• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 66-73)

AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 15 Penanggulangan Kemiskinan

25. Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah

Pembangunan nasional memberikan perhatian besar terhadap ketimpangan pembangunan antar wilayah yang diakibat perbedaan dan keragaman tentang potensi sumber daya alam, letak geografis, dan kualitas sumber daya manusia di berbagai wilayah Indonesia yang diikuti dengan perbedaan kinerja masing-masing daerah. Ketimpangan tersebut terjadi terutama antara kawasan pulau di Jawa-Bali dengan kawasan pulau di luar Jawa-Bali, antara metropolitan, kota besar, menengah, dan kecil, antara perkotaan dan perdesaan, serta ketertinggalan juga dialami pada daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar.

Pengurangan ketimpangan wilayah dilakukan melalui berbagai kebijakan dan pelaksanaan pembangunan di berbagai sektor. Secara khusus intervensi dilakukan melalui pengembangan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh, pembangunan daerah tertinggal dan terisolir, pembangunan di daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar, pembangunan perkotaan, penataan ruang, dan pengelolaan pertanahan.

Upaya mengurangi ketimpangan pembangunan wilayah diarahkan untuk mengatasi rendahnya ketersediaan infrastruktur dan tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah tertinggal dan terisolir, perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar; belum ada aturan pelaksanaannya berbagai kebijakan; perbedaan kapasitas aparat pemerintahan dan kelembagaan daerah; lemahnya keterkaitan pembangunan wilayah; serta masih rendahnya pelayanan publik di berbagai bidang baik secara kualitas maupun kuantitas.

Beberapa langkah kebijakan dalam rangka meningkatkan aksesibilitas pelayanan transportasi diprioritaskan pada penanganan sistem jaringan jalan yang masih belum terhubungkan dalam rangka membuka akses ke daerah terisolir dan belum berkembang, serta mendukung pengembangan wilayah dan kawasan strategis seperti kawasan cepat tumbuh, kawasan andalan, kawasan perbatasan, dan kawasan tertinggal; meningkatkan pelayanan angkutan perintis untuk wilayah terpencil, pedalaman dan perbatasan, dan pelayanan angkutan sungai terutama di Kalimantan, Sumatra dan Papua; pemberian subsidi operasional transportasi perintis baik darat, laut dan udara serta pemberian public service obligation (PSO) untuk angkutan kelas ekonomi perkerataapian dan angkutan laut dalam negeri untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat miskin dan penduduk yang tinggal di wilayah terpencil.

Dalam perpetaan, pengadaan data utama terutama peta dasar sebagai prioritas utama yang harus diselesaikan secara nasional serta diikuti dengan pembaharuan secara periodik, khususnya untuk kawasan timur Indonesia dengan lebih mengintensifkan pemanfaatan data citra satelit, dan teknologi baru yang telah teruji manfaat dan efektivitasnya.

Kebijakan untuk bidang perkotaan diarahkan untuk menyusun dan menyiapkan struktur perkotaan Indonesia dalam usaha memantapkan peran serta fungsi kota untuk mendukung pengembangan kota-kota secara hirarkis dan memiliki keterkaitan kegiatan ekonomi antar kota yang sinergis dan saling mendukung.

Langkah-langkah kebijakan yang ditempuh dalam penataan ruang adalah pendayagunaan rencana tata ruang (RTR) pulau/kepulauan, rencana tata ruang wilayah (RTRW) provinsi dan kabupaten/kota, pemantapan kelembagaan dan kualitas pemerintah daerah di bidang penataan ruang, peningkatan peran serta masyarakat dalam penataan ruang, peningkatan penegakan hukum dalam penerapan rencana tata ruang, penetapan kebijakan perizinan pembangunan yang beradaptasi dengan ketentuan rencana tata ruang serta peningkatan upaya mendorong pertimbangan aspek daya dukung dan daya tampung lingkungan dalam perencanaan tata ruang.

Untuk meningkatkan pengelolaan pertanahan dilakukan sinkronisasi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan agraria dengan kebijakan sektor; penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah yang berkeadilan yang memperhatikan kepemilikan tanah untuk rakyat; pendataan pertanahan melalui inventarisasi dan registrasi penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah secara komprehensif dan sistematis dalam rangka pelaksanaan landreform; penyelesaian konflik-konflik yang berkenaan dengan sumber daya agraria yang timbul selama ini, sekaligus mengantisipasi potensi konflik pada masa mendatang; penguatan kelembagaan; serta melaksanakan program pembaruan agraria nasional (reforma agraria) dengan sasaran objek dan subjek yang jelas.

Dalam upaya percepatan pengembangan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh telah disusun RPP tentang Hubungan Kerja Antara Pemerintahan Kota Batam dan Badan Otorita Batam sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang No. 21 tahun 1999 tentang pembentukan Kota Otonom Batam; diterbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti No 1 tahun 2007 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 36 tahun 2000 untuk mempermudah pembentukan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. Selain itu, dalam rangka mengkaji berbagai aspek penting pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) telah dibentuk tim nasional dan telah dilakukan pembangunan dan rehabilitasi jalan dan jembatan, pembangunan sarana dan prasarana sosial dasar di kawasan transmigrasi melalui serta pengembangan kota terpadu mandiri (KTM).

Dalam rangka percepatan pembangunan wilayah tertinggal dan perbatasan telah disusun strategi nasional percepatan pembangunan daerah tertinggal (Stranas PPDT), rencana aksi nasional percepatan pembangunan daerah tertinggal (RAN PPDT) tahun 2008, memfasilitasi penyusunan dokumen strategi daerah percepatan pembangunan daerah tertinggal (Strada PPDT) provinsi/kabupaten, penetapan jumlah desa tertinggal di seluruh Indonesia untuk instrumen untuk mengalokasikan program dan kegiatan di daerah tertinggal secara tepat sasaran hingga ke tingkat desa. Upaya percepatan pembangunan di pulau terluar di bidang

sosial ekonomi serta politik, hukum, dan keamanan, dilaksanakan melalui koordinasi lintas sektoral dalam tim kerja Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005, melaksanakan pembinaan kawasan transmigrasi di daerah tertinggal dan perbatasan; menyiapkan kebijakan, strategi, dan rencana tata ruang kawasan perbatasan negara, kawasan tertinggal strategis nasional, dan pulau-pulau kecil terluar/terpencil. Hasil-hasil yang telah dicapai dalam pembangunan sosial ekonomi daerah tertinggal dan perbatasan adalah terjalinnya kerja sama lintas sektor dalam pelaksanaan pembangunan dan pengoperasian infrastruktur telekomunikasi melalui program

universal service oobligation (USO), dan pembangunan infrastruktur perdesaan, terlaksananya bantuan langsung bagi daerah tertinggal/ perbatasan sebagai stimulan untuk menggerakkan seluruh sektor terkait dalam mengatasi ketertinggalan wilayah secara terpadu;

Hasil-hasil yang telah dicapai dalam penanganan aspek penegasan batas negara dan aspek pertahanan dan keamanan di wilayah perbatasan termasuk pulau kecil terluar antara lain terlaksananya delineasi batas darat RI-RDTL, koordinasi penegasan garis batas antara RI-Malaysia, terlaksananya upaya penanganan permasalahan perbatasan antar negara di 6 kabupaten/kota; terlaksananya pembangunan, pengadaan sarana dan prasarana Pos Lintas Batas (PLB)/Pemeriksaan Pos Lintas Batas (PPLB), Check Point batas antar negara, gapura batas antar negara serta sarana mobilitas pelayanan pemerintahan umum; dalam kegiatan perpetaan telah dilakukan kegiatan pembuatan peta rupabumi dan peta toponimi, penegasan batas RI-RDTL, peta batas wilayah, penegasan batas RI-Malaysia, RI-PNG, pilar batas wilayah administrasi, foto udara pulau-pulau kecil terluar, serta basis data peta batas daerah.

Hasil-hasil yang dicapai dalam upaya untuk meningkatkan aksesibilitas pelayan trasportasi antara lain: pembangunan jalan baru di kawasan perbatasan dan daerah terisolir, pengadaan bus perintis, rehabilitasi kapal penyeberangan perintis dan pembangunan kapal penyeberangan perintis baru/lanjutan, serta pengoperasian lintas perintis, pengoperasian angkutan laut perintis, dan pemberian subsidi operasi perintis penerbangan.

Untuk meningkatkan pelayanan penetapan hak tanah dan pendaftaran tanah secara menyeluruh di Indonesia untuk penguatan

hak-hak masyarakat atas tanah, dilakukan kegiatan pendaftaran tanah di berbagai daerah di Indonesia. Selanjutnya akan disiapkan RUU tentang Pertanahan dan sekaligus menarik RUU tentang Hak Atas Tanah. Berkaitan dengan agenda membangun sistem informasi dan manajemen pertanahan nasional (Simtanas) serta sistem pengamanan dokumen pertanahan di seluruh Indonesia, telah dilakukan perbaikan kualitas dan kuantitas pengelolaan pertanahan secara nasional, regional dan sektoral melalui pemanfaatan teknologi informasi di seluruh Indonesia yang bertujuan meningkatkan pengelolaan pertanahan, serta penyusunan dan penetapan standar prosedur operasi pengaturan dan pelayanan (SPOPP) pertanahan yang merupakan pedoman baku dalam pengaturan dan pelayanan pertanahan.

Dalam upaya untuk mempercepat pengurangan ketimpangan pembangunan wilayah akan dilakukan berbagai upaya guna mendorong percepatan pembangunan wilayah strategis dan cepat tumbuh dan keterkaitan antara wilayah strategis dan cepat tumbuh dengan wilayah di sekitarnya, dengan cara memfasilitasi percepatan pengembangan kawasan strategis dan andalan yang serasi dan terpadu, melanjutkan perumusan konsep serta strategi pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK), memberikan insentif untuk pengembangan usaha dikawasan transmigrasi, peningkatan koordinasi lintas sektor terkait dan pemerintah daerah setempat, serta pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi.

Penanganan sosial ekonomi daerah tertinggal dan perbatasan akan ditingkatkan melalui berbagai upaya antara lain dengan mengarusutamakan pengurangan kesenjangan antarwilayah dan mempercepat pembangunan daerah tertinggal dan perbatasan dengan mendorong keberpihakan seluruh sektor kepada pembangunan di daerah tertinggal dan perbatasan dalam bentuk proporsi alokasi dana yang lebih besar dan diarahkan pada pengembangan potensi-potensi strategis di daerah tertinggal; memantapkan koordinasi, baik antar sektor di pusat, antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, serta dengan dunia usaha dalam pelaksanaan Stranas dan Strada PPDT Provinsi/Kabupaten, RAN dan RAD Provinsi/Kabupaten; melanjutkan penyiapan perumusan Inpres PPDT untuk lebih mengakselerasi pengentasan 199 daerah tertinggal termasuk daerah

perbatasan dari ketertinggalannya; melanjutkan upaya penyusunan RTR kawasan perbatasan; meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana pendukung pemerintahan umum; melanjutkan berbagai upaya peningkatan infrastruktur sosial dasar dan perekonomian, serta melanjutkan upaya meningkatkan penyediaan sarana perhubungan dan telekomunikasi untuk mengatasi keterisolasian wilayah.

Tindak lanjut dalam penegasan batas negara dan peningkatan pertahanan dan keamanan terhadap daerah tertinggal yang berada di wilayah perbatasan termasuk pulau kecil terluar dilakukan antara lain dengan melanjutkan upaya penegasan batas darat dan laut; melanjutkan berbagai upaya untuk meningkatkan pelayanan lintas batas; meningkatkan upaya keamanan untuk mengurangi kegiatan ilegal di perbatasan; meningkatkan kerja sama lintas batas yang saling menguntungkan dengan negara-negara tetangga; melanjutkan pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005; melanjutkan upaya peningkatan wawasan kebangsaan di daerah perbatasan; serta menindaklanjuti hasil-hasil sidang dalam forum kerja sama antar negara (JBC RI-RDTL, Joint Indonesia-Malaysia On Survey and Demarcation).

Peningkatan aksesibilitas pelayanan transportasi akan didorong antara lain dengan terus mengupayakan pembangunan sarana dan prasarana transportasi di wilayah terpencil, pedalaman dan perbatasan serta pulau-pulau terluar untuk mengurangi kesenjangan, mendorong pertumbuhan ekonomi dan sektor riil, serta untuk mengurangi disparitas antar kawasan; serta terus mengupayakan penyediaan dan peningkatan pelayanan transportasi perintis baik darat, laut dan udara.

Untuk mengembangkan kota kecil menengah, kegiatan yang akan dilakukan adalah fasilitasi pengembangan perkotaan, peningkatan fungsi kawasan perkotaan dan perdesaan. Untuk pengendalian kota besar dan metro, upaya-upaya yang akan dilakukan adalah peningkatan kapasitas aparat daerah dalam pengelolaan wilayah metropolitan, pembinaan pengembangan kinerja perkotaan, penyusunan konsep pengembalian fungsi kawasan permukiman di metropolitan; peremajaan kota, serta penyusunan rencana pengembangan kawasan permukiman di kota besar.

Tindak lanjut yang diperlukan untuk mendukung pemerintah daerah dalam pembangunan perkotaan, secara umum adalah mengoptimalkan peran kota kecil menengah dalam mendorong pembangunan perdesaan. Untuk mengembangkan keterkaitan pembangunan antarkota akan dilakukan kegiatan identifikasi simpul- simpul pengembangan wilayah dan tersusunnya strategi penyediaan sarana-prasana untuk memperlancar koleksi dan distribusi barang dan jasa; terciptanya model kerja sama antar kota yang efektif, tersusunnya analisis kajian, strategi, termasuk kebijakan dan strategi, permodelan dan rencana tindak pengembangan keterkaitan pembangunan antar kota.

Selanjutnya untuk mengembangkan kota kecil dan menengah akan disusun rencana induk sistem pengembangan kota-kota kecil dan menengah; pembangunan sarana dan prasarana pendukung; penguatan dan revitalisasi sistem kelembagaan ekonomi perkotaan; serta tersusunnya NSPM di bidang aparatur. Dalam mengendalikan pembangunan kota besar dan metropolitan akan dilakukan peningkatan daya guna rencana tata ruang sebagai instrumen pengendalian pembangunan di kota besar dan metropolitan; penyusunan rencana tindak pengembangan kota besar dan metropolitan; peremajaan kota, tersusunnya NSPM pengelolaan dengan fokus kepada penciptaan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan; meningkatnya kapasitas kelembagaan dan aparatur untuk pengelolaan kawasan kota besar dan metro; tersusunnya kerangka kerja sama kota-kota di wilayah metropolitan, termasuk kerangka regulasi dan kelembagaannya.

Untuk kegiatan penataan ruang, tindak lanjut yang diperlukan adalah melakukan kegiatan prioritas seperti, penyusunan norma standar prosedur manual (NSPM) pengendalian pemanfaatan ruang, penyusunan rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten/kota berbasis bencana yang didukung oleh data spasial, penguatan dukungan sistem informasi dan pemantauan penataan ruang dalam rangka mendukung upaya pengendalian pemanfaatan ruang; penguatan kapasitas kelembagaan dan koordinasi penataan ruang di tingkat nasional dan daerah untuk mendukung pengendalian pemanfaatan ruang; peningkatan kualitas pemanfaatan dan

pengendalian ruang wilayah yang berbasis mitigasi bencana, daya dukung wilyah dan pengembangan kawasan.

Kegiatan pengelolaan pertanahan akan diprioritaskan pada peningkatan kepastian hukum hak atas tanah terutama bagi kelompok kurang mampu, mendukung revitalisasi pertanian dan ketahanan pangan, serta persiapan untuk efektivitas pelaksanaan program pembaruan agraria nasional (PPAN).

26. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 66-73)