SURAT BERHARGA DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA
A. Pengertian dan Unsur-Unsur Surat Berharga
Dikenal bermacam-macam surat yang pada umumnya orang mengatakan itu
sebagai surat berharga di dalam dunia perusahaan dan perdagangan,. Orang mengatakan
itu surat berharga berdasarkan kenyataan bahwa surat itu mempunyai nilai uang atau
dapat ditukar dengan sejumlah uang atau apa yang tersebut dalam surat itu dapat dinilai
atau ditukar dengan uang. Surat-surat itu berupa wesel, aksep, cek, saham, obligasi,
konosemen, ceel, karcis kereta api, surat penitipan barang, dan lain-lain.21
Terdapat beberapa istilah yang identik dengan surat berharga yaitu negotiable instruments, negotiable papers, transferable papers, commercial papers dan
waardepapieren.22
Istilah surat berharga ini dapat dijumpai dalam berbagai perundang-undangan Indonesia.
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) tidak membataskan ruang lingkup
surat berharga, namun ditinjau dari sudut tujuan penerbitannya, surat berharga
digunakan sebagai alat pembayaran giral dalam lalu lintas pembayaran, di antaranyaada
yangdapatatau tidak dapat dialihkan, atau diperdagangkan kepada orang lain, sehingga
21
Abdulkadir Muhammad, Hukum Dagang Tentang Surat-Surat Berharga (Bandung: Citra Aditya Bakti,1998), Hlm. 4.
22
Djoni S. Gazali dan Rachmadi Usman, Hukum Perbankan (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm. 444.
ada yang membedakannya atas surat berharga dan surat yang mempunyai harga atau
nilai.23
Menurut Wirjono Prodjodikoro, bahwa istilah surat-surat berharga itu terpakai
untuk surat-surat yang bersifat seperti uang tunai, jadi yang dapat dipakai untuk
melakukan pembayaran. Ini berarti pula bahwa surat-surat itu dapatdiperdagangkan,
agar sewaktu-waktu dapat ditukar dengan uang tunai atau negotiable instruments.24 Sementara itu Abdulkadir Muhammad membedakan atas surat berharga dan
surat yang mempunyai harga. Surat berharga adalah surat yang oleh penerbitnya sengaja
diterbitkan sebagai pelaksanaan pemenuhan suatu prestasi, yang berupa pembayaran
sejumlah uang. Tetapi pembayaran itu tidak dilakukan dengan menggunakan mata uang,
melainkan dengan menggunakan alat bayar lain. Alat bayar itu berupa surat yang di
dalamnya mengandung suatu perintah kepada pihak ketiga, atau pernyataan sanggup
untuk membayar sejumlah uang kepada pemegang surat tersebut. Adapun surat yang
mempunyai harga atau nilai, bukan alat pembayaran, penerbitannya tidak untuk
diperjualbelikan, melainkan sekedar sebagai alat bukti diri bagi pemegang bahwa dia
sebagai orang yang berhak atas apa yang disebutkan atau untuk menikmati hak yang
disebutkan di dalam surat itu. Bahkan bagi yang berhak, apabila surat bukti itu lepas
dari penguasaannya, ia masih dapat memperoleh barang atau haknya itu dengan
menggunakan alat bukti lain.25
Demikian pula M. N Purwosutjipto membedakan antara surat berharga dan surat
yang berharga. Dikatakan bahwa surat berharga itu surat tuntutan utang, pembawa hak
23
Ibid. 24
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Wesel, Cek dan Aksep di Indonesia, (Bandung: Sumur, 1992),hlm. 34.
25
Abdulkadir Muhammad, Hukum Dagang Tentang Surat-Surat Berharga, (Bandung Citra Aditya Bakti,1998),hlm. 5.
dan mudah diperjualbelikan. Untuk surat yang berharga adalah surat bukti tuntutan
utang yang sukar diperjualbelikan.26
Pengertian lain dari Munir Fuady menyatakan, bahwa surat berharga adalah
sebuah dokumen yang diterbitkan oleh penerbitnya sebagai pemenuhan suatu prestasi
berupa pembayaran sejumlah uang, sehingga berfungsi sebagai alat bayar yang di
dalamnya berisikan suatu perintah untuk membayar kepada pihak-pihak yang
memegang surat tersebut, baik pihak yang diberikan surat berharga oleh penerbitnya
ataupun pihak ketiga kepada siapa surat berharga tersebut telah dialihkan.27
Perundang-undangan merumuskan pengertiannya dalam artian yang luas dan
sempit. Dalam artian luas, di mana mencakup pula derivatif atau turunan dari surat
berharga yang bersangkutan, sedangkan dalam artian sempit, terbatas pada surat
berharga yang diperjualbelikan atau diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang.
Perundang-undangan memberikan pengertian istilah surat berharga dengan cara
menyebutkan, menunjuk, atau merinci bentuk-bentuk surat atau warkat yang termasuk
dalam kategori surat berharga.28
Ketentuan dalam Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 merumuskan
pengertian surat berharga dengan cara memerinci yaitu “Surat Berharga adalah surat
pengakuan hutang, wesel, saham, obligasi, sekuritas kredit, atau setiap derivatifnya, atau
kepentingan lain, atau suatu kewajiban dari penerbit, dalam bentuk yang lazim
diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang”. Sedangkan dalam Pasal ketentuan
26
H.M.N Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia jilid 7 (Bandung: Djambatan, 1990), Hlm. 6.
27
Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis : Menata Bisnis Modern di Era Global (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2008), Hlm. 163.
28
Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
merumuskan pengertian istilah efek sebagai surat berharga yaitu “ Efek adalah surat
pengakuan hutang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit
penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif
dari efek”.29
a. Hanyalah surat-surat yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar
uang, yaitu surat-surat berharga yang sering diperjualbelikan pada bursa efek
dan lembaga bank.
b. Bentuknya berupa surat tagihan utang, tanda keanggotaan/penyertaan dari
suatu perusahaan dan surat yang berdaya hukum kebendaan (zakenrechtelijke papieren).
c. Dibatasi pada surat-surat yang lazim diperdagangkan, yaitu surat-surat yang
hak-haknya dapat dengan mudah dialihkan kepada pihak lain.
d. Bentuknya tidak terbatas pada apa yang disebutkan atau dirinci oleh Undang-
Undang, melainkan berkembang termasuk setiap derivative securities dari surat berharga yang bersangkutan.
Jadi, secara sederhana surat berharga dapat diartikan sebagai suatu dokumen
atau surat yang di dalamnya memuat suatu kesanggupan, janji, atau perintah tidak
bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu pada waktu tertentu pula, yang
diperuntukkan sebagai alat pembayaran atau jaminan dan serta yang dibuat dengan
sengaja untuk dapat diperjualbelikan atau diperdagangkan. Secara yuridis suatu surat
berharga mempunyai fungsi sebagai berikut:
29
a. Sebagai alat pembayaran (alat tukar).
b. Sebagai alat pemindahan hak tagih (karena dapat diperjualbelikan).
c. Sebagai surat legitimasi (surat bukti tagih).
Kemudian yang menjadi unsur-unsur dari surat berharga tersebut adalah:30
a. Berbentuk tertulis.
b. Memiliki nama.
c. Adanya jumlah tertentu yang tertulis.
d. Adanya perintah/janji tanpa syarat.
e. Nama orang yang harus membayar.
f. Hari pembayaran.