HUKUM WARIS
2.8. Penutupan harta peninggalan
2.8.1. Memulai penutupan
Kita akan mengambil lompatan maju dalam kasus kita, ke kisah kematian Herman. Setelah kematian Annelies, istri pertama Herman, kemudian kematian Margriet, cinta keduanya, sekarang Herman sendiri pun telah meninggal dunia. Dengan kematiannya Herman telah berhenti ada sebagai orang dengan hak dan kewajiban hukumnya. Apa yang Herman telah tinggalkan di belakangnya – “harta peninggalan”-nya – harus ditutup.
Herman memiliki aset, termasuk rumah dengan isinya dan saldo bank, dan sedikit utang, seperti utang cicilan kredit dan tagihan gas, air dan listrik. Dia juga memiliki utang kepada anak-anaknya sehubungan dengan harta peninggalan Annelies, istri pertamanya. Selain itu, Herman memiliki aset dari harta peninggalan Margriet, yang terhadap aset tersebut anak tirinya, yaitu anak bawaan Margriet, Joris dan Huib-Jan memiliki klaim. Dengan kematian Herman utang kepada anak-anak kandungnya dan kepada anak-anak tirinya, Joris dan Huib-Jan, telah menjadi jatuh tempo dan dapat dibayarkan dengan uang.
Penutupan terhadap sebuah harta peninggalan tidak terkait dengan banyak aturan, juga bukan di tangan pengadilan atau badan khusus lainnya dari pemerintah (seperti yang terjadi di beberapa negara tetangga kita). Kewajiban untuk menutup harta peninggalan terletak pada ahli waris.
Sejumlah besar hal-hal praktis harus ditangani sehubungan dengan penutupan. Misalnya pertanyaan-pertanyaan berikut harus dijawab (bdk. Kolkman dan Verstappen, Handboek Boedelafwikkeling 2011, Bagian 2.1.2):
Apakah perlu diberikan pemberitahuan tentang pengakhiran perjanjian sewa-menyewa? Apakah dokumen-dokumen penting (ketentuan tambahan, dokumen asuransi, uang tunai, sekuritas atau surat-surat berharga, kunci brankas bank, harta-harta rumah tangga yang berharga) perlu dijauhkan dari bahaya penyalahgunaan? Apakah almarhum memiliki pekerjaan, tunjangan atau sebuah perusahaan? Apakah terdapat langganan saat ini? Apakah laporan pajak penghasilan masih harus diajukan setiap tahun? Apakah almarhum anggota dari asosiasi atau yayasan tertentu? Apakah dia menjadi anggota badan pengurus dari asosiasi atau yayasan tersebut? Di danan atau perusahaan asuransi kesehatan manakah dia terdaftar sebagai nasabah? Perusahaan asuransi
yang manakah yang perlu diberitahu tentang kematian almarhum? Dan sebagainya. Kita akan mengesampingkan aspek-aspek praktis dan mencurahkan perhatian kita pada aspek hukum dari penutupan.
Ketika melakukan penutupan atas suatu harta peninggalan, para ahli waris sering meminta bantuan kepada notaris hukum perdata. Tergantung pada apa yang para ahli waris inginkan, notaris dapat bertanggung jawab atas keseluruhan pembubaran atau hanya sebagian dari itu.
Ahli waris Herman segera meminta bantuan notaris. Notaris mengamati bahwa ternyata Herman adalah pengelola harta Robin; lihat Bagian 1.8 di depan. Peran Herman sebagai pengelola berakhir dengan kematiannya (Pasal 1:448 (1) BW).
Pengadilan tingkat kecamatan diminta untuk menunjuk Ruben selaku pengelola harta Robin menggantikan tempat Herman, sehingga Ruben dapat mewakili Robin dalam pembagian harta warisan (di bawah pengawasan pengadilan tingkat kecamatan; Pasal 1:441 (2a) BW).
2.8.2. Kepastian menyangkut hak mewarisi
Dalam rangka penutupan harta peninggalan, penting untuk menetapkan siapakah para ahli waris yang terkait. Ini akan tergantung pada apakah ada atau tidak wasiat, dan jika ada, apakah wasiat tersebut berangkat dari aturan tentang hak mewarisi tanpa wasiat.
Setelah pemakaman Herman, Ruben pergi menemui notaris. Notaris kemudian melakukan pencaritahuan di kantor Pencatatan Pusat Wasiat (CTR – Centraal Testamentenregister), di mana semua surat wasiat yang dibuat di Belanda terdaftar. Notaris dapat melihat apakah ada wasiat dan di kantor notaris mana wasiat itu dapat ditemukan.
Notaris tersebut dapat mengambil informasi tentang wasiat itu secara digital. Ketika data diunggah secara digital melalui internet, Asosiasi Notaris Kerajaan, pengelola atau administrator dari CTR, menjamin bahwa waktu pemrosesan paling lama akan menghabiskan satu hari kerja. Hal ini berlaku juga baik untuk pendaftaran maupun pencaritahuan. Ini adalah salah satu faktor yang membuat sistem pendaftaran Belanda praktis “kedap air” (luput dari kesalahan) – tidak seperti sistem di banyak negara lain.
Dengan cara ini wasiat Herman ditemukan. Wasiat ini tidak berangkat dari prinsip hak mewarisi tanpa wasiat. Pencaritahuan di kantor pencatatan kelahiran, kematian dan perkawinan di Tynaarlo telah mengungkapkan bahwa Herman telah meninggalkan tiga anak. Secara hukum (Pasal 4:10 (1) BW) seorang pasangan (atau seorang pasangan dari kehidupan bersama yang terdaftar) yang secara hukum tidak
dipisahkan ditambah dengan anak-anak adalah ahli waris dari suatu harta peninggalan. Jika ada pasangan (atau pasangan hidup terdaftar) maka hanya anak-anak Herman-lah yang menjadi ahli waris, di luar itu tidak ada.
Wasiat Herman berisi sebuah klausul pengecualian (Pasal 1:94 (1) BW). Klausul ini memastikan bahwa apa yang diwarisi oleh para ahli waris tetaplah merupakan milik pribadi. Setiap pasangan yang mungkin dipunyai penerima manfaat tidak akan pernah bisa memiliki klaim (berdasarkan hukum tentang harta benda dalam perkawinan) terhadap harta warisan (bdk. Bagian 1.6.3.2).
Satu pertanyaan yang notaris akan ajukan kepada para ahli waris adalah pilihan mana yang mereka inginkan untuk mereka jalani sebagai ahli waris.
2.8.3. Tiga pilihan
Ahli waris memiliki tiga pilihan tentang warisan yang menjadi hak mereka. Mereka bisa: 1) menerimanya tanpa syarat; 2) menerimanya sesuai dengan persediaan; atau 3) melepaskannya (lihat Pasal 4:190 BW). Setelah dibuat, pilihan memiliki sifat final; seorang ahli waris tidak dapat mencabutnya lagi. Informasi yang disediakan oleh notaris memainkan peran penting.
Prosedur dengan mana pilihan tersebut dibuat tidak sama untuk tiga pilihan tersebut. Namun demikian, tidak peduli pilihan mana yang dibuat, seorang ahli waris dapat mengajukan sebuah pernyataan di panitera pengadilan negeri; lihat Pasal 4:191 BW. Dalam kasus Herman, pengadilan yang dimaksud adalah Pengadilan Negeri Assen.
Penting untuk mengetahui bahwa pilihan yang paling umum – penerimaan tanpa syarat – bisa tersirat dalam tindakan ahli waris itu; lihat Pasal 4:192 (1) BW.
1. Penerimaan tanpa syarat
Seorang ahli waris yang menerima warisan tanpa syarat mewarisi almarhum tanpa ada pembatasan apa pun. Respon ahli waris ini terhadap pewarisan seperti ini adalah sepenuh hati “Ya”. Konsekuensi yang paling penting dari penerimaan tanpa syarat dapat ditemukan dalam Pasal 4:184 (2a) BW. Pasal ini mengatur bahwa jika ahli waris tidak dapat membayar para kreditur harta peninggalan dengan uang yang didapatkan dari aset harta peninggalan, mereka harus melakukannya dari aset mereka sendiri.
Contoh. Herman menunjuk Ruben dan Janneke sebagai ahli warisnya, dan hanya mereka berdua. Mereka berdua menerima warisan
dari ayah mereka tanpa syarat. Ternyata Herman tidak meninggalkan sesuatu yang berharga, tetapi telah meninggalkan utang untuk toko serba ada Wehkamp yang on-line sebesar EUR 20.000. Sebagai ahli waris, Ruben dan Janneke tidak menerima sesuatu dari harta peninggalan Herman (karena dia tidak memiliki apa pun), tetapi mereka harus membayar utang untuk toko Wehkamp masing-masing sebesar EUR 10.000 dari aset pribadi mereka sendiri.
2. Penerimaan yang tunduk pada persediaan
Pilihan ini juga disebut sebagai penerimaan berdasarkan manfaat dari persediaan yang ada. Dengan menerima persyaratan ini ahli waris dapat menghindar dari kemungkinan harus membayar utang-utang dari warisan dengan menggunakan aset pribadi mereka sendiri. Mereka menjadi ahli waris, tapi “dengan aman”. Tanggapan mereka terhadap hak mewarisi adalah “Ya, tetapi ...”. Mereka hanya perlu membayar utang yang tidak melampaui nilai dari warisan; dengan kata lain, mereka tidak perlu membayar kekurangan atau defisit dengan menggunakan aset mereka sendiri.
Para ahli waris bersama-sama bertanggung jawab atas penutupan dari warisan.
Contoh. Herman meninggal tanpa membuat surat wasiat. Ternyata neraca untung rugi harta peninggalan Herman jelas positif. Tampaknya ada pilihan yang jelas bagi anak-anak untuk menerima warisan tanpa syarat. Namun, ada halangan. Aset Robin telah ditempatkan di bawah pengelolaan dan pada prinsipnya hukum mewajibkan Ruben, sebagai pengelola, untuk menerima warisan atas nama Robin yang tunduk pada persediaan (Pasal 1:441 (5) BW). Menurut aturan dasar, harta peninggalan kemudian harus ditutup sesuai dengan “penyelesaian secara hukum” (Bagian 4.6.3, Pasal 4:202 dst. BW).
3. Penolakan
Seorang ahli waris yang tidak ingin menjadi ahli waris harus melepaskan warisan. Respon ahli waris ini terhadap pewarisan adalah: “Tidak!”. Setelah membuat pilihan ini, ia dianggap tidak pernah menjadi ahli waris. Pilihan ini memiliki efek retroaktif, sebagaimana diperjelas oleh Pasal 4:190 (4) BW.
Ingatlah bahwa sebuah penolakan atau pelepasan warisan dapat menghasilkan adanya warisan dengan perwakilan.
Contoh. Herman meninggal tanpa membuat surat wasiat. Ruben memutuskan untuk melepaskan warisan ayahnya. Dia memiliki tiga anak
kandung. Karena Ruben telah melepaskan warisan, maka anak-anaknya akan mewarisi dengan perwakilan.
Misalkan baik Ruben maupun Janneke sama-sama menolak warisan dan bahwa semua anak-anak mereka juga melepaskannya. Dalam hal itu, Robin akan menjadi ahli waris tunggal. Jika Ruben juga menolak warisan atas nama Robin [lihat di atas: Ruben menjadi pengelola/aministrator hara warisan Robin] dan tidak ada keturunan lebih lanjut dari Robin, maka warisan akan jatuh ke tangan orang tua Herman dan saudara-saudari mereka. Lihat Pasal 4:10 BW.
2.8.4. Sertifikat pewarisan dan otorisasi
Sekarang ahli waris dan notaris hukum perdata tahu siapa yang berhak atas warisan, tetapi bagaimana informasi disampaikan kepada pihak ketiga? Dengan kata lain: bagaimana ahli waris membuktikan bahwa mereka adalah ahli waris? Di sinilah sertifikat pewarisan masuk.
Sertifikat warisan adalah sebuah akta yang disusun oleh notaris hukum perdata; lihat Pasal 4:188 BW. Akta ini menjelaskan siapa ahli waris dan siapa yang berwenang untuk menutup harta peninggalan. Bank-bank khususnya akan meminta sertifikat warisan sebelum memproses perintah pembayaran untuk para ahli waris atau membuka brankas.
Janneke ingin menyerahkan masalah penutupan harta peninggalan Herman kepada Ruben. Di kantor notaris, Ruben diberi kewenangan tersebut yang ditandatangani oleh Janneke. Notaris menyusun sertifikat warisan yang menyatakan antara lain bahwa Ruben adalah orang yang akan bertanggung jawab atas penutupan likuidasi dari harta peninggalan yang bersangkutan.
Notaris yang terlibat memasukkan namanya di kantor pencatatan pewarisan (Pasal 4:186 (2) BW). Berdasarkan ketentuan perundang-undangan, catatan disimpan di kantor pencatatan publik tentang pewarisan ini, yang dikelola oleh panitera dari pengadilan negeri, fakta yang mungkin relevan dengan status hukum dari harta warisan orang yang meninggal. Pilihan penerimaan yang tunduk pada persediaan juga didaftar di kantor pencatatan pewarisan (Pasal 4:191 (1) BW).
Pencatatan tentang pewarisan dimaksudkan untuk pihak ketiga yang berkepentingan. Mereka dapat menemukan rincian di sana seperti nama notaris yang menangani suatu harta peninggalan. Notaris ini mungkin, misalnya, bisa memberikan informasi kepada para kreditur Herman tentang warisan, asalkan hal ini tidak melanggar kewajibannya untuk menjaga kerahasiaan.
Dalam praktiknya, bekerja dengan otorisasi (seperti otorisasi yang Janneke berikan kepada Ruben; juga disebut kuasa hukum) membuat
penutupan harta peninggalan menjadi jauh lebih mudah. Bayangkan bahwa sebagai notaris Anda harus menutup sebuah warisan di mana enam puluh ahli waris berhak atas bagiannya masing-masing. Bagaimana rasanya harus meminta tanda tangan dari keenam-puluh ahli waris itu untuk setiap hal yang sangat kecil? Ini akan membuat pekerjaan praktis tidak mungkin, tapi karena pada prinsipnya semua ahli waris memiliki hak yang sama, itulah yang menjadi titik tolak proses selanjutnya. Sebagai sebuah aturan banyak ahli waris (mudah-mudahan 59 dalam kasus ini) dengan senang hati memberikan kewenangan kepada satu ahli waris atau kepada notaris, sehingga orang yang diberi kewenangan itu kemudian dapat melanjutkan proses penutupan harta peninggalan tersebut. Hal ini dilakukan atas nama mereka yang memberikan otoritas (apa yang diputuskan dan dilakukan oleh orang yang diberi kewenangan itu mengikat mereka semua).
Sekarang kenyataannya Herman telah meninggal, klaim keuangan yang terkait dengan warisan dari Annelies dan Margriet jatuh tempo dan dapat dibayarkan berupa uang. Anak-anak Herman kini dapat memperoleh klaim mereka segera (mereka adalah sekaligus kreditur dan debitur). Anak-anak Margriet harus beralih ke anak-anak Herman untuk mendapatkan uang mereka.
Namun, anak-anak Margriet juga memiliki hak diskresioner mereka sendiri – hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4:22 BW. Joris dan Huib-Jan tidak hanya memiliki klaim keuangan; selain uang mereka juga bisa mengklaim item dari harta peninggalan ibu mereka, untuk mencegah barang-barang tersebut beralih ke tangan keluarga tiri [dalam hal ini anak-anak Herman dari istrinya Annelies].