• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun kapasitas masyarakat adat untuk menerapkan pengelolaan hutan secara lestari disadari tidaklah mudah. Strategi yang telah diuraikan di

3.3 Potret Kesiapan IUPHHK-MHA Dalam Implementasi SVLK (5 Studi Kasus)40

3.3.3 Peran dan Dukungan Multipihak

IUPHHK-MHA, sejak awal perjalananya ada komitmen atau kesepakatan diantara para pemangku kepentingan dalam pengelolaan hutan yang lestari, untuk menjadikan Koperasi/Kopermas pemegang izin IUPHHK-MHA sebagai contoh pengelolaan yang lestari oleh Mayarakat Adat di Papua. Beberapa pihak yang selama ini memiliki peran dalam mendukung IUPHHK-MHA adalah :

a. Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua dan Dinas Kehutanan Kabupaten

Dinas Kehutanan Provinsi Papua dan Dinas Kehutanan di beberapa Kabupaten seperti Kabupaten Jayapura, Nabire dan Kabupaten Kepulauan Yapen sangat antusias dengan pengelolaan hutan oleh masyarakat bahkan memberikan dorongan agar masyarakat juga mendapat akses untuk mengelola hutan. Hal ini dibuktikan dengan beberapa kebijakan daerah yang secara hukum memberikan hak pengelolaan juga kepada masyarakat.

Selain kebijakan daerah, Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua telah memfasilitasi beberapa koperasi di Papua dengan memberikan beberapa unit portable sawmill merek Lucasmill serta masing-masing kelompok diberikan 1 (satu) unit chainsaw dan sejumlah dana sebagai modal kerja. Selain itu, demi meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dari pengurus Koperasi/KSU sebagai pemegang izin IUPHHK-MHA, Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua bekerjasama dengan BPPHP Wilayah XVII Papua mengadakan pelatihan Ganis Kehutanan dan memberikan sertifikat kepada peserta latih yang berasal dari masyarakat adat maupun yang berasal dari perusahaan-perusahaan di Papua. Dalam rangka peningkatan Ganis dan Wasganis, Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua masih terus merencanakan pelatihan Ganis dan Waganis kehutanan untuk tahun-tahun yang akan datang. Langkah ini diambil sebagai tanggung jawab pemerintah untuk memenuhi kecukupan Ganis dan Wasganis pada pemegang izin IUPHHK-MHA di Papua.

Untuk menambah wawasan dalam pengelolaan hutan lestari, pada bulan Desember 2011, Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua juga telah memfasilitasi perkunjungan anggota pengurus Koperasi pengelola hutan adat di Papua ke Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) di Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam kunjungan terjsebut, peserta diarahkan untuk mempelajari proses pendampingan yang dilakukan oleh LSM pendamping dan apa saja yang telah dilakukan oleh anggota koperasi dalam mengelola hutan tanaman lestari di Konawe Selatan. Selain sistem pengelolaan lestari yang telah dilakukan, juga peserta diarahkan untuk mempelajari proses pengolahan kayu jati di industri milik koperasi.

b. Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Papua

memberikan dukungan baik moril dan materil bagi kopermas ini. Dari segi kebijakan yang lahir adalah dengan mengacu pada Keputusan Menteri Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia sesuai SK Menkop PKM No 014/BH/KDK.26.1/I/1999 tanggal 07 Januari 1999 tentang Pengesahan Akte Pendirian Koperasi.

Sebagai konsekuensi dengan keluarnya keputusan menteri tersebut, Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah membangun program-program pembinaan bagi kopermas-kopermas termasuk beberapa Kopermas/KSU sebagai pemegang izin. Namun belum ada dukungan materiil, seperti yang sudah diberikan oleh Dinas Koperasi UKM kepada koperasi-koperasi yang akan menjadi model, sampai dengan saat ini. Belum ada kegiatan pelatihan manajemen koperasi yang diberikan oleh Dinas Koperasi kepada pengurus KSU/Kopermas sebagai pemegang izin IUPHHK-MHA.

Akan tetapi pada tahun 2003, Dinas Koperasi Provinsi pernah memberikan sejumlah peralatan dan modal kerja kepada beberapa Kopermas di Papua, diantaranya beberapa unit portable sawmill merek Peterson kepada beberapa kelompok Kopermas yang disertai masing-masing 1 (satu) unit chainsaw dan sejumlah uang sebagai modal kerja. Pada tahun yang sama, Dinas Koperasi PKM Provinsi Papua juga mendanai suatu proses belajar dengan mengadakan perkunjungan ke beberapa site di Papua New Guinea yang telah memiliki sertifikat Ecolabel yang diterbitkan oleh FSC, untuk menambah wawasan dari para pengurus Kopermas.

c. Balai Sertifikasi Penguji Hasil Hutan (BSPHH) Wilayah XVII Papua Keberadaan Balai Sertifikasi Penguji Hasil Hutan (BSPHH) Wilayah XVII Papua sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan Departemen Kehutanan di daerah penting untuk melaksanakan Sertifikasi Personel Penguji dan Pengawas Penguji Hasil Hutan, Penilaian Sarana dan Metode Pengujian Hasil Hutan, penerapan PHPL serta pengembangan Sistem Informasi Hasil Hutan atau secara garis besar disebutkan sebagai pengembangan profesionalisme Penguji Hasil Hutan dan Pengawas Penguji Hasil Hutan serta penerapan Sistem PHPL.

Terkait dengan perannya tersebut, maka BSPHH wilayah XVII Papua terlibat dalam pemberian materi pada pelatihan Pengelolaan Hutan Lestari. Konkritnya instansi ini melatih masyarakat adat pemilik ulayat sebagai pemegang izin IUPHHK-MHA agar dapat mengukur kubikasi kayu secara tepat, baik berupa volume kayu log, maupun volume kayu gergajian. Hal ini dilakukan sebab pengetahuan ini merupakan suatu kebutuhan yang sangat diperlukan oleh masyarakat agar dapat mengetahui kubikasi kayu dan bila dikonversi dengan nilai uang berapa nilai uang yang dapat mereka terima.

terutama pemegang IUPHHK-MHA merupakan suatu syarat keharusan untuk setiap unit manajemen agar tujuan pengelolaan hutan lestari dapat terwujud. Oleh sebab itu, pada beberapa kegiatan pada beberapa tahun lalu, BPPHP bersama dengan Dinas Kehutanan dan Konservasi Papua dan WWF Indonesia, telah mengadakan beberapa pelatihan ganis untuk mendapatkan keahlian dalam berbagai bidang yang dibutuhkan dalam pemenuhan ganis pada beberapa pengurus kopermas/KSU sebagai pemegang IUPHHK-MHA di Papua.

d. Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah X Papua

Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah X Papua juga berperan aktif dalam mendukung dan mendorong kebijakan Pemerintah Provinsi Papua dalam upaya pengelolaan hutan lestari bersama masyarakat adat Papua. Sebagai bukti komitmennya, BPKH wilayah X Papua telah terlibat dalam beberapa kegiatan pelatihan manajemen hutan lestari di areal konsesi pemegang izin IUPHHK-MHA, seperti yang dilakukan di areal konsesi KSU Lwagubin Srem. Konkritnya ada beberapa staf BPKH wilayah X Papua yang dilibatkan, baik dengan mengirim stafnya untuk melatih masyarakat tentang teknik penggunaan peralatan survey, dan juga terlibat kegiatan tata batas. Karena kepastian kawasan bagi pemegang IUPHHK-MHA sangatlah perlu untuk menjamin pengelolaan hutan lestari kedepan.

Dalam pekerjaan-pekerjaan kartografis juga BPKH wilayah X Papua terlibat, dan akan terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan pemetaan partisipatif ke depan, terutama yang berkaitan dengan pemetaan tanah adat pada beberapa kelompok masyarakat adat pemegang izin IUPHHK-MHA. Pada tahun 2002-2004, BPKH Wilayah X Papua telah terlibat aktif bersama beberapa LSM di Papua dalam beberapa kegiatan pemetaan partisipatif tanah-tanah adat dari beberapa kelompok masyarakat adat di Papua.

e. Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Manokwari

Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Manokwari memiliki komitmen yang besar dalam mendukung dijadikannya KSU Lwagubin Srem sebagai contoh pengelolaan hutan produksi lestari di Papua. BPK Manokwari selalu terlibat dalam kegiatan pendampingan selama ini yang dilakukan oleh pt. PPMA sebagai pendamping masyarakat adat suku besar Orya di Distrik Unurum Guay, baik dalam kegiatan pengkajian maupun pelatihan yang diadakan oleh pt.PPMA Papua. Hal ini sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari BPK adalah melakukan pengkajian-pengkajian di bidang kehutanan.

Untuk mewujudkan pengelolaan hutan produksi lestari di Papua, khususnya di KSU Lwagubin Srem, BPK Manokwari dan Fahutan UNIPA serta Dinas Kehutanan Kabupaten Jayapura merupakan mitra

strategis yang akan terlibat dalam proses sertifikasi kedepan. Sebagai wujud komitmen antar para pihak yang terlibat maka akan dibangun kerjasama pengelolaan hutan multipihak.

f. Universitas Negeri Papua – Manokwari

Universitas Negeri Papua (UNIPA) sebagai salah satu Perguruan Tinggi yang memiliki Fakultas Kehutanan di Papua juga terlibat dalam mendukung proses pengelolaan hutan lestari bersama masyarakat adat di Papua. Sebagaimana BPK Manokwari, UNIPA juga berperan sebagai lembaga ilmiah yang akan telibat dalam mendorong proses sertifikasi pada unit-unit manajemen IUPHHK-MHA di Papua.

Sebagai bukti nyata dan komitmennya, staf-staf Unipa sering terlibat dalam pelatihan-pelatihan yang difasilitasi oleh pt.PPMA, WWF Indonesia, maupun lembaga lain terutama dalam hal pengelolaan hutan alam produksi lestari. Dalam membangun sistem dan kajian-kajian ilmiah tentang model pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat adat di Papua, Fahutan UNIPA akan terlibat bersama beberapa pemangku kepentingan yang lain.

g. Masyarakat Adat (Lembaga Musyawarah Adat)

Sebagai pemilik atas hutan-hutan secara adat, terutama masyarakat adat yang mempunyai hak adat yang terdapat dalam areal yang mendapat izin pengelolaan dari Gubernur Papua, beberapa koperasi sebagai pemegang izin IUPHHK-MHA juga mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan karena menurut mereka hutan harus tetap ada agar mereka dapat berburu, dapat mengambil bahan bangunan dan juga dapat memperoleh nilai ekonomi dari hasil kayu dan hasil hutan bukan kayu yang dapat dijual.

h. Lembaga Swadaya Masyarakat

Lembaga-lembaga non pemerintah seperti LSM, khususnya yang bergerak dalam bidang lingkungan dan penguatan kapasitas masyarakat adat dan pengembangan ekonomi rakyat telah terlibat dan memiliki komitmen untuk mendorong pengelolaan hutan secara berkelanjutan di Papua. Untuk menambah wawasan bahwa pengelolaan hutan lestari dapat dilakukan oleh masyarakat adat maka telah diadakan kunjungan ke negara tetangga Papua New Guinea (PNG) untuk melihat dari dekat bagaimana praktek-praktek pengelolaan hutan oleh masyarakat adat yang dilakukan di PNG yang mengarah ke sertifikasi hutan dengan menggunakan sistem sertifikasi yang dikembangkan oleh FSC. Kunjungan ini difasilitasi oleh Forum Ecoforestry Papua (baru diinisiasi pada saat itu yang terdiri dari beberapa LSM, seperti WWF Indonesia Region Sahul Papua, YPPWP, pt.PPMA Papua, MFP-DFID) bekerjasama dengan Papua New Guinea

Eco-Forestry Forum. Sharing pengalaman dengan melakukan kunjungan silang, walaupun cukup mahal, tetapi ini merupakan sarana belajar yang sangat efektif untuk menumbuhkan etos kerja yang baik. Terlebih dari itu, ini berguna untuk media belajar yang efektif dan membuka wawasan bagi pemegang izin IUPHHK-MHA di Papua dalam hal pengelolaan hutan lestari.

Peran utama yang dimainkan oleh LSM adalah memfasilitasi dan memediasi antara Kopermas/koperasi KSU dan Pihak Pemerintah dan pelaku pasar. Demikian juga secara bersama-sama dengan Pemerintah Daerah dan DPRP akan mendorong lahirnya kebijakan daerah yang mengakomodir pengelolaan hutan secara lestari oleh masyarakat adat di Papua. Saat ini peran LSM cukup besar dalam mendorong proses-proses pengelolaan hutan lestari di Papua. WWF Indonesia Regio Papua bersama Dinas Kehutanan dan Konservasi Papua serta UPT Kementerian Kehutanan terkait, seperti BPPHP wilayah XVII Papua, BPKH Wilayah X Papua, dalam mendorong pelatihan-pelatihan dan pendampingan kepada kelompok masyarakat adat Papua sebagai pengelola Kopermas/KSU dalam meningkatkan SDM mereka sebagai Ganis kehutanan.

Demikian halnya dengan beberapa LSM lain, seperti pt.PPMA Papua yang mengorganisir dan menginisiasi terbentuknya beberapa koperasi masyarakat adat sebagai dengan mendorong pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan di wilayah/teritori adat mereka masing-masing. Pintu masuk yang ditempuh adalah melalui kegiatan pemetaan partisipatif tanah adat dari kelompok masyarakat adat Papua dan dilanjutkan dengan kegiatan perencanaan wilayah adat dan dilanjutkan dengan inventarisasi potensi partisipatif dalam wilayah kelola masyarakat adat. Dan satu hal pokok yang dilakukan adalah proses pengorganisasian masyarakat adat Papua pada beberapa kelompok masyarakat pengelola Kopermas/KSU dalam melakukan reorientasi pengelolaan sumberdaya alam agar berorientasi kepada asas-asas keberlanjutan (sustainability).