1.4. Peraturan-peraturan tentang tinggal bersama tanpa nikah (kohabitasi)
1.6.3. Hukum harta perkawinan
1.6.3.3. Perjanjian pranikah
Notaris hukum perdata menjelaskan bahwa Herman dan Annelies tidak selalu terikat pada harta bersama umum. Untuk berbagai alasan kadang-kadang bijaksana untuk menyepakati agar sedikit menyimpang dari ketentuan perundang-undangan.
Anggaplah bahwa Herman dan Annelies menikah di bawah ketentuan harta bersama yang umum dan Herman mendirikan sebuah perusahaan. Jika Herman bangkrut, maka kreditur dapat mengupayakan perolehan kembali dari keseluruhan harta bersama dan dari setiap aset pribadi yang mungkin Herman miliki (lihat di atas). Jika perjanjian pranikah mengecualikan setiap harta bersama, maka kreditur hanya dapat memulihkan utang mereka dari aset pribadi Herman, dan aset pasangan lainnya tidak akan terpengaruh.
Kadang-kadang para calon pasangan ingin membuat aset mereka terpisah karena salah satu dari mereka secara signifikan memiliki aset lebih dari yang lain dan rasanya tidak benar jika aset dari kedua pasangan itu digabung. Ini mungkin terjadi, misalnya, ketika salah satu dari pasangan itu memiliki kekayaan keluarga (yang tidak tunduk pada
klausul pengecualian) yang harus tetap tinggal dalam atau menjadi milik keluarga. Perlindungan aset bisnis seorang pasangan yang merupakan seorang pengusaha dari klaim pasangannya dalam hal terjadi perceraian juga dapat menjadi motif dari pemisahan aset.
Para pasangan bebas untuk mengatur apa pun yang mereka suka dalam perjanjian pranikah, asalkan persayaratan-persyaratannya tidak melanggar ketentuan perundang-undangan yang bersifat mengikat, kesusilaan umum atau ketertiban umum (Pasal 1:121 (1) BW). Sebuah perjanjian pranikah hanya bisa menjadi sah secara hukum dalam bentuk akta notaris (Pasal 1:115 BW). Akta ini harus tercatat dalam daftar harta perkawinan di pengadilan yang wilayah jurisdiksinya telah menjadi tempat dilangsungkannya janji perkawinan, sehingga pihak ketiga (kreditur) selalu dapat melihat rezim harta perkawinan yang mana yang berlaku. Perjanjian pranikah berlaku dalam kaitannya dengan pihak ketiga segera setelah ia terdaftar (Pasal 1:116 BW).
Dimungkinkan untuk membuat perjanjian pranikah dan pascanikah sekaligus (Pasal 1:114 BW). Dalam kasus perjanjian pascanikah, harta bersama – yang terbentuk ketika perkawinan tersebut dilangsungkan dan diakhiri oleh perjanjian pascanikah – harus dibagi. Konsekuensi dari penyelenggaraan upacara atau pengucapan janji perkawinan tidak dapat dibatalkan tanpa penundaan lebih lanjut, karena kepemilikan bersama atas harta kekayaan telah dibuat. “Mengembalikan” harta mungkin mensyaratkan adanya pelimpahan hibah dalam arti hukum. Persetujuan pengadilan kini tidak lagi diperlukan untuk membuat perjanjian pascanikah atau untuk mengubah atau menghentikan perjanjian pranikah atau pascanikah.
Penjelasan di atas memperjelas bahwa sangat penting bagi calon pasangan untuk memperoleh informasi yang memadai sebelum mereka menikah dan untuk membuat pilihan yang telah dipertimbangkan secara baik berdasarkan konsultasi dengan notaris hukum perdata.
Sebuah keputusan dalam kasus terkenal yang dikenal sebagai “kasus perjanjian pranikah Groningen” memperjelas bahwa di masa lalu notaris hukum perdata tidak selalu memberikan informasi yang memadai. Seorang notaris hukum perdata yang berada dalam kesulitan keuangan berkonsultasi dengan sesama notaris. Notaris miskin punya istri kaya. Rekan notarisnya itu menasihatinya untuk mengakhiri perjanjian pranikah antara dirinya dan istrinya, sehingga akan ada cukup uang untuk membayar para kreditur. Tanpa membiarkan istri temannya itu tahu mengapa perjanjian pranikah itu akan dihentikan, setelah mendapatkan persetujuan pengadilan, rekan notaris hukum perdata tersebut menyusun akta yang mengakhiri perjanjian pranikah tersebut.
berakhir beberapa tahun kemudian, ternyata praktis tidak ada yang tersisa sedikit pun dari harta istrinya. Sang istri menuduh sang rekan notaris yang telah membantu suaminya (sesama notaris) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kerugian yang dideritanya. Mahkamah Agung Belanda memutuskan bahwa notaris hukum perdata memiliki tugas untuk menghindari ketidaktahuan hukum dan mencegah adanya posisi dominasi dari salah satu pihak. Sekadar menyatakan substansi atau isi dari sebuah akta tidaklah cukup. Dalam hal ini, sang rekan notaris itu telah jelas-jelas gagal menjalankan kewajibannya.
Kepemilikan bersama yang terbatas atas harta kekayaan
Perjanjian pranikah dapat dibuat dalam berbagai cara yang berbeda. Biasanya, yang menjadi titik tolak adalah “pengecualian dari kepemilikan bersama atas harta kekayaan yang ditentukan hukum”. Namun, juga dimungkinkan untuk mempertahankan kepemilikan bersama atas harta kekayaan, dengan mengecualikan sejumlah barang, seperti harta bawaan sebelum masuk ke dalam perkawinan, aset bisnis, atau hibah dan warisan yang mungkin telah diterima atau diperoleh para pasangan. Berdasarkan jenis perjanjian ini, “kepemilikan bersama yang terbatas atas harta kekayaan” mengambil alih kepemilikan bersama atas harta kekayaan yang ditentukan hukum.
Dalam praktiknya, tempat tinggal dan isinya sering kali merupakan harta bersama, sedangkan sisa asetnya dikecualikan dari kepemilikan bersama. Sampai belum lama ini,dua kepemilikan bersama terbatas yang khusus atas harta kekayaan bisa dimasukkan juga sebagai rezim perkawinan dalam Pasal128 ke dalam Pasal 1:122BW: kepemilikan bersama atas laba dan rugi dan kepemilikan bersama atas bunga dan pendapatan. Ketika ketentuan yang berkaitan dengan kepemilikan bersama yang umum atas harta kekayaan telah diubah baru-baru ini, peraturan ini pun berakhir.
“Pengecualian yang dingin”
Profesi notaris telah mengembangkan modelnya sendiri tentang perjanjian pranikah. Sama seperti surat wasiat, perjanjian pranikah harus dibuat sesuai dengan masing-masing klien.
Pada masa lalu (pada 1950-an, tetapi juga bahkan kemudian) perjanjian pranikah dibuat terutama oleh calon pasangan ketika salah satu dari keduanya mepunyai bisnis. Perjanjian pranikah mereka kemudian akan mengecualikan setiap kepemilikan bersama atas harta kekayaan. Terlepas dari hal itu, perjanjian pranikah seperti itu mengandung hanya sedikit ketentuan lain. Perjanjian-perjanjian ini dirujuk oleh istilah Belanda
dengan terjemahan secara harfiah sebagai “pengecualian yang dingin”. Jika perkawinan itu berakhir melalui perceraian setelah beberapa tahun, situasi tidak adil timbul yaitu bahwa si pengusaha (biasanya pria) telah mengumpulkan banyak harta sementara pasangannya, yang telah memelihara anak-anak, ditinggalkan dengan tangan kosong. Apalagi seiring jumlah perceraian meningkat selama bertahun-tahun, orang mulai bertanya-tanya apakah masih dapat diterima untuk memasukkan ketentuan tentang “pengecualian yang dingin” ke dalam perjanjian pranikah.
Setelah menerima begitu banyak kritik dari praktisi hukum dan para pemikir dalam pelbagai literatur, pengecualian yang dingin kini hanya dianjurkan dalam kasus khusus. Biasanya perjanjian pranikah sekarang dilengkapi dengan klausul penyelesaian berkala dan/atau penyelesaian akhir (lihat di bawah).
Klausul penyelesaian Amsterdam
Titik tolak dalam kebanyakan perjanjian pranikah adalah “pengecualian kepemilikan bersama atas harta kekayaan”. Sebagaimana telah kita lihat, pengecualian kepemilikan bersama atas harta kekayaan itu sendiri dapat mengakibatkan ketidakadilan. Sering kali perjanjian pranikah – khususnya dalam perkawinan pertama – mencakupi apa yang dikenal sebagai “klausul penyelesaian Amsterdam”.
Klausul penyelesaian Amsterdam adalah sebuah klausul penyelesaian berkala. Atas dasar klausul penyelesaian ini, sisa pendapatan apa pun (pendapatan yang belum dibelanja-habiskan) secara periodik terbagi ke dalam bagian-bagian yang sama. Dengan cara ini, kedua pasangan mendapat manfaat yang sama dari pendapatan yang diperoleh selama perkawinan. Klausul penyelesaian Amsterdam benar-benar adil untuk gagasan bahwa selama perkawinan pendapatan yang diperoleh oleh para pasangan harus memberikan manfaat bagi keduanya secara sama. Apa yang dimaksud dengan pendapatan harus secara hati-hati didefinisikan dalam perjanjian pranikah. Bisa dibayangkan bahwa para pasangan memilih untuk memasukkan semua pendapatan yang berasal dari pekerjaan mereka, tapi bukan penghasilan yang berasal dari aset.
Kelemahan dari klausul penyelesaian Amsterdam adalah bahwa dalam praktiknya para pasangan tidak benar-benar membagi pendapatan mereka ke dalam bagian-bagian yang sama. Kemudian jika perceraian terjadi, mereka harus mencari tahu apa yang terjadi dengan pendapatan mereka agar bisa membaginya secara merata pada saat itu. Dalam kebanyakan kasus, hampir mustahil untuk melakukan hal ini.
telah dimasukkan ke dalam hukum, sehingga lebih jelas bagaimana mantan pasangan harus mengambil langkah-langkah yang perlu (Pasal 1:132 BW dst.). Undang-undang ini diperkenalkan dalam rangka tahap kedua dari aturan-aturan yang baru untuk hukum tentang harta perkawinan (Undang-Undang (Aturan) tentang Ketentuan Penyelesaian).
Klausul penyelesaian akhir
Sering kali perjanjian pranikah memasukkan klausul penyelesaian akhir. Dengan klausul penyelesaian akhir, para pasangan berusaha – misalnya – untuk membagi aset mereka di antara mereka sendiri pada akhir perkawinan seolah-olah ada sebuah kepemilikan bersama atas harta kekayaan. Dengan cara ini, para pasangan mendapat manfaat dari perlindungan eksternal dari kemungkinan di mana para kreditur harus memulihkan utang mereka, tetapi secara internal mereka membagi aset mereka dengan cara yang sama seperti dengan harta bersama. Sering kali sebuah ketentuan dimasukkan yang menyatakan bahwa penyelesaian akhir ini hanya akan berlaku jika perkawinan akan berakhir melalui kematian.
Klausul penyelesaian akhir juga sering dikombinasikan dengan klausul penyelesaian berkala. Jika pasangan gagal mematuhi klausul penyelesaian berkala selama perkawinan, klausul penyelesaian akhir menjamin bahwa penyelesaian akhir masih relatif sederhana.
Biasanya hibah dan warisan dikecualikan dari penyelesaian akhir. Pasal 1:142 dan 1:143 BW berkaitan dengan pelaksanaan klausul penyelesaian pada akhir perkawinan.
Setelah pertimbangan yang cermat, Herman dan Annelies memutuskan untuk tidak membuat perjanjian pranikah. Tak satu pun dari mereka memiliki jiwa kewirausahaan dan mereka melihat tidak ada alasan apa pun untuk memisah-misahkan aset mereka.