• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Lebih Berkualitas

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 73-76)

AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 15 Penanggulangan Kemiskinan

26. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Lebih Berkualitas

Peningkatan kesejahteraan rakyat merupakan salah satu agenda penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Pemerintah terus berupaya secara sungguh-sungguh dalam meningkatkan kualitas hidup dan derajat kesejahteraan rakyat melalui peningkatan pelayanan pendidikan yang bermutu, dengan fokus utama pada perluasan akses dan pemerataan pendidikan bagi segenap warga masyarakat.

Dalam rangka memperluas akses dan pemerataan pendidikan, selama tahun 2006 sampai dengan pertengahan tahun 2007, pemerintah telah membangun sarana dan prasarana pendidikan berupa unit sekolah baru (UGB) dan ruang kelas baru (RKB) dengan memberi perhatian secara khusus pada wilayah perdesaan dan daerah tertinggal. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan ini ditempuh melalui pembangunan SD-SMP Satu Atap, yang sangat penting bagi penduduk yang tinggal di daerah terisolasi yang selama ini mengalami hambatan dalam memperoleh akses ke pelayanan pendidikan. Dengan adanya SD-SMP yang terintegrasi, siswa yang telah menamatkan jenjang SD tidak perlu mencari SMP yang kemungkinan berada di daerah yang jauh dari tempat tinggal mereka. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah juga terus melanjutkan rehabilitasi gedung SD/MI sebagai bagian dari upaya mengatasi masalah kerusakan gedung yang jumlahnya sangat banyak, dengan menyediakan dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan sebesar Rp5,195 triliun pada tahun 2007.

Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan ini ditujukan terutama untuk mendukung upaya penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Untuk itu, pada tahun 2007 pemerintah terus melanjutkan penyediaan bantuan operasional sekolah (BOS) bagi siswa pada jenjang pendidikan dasar, yang mencakup SD, MI, SDLB, SMP, MTs, SMPLB, dan pesantren salafiyah, serta satuan pendidikan non-Islam yang menyelenggarakan pendidikan dasar sembilan tahun. Jumlah siswa penerima BOS mengalami peningkatan dari 39,8 juta anak pada tahun 2006 menjadi 41,3 juta anak pada tahun 2007, dan anggaran yang disediakan juga meningkat dari sebesar Rp10,2 trilun menjadi Rp11,6 triliun. Selain digunakan untuk membiayai operasional sekolah, penyediaan BOS ini dimaksudkan untuk dapat membebaskan siswa miskin dari semua bentuk pungutan dan meringankan biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan buku mata pelajaran, sehingga mereka dapat memperoleh layanan pendidikan minimal sampai tingkat SLTP. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional, dilaporkan bahwa dengan adanya program BOS, sebanyak 70 persen SD/MI dan SMP/MTs telah membebaskan siswa dari segala jenis pungutan. Namun, disadari bahwa besaran dana BOS belum dapat memenuhi kebutuhan operasional sekolah, terutama sekolah yang berada di daerah perkotaan dan sekolah unggulan.

Selain itu, pemerintah juga menyediakan BOS buku agar siswa dapat memenuhi kebutuhan buku pelajaran untuk keperluan sekolah dengan dana yang dialokasikan sebanyak Rp591,9 miliar. Di samping itu, pemerintah juga menyediakan beasiswa bagi siswa miskin yang bersekolah di jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Penyediaan beasiswa ini dimaksudkan agar anak- anak yang berasal dari keluarga miskin tidak sampai putus sekolah sehingga mereka tetap dapat menempuh pendidikan sampai ke jenjang yang paling tinggi.

Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah juga berupaya dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas pendidik melalui program peningkatan kualifikasi akademik S-1 dan D-4 bagi 170 ribu guru dan sertifikasi untuk sekitar 190,5 ribu guru, yang bertujuan untuk melahirkan pendidik berkompeten dan profesional.

Selain itu, diberikan pula beasiswa bagi guru untuk menempuh pendidikan lanjutan tingkat sarjana bagi 4.300 orang. Sejalan dengan hal itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan kesejahteraan pendidik dengan menyediakan tunjangan fungsional, tunjangan profesi, dan tunjangan khusus. Pemberian berbagai jenis tunjangan tersebut untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Di samping itu, pemerintah juga memberi subsidi untuk guru bantu sebanyak 161 ribu orang.

Berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional, pemerintah juga terus mendorong berbagai kegiatan ilmiah, antara lain, olimpiade sains dan matematika mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional. Bahkan, sekolah- sekolah juga terus didorong agar siswa-siswa berprestasi dapat berpartisipasi dalam berbagai olimpiade sains dan matematika di tingkat internasional. Pada jenjang pendidikan dasar, pelajar Indonesia berhasil meraih 1 medali emas, 6 medali perak dan 19 medali perunggu dalam forum International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) tahun 2006. Di ajang Mathematics World Contest mereka berhasil memperoleh 1 medali emas dan 1 medali perunggu, dan di ajang Elementary Mathematics International Contest mereka sukses meraih 2 medali emas, 4 medali perak, dan 9 medali perunggu. Keberhasilan ini berlanjut pada ajang International Junior Science Olympiad (IJSO) dan pada ajang ini kontingen Indonesia berhasil membawa pulang 2 medali emas, 3 medali perak, dan 1 medali perunggu. Selain itu, pelajar Indonesia juga mencatat prestasi yang membanggakan di berbagai ajang kompetisi minat dan bakat di forum internasional seperti World School Chess Championship, International Theater Olympiad, dan Asian School Chess Festival.

Pada jenjang pendidikan menengah pencapaian prestasi pelajar-pelajar Indonesia dalam kompetisi internasional lebih membanggakan lagi. Pada tahun 2006 di ajang International Physics Olympiad (IphO), kontingen Indonesia berhasil meraih 4 medali emas dan 1 medali perak, sementara pada International Biology

Olympiad (IBO) menghasilkan 2 medali perak dan 2 medali

perunggu. Kontingen Indonesia juga berhasil mendapatkan 1 medali perak dan 3 medali perunggu pada ajang International Chemistry

Olympiad (IChO). Pada ajang Asia Physics Olympiad (APhO) Indonesia mendapatkan 1 medali emas, dan pada Asean Skills

Competition Indonesia berhasil mendapatkan 6 medali emas, 2

medali perak, dan 2 medali perunggu.

Di samping itu, upaya pembinaan minat dan kemampuan mahasiswa pada jenjang pendidikan tinggi juga terus dilakukan dengan menyelenggarakan atau berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti lomba, festival, dan olimpiade mata pelajaran baik tingkat nasional maupun internasional. Pada ajang International

Olympiad on Math, kontingen mahasiswa Indonesia berhasil

membawa pulang 2 medali perak dan 3 medali perunggu, dan pada ajang International Mathematics Competition mendapatkan 2 medali perak dan 2 medali perunggu. Selain itu, pada ASEAN University Games 2006 kontingen Indonesia berhasil meraih 27 medali emas yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-3 setelah tuan rumah Vietnam (74 medali emas) dan Thailand (42 medali emas).

Pencapaian prestasi yang menggembirakan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak sekali generasi muda yang cerdas, berbakat, dan potensial. Pemerintah dan segenap masyarakat berkewajiban untuk memfasilitasi agar pelajar-pelajar Indonesia dapat tumbuh-kembang secara optimal. Dengan jumlah pelajar berprestasi di berbagai forum kompetisi internasional yang relatif banyak itu, sikap optimis bahwa bangsa Indonesia memiliki kemampuan daya saing tinggi untuk masuk ke dalam persaingan global perlu dikembangkan. Pelajar Indonesia yang unggul tersebut telah memberi kontribusi besar dalam mengharumkan nama bangsa dan pada akhirnya berperan mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang maju, mandiri, dan berdaya saing.

27. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 73-76)