• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEGIATAN INVESTASI SURAT BERHARGA NEGARA OLEH LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK BERDASARKAN

C. Tanggung Jawab Penerbit Surat Berharga Negara

Tidak seperti tabungan dan konsumsi, investasi merupakan sebuah bisnis yang

tidak dapat diprediksi dan beresiko, karena investasi tidak harus mengikuti pergerakan

yang sama dengan produk nasional bruto (GNP) beda halnya dengan pengeluaran

konsumsi yang dapat memengaruhi nilai produk nasional bruto (GNP). Investasi

merupakan aktiivitas tersendiri dari sektor swasta dan sektor pemerintah.144

142

Pasal 1 angka (3) Undang-Undang No.19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.

143

Pasal 8 ayat (1) dan Penjelasan Undang-Undang No.19 Tahun 2008 tentangg Surat Berharga Syariah Negara .

144

Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami, Edisi Kedua, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), Hlm.294

Resiko investasi bentuknya bisa bermacam-macam, baik disebabkan oleh faktor

internal maupun faktor eksternal dari produk investasi tersebut. Setiap tindakan.

Beberapa resiko investasi yaitu:145

1. Resiko Sistematis

Resiko sistematis atau resiko yang sering disebut resiko pasar ini adalah resiko

yang timbul akibat dampak dari suatu kejadian terbaru (current event) yang sangat berpengaruh terhadap pasar. Resiko pasar ini bisa datang dari berbagai macam

kejadian, mulai dari kondisi politik, sosial maupun terutama ekonomi. Resiko ini

disebut resiko pasar karena resiko ini bisa dirasakan dampaknya oleh semua peserta

pasar. Resiko ini bisa datang dari dalam negeri (resiko domestik) maupun dari luar

negeri (resiko internasional).

2. Resiko Tidak Sistematis

Untuk bisa mengendalikan resiko adalah salah satunya dengan cara

menghindarinya, artinya menghindari dengan benar-benar tidak melakukan

investasi pada instrumen investasi yang mengandung resiko tersebut, tetapi bukan

berarti juga tidak boleh menginvestasikan uang kita pada seluruh instrumen

investasi yang memiliki resiko. Justru dengan menghindari instrumen investasi

tertentu yang mempunyai resiko tertentu pula, maka harus mencari ganti instrumen

investasi lain yang tidak memilliki resiko yang tidak diinginkan.

3. Resiko Inflasi

145

Saswidji Widoatmodjo, “Pasar Modal Indonesia”, Pengantar dan Studi Kasus, Seri

Resiko inflasi menyebabkan penurunan daya beli atas penghasilan yang diperoleh

investor. Jadi inflasi bisa menyebabkan menurunnya daya beli atau popular dengan

sebutan penurunan penghasilan riil.

4. Resiko Suku Bunga (Interest Rate Risk)

Resiko suku bunga yang tergolong resiko sistematis ini timbul akibat adanya

perubahan suku bunga secara umum. Secara umum dapat diartikan sebagai suku

bunga perbankan, misalnya suku bunga deposito. Tetapi sebenarnya yang memiliki

otoritas mengubah suku bunga secara umum adalah bank sentral yaitu BI.

5. Resiko Nilai Tukar (Exchange Rate Risk)

Resiko nilai tukar timbul sebagai akibat adanya perubahan nilai tukar mata uang

suatu Negara terhadap mata uang Negara lain.

6. Resiko Negara (Country Risk)

Resiko Negara muncul akibat perubahan yang terjadi pada Negara dimana investor

melakukan investasi. Tentu saja perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang

bisa menimbulkan penurunan penghasilan. Perubahan yang berpotensi menurunkan

penghasilan investor di antaranya adalah stabilitas pemerintahan, misalnya

perebutan kekuasaan, kinerja ekonomi, misalnya sedang terjadi penurunan

pendapatan perkapita, perubahan sosial misalnya meningkatnya kriminalitas,

7. Resiko Likuiditas (Liquidity Risk)

Yaitu resiko yang disebabkan oleh kesulitan atau bisa juga kegagalan dalam

membeli atau menjual instrumen investasi. Jadi dalam hal investor menghadapi

resiko likuiditas, investor tersebut tidak selalu bisa dengan segera membeli atau

menjual “barang” yang dikehendaki.

8. Resiko Gagal Bayar (Default Risk)

Adanya kemungkinan emiten (penerbit surat berharga) tidak bisa membayar bunga

yang telah dijanjikan atau membayar pokok pinjaman sesuai jatuuh tempo. Dengan

demikian, yang memiliki resiko ini adalah investor obligasi atau surat utang

lainnya. Resiko kegagalan membayar termasuk resiko yang dapat dihindari.

9. Resiko Gagal Eksekusi (Expiration Risk)

Bila investor tidak bisa melakukan eksekusi pada waktu yang telah ditentukan.

Yang paling banyak menghadapi resiko ini adalah investor waran dan opsi.

Penjaminan dari sudut hukum perdata sangat erat kaitannya dengan sebuah

penanggungan. Pada dasarnya, suatu penanggungan merupakan persetujuan, bahwa

untuk kepentingan dari kreditor seseorang atau pihak ketiga berjanji dan mengikatkan

diri untuk memenuhi kewajiban debitor manakah debitor tidak memenuhi kewajiban-

kewajibannya kepada kreditor. 146 Dengan perkataan lain, diadakannya sebuah

penanggungan untuk lebih meyakinkan dan memperkuat kedudukan kreditur manakala

pada saatnya debitor tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajibannya.147

1. Pada Surat Utang Negara

146

Subekti, Aneka Perjanjian, Cetakan Kesepuluh, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995), hlm.164 .

147

M.Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Cetakan Ke-2 (Bandung: Alumni, 1986), hlm.315.

Jaminan pemerintah kepada pasar untuk membayar semua kewajiban pokokdan

bunga utang yang timbul akibat penerbitan SUN. Dilakukan dengan cara:148

a. Pemerintah wajib membayar bunga dan pokok setiap Surat Utang Negara pada

saat jatuh tempo.

b. Dana untuk membayar bunga dan pokok sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)

disediakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap

tahun sampai dengan berakhirnya kewajiban tersebut.

Kemudian, Menteri wajib secara berkala memublikasikan informasi tentang kebijakan

pengelolaan utang dan rencana penerbitan Surat Utang Negara yang meliputi perkiraan

jumlah dan jadwal waktu penerbitan serta jumlah Surat Utang Negara yang beredar

beserta komposisinya, termasuk jenis valuta, struktur jatuh tempo dan tingkat bunga.149

2. Pada Surat Berharga Syariah Negara

Pada Pasal 9 ayat (2) UU SBSN dijelaskan bahwaPemerintah wajib membayar

Imbalan dan Nilai Nominal setiapSBSN, baik yang diterbitkan secara langsung oleh

Pemerintah maupun Perusahaan Penerbit SBSN, sesuai dengan akad Penerbitan SBSN.

Keberadaan jaminan dari pihak Pemerintah dalam Undang-Undang, pada

dasarnya ditujukan agar surat berharga syariah Negara lebih diminati oleh masyarakat.

Pemerintah agar para pemegang SBSN tersebut merasa terjamin keberadaan asetnya

tersebut. Oleh karena itu dibuatlah klausula jaminan dari Pemerintah agar keberadaan

SBSN dan pemerintah wajib membayar Imbalan dan Nilai nominal setiap SBSN, baik

yang diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah maupun Perusahaan Penerbit SBSN,

sesuai dengan ketentuan dalam akad penerbitan SBSN. Dana untuk membayar Imbalan

148

Pasal 4 UU No 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. 149

dan Nilai Nominal disediakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara setiap

tahun sampai dengan berakhirnya kewajiban tersebut. Dalam pembayaran kewajiban

Imbalan dan Nilai Nominal dimaksud melebihi perkiraan dana, maka pemerintah

melakukan pembayaran dan menyampaikan realisasi pembayaran tersebut kepada

Dewan Perwakilan Rakyat dalam pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan dan

Belanja Negara. Dan semua kewajiban-kewajiban tersebut dilakukan secara transparan

dan dapat dipertanggungjawabkan.150

D. Kegiatan Investasi Surat Berharga Negara oleh Lembaga Jasa Keuangan Non- BankBerdasarkan POJK NO. 1/POJK.5/2016

Melihat semakin berkembangnya instrumen investasi di pasar modal dan

perlunya evaluasi atas penempatan investasiyang telah dilakukan LKBB, dengan

melakukan penempatan investasi pada obligasi dan/atau sukuk yang diterbitkan oleh

Badan Usaha Milik Negara dan/atau Badan Usaha Milik Daerah, yang penggunaannya

untuk pembiayaan infrastruktur menjadi bagian dari pemenuhan batas minimum yang

dipersyaratkan.

Peraturan OJK No. 1/POJK.05/2016 tentang Investasi Surat Berharga Negara

Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank merupakan dasar hukum dalam mengatur

kewajiban lembaga jasa keuangan non-bank untuk melakukan penempatan investasi

yang aman dan sesuai dengan karakteristik liabilitas lembaga jasa keuangan non-bank

yang bersifat jangka panjang serta mendorong peranan investor domestik agar berperan

dalam pembiayaan pembangunan nasional. Dan juga agar dapat lebih mendorong

150

Pasal 9 ayat (2,3,4 dan 5) Undang-Undang No.19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.

peranan investor dalam pembangunan nasional dan mengakomodasi dinamika dan

harapan lembaga jasa keuangan non-bank serta mempertimbangkan pemenuhan batasan

investasi khusus pada investasi SBN.

Adanya pembatasan investasi oleh LKBB dengan adanya ketentuan minimal dari

aset keuangan yang dikelola oleh pengurus perusahaan dalam LKBB tersebut guna

dalam tujuan membantu pemerintah dalam pembangunan ekonomi terlebih berinvestasi

di SBN itu lebih aman, dan kondisi saat ini berdasarkan outlook manajer investasi, SBN pemerintah Indonesia tahun ini masih sangat bagus jika dibandingkan dengan surat

berharga negara-negara lainnya terutama di Jepang sudah negatif.151

Lembaga jasa keuangan non-bank wajib menempatkan investasi pada SBN,

dengan ketentuan sebagai berikut:

Dan karena adanya

bentuk kegiatan investasi lain yang dilakukan LKBB maka pembatasan ini sangat

diperlukan untuk menyelarasakan dalam memiliki acuan yang sama pada semua LKBB

dalam berinvestasi pada SBN.

152

1. bagi perusahaan asuransi jiwa termasuk yang menyelenggarakan seluruh atau

sebagian usahanya dengan prinsip syariah, paling rendah 30% (tiga puluh persen)

dari seluruh jumlah investasi perusahaan;

2. bagi perusahaan asuransi umum dan perusahaan reasuransi termasuk yang

menyelenggarakan seluruh atau sebagian usahanya dengan prinsip syariah, paling

rendah 20% (dua puluh persen) dari seluruh jumlah investasi perusahaan;

151

http://Aturan Investasi Minimal SBN Resahkan Asuransi - Industry News _ Berita Industri.html (diakses 16 Juli 2016)

152 Pasal 2 ayat 1 POJK No.1/POJK.05/2016 tentang Investasi Surat Berharga

3. bagi lembaga penjaminan termasuk yang menyelenggarakan seluruh atau sebagian

usahanya dengan prinsip syariah, paling rendah 20% (dua puluh persen) dari

seluruh jumlah investasi lembaga penjaminan;

4. bagi dana pensiun pemberi kerja paling rendah 30% (tiga puluh persen) dari seluruh

jumlah investasi dana pensiun pemberi kerja;

5. bagi BPJS Ketenagakerjaan:

a. paling rendah 50% (lima puluh persen) dari seluruh jumlah investasi Dana

Jaminan Sosial Ketenagakerjaan; dan

b. paling rendah 30% (tiga puluh persen) dari seluruh jumlah investasi BPJS

Ketenagakerjaan;

6. bagi BPJS Kesehatan paling rendah 30% (tiga puluh persen) dari seluruh jumlah

investasi BPJS Kesehatan;

Penempatan investasi pada SBN bagi perusahaan asuransi jiwa sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak memperhitungkan investasi yang bersumber dari

produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi yang pilihan komposisi investasinya

ditentukan oleh pemegang polis atau peserta.153

Penempatan investasi pada SBNbagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bankyang

telah beroperasi sebelum Peraturan OJK ini diundangkan, wajib memenuhi tahapan:154

1. bagi perusahaan asuransi jiwa termasuk yang menyelenggarakan seluruh atau

sebagian usahanya dengan prinsip syariah dan dana pensiun pemberi kerja adalah:

153

Pasal 2 ayat 2 POJK No.1/POJK.05/2016tentang Investasi Surat Berharga Negara Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank.

154

Pasal 3 POJK No.1/POJK.05/2016tentang Investasi Surat BerhargaNegara Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank.

a. paling rendah 20% (dua puluh persen) dari seluruh jumlah investasi paling

lambat 31 Desember 2016; dan

b. paling rendah 30% (tiga puluh persen) dari seluruh jumlah investasi paling

lambat 31 Desember 2017;

2. bagi perusahaan asuransi umum, perusahaan reasuransi, dan lembaga penjaminan

termasuk yang menyelenggarakan seluruh atau sebagian usahanya dengan prinsip

syariah, adalah:

a. paling rendah 10% (sepuluh persen) dari seluruh jumlah investasi paling

lambat 31 Desember 2016; dan

b. paling rendah 20% (dua puluh persen) dari seluruh jumlah investasi paling

lambat 31 Desember 2017;

3. bagi BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan paling lambat 31 Desember 2016.

Perhitungan penempatan investasi pada SBN sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 2 dan Pasal 3 termasuk kepemilikan SBN oleh LKBB melalui

reksadana.155Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank yang tidak memenuhi ketentuan di

atas, dikenakan sanksi administratif berupa:156

1. peringatan tertulis;

2. penilaian kembali kemampuan dan kepatutan bagi pengendali, direksi, dewan

komisaris, atau yang setara dengan direksi dan dewan komisaris pada LKBB;

dan/atau

155

Pasal 4 POJK No.1/POJK.05/2016tentang Investasi Surat Berharga Negara Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank.

156

Pasal 5 POJK ayat 1 No.1/POJK.05/2016tentang Investasi Surat Berharga Negara Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank.

3. larangan menjadi pemegang saham, pengendali, direksi, dewan komisaris, dewan

pengawas syariah, dan/atau jabatan eksekutif di bawah direksi, atau yang setara

dengan pemegang saham, direksi, dan/atau dewan komisaris pada Lembaga Jasa

Keuangan Non-Bank, bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank, pemegang saham,

pengendali, direksi, dan/atau dewan komisaris, atau yang setara dengan pemegang

saham, direksi, dan/atau dewan komisaris pada LKBB.

Kemudian sanksi peringatan secara tertulis paling banyak 3 (tiga) kali berturut-turut

dengan jangka waktu paling lama masing-masing 60 (enam puluh) hari sejak surat

peringatan tertulis ditetapkan.157

E. Peran OJK dalam Pengawasan Pelaksanaan Kegiatan Investasi Surat