dalam berbangsa tercermin dalam bahasa Indonesia yang kita gunakan. Jika kepribadiannya

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

14

baik atau tidak baik, hal itu akan terlihat dan dapat dikenali melalui penggunaan bahasa Indonesianya.

Pengembanan fungsi demikian seyogianya mendapat pencermatan agar kita menghindarkan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak melambangkan kepribadian kita dalam berbangsa. Sebagai alat pemersatu, ditujukan kepada berbagai masyarakat yang memiliki latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Adalah tepat dan lebih tepat apabila untuk menyatukan berbagai masyarakat kita itu ke dalam satu kesatuan bangsa dengan menggunakan bahasa Indonesia daripada dengan bahasa daerah yang mereka miliki. Dengan salah satu bahasa daerah memungkinkan munculnya protes atau rasa ketidakpuasan dari masyarakat yang bahasanya tidak digunakan untuk maksud itu. Mereka akan merasa bahasanya tersaingi atau terdominasi oleh masyarakat etnik lain. Yang lebih jelas lagi adalah bahwa masyarakat bahasa yang lebih banyak dan luas tidak akan paham akan bahasa daerah yang penggunaanya terbatas pada satu masyarakat bahasa tertentu. Sebagai akibatnya, upaya untuk menyatukan berbagai masyarakat itu akan mengalami kegagalan.

Berbeda halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia, semua masyarakat bahasa daerah telah memahami dan merasa bahasa Indonesia sebagai milik bersama dan karenanya mereka tidak merasa janggal atau asing lagi diajak bersatu dengan 19 menggunakan bahasa Indonesia. Telah menjadi kesadaran bersama pula bahwa kelangsungan dan keutuhan nilai-nilai budaya serta identitas etnik yang terdapat pada bahasa daerah mereka tidak akan terancam punah karena menggunakan bahasa Indonesia. Malah yang terjadi adalah sebaliknya, unsur-unsur bahasa daerah masuk ke dalam bahasa Indonesia, yang justru memperkaya

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

14

bahasa Indonesia itu sendiri. Dalam fungsinya sebagai alat penghubung

antarbudaya dan antardaerah terkait dengan

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

15

kondisi kebhinnekaan budaya kita, masing-masing suku bangsa memiliki budaya yang berbeda. Dengan kondisi seperti itu diperlukan adanya satu bahasa yang dapat digunakan secara lintas budaya. Satu bahasa tersebut adalah bahasa yang dapat dipahami dan digunakan oleh seluruh masyarakat yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda itu.

Dapat diperkirakan bahwa akan ada kendala komunikatif apabila fungsi demikian diembankan kepada satu bahasa yang tidak dipahami secara kolektif oleh masyarakat secara luas. Boleh jadi, sebagai akibatnya, akan muncul kegagalan dalam menyampaikan informasi. Jika hal demikian terjadi, saling mengenal dan memahami budaya di antara sesama masyarakat suku bangsa kita itu tidak akan atau sulit terjadi sehingga yang muncul adalah rasa ego kelompok atau sifat premordialisme yang menghambat kesatuan dan keutuhan bangsa.

Tentu, akan berbeda halnya dan lebih tepat apabila bahasa penghubung lintas budaya di negara kita diembankan kepada bahasa Indonesia. Kita dapat saling berhubungan dalam semua aspek kehidupan, termasuk berbicara tentang budaya kepada warga suku bangsa lain dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Hal itu dimungkinkan oleh penguasaan bahasa Indonesia yang tidak terbatas hanya pada masyarakat budaya tertentu, tetapi oleh semua masyarat yang masing-masing memiliki budaya yang berbeda. Lebih dari itu, perencanaan yang tertuang dalam program-program pemerintah pun dapat di komunikasi kan kepada semua warga bangsa yang lebih luas sehingga pengembangan percepatan pembangunan bangsa kita dapat berjalan lancar.

b) Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai berikut:

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

15

(1) bahasa resmi kenegaraan,

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

16

(2) bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan,

(3) bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untukkepentingan

perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, dan (4) bahasa resmi dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan

ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

17

BAB III DIKSI

A. PENGERTIAN DIKSI

Keterbatasan kosa kata yang dimiliki seseorang dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat seseoranmg tersebut mengalami kesulitan mengungkapkan maksudnya kepada orang lain. Sebaliknya, jika seseorang terlalu berlebihan dalam menggunakan kosa kata, dapat mempersulit diterima dan dipahaminya maksud dari isi pesan yang hendak disampaikan. Oleh karena itu, agar tidak terjadi hal demikian, seseorang harus mengetahui dan memahami bagaimana pemakaian kata dalam komunikasi. Salah satu yang harus dikuasai adalah diksi atau pilihan kata.

Menurut Enre (1988: 101) diksi atau pilihan kata adalah penggunaan kata-kata secara tepat untuk mewakili pikiran dan perasaan yang ingin dinyatakan dalam pola suatu kalimat. Pendapat lain dikemukakan oleh A.Widyamartaya (1990: 45) yang menjelaskan bahwa diksi atau pilihan kata adalah kemampuan seseorang membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikannya, dan kemampuan tersebut hendaknya disesuaikan dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki sekelompok masyarakat dan pendengar atau pembaca. Diksi atau pilihan kata selalu mengandung ketepatan makna dan kesesuaian situasi dan nilai rasa yang ada pada pembaca atau pendengar.

Pendapat lain dikemukakan oleh Keraf (1996: 24) yang menurunkan tiga kesimpulan utama mengenai diksi, antara lain sebagai berikut

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

17

a. Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai

untukmenyampaikan gagasan, bagaimana membentuk pengelompokkan kata-kata yang tepat.

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

18

b. Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-

nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai atau cocok dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.

c. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan penguasaan sejumlah

besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa diksi adalah pemilihan dan pemakaian kata oleh pengarang dengan mempertimbangkan aspek makna kata yaitu makna denotatif dan makna konotatif sebab sebuah kata dapat menimbulkan berbagai pengertian.

B. JENIS DIKSI

Diksi merupakan salah satu cara yang digunakan pembuat iklan dalam membuat sebuah iklan agar dapat dipahami oleh pembaca. Ketepatan pemilihan kata akan berpengaruh dalam pikiran pembaca tentang isi sebuah iklan. Jenis diksi menurut Keraf, (1996: 89-108) adalah sebagai berikut.

a. Denotasi adalah konsep dasar yang di dukung oleh suatu kata (makna itu menunjuk pada konsep, referen, atau ide). Denotasi juga merupakan batasan kamus atau definisi utama suatu kata, sebagai lawan dari pada 11 konotasi atau makna yang ada kaitan nya dengan itu. Denotasi mengacu

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

18

pada makna yang sebenar nya. Contoh makna denotasi : Rumah itu luas nya 250 meter persegi. Ada seribu orang yang menghadiri pertemuan itu.

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

19

b. Konotasi adalah suatu jenis makna kata yang mengandung arti tambahan, imajinasi atau nilai rasa tertentu. Konotasi merupakan kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi, dan biasanya bersifat emosional yang ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan kamus atau definisi utamanya. Konotasi

sukar digambarkan karena referensinya tidak dapat diserap dengan pancaindera manusia. Kata-kata abstrak merujuk kepada kualitas (panas, dingin, baik, buruk), pertalian (kuantitas, jumlah, tingkatan), dan pemikiran (kecurigaan, penetapan, kepercayaan). Kata-kata abstrak sering dipakai untuk menjelaskan pikiran yang bersifat teknis dan khusus.

d. Kata konkrit adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dapat dilihat atau

diindera secara langsung oleh satu atau lebih dari pancaindera. Katakata konkrit menunjuk kepada barang yang actual dan spesifik dalam pengalaman. Kata konkrit digunakan untuk menyajikan gambaran yang 12 hidup dalam pikiran pembaca melebihi kata-kata yang lain. Contoh kata konkrit: meja, kursi, rumah, mobil dsb.

e. Kata umum adalah kata yang mempunyai cakupan ruang lingkup yang luas, kata-

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

19

kata umum menunjuk kepada banyak hal, kepada himpunan, dan kepada keseluruhan. Contoh kata umum: binatang, tumbuh-tumbuhan, penjahat, kendaraan.

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

20

f. Kata khusus adalah kata-kata yang mengacu kepada pengarahan pengarahan

yang khusus dan konkrit. Kata khusus memperlihatkan kepada objek yang khusus. Contoh kata khusus: Yamaha, nokia, kerapu, kakak tua, sedan.

g. Kata ilmiah adalah kata yang dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam

tulisan-tulisan ilmiah. Contoh kata ilmiah: analogi, formasi, konservatif, fragmen, kontemporer.

h. Kata populer adalah kata-kata yang umum dipakai oleh semua lapisan masyarakat, baik oleh kaum terpelajar atau oleh orang kebanyakan.

Contoh kata popular: bukti, rasa kecewa, maju, gelandangan.

i. Jargon adalah kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu,

dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya. Contoh jargon: sikon (situasi dan kondusi), pro dan kon (pro dan kontra), kep (kapten), dok (dokter), prof (professor).

j. Kata slang adalah kata-kata non standard yang informal, yang disusun secara

khas, bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan, kata 13 slang juga merupakan kata-kata yang tinggi atau murni. Contoh kata slang:

mana tahan, eh ketemu lagi, unyu-unyu, cabi.

k. Kata asing ialah unsur-unsur yang berasal dari bahasa asing yang masih dipertahankan bentuk aslinya karena belum menyatu dengan bahasa aslinya. Contoh kata asing: computer, cyber, internet, go public.

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

20

l. Kata serapan adalah kata dari bahasa asing yang telah disesuaikan dengan wujud atau struktur bahasa Indonesia. Contoh kata serapan: ekologi, ekosistem, motivasi, music, energi.

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

21

C. TUJUAN PENGGUNAAN DIKSI

Pembuatan karya sastra memerlukan teknik yang menggabungkan dari beberapa aspek, termasuk salah satunya penggunaan diksi. Fungsi diksi adalah agar pemilihan kata dan cara penyampaian nya dapat dilakukan dengan tepat sehingga orang lain mengerti maksud yang disampaikan. Diksi juga berfungsi untuk memperindah suatu kalimat. Tujuan penggunaan diksi secara umum antara lain adalah sebagai berikut.

1. Membuat orang yang membaca atau pun mendengar karya sastra menjadi lebih paham mengenai apa yang ingin disampaikan oleh pengarang.

2. Membuat komunikasi lebih efektif.

3. Melambangkan ekspresi yang ada dalam gagasan secara verbal (tertulis mau pun terucap).

4. Membentuk ekspresi atau pun gagasan yang tepat sehingga dapat menyenangkanpendengar atau pun pembacanya.

D. HAKIKAT DIKSI

Ada dua syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan kata agar tepat maknanya. Kedua syarat itu adalah ketepatan dan kesesuaian. Ketepatan yang dimaksud adalah kemampuan kata untuk bisa mewakili gagasan secara tepat.

Sebaliknya, Kesesuaian adalah pemakaian kata yang cocok dengan situasikebahasaan tersebut. Pada situasi yang resmi, pemakaian kata yang digunakan tentu berbeda dengan pilihan kata yang digunakan saat mengobrol dengan teman. Pemilihan kata yang tepat menjamin terwakilinya maksud secara tepat, sesuai dengan situasi yang dihadapi. Hakikat diksi akan efektif apabila

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

22

pilihan kata yang kita buat, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan memperhatikan pendengar/pembaca dan tujuan yang akan diungkapkan.

Seorang penulis sebelum menulis seharusnya dapat menempatkan dirinya seperti pembaca sehingga tidak salah dalam memilih kata. Ide yang disampaikan dengan kesalahan dalam pemilihan kata akan menyebabkan pembaca atau pendengat tidak merasa nyaman. Hal tersebut dapat terjadi seperti contoh kalimat dibawah ini: Pasien yang sempat masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia sampai saat ini hanya lima orang. Pemilihan kata akhirnya pada kalimat di atas dapat bermakna bahwa penulis bersyukur atas meninggalnya pasien itu. Kata hanya menunjukkan bahwa nyawa lima orang meninggal tidak berarti apa-apa bagi penulis, tetapi sangat berarti bagi keluarga yang ditinggalkan. Di sinilah kegunaan memosisikan diri penulis sebagai pembaca diperlukan.

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

23

BAB IV

KALIMAT EFEKTIF

A. PENGERTIAN KALIMAT EFEKTIF

Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti gagasan yang ada pada pikiran pembicara atau penulis. Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.

B. CIRI – CIRI KALIMAT EFEKTIF

Ciri – cirri dari kalimat efektif adalah sebagai berikut : 1. Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP.

2. Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku.

3. Menggunakan diksi yang tepat.

4. Menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis.

5. Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai.

6. Melakukan penekanan ide pokok.

7. Mengacu pada kehematan penggunaan kata.

8. Menggunakan variasi struktur kalimat.

C. SYARAT- SYARAT PENGGUNAAN KALIMAT EFEKTIF Syarat – sayarat penggunaan dari kalimat efektif yaitu :

1. KELOGISAN

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

23

– Kalimat pasif dan aktif harus jelas

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik

Program Studi Teknologi Laboratorium Medik