• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Lebih Berkualitas

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 76-80)

AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 15 Penanggulangan Kemiskinan

27. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Lebih Berkualitas

Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah meningkatkan status kesehatan masyarakat, antara lain, dapat dilihat dari beberapa indikator. Angka kematian bayi menurun dari 35 (2003) menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup (2005). Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi tersebut, usia

harapan hidup meningkat dari 66,2 tahun (2004) menjadi 69,4 tahun (2006). Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk tercatat 28 persen (2005). Walaupun terjadi peningkatan, status kesehatan masyarakat Indonesia masih lebih rendah bila dibandingkan dengan status kesehatan di negara-negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, atau Filipina, dan masih jauh dari sasaran millenium development goals

(MDGs). Kondisi status kesehatan dan keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tersebut dipengaruhi, antara lain, oleh faktor lingkungan fisik, biologik atau sosial ekonomi, perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, serta kondisi pelayanan kesehatan.

Dalam satu tahun terakhir terdapat beberapa isu penting/strategis dalam pembangunan kesehatan yang memerlukan penanganan secara terpadu dan menyeluruh, yaitu peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin; ketersediaan dan keterjangkauan obat generik esensial; peningkatan peran serta aktif masyarakat; pemenuhan tenaga kesehatan; penanggulangan penyakit; penanggulangan gizi buruk; penanggulangan bencana; dan pengawasan obat dan makanan.

Peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terus diupayakan. Sejak tahun 2005 dan 2006 telah dilaksanakan Program Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin (Askeskin). Pemanfaatan program Askeskin oleh masyarakat miskin terus meningkat. Pada tahun 2006 jumlah kunjungan rawat jalan tingkat pertama di puskesmas mencapai hampir 110 juta kunjungan, kunjungan rawat jalan tingkat lanjut di rumah sakit mencapai hampir 7 juta kunjungan, dan pemanfaatan rawat inap tingkat lanjut di rumah sakit mencapai 1,5 juta orang. Melalui program ini masyarakat miskin juga sudah mendapat pelayanan kesehatan untuk kasus khusus seperti pertolongan persalinan, hemodialisa, operasi jantung, dan operasi caesar.

Dalam rangka mendukung program Askeskin, upaya peningkatan jumlah dan kualitas sarana pelayanan kesehatan dasar terus dilanjutkan. Pada tahun 2006 jumlah puskesmas tercatat sebanyak 5.614 unit, puskesmas perawatan sebanyak 2.227 unit, puskesmas pembantu sekitar 22.100 unit, dan puskesmas keliling sekitar 15.700 unit.

Dalam rangka peningkatan keterjangkauan masyarakat terhadap obat bagi semua lapisan masyarakat, sejak tahun 2006 pemerintah secara terus menerus berupaya menurunkan harga obat, khususnya obat generik. Pada tahun 2007 telah dilakukan rasionalisasi harga obat generik, dan di antaranya terdapat 61 jenis obat generik telah mengalami penurunan harga sampai 10 persen. Agar masyarakat memperoleh informasi yang benar tentang obat generik dan harganya, diwajibkan kepada produsen untuk mencantumkan nama generik dan harga eceran tertingginya (HET) pada label obat yang diproduksi. Di samping itu, pemerintah telah pula menetapkan kebijakan apotik rakyat dan meluncurkan obat rakyat, murah dan berkualitas atau obat serba seribu yang dapat dibeli oleh masyarakat di apotik, apotik rakyat, toko obat, toko maupun warung dan juga di pos kesehatan desa.

Peran aktif masyarakat di bidang kesehatan telah meningkat dan dewasa ini semakin banyak masalah kesehatan dapat dideteksi dan ditanggulangi dengan cepat dan tepat pada tingkat yang paling bawah. Pembentukan dan pengembangan desa siaga dengan satu pos kesehatan desa (poskesdes), pos kesehatan pesantren (poskestren) dan musholla eehat terus diupayakan. Pada tahun 2006 telah dilakukan pencanangan pengembangan desa siaga dan telah dikembangkan 12.300 desa siaga, yang dilengkapi dengan 12.300 pos kesehatan desa. Pada tahun 2007 akan dikembangkan 30.000 desa siaga.

Pemenuhan kebutuhan dan pemerataan tenaga kesehatan terutama di daerah terpencil, sangat terpencil dan daerah perbatasan terus dilakukan secara bertahap. Sejak tahun 2005 sampai dengan Juni 2007 telah ditempatkan sekitar 141 dokter spesialis, sekitar 7.000 dokter umum, 2.000 dokter gigi, dan 38.800 bidan. Dari jumlah tersebut, yang ditempatkan di daerah terpencil dan sangat terpencil, antara lain, 7 dokter spesialis, sekitar 3.200 dokter umum, 900 dokter gigi, dan 17.300 bidan.

Upaya penanggulangan penyakit terus dilakukan. Penatalaksanaan kasus penyakit di puskesmas dan rumah sakit makin membaik sejalan dengan meningkatnya pemerataan fasilitas pelayanan kesehatan dan menguatnya surveilans. Angka kematian karena penyakit demam berdarah (DBD) menurun dari 1,4 persen

pada 2004 menjadi 1 persen pada 2006. Sementara itu, penemuan kasus tuberculosis (TB) dapat ditingkatkan dari 54 persen pada tahun 2004 menjadi 73,4 persen pada tahun 2006. Demikian pula angka penyembuhan TB (success rate) telah dapat mencapai lebih dari 89 persen, yang berarti telah melebihi target internasional (85 persen).

Kasus HIV/AIDS terus meningkat dari tahun ke tahun. Upaya penaggulangan HIV/AIDS terus diperbaiki untuk mengurangi risiko penularan. Upaya yang dilakukan mencakup peningkatan kuantitas dan kualitas surveilans penyakit infeksi menular seksual; promosi penggunaan kondom pada kelompok risiko tinggi; peningkatan peran Komisi Penanggulangan AIDS; layanan komprehensif HIV dan AIDS oleh 153 rumah sakit; 260 layanan konseling dan testing yang tersebar di seluruh daerah; pencegahan Penularan HIV-AIDS dari Ibu ke bayi, melalui screening dan pengobatan; serta save tanah Papua melalui active case finding.

Jumlah kasus flu burung tercatat sebanyak 55 kasus terkonfirmasi (confirmed cases) dan 45 diantaranya meninggal dunia. Pada awal tahun 2007 sampai bulan Juni 2007 tercatat sebanyak 26 kaus flu burung dengan kematian sebanyak 22 kasus. Dalam rangka penanggulangan flu burung pada tahun 2006 telah disiapkan 44 RS Rujukan dan akan dikembangkan menjadi 100 RS Rujukan pada tahun 2007.

Upaya prioritas yang dilaksanakan dalam penanganan gizi buruk adalah: pendidikan gizi; pencegahan dan penanggulangan kekurangan energi protein (KEP), anemia, gejala akibat kekurangan yodium, kekurangan vitamin A, dan masalah gizi lebih; pemberdayaan masyarakat dalam pemantauan pertumbuhan, pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI lokal, makanan aneka ragam, konsumsi garam beryodium, konsumsi gizi mikro; dan surveilans gizi.

Penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana telah dilakukan. Dalam rangka mempercepat mobilisasi sumber daya kesehatan dalam keadaan bencana, telah didirikan pusat bantuan regional penanganan krisis kesehatan di 9 tempat di Indonesia (Sumatra Utara, Sumatra Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa

Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan). Setiap pusat bantuan tersebut dilengkapi dengan tenaga terlatih dan logistik sehingga setiap saat siap menangani masalah kesehatan di daerah bencana.

Pengawasan terhadap produk terapetik/obat pada tingkat distribusi dilakukan terutama berkaiatan dengan penerapan cara distribusi obat yang baik (CDOB). Sejak tahun 2005 sampai dengan Juni 2007 telah dilakukan inspeksi terhadap sekitar 2.600 pedagang besar farmasi (PBF) dan 8.900 apotek. Dari hasil audit terhadap PBF, diketahui bahwa sekitar 51,6 persen masih melakukan pelanggaran terhadap ketentuan CDOB. Sebagai tindak lanjut terhadap pelanggaran tersebut telah dilakukan pembinaan sampai dengan pencabutan izin.

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 76-80)