KEGIATAN INVESTASI SURAT BERHARGA NEGARA OLEH LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK BERDASARKAN
G. Pengertian dan Unsur-Unsur Surat Berharga Negara
Surat berharga Negara (SBN) adalah surat berharga yang diterbitkan oleh
Pemerintah Republik Indonesia termasuk surat utang negara sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (selanjutnya
disebut UU SUN) dan surat berharga syariah negara sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara
(selanjutnya disebut UU SBSN).119
1. Surat Utang Negara
Surat utang negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang
dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan
pokoknya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya.120
Setiap surat utang negara mencantumkan sekurang-kurangnya:121
a. nilai nominal;
b. tanggal jatuh tempo;
c. tanggal pembayaran bunga;
d. tingkat bunga (kupon);
119
Pasal 1 angka 2 POJK No. 1 /pojk.05/20162015 tentang Investasi Surat Berharga Negara Bagi Lembaga Jasa Keuangan non-Bank
120
Pasal 1 angka 1 UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara
121
e. frekuensi pembayaran bunga;
f. cara perhitungan pembayaran bunga;
g. ketentuan tentang hak untuk membeli kembali Surat Utang Negara sebelum
jatuh tempo;
h. ketentuan tentang pengalihan kepemilikan;
Kemudian pembagian SUN terdiri dari:122
a. Surat perbendaharaan negara
Surat perbendaharaan negara berjangka waktu sampai dengan 12 (dua belas) bulan
dengan pembayaran bunga secara diskonto.123 Dalam prakteknya pelelangan surat
perbendaharaan negara jarang dilakukan.Sehingga pada kenyataanya yang sering
dilelang oleh pemerintah adalah obligasi negara.124
b. Obligasi Negara.
Obligasi Negara berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dengan kupon
dan/atau dengan pembayaran bunga secara diskonto/bunga.125 Obligasi negara dengan
kupon adalah surat utang negara yang pembayaran bunganya dihitung dengan
persentase tertentu atas nilai nominal dan dibayarkan secara berkala. Obligasi negara
dengan pembayaran bunga secara diskonto adalah surat utang negara yang berjangka
waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dan pembayaran bunganya tercermin secara
implisit di dalam selisih antara harga pada saat penerbitan dan nilai nominal yang
diterima pada saat jatuh tempo.126
122
Pasal 3 angka 1 UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara 123
Pembayaran bunga secara diskonto adalah pembayaran bunganya tercermin secara implisit di dalam selisih antara harga pada saat penerbitan dan nilai nominal yang diterima pada saat jatuh tempo.
124
Pasal 3 angka 2 UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara 125
Pasal 3 angka 2 UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara 126
Menurut denominasi mata uangnya, obligasi negara yang telah diterbitkan
pemerintah dapat dikelompokkan kedalam dua kelompok, yaitu obligasi negara
berdenominasi rupiah dan obligasi negara berdenominasi valuta asing. Obligasi negara
dapat dikelompokkan ke dalam tingkat bunga yang tetap dan mengambang. Jenis-jenis
obligasi negara adalah sebagai berikut:127
a. Obligasi negara berdenominasi mata uang asing
Tahun 2006, pemerintah menerbitkan obligasi negara berdenominasi dolar
Amerika Serikat (USD).
b. Obligasi negara berdenominasi rupiah, terdiri dari beberapa jenis, yakni:
1) Obligasi berbunga tetap (fixed rate bonds) : Fixed Rate/FR dan Obligasi Retail Indonesia/ORI.
Obligasi berbunga tetap memiliki tingkat kupon yang ditetapkan pada saat
penerbitan, dan dibayarkan secara periodik. Sebelum tahun 2006, Obligasi
yang berbunga tetap hanya didominasi oleh seri FR dimana pembayaran
kuponya pada setiap enam bulan sekali. Namun setelah tahun 2006, untuk
pertama kalinya pemerintah menerbitkan obligasi berbunga tetap untuk
investor retail atau yang disebut sebagai ORI.128
2) Obligasi berbunga mengambang (variables rate bonds:VR) Obligasi berbunga mengambang memiliki tingkat bunga yang ditetapkan secara
periodik berdasarkan tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang
berjangka 3 bulan.
127 Cahyana, “Kajian tentang Manajemen Surat Utang Negara (SUN) dan
Pengaruhnya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)”. JURNAL EKONOMI & BISNIS. 2004. Hlm. 5.
128 Departemen Keuangan, Laporan Pertanggungjawaban Pengelolaan Surat
3) Surat utang kepada Bank Indonesia (SU)
Dalam rangka program penjaminan perbankan dan Bantuan Likuiditas
Bank Indonesia (BLBI), pada tahun 1998 dan 1999 pemerintah
menerbitkan empat seri pada Surat Utang yakni SU-001, 002, 003, dan
004.
4) Special Rate Bank Indonesia (SRBI)
SRBI merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah pada tahun
2003, sebagai pengganti SU-001 dan 003 dalam rangka penyelesaian
bantuan likuiditas BI.
2. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk adalah merupakan suatu
instrumen utang piutang tanpa riba sebagaimana dalam obligasi, dimana sukuk ini
diterbitkan berdasarkan suatu aset acuan yang sesuai dengan prinsip syariah.129
Sukuk adalah istilah dalam bahasa Arab yang digunakan untuk obligasi yang
berdasarkan prinsip syariah. Sukuk dapat pula diartikan dengan Efek Syariah berupa
sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian penyertaan
yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi atas:130
a. Kepemilikan aset berwujud tertentu.
b. Nilai manfaat dan jasa atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi tertentu.
c. Kepemilikan atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi tertentu.
129
Inggrid Tan, Bisnis dan Investasi Sistem Syariah(Yogyakarta: Universitas Atma Jaya, 2009), hlm.119.
130 Ibid.
SukukSBSN/ wajib mencantumkan ketentuan dan syarat yang mengatur,antara
lain mengenai:131
a. Penerbit.
b. Nilai nominal.
c. Tanggal penerbit.
d. Tanggal jatuh tempo.
e. Tanggal pembayaran Imbalan.
f. Besaran atau nisbah Imbalan.
g. Frekuensi pembayaran Imbalan.
h. Cara perhitungan pembayaran Imbalan.
i. Jenis mata uang atau denominasi.
j. Jenis Barang Milik Negara yang dijadikan Aset SBSN.
k. Penggunaan ketentuan hukum yang berlaku.
l. Ketentuan tentang hak untuk membeli kembali SBSN sebelum jatuh tempo.
m. Ketentuan tentang pengalihan kepemilikan.
Jenis- jenis SBSN adalah sebagai berikut:132
a. Surat Berharga Syariah NegaraIjarah, yang diterbitkan berdasarkan akad ijarah. Ijarah adalah akad yang satu pihak bertindak sendiri atau melalui wakilnya menyewakan hak atas suatu aset kepada pihak lain berdasarkan harga
sewa dan periode sewa yang disepakati.
b. Surat Berharga Syariah NegaraMudarabah, yang diterbitkan berdasarkan Akad Mudarabah. Mudarabah adalah Akad kerjasama antara dua pihak atau lebih,
131
Pasal 20 Undang-Undang No.19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara 132
yaitu satu pihak sebagai penyedia modal dan pihak lain sebagai penyedia
tenaga dan keahlian, keuntungan dari kerja sama tersebut akan dibagi
berdasarkan nisbah yang telah disetujui sebelumnya, sedangkan kerugian yang
terjadi akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak penyedia modal, kecuali
kerugian disebabkan oleh kelalaian penyedia tenaga dan keahlian.
c. Surat Berharga Syariah NegaraMusyarakah, yang diterbitkan berdasarkan
akad musyarakah. Musyarakah adalah Akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk menggabungkan modal, baik dalam bentuk uang maupun bentuk
lainnya, dengan tujuan memperoleh keuntungan, yang akan dibagikan sesuai
dengan nisbah yang telah disepakati sebelumnya, sedangkan kerugian yang
timbul akan ditanggung bersama sesuai dengan jumlah partisipasi modal
masing-masing pihak.
d. Surat Berharga Syariah NegaraIstishna’, yang diterbitkan berdasarkan akad istishna’. Istishna’ adalah akad jual beli aset berupa objek pembiayaan antara para pihak dimana spesifikasi, cara dan jangka waktu penyerahan, serta harga
aset tersebut ditentukan berdasarkan kesepakatan para pihak.
e. Surat Berharga Syariah Negara yang diterbitkan berdasarkan akad lainnya
sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
f. Surat Berharga Syariah Negara yang diterbitkan berdasarkan kombinasi dari
dua atau lebih dari Akad sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan
huruf e. Kombinasi akad SBSN antara lain dapat dilakukan antara mudharabah