• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Siswa dalam Tinajaun Pendidikan Islam

Dalam dokumen Konsep-konsep keguruan dalam pendidikan islam (Halaman 176-179)

Interaksi Guru dan Siswa dalam Proses Pembelajaran

A. Intensitas Siswa Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM)

1. Pengertian Siswa dalam Tinajaun Pendidikan Islam

Secara etimologi peserta didik dalam bahasa arab disebut dengan

Tilmidz jamaknya adalah Talamidz, yang artinya adalah ―murid‖, maksudnya

adalah ―orang-orang yang mengingini pendidikan‖. Dalam bahasa arab dikenal juga dengan istilah Thalib, jamaknya adalah Thullab, yang artinya adalah ―mencari‖, maksudnya adalah ―orang-orang yang mencari ilmu‖.

Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.

Abuddin Nata (2005: 131 menyatakan siswa sebagai makhluk yang sedang berproses dalam perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. (Nata, 2005: 131). Namun secara definitif yang lebih detail para ahli teleh menuliskan beberapa pengertian tentang peserta didik. Samsul Nizar (2002: 25) menyatakan bahwa peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memilki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan.

Menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis

164

p

pendidikan tertentu. disisi lain, Abu Ahmadi (1991: 26) juga menuliskan tentang pengertian peserta didik, peserta didik adalah orang yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga Negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu.

Salminawati (2012: 13) menyatakan bahwa dalam pendidikan Islam peserta didik disebut dengan istilah muta‟allim, mutarabbi dan muta‟addib.

Muta‟allim adalah orang yang sedang diajar atau orang yang sedang belajar. Muta‟allim erat kaitannya dengan mua‘allim karena mua‘allim adalah orang

yang mengajar, sedangkan muta‘allim adalah orang yang diajar. Mutarabbi adalah orang yang dididik dan orang yang diasuh dan orang yang dipelihara. Sedangkan Muta‟addib adalah orang yang diberi tata cara sopan santun atau orang yang dididik untuk menjadi orang baik dan berbudi.

Ramayulis (2008: 36) mengklasifikasikan peserta didik sebagai berikut: a. Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa tetapi memiliki dunianya

sendiri.

b. Peserta didik memiliki periodisasi perkembangan dan pertumbuhan. c. Peserta didik adalah makhluk Allah SWT yang memiliki perbedaan

individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.

d. Peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fisik dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu.

e. Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.

Peserta didik juga dikenal dengan istilah lain seperi Siswa, Mahasiswa, Warga Belajar, Palajar, Murid serta Santri.

a. Siswa adalah istilah bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

b. Mahasiswa adalah istilah umum bagi peserta didik pada jenjang pendidikan perguruan tinggi.

c. Warga Belajar adalah istilah bagi peserta didik nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

d. Pelajar adalah istilah lain yang digunakan bagi peserta didik yang mengikuti pendidikan formal tingkat menengah maupun tingkat atas. e. Murid memiliki definisi yang hampir sama dengan pelajar dan siswa.

165 f. Santri adalah istilah bagi peserta didik pada jalur pendidikan non formal,

khususnya pesantren atau sekolah-sekolah yang berbasiskan agama Islam. (Hidayat, 2016: 73).

Siswa adalah salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar (PBM) sehingga menjadi pokok persoalan dan tumpuan perhatian. Di dalam PBM, siswa sebagai pihak yang meraih cita-cita, memiliki tujuan untuk dicapainya secara optimal. Siswa menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan proses pembelajaran sehingga menuntut dan dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya. Jadi perhatian pertama kali hendaknya ditujukan kepada diri siswa yaitu keadaan dan kemampuannya, kemudian menentukan komponen-komponen yang lain seperti bahan pelajaran, cara yang tepat untuk bertindak, alat dan fasilitas yang cocok mendukung untuk digunakan. Semuanya harus disesuaikan dengan keadaan atau karakteristik siswa. Untuk itulah siswa dianggap sebagai subyek pembelajaran yang harus diperlakukan sebagai manusia, karena siswa adalah individu atau pribadi yang utuh. yang berarti orang yang tidak bergantung pada orang lain dalam arti benar-benar seorang pribadi yang menentukan diri sendiri dan tidak dipaksa dari luar, mempunyai sifat-sifat dan keinginan sediri. (Ahmadi dan Uhbiyati, 1991: 39).

Muhaimin dan Abdul Mujib (1993: 177-183) menyatakan bahwa anak didik (siswa) adalah sebagai manusia, maka perlu dipahami bahwa :

a. Anak didik (siswa) bukan miniatur-miniatur orang dewasa sehingga metode belajar mengajar tidak boleh disamakan dengan orang dewasa. b. Anak didik (siswa) mengikuti priode-priode perkembangan tertentu dan

punya pola perkembangan, tempo dan iramanya.

c. Anak didik (siswa) memiliki kebutuhan dan menuntut untuk memenuhi kebutuhan itu semaksimal mungkin.

d. Anak didik (siswa) memiliki perbedaan antara satu individu dengan lainnya karena faktor endogen dan eksogen.

e. Anak didik (siswa) adalah makhluk monopluralis yang mempunyai cipta, rasa dan karsa.

f. Anak didik (siswa) merupakan obyek pendidikan yang aktif dan kreatif serta produktif sehingga mereka tidak dipandang sebagai obyek pasif yang biasanya hanya menerima dan mendengarkan saja.

Maka dari itu siswa dapat dipandang sebagai :

a. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas sehingga merupakan insan yang unik.

166

p

c. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakukan manusiawi.

d. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri. (Rahardja dan La Sula, 2000: 52).

Sardiman AM (2000: 109-110) menyatakan bahwa Kurang tepat apabila siswa dipandang sebagai obyek dalam PBM layaknya konsep tabu larasa yaitu siswa ibarat kertas putih tanpa coretan apapun dan kemudian tergantung pada guru. Hal ini akan menganggap bahwa siswa hanyalah obyek pasif yang seolah-olah barang, terserah mau diapakan dan dibawa ke mana, tergantung kepada gurunya yang diibaratkan sebagai raja di dalam kelas.

Di sisi lain ada pernyataan tentang siswa sebagai manusia belum dewasa secara jasmani dan rohani. Hal ini bukan berarti menganggap siswa sebagai makhluk yang lemah, tanpa memiliki potensi dan kemampuan tertentu. Hanya saja mereka belum optimal dalam mengembangkan potensi kemampuannya, di samping itu siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar tentunya membutuhkan bantuan dan bimbingan guru untuk mengembangkan tingkat proses kedewasaannya sehingga lama kelamaan mereka diharapkan dapat melakukan aktivitas belajar mandiri.

Masa usia sekolah merupakan fase yang berproses untuk menemukan eksistensi kesendirian secara utuh, oleh karenanya guru diharapkan membina dan mengarahkan proses penemuan jati diri siswa agar mencapai hasil yang lebih efektif dan efisien sesuai dengan harapan. Dalam proses ini guru harus mampu mengorganisasikan aktivitas pembelajaran dan menghargai siswa sebagai subyek didik yang memiliki bekal dan kemampuan. Perwujudan aktivitas pembelajaran harus menunjukkan interaksi edukatif antara siswa dan guru yang di dalamnya sarat dengan pemberian motivasi dari guru kepada siswa agar bergairah memiliki semangat, dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya untuk meningkatkan harga dirinya, dengan begitu siswa diharapkan lebih aktif dalam melakukan kegiatan belajar.

Dalam dokumen Konsep-konsep keguruan dalam pendidikan islam (Halaman 176-179)