Kompetensi Guru Profesional
D. Upaya Peningkatan dan Pengembangan Kompetensi Guru
Peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain sebagai berikut ini.
1. Studi Lanjut Program Strata 2
Studi lanjut program Strata 2 atau Magister merupakan cara pertama yang dapat ditempuh oleh para guru dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya. Ada dua jenis program magister yang dapat diikuti, yaitu program magister yang menyelenggarakan program pendidikan ilmu murni dan ilmu pendidikan. Ada kecenderungan para guru lebih suka untuk mengikuti program ilmu pendidikan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya.
159 2. Kursus dan Pelatihan
Keikutsertaan dalam kursus dan pelatihan tentang kependidikan merupakan cara kedua yang dapat ditempuh oleh guru untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya. Walaupun tugas utama seorang guru adalah mengajar, namun tidak ada salahnya dalam rangka peningkatan kompetensi dan profesionalismenya juga perlu dilengkapi dengan kemampuan meneliti dan menulis artikel/ buku.
3. Pemanfaatan Jurnal
Jurnal yang diterbitkan oleh masyarakat profesi atau perguruan tinggi dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kompetensi dan profesionalisme. Artikel-artikel di dalam jurnal biasanya berisi tentang perkembangan terkini suatu disiplin tertentu. Dengan demikian, jurnal dapat dipergunakan untuk memutakhirkan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru. Dengan memiliki bekal ilmu pengetahuan yang memadai, seorang guru bisa mengembangkan kompetensi dan profesionalismenya seorang guru dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik. Selain itu, jurnal-jurnal itu dapat dijadikan media untuk mengomunikasikan tulisan hasil pemikiran dan penelitian guru yang dapat digunakan untuk mendapatkan angka kredit yang dibutuhkan pada saat sertifikasi dan kenaikan pangkat.
4. Seminar
Keikutsertaan dalam seminar merupakan alternatif keempat yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme seorang guru. Tampaknya hal ini merupakan cara yang paling diminati dan sedang menjadi
trend para guru dalam era sertifikasi, karena dapat menjadi sarana untuk
mendapatkan angka kredit. Melalui seminar guru mendapatkan informasi-informasi baru. Cara itu sah dan baik untuk dilakukan. Namun demikian, di masa-masa yang akan datang akan lebih baik apabila guru tidak hanya menjadi peserta seminar saja, tetapi lebih dari itu dapat menjadi penyelenggara dan pemakalah dalam acara seminar. Forum seminar yang diselengarakan oleh dan untuk guru dapat menjadi wahana yang baik untuk mengomunikasikan berbagai hal yang menyangkut bidang ilmu dan profesinya sebagai guru.
E. Penutup
Menanggapi kembali mengenai perlunya seorang guru yang profesional, penulis berpendapat bahwa guru profesional dalam suatu lembaga pendidikan diharapkan akan memberikan perbaikan kualitas pendidikan yang akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Dengan perbaikan kualitas pendidikan dan peningkatan prestasi belajar, maka diharapkan tujuan pendidikan
160
p
nasional akan terwujud dengan baik. Dengan demikian, keberadaan guru profesional selain untuk mempengaruhi proses belajar mengajar, guru profesional juga diharapkan mampu memberikan mutu pendidikan yang baik sehingga mampu menghasilkan siswa yang berprestasi. Untuk mewujudkan itu, perlu dipersiapkan sedini mungkin melalui lembaga atau sistem pendidikan guru yang memang juga bersifat profesional dan memeliki kualitas pendidikan dan cara pandang yang maju.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru profesional, meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Daftar Pustaka
An-Nahlawi Abdurrahman, Ushul at–Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibiha fil
Baiti wal Madrasati wal Mujtama‟, Terjamah Shihabuddin, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insan Press,
1995.
Al-Ghazali, Imam, Ihkya‟ Ulumuddin: Menuju Filsafat dan Kesucian Hati di
Bidang Insan dan Ikhsan, disuting oleh KH. Misbah Zaenul Musthafa,
Semarang: CV. Bintang Pelajar, t.th.
Daradjat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2012.
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2013.
Idris, Zahara dan Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT Grasindo, 1992.
Isa, Kamal Muhammad, Manajemen Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Fikahati Aneska, 1994.
Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001. Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana
Prenada Media, 2006.
Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung; Remaja Rosdakarya, 2002.
Mulyasa, E., Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2008.
Namsa, M.Yunus, Kiprah Baru Profesi Guru Indonesia Wawasan Metodologi
Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Pustaka Mapan, 2006.
Nizar, Samsul, Fulsafat Pendidikan Islam (Pendekatan Historis, Teoritis dan
161 Nurdin, Syafruddin dan M. Basyiruddin Usman, Guru Profesional dan
Implementasi Kurikulum, Jakarta: Ciputat Press, 2003.
Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995.
Sabri, Alisuf, Mimbar Agama dan Budaya, Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat IAIN, 1992.
Siahaan, Amiruddin dan Tohar Bayoangin, Manajemen Pengembangan Profesi
Guru, Bandung: Citapustaka Media, 2014.
Sidi, Indra Djati, Menuju Masyarakat Belajar Menggas Paradigma Baru
Pendidikan, Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 2001.
Sudjana, Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2002.
Syar‘I, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005. Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja
Rosda Karya, 2000.
Undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
Yamin, Martinis, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, Jakarta: Gaung Persada Press, 2007.
162
p
roses belajar mengajar yang dilakukan di kelas selama ini seringkali satu arah dimana siswa hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru. Oleh karenanya, siswa lebih dilibatkan secara aktif untuk berinteraksi dengan guru atau antar siswa. Prosentase kemampuan siswa dalam memahami dan mengingat materi apa yang telah dipelajari sebelumnya hanya 5% jika mereka sekadar mendengarkan penjelasan guru.
Sumber: Medsker, KL Hordsworth K M (2001)