AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 15 Penanggulangan Kemiskinan
18. Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan
Revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, serta menyumbang terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), ekspor nonmigas serta penyerapan tenaga kerja nasional. Sektor ini juga berperan besar terhadap ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat, pengembangan wilayah, dan pertumbuhan ekonomi di daerah.
Pada tahun 2006, PDB bidang pertanian tumbuh sekitar 3,0 persen. Dengan pertumbuhan demikian, nilai ekspor pertanian mencapai USD 3,4 miliar atau meningkat 18,2 persen dibandingkan tahun 2005 dan penyerapan tenaga kerja mencapai 40,1 juta orang atau sekitar 42,0 persen dari total tenaga kerja nasional. Pertumbuhan tersebut juga dapat meningkatkan pula kesejahteraan petani yang diindikasikan dengan naiknya nilai tukar petani pada bulan Desember 2006 hingga mencapai 106,4 atau naik 7,6 persen dibandingkan akhir tahun 2005.
Pada tahun 2007, bidang pertanian direncanakan minimal tumbuh sebesar 2,7 persen. Dengan tingkat pertumbuhan tersebut, penyerapan tenaga kerja diharapkan sebesar 43,7 persen dari tenaga kerja nasional dan sumbangan terhadap ekspor non migas diperkirakan mencapai 6,9 persen dari total nilai ekspor nonmigas, atau kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 15 persen. Untuk mencapai sasaran tersebut, 4 (empat) fokus kebijakan revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan yang akan dilaksanakan adalah : Ketahanan Pangan Nasional; peningkatan kualitas pertumbuhan produksi pertanian, perikanan dan kehutanan; pengembangan diversifikasi ekonomi dan infrastruktur perdesaan; dan pengembangan sumber daya alam sebagai sumber energi berkelanjutan yang terbarukan (renewable energy).
Kebijakan yang ditempuh di bidang pertanian, untuk mengatasi rentannya ketahanan pangan sebagai akibat berfluktuasinya produksi padi dampak dari bencana alam pada awal tahun 2006, adalah dengan meningkatkan produksi padi dan bahan pangan pokok lain, agar ketersediaan pangan akan terwujud di semua wilayah dan setiap rumah tangga. Sasaran peningkatan produksi pada
tahun 2007 dengan penambahan sasaran peningkatan produksi beras sebesar 3,1 juta ton gabah kering giling adalah sebesar 58,1 juta ton gabah kering giling. Langkah-langkah yang ditempuh adalah: meningkatkan produktivitas dan luas tanam padi dan palawija, serta penurunan susut panen dan pascapanen yang didukung oleh upaya perbaikan jaringan irigasi terutama di tingkat petani, memperbaiki jalan usahatani dan jalan desa: pembinaan untuk meningkatkan produktivitas dan pengendalian hama penyakit tanaman serta bantuan alat pra panen dan pasca panen; pengembangan cadangan pangan terutama cadangan beras pemerintah dan masyarakat. Untuk meningkatkan ketahanan pangan di daerah-daerah, dilakukan langkah-langkah berikut: pengembangan koordinasi sistem distribusi pangan, yang didukung dengan pengembangan dan pemanfaatan kelembagaan petani; pengembangan sistem isyarat/peringatan dini rawan pangan; penyediaan/penjualan beras bersubsidi yang dikenal dengan raskin. Jumlah subsidi raskin pada tahun 2007 sebesar Rp6,7 triliun atau setara dengan 1,9 juta ton beras.
Adapun untuk mengatasi dampak kasus flu burung terus dilakukan langkah-langkah pengendalian dampak flu burung pada unggas dan penyakit ternak melalui peningkatan surveillance untuk memonitor perkembangan kesehatan ternak masyarakat dan pencegahan perluasan wabah/penyakit menular pada hewan. Langkah ini diperkuat dengan terbentuknya Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Pandemi Influenza melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2007 sehingga penanganan dan pengendalian virus flu burung terkoordinasi, tersosialisasikan, dan dikonsolidasikan degan baik.
Langkah yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan pertanian adalah dengan peningkatan produktivitas dan produksi komoditas perkebunan, peternakan dan hortikultura: peningkatan investasi dan peremajaan kebun, terutama kebun rakyat, peningkatan produksi daging serta produksi sayur dan buah-buahan yang didukung dengan penyediaan benih dan bibit bermutu, penyediaan sarana dan prasarana produksi, berbagai penyebaran dan penerapan teknologi baru, serta penyuluhan dan pendampingan; penyediaan subsidi bunga untuk kredit revitalisasi perkebunan dan bantuan untuk penjaminan melalui skim pelayanan pembiayaan
pertanian (SP3); memberi bantuan pada petani kecil yang memiliki kesulitan menjangkau sumber permodalan. Dalam hubungan ini pemerintah menyediakan bantuan modal baik melalui penguatan modal usaha kecil (PMUK), lembaga mandiri yang mengakar di masyarakat (LM3) dan nantuan langsung masyarakat (BLM); dan revitalisasi penyuluhan dengan menambah 6.000 penyuluh kontrak dan memfungsikan kembali balai penyuluhan pertanian (BPP).
Hasil yang dicapai adalah meningkatnya produksi padi dan jagung serta komoditas palawija lainnya. Produksi padi yang pada tahun 2006 mencapai sebesar 54,45 juta ton gabah kering giling, pada tahun 2007 (angka ramalan II) diperkirakan mencapai sebesar 55,12 juta ton gabah. Produksi jagung meningkat sebesar 6,9 persen dibanding tahun lalu, yaitu sebesar 11,6 juta ton menjadi 12,4 juta ton pada tahun 2007. Produksi sayur dan buah-buahan pada tahun 2006 juga mengalami peningkatan dengan kisaran antara 0,2 persen sampai dengan 54,3 persen. Sejalan dengan itu, populasi ternak pada tahun 2006 mengalami peningkatan dibanding tahun 2005. Peningkatan tertinggi (18,2 persen) terjadi pada ayam ras petelur dari 84,8 juta ekor pada tahun 2005 menjadi 100,2 juta ekor pada tahun 2006. Dalam rangka mendukung penyediaan bahan bakar nabati, telah dilakukan peningkatan produksi bibit jarak seluas 345 ribu ha, termasuk pengembangan kebun bibit sebar dan pengembangan percontohan pengolahan jarak di lokasi yang sama.
Selanjutnya, berbagai perbaikan infrastruktur untuk mendukung peningkatan produksi pangan dan pertanian lainnya, telah pula memberi manfaat ganda memberikan lapangan pekerjaan di perdesaan. Perbaikan infrastruktur dengan swadaya masyarakat dengan nilai sebesar Rp500 miliar, telah memberikan pekerjaan kepada sekitar 10,7 juta orang di daerah perdesaan dan meningkatkan pendapatan rumah tangga petani. Peningkatan pendapatan petani dan masyarakat perdesaan ini ditunjukkan oleh nilai PDB per tenaga kerja di sektor pertanian. Pendapatan tenaga kerja pertanian yang pada tahun 2003 sebesar Rp5,1 juta meningkat menjadi Rp5,5 juta pada tahun 2004 dan pada tahun 2006 meningkat menjadi Rp6,5 juta.
Sementara itu, dalam rangka meningkatkan produksi perikanan tahun 2006 hingga pertengahan tahun 2007 telah dilaksanakan peningkatkan usaha budi daya perikanan yang
dilakukan melalui pembangunan dan rehabilitasi saluran tambak seluas sekitar 7,6 ribu ha, optimalisasi dan pembangunan serta rehabilitasi balai benih ikan, udang di 108 lokasi, pengembangan sarana perikanan budi daya bagi petambak, penyediaan benih bagi kelompok pembudidaya ikan, dan pembangunan unit perbenihan rakyat (UPR) sejumlah 272.101 unit. Di samping itu, telah dilakukan pula usaha peningkatan produksi perikanan tangkap yang ditempuh melalui upaya pengembangan sarana dan prasarana di 89 unit pelabuhan perikanan.
Upaya peningkatan dan pengendalian mutu hasil perikanan pada tahun 2007, telah dicapai melalui upaya bimbingan teknis penanganan hasil perikanan dan nilai tambah di 10 lokasi, pembinaan manajemen mutu terpadu (PMMT), penguatan 39 laboratorium pembinaan dan pengujian mutu hasil perikanan (LPPMHP), fasilitasi jaringan pemasaran di 5 lokasi, pembinaan ekspor di 20 lokasi, pembangunan 8 unit pasar ikan higienis (PIH), pelatihan dan pendampingan serta pengembangan sarana pengeringan dan pengembangan unit pelayanan pengembangan (UPP), sosialisasi standar nasional Indonesia (SNI) untuk rumput laut kering, fasilitasi jaringan pemasaran di 5 lokasi, dan promosi ekspor pada event
pameran luar negeri.
Untuk mendukung peningkatan perikanan tangkap dan nilai tambah perikanan, pada tahun 2007 telah dilakukan upaya pengembangan riset kelautan dan perikanan, melalui: bantuan paket teknologi yang siap diaplikasikan di masyarakat; bimbingan dan pendampingan selama penerapan bantuan paket teknologi, penyebaran peta fishing ground melalui website, teknologi sistem rantai dingin melalui rancang bangun peti berinsulasi dan inovasi ice maker berbahan dasar air laut, pembuatan pengawet ikan alternatif; perbenihan jenis ikan domestik; riset pembudidayaan melalui teknologi tepat guna, riset pakan dan nutrisi, riset penyakit dan kesehatan ikan, prototype alat pengolahan produk, peluncuran produk Antilin (reagen pendeteksi cepat kandungan formalin dalam produk perikanan), dan riset eksplorasi sumber daya nonkonvensional.
Hasil yang dicapai adalah produksi perikanan mengalami kenaikan sebesar 7,73 persen, yakni dari 6,86 juta ton pada tahun
2005 menjadi 7,39 juta ton pada tahun 2006. Dalam periode 2005– 2006, produksi perikanan tangkap masih mendominasi. Namun, disisi lain peningkatan produksi perikanan budi daya masih memiliki potensi dalam memberikan kontribusi peningkatan produksi perikanan di Indonesia. Peningkatan produksi budidaya ini dipicu oleh kenaikan produksi budidaya karamba di laut, kolam, budi daya tambak, jaring apung dan budi daya di sawah. Diperkirakan pada tahun 2007 produksi perikanan dapat mencapai 7,50 juta ton.
Di bidang kehutanan, untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan kehutanan, dilakukan kebijakan revitalisasi kehutanan yang dititikberatkan pada upaya revitalisasi industri kehutanan terutama melalui pembangunan hutan tanaman industri dan peningkatan produksi hasil hutan non kayu. Langkah-langkah yang ditempuh adalah; Revitalisasi industri kehutanan yang dititik beratkan pada pembangunan hutan tanaman industri, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, dan peningkatan pemanfaatan jasa lingkungan; Pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan yang dilakukan melalui Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH), Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) dan Hutan Kemasyarakatan (HKm); rehabilitasi dan pemulihan cadangan sumberdaya alam; peningkatan dan rehabilitasi sumberdaya alam. Langkah-langkah tersebut disamping dapat mengoptimalkan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan, juga memberikan sumbangan terhadap peningkatan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat serta perolehan devisa.
Dalam bidang pengusahaan/pemanfaatan hutan beberapa hal yang telah dicapai adalah bertambahnya jumlah investasi di hutan alam/hutan tanaman. Dalam tahun 2006–2007 jumlah investasi ini telah bertambah sebanyak 69 unit dengan total investasi yang masuk USD 996,1 juta dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 3.015 orang/tahun. Sampai dengan bulan Mei 2007 nilai investasi perusahaan pemegang HPH adalah: rencana investasi sebesar Rp653 miliar, nilai perolehan sebesar Rp7,3 triliun, dan nilai buku sebesar 3,7 triliun rupiah, dengan total aset sebesar Rp16,9 triliun. Sedangkan pengunaan tenaga kerja di bidang pengusahaan hutan sampai dengan bulan Mei 2007 mencapai sebanyak 33 ribu orang tenaga kerja Indonesia.
Pembangunan HTI (HPH-Tanaman) pada 2006 terealisasi seluas 237,1 ribu ha sehingga total tanaman yang ada sejak 1990 sampai Desember 2006 seluas 3,5 juta ha, yang terdiri dari tanaman HTI (pulp dan pertukangan) seluas 3,1 juta ha, tanaman andalan seluas 439,5 ribu ha, tanaman HPHTC seluas 2.577 ha dan tanaman swakelola seluas 28,7 ribu ha. Sedangkan tenaga kerja yang terserap di HTI-Pulp adalah 5.762 orang, HTI nontrans 2.465 orang, dan HTI Trans 477 orang.
Untuk menciptakan kepastian hukum di industri telah dilakukan pembaharuan Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IU-IPHHK) kapasitas produksi di atas 6.000 m3/tahun yang telah diterbitkan sampai dengan tahun 2006/2007 total Pembaharuan IU-IPHHK yang telah diterbitkan sebanyak 143 unit dengan total tenaga kerja yang terserap yaitu 164.878 orang. IU-IPHHK baru yang telah diterbitkan pada tahun 2006 sebanyak 5 unit dengan investasi sebesar Rp524,7 miliar dengan menyerap tenaga kerja 5.727 orang. Sedangkan IU-IPHHK baru yang telah diterbitkan sampai bulan Januari 2007 yaitu sebanyak 2 unit dengan investasi sebesar Rp73,3 miliar dan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.250 orang. Sampai dengan Bulan April 2007, persetujuan prinsip dalam rangka IU-IPHHK baru sebanyak 8 unit dengan total investasi Rp729,4 miliar dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 4.363 orang. Izin Perluasan IPHHK yang telah diterbitkan pada tahun 2006 sebanyak 2 unit dengan total investasi sebesar Rp20,8 miliar dan tenaga kerja 1.027 orang sedangkan sampai bulan Maret 2007 sebanyak 4 unit dengan total investasi sebesar Rp287,6 miliar dan menyerap tenaga kerja sebanyak 3.119 orang. Dalam proses izin perluasan Usaha IPHHK sebanyak 12 unit dengan tambahan investasi sebanyak Rp166,6 miliar dan tenaga kerja sebanyak 2.841 orang.
Jumlah ekspor sampai dengan September 2006 untuk panel kayu volume 2,2 juta m3 dengan nilai devisa USD 942,0 juta dan untuk kayu olahan (wood working) sejumlah 1,4 juta m3 dengan nilai devisa USD 779,8 juta. Pada periode ekspor tahun 2006 nilai panel kayu mengalami peningkatan USD 422/m3 dari USD 366/m3 pada tahun 2005. sedangkan wood working mengalami peningkatan dari USD 533/m3 pada tahun 2005 menjadi USD 543/m3.
Berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat setempat, realisasi pelaksanaan pembangunan model pengelolaan hutan meranti, sampai dengan tahun 2007 adalah sebanyak 387,8 ribu tanaman pada lahan seluas 1,5 ribu ha, dengan lokasi di provinsi Sumatra Barat 93 ribu (419 ha), di provinsi Kalimantan Barat sebanyak 87,1 ribu tanaman pada lahan seluas 392,4 ha, di provinsi Kalimantan Timur sebanyak 80,6 ribu tanaman pada lahan seluas 114,5 ha dan provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 127 ribu tanaman pada lahan seluas 572 ha. Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) sampai dengan Tahun 2006/2007 telah dilakukan di 21 provinsi yang melibatkan 592 desa dengan jumlah 13.754 KK.
Untuk lebih mengamankan kemandirian pangan, target produksi beras tahun 2007 ditambah sebesar 2 juta ton beras atau setara dengan 3,1 juta ton gabah kering giling, sehingga produksi diharapkan mencapai 58,1 juta ton gabah kering giling. Di bidang perikanan dan kehutanan langkah yang telah dilakukan dalam tahun 2007 akan terus dilanjutkan. Selanjutnya, untuk tahun 2008 sasaran pertumbuhan PDB pertanian secara luas pada tahun 2008 sebesar 3,7 persen dan yang diiringi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Lima fokus pembangunan yang akan dilakukan pada tahn 2008 adalah: Peningkatan Produksi Pangan dan Akses Rumah Tangga terhadap Pangan; Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Produk Pertanian, Perikanan dan Kehutanan; perluasan kesempatan kerja dan diversifikasi ekonomi perdesaan; peningkatan kualitas pengelolaan hutan dan lingkungan; dan pembaharuan agraria nasional.
19. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan