Membangun kapasitas masyarakat adat untuk menerapkan pengelolaan hutan secara lestari disadari tidaklah mudah. Strategi yang telah diuraikan di
3.2 Permasalahan Dalam Pengelolaan Hutan dan Penerapan SVLK di Papua
3.2.1 Permasalahan Terkait Harmonisasi Kebijakan
Dalam bab sebelumnya telah dijelaskan bagaimana situasi terkini pengelolaan hutan di Provinsi Papua dalam rangka implementasi Undang-Undang No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Dimana terdapat sejumlah peraturan daerah khusus dan juga peraturan gubernur berkaitan dengan pengelolaan hutan Papua. Semangat dari Perdasus dan beberapa Peraturan Gubernur tersebut adalah menata pengelolaan hutan di Provinsi Papua untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua khususnya masyarakat hukum adat, menghormati dan menghargai hak-hak masyarakat hukum adat atas sumber daya alam, keberpihakan, perlindungan dan pemberdayaan masyarakat hukum adat guna mencapai kesejahteraan dan kemandirian.
Sebagai peraturan dan kebijakan yang bersifat khusus sudah tentu ada hal-hal yang sesuai dengan kebijakan nasional tetapi tentu juga tidak bisa dihindari beberapa perbedaan sebagai implikasi dari sifat khusus tersebut yang menyebabkan ketidakhamonisan kebijakan. Hal ini disebabkan karena Departemen Kehutanan Republik Indonesia masih tetap berprinsip bahwa untuk Tata Kepengurusan Hutan di Indonesia tetap mengacu kepada undang-undang sektoral yaitu Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, sedangkan Pemerintah Daerah Provinsi Papua berdiri pada prinsip bahwa undang-undang otonomi khusus bersifat lex specialis, sehingga segala hal tentang kewenangan-kewenangan terkait tata kepemerintahan dalam berbagai bidang, terkecuali lima kewenangan yang masih di urus oleh Pemerintah, sudah secara langsung diurus oleh Pemerintah Daerah Provinsi Papua. Untuk lebih jelasnya, karakter-karakter khusus pengelolaan dan pemanfaatan hutan di Provinsi Papua pada era Otonomi Khusus yang menjadi sumber ketidakharmonisan dideskripsikan
35 Pemetaan permasalahan ini diperoleh berdasarkan hasil Focus Group Discussion yang melibatkan pemangku kepentingan kunci dalam pengelolaan hutan di Papua. FGD yang diselenggarakan pada tanggal 3-4 April 2012 di Hotel Aston Jayapura ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian proses assessment. Selengkapnya mengenai hasil FGD, khususnya terkait pemetaan permasalahan yang dirumuskan oleh pemangku kepentingan kunci dapat dilihat pada Lampiran 3
secara singkat pada tabel berikut :
Tabel 6
Karakter Khusus Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan di Provinsi Papua era Otonomi Khusus Nasional Papua Kebijakan Daerah Pendukung Ketidakharmonisan Dengan Kebijakan
Pusat Bentuk-Bentuk
Pengusahaan IUPHHK-HA IUPHHK-HTI IUIPHHK-KR IUI TDI HKm HD HTR 1. IUPHHK-MHA 2. IUPHHHTR-MHA 3. IUIPHHK-MHA Perdasus No. 21/2008, Perdasus,No.23/ 2008 Pergub.No.11/2010 Pergub No. 12/2010 Pergun. No. 16/2010 • Kewenangan Pengurusan • Sumber penerimaan Negara • Hubungan Pusat dan daerah Mekanisme Perizinan dan Pengawasan Pusat, Cq. Meteri Kehutanan, atas Pertimbangan teknis Dinas Kehutanan Provinsi, Kab. Kota Gubernur cq. Dinas kehutanan Provinsi, Verifikasi Pusat. Pergub. No.13/2010 Pergub. No. 15/2010 Pergub. 17 /2010 Pergub,No.19/2010 • Kewenangan perizinan • Tanggung jawab pengawasan • Penetapan kriteria dan indikator Keterlibatan
Masyarakat Obyek Pengelolaan Hutan Negara/ Pemegang Izin Pemilik Hutan Adat, Subyek/ Pelaku Utama Pengelolaan • Masyarakat Asli Papua • Koperasi • Bermitra • Kepemilikan • Kepentingan dengan swasta Tata Niaga SI-PUHH On
Line/Mannual (SKSHH hutan Negara –SAK-KB/ Cap Kalok,/Cap KR);SAK-KO Hutan Hak-SKAU (FakKB/FAKO) SI-PUHH On Line/Manual SKSHH hutan Negara –SAK-KB/ Cap Kalok,/Cap KR);SAK-KO Hutan Hak-SKAU (FakKB/FAKO
Pergub. No. 12/2010 Keabsahan Verifier PHPL dan VLK
Berdasarkan tabel di atas, tergambar sejumlah ketidakharmonisan kebijakan di tingkat nasional dengan kekhususan Papua yang berpotensi konflik ke depan. Untuk lebih detailnya, sebagai contoh kecil ketidakharmonisan terkait pengelolaan hutan oleh masyarakat. Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Kehutanan menyusun sejumlah kebijakan dengan mengaju pada PP Nomor 6 tahun 2007 sebagaimana diatur pada Bagian Kesebelas mengenai Pemberdayaan Masyarakat Setempat. Pada bagian kesebelas ini, mulai dari pasal 83 sampai dengan pasal 99 diatur mengenai bagaimana pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui tiga skema pengelolaan yaitu melalui Hutan Desa (HD), Hutan Kemasyarakatan (Hkm) dan Hutan Tanaman Industri (HTI) Kemitraan. Sejumlah peraturan menteri kehutanan untuk mengatur hal tersebut juga sudah diterbitkan. Namun demikian dalam skema tersebut, hak adat atas hutan dalam wilayah
masyarakat hukum tidak diakui, bahkan disebutkan bahwa baik skema hutan desa, hutan kemasyarakan maupun HTI kemitraan semuanya adalah hutan Negara yang pengelolaannya diserahkan pada Lembaga Desa, Perorangan, Kelompok Masyarakat Adat dan /atau Bermitra Dengan Masyarakat Adat36
Persepsi pemerintah ini bertentangan dengan persepsi pemerintah daerah dan MHA dengan kata lain pandangan UU Nomor 41 Tahun 1999 tidak sesuai dengan semangat UU Otonomi Khusus Nomor 21 Tahun 2001 dan Perdasus Nomor 21 tentang Kehutanan. Hal inilah yang dikuatirkan menjadi sumber konflik kewenangan perizinan dan pengawasan dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan.
Keberpihakan dan pemberdayaan masyarakat hukum adat yang secara normatif termuat dalam Perdasus Kehutanan Provinsi Papua disebutkan dalam pasal 5, sebagai berikut :
Masyarakat hukum adat memiliki hak atas hutan alam sesuai dengan batas wilayah adatnya masing-masing
Selanjutnya dalam pasal 8 juga disebutkan bahwa :
Masyarakat hukum adat berhak mengelola dan memanfaatkan hutan yang berada di dalam wilayah hukum adatnya.
Sebenarnya tidak ada pengaturan secara khusus bentuk-bentuk pemberdayaan seperti yang diatur dalam PP 6 tahun 2007. Hal ini mengandung arti bahwa dalam rangka perlindungan hak-hak MHA dan pemberdayaan MHA segala bentuk pemanfaatan hasil hutan yang diatur melalui perdasus ini dimungkinkan untuk dilakukan oleh MHA.
Berdasarkan Perdasus Nomor 21 Tahun 2008 dan sejumlah Peraturan Gubernur tersebut, model pemanfaatan hutan yang khusus untuk Provinsi Papua adalah : Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan pada Hutan Tanaman Rakyat Masyarakat Hukum Adat (IUPHHHTR-MHA), Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Masyarakat Hukum Adat (IUPHHK-MHA), Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu (IPHHK) dan Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu Masyarakat Hukum Adat (IUIPHHK-MHA). Hal ini berbeda dengan model pengusahaan yang diakomodir dalam kebijakan nasional. Beberapa perbedaan antara model pemanfaatan hutan kebijakan nasional dengan kebijakan pengelolaan khusus Papua dapat dicermati dalam tabel berikut :
Tabel 7
Perbandingan Kebijakan Terkait IUPHHK HA/HTI/RE dengan IUPHHK-MHA Kebijakan Nasional Kebijakan Khusus Papua Dasar
Kebijakan Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No : P.50/Menhut-II/2010 tentang Tata
Pergub Papua No 13 tahun 2010 tentang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Masyarakat Hukum Adat di
36 Sebagaimana didefinisikan dalam penjelasan umum Permenhut No. P.37/Menhut-II/2007 tentang Hutan Kemesyarakatan dan Permenhut No: P.48/Menhut-II/2008 tentang Hutan Desa.
Cara Pemberian dan Perluasan Areal Kerja IUPHHK dalam Hutan Alam, IUPHHK Restorasi Ekosistem, atau IUPHHK HTI Pada Hutan Produksi.
Provinsi Papua
Bentuk Izin IUPHHK HA/HTI/RE IUPHHK MHA Lokasi • Kawasan hutan produksi yang tidak
dibebani izin/hak
• Untuk IUPHHK-HTI dan RE diutamakan pada hutan produksi yang tidak produktif
• Pencadangan/penunjukan oleh Menteri
• Kawasan hutan produksi tetap, • Hutan produksi yang dapat
dikonversi,
• Kawasan Budidaya Non Kehutanan/ Areal Penggunaan Lain
• Apabila areal telah dibebani perizinan usaha pemanfaatan hutan kayu dilakukan pola kerjasama kemitraan Pemohon Untuk IUPHHK HA/HTI/RE
pemohon adalah Perorangan;
Koperasi; Badan Usaha Milik Swasta Indonesia (BUMSI); Badan Usaha Milik Negara (BUMN); atau Badan Usaha Milik Daerah. Khusus untuk HTI, pemohon perorangan tidak diperbolehkan.
Untuk IUPHHK-MHA
• Koperasi masyarakat pemilik hak ulayat
• Badan usaha milik masyarakat hukum adat
Penerbit SK Menteri Kehutanan dengan Rekomendasi dari Gubernur. Rekomendasi Gubernur didasarkan pada:
• Pertimbangan Bupati/ Walikota yang didasarkan pada pertimbangan teknis Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota, bahwa areal dimaksud tidak dibebani hak-hak lain;
• Analisis fungsi kawasan hutan dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi dan Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan, yang berisi fungsi kawasan hutan sesuai
Gubernur Papua dengan rekomendasi dari Bupati/Walikota dan pertimbangan teknis dari Kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Papua
Luas Areal - 2000 – 5000 ha
Pengolahan hasil hutan kayu
IUIPHHK di dalam areal kerja dapat diberikan kepada pemegang IUPHHK dengat syarat telah memperoleh Sertifikat PHPL secara mandatory dengan peringkat baik atau sangat baik dan/atau memperoleh Sertifikat PHPL secara voluntary
Pemegang ijin wajib memiliki IUIPHHK yang diterbitkan oleh Gubernur.
IUIPHHK dengan peralatan berupa
portable sawmill berada di dalam areal
kerja IUPHHK
Tabel 8
Perbandingan Kebijakan Terkait IUPHHK HTR dengan IUPHHK HTR-MHA Kebijakan Nasional Kebijakan Khusus Papua Dasar
Kebijakan Permenhut Nomor : P.23/Menhut-II/2007 jo. Permenhut Nomor : P.5/Menhut-II/2008 tentang Tata Cara Permohonan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada HTR dalam Hutan Tanaman
Pergub Provinsi Papua No 11 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Hutan Tanaman Rakyat Masyarakat Hukum Adat (HTR-MHA)
Lokasi • Kawasan hutan produksi yang tidak produktif dan
• Tidak dibebani izin/hak lain • Letaknya diutamakan dekat dengan
industri hasil hutan.
• Tanah hak ulayat yang merupakan lahan kritis, tidak produktif, baik yang berada di dalam kawasan hutan produksi atau kawasan budidaya non kehutanan
• Tidak dibebani izin/hak lain • Letaknya diutamakan dekat dengan
lokasi industri hasil hutan. Pencadangan
dan Perijinan • Pencadangan lokasi oleh Menteri • Perijinan diterbitkan oleh Bupati/Walikota
• Pencadangan lokasi oleh Gubernur • Perijinan diterbitkan oleh
Bupati/Walikota Pemohon Pemohon IUPHHK HTR adalah:
• Perorangan • Koperasi
Pemohon IUPHHK HTR-MHA • Kelompok tani atau koperasi atau
badan usaha yang dibentuk oleh pemilik hak ulayat yang telah memperoleh pengesahan dari lembaga adat, kepala kampung dan diketahui oleh kepala distrik • Kelompok tani/ koperasi/ badan
usaha yang dibentuk masyarakat suku lain selain pemilik hak ulayat yang diberi izin oleh pemilik hak ulayat dan disahkan oleh lembaga adat, ketua kampung dan diketahui oleh kepala distrik
Luas • Maksimal 15 ha untuk setiap keluarga
• Bagi koperasi luasnya disesuaikan kemampuan
Maksimal 5000 ha untuk setiap ijin
Lama ijin 60 tahun dan dapat diperpanjang satu kali untuk jangka waktu selama 35 (tiga puluh lima) tahun.
30 tahun dan dapat diperpanjang Kewajiban
Pemegang Ijin
Menyusun RKU IUPHHK HTR dan
RKT. • Membayar iuran kehutanan • Menyusun rencana kerja PHHK yang terdiri dari rencana umum dan rencana operasional
• Melaksanakan kegiatan selambat-lambatnya 3 bulan sejak ijin terbit • Melaksanakan PUHH sesuai
ketentuan
• Menyampaikan laporan kegiatan pada pemberi izin
Tabel 9
Perbandingan Kebijakan Terkait IUIPHHK dengan IUIPHHK Rakyat
IUIPHHK IUIPHHK Rakyat
Dasar
Kebijakan Permenhut No: P.35/Menhut-II/2008 Pergub Papua No 15 tahun 2010 Pemohon ijin • Kapasitas produksi s/d 6.000
m3/tahun, dapat diberikan kepada perorangan, koperasi, BUMS, BUMN, dan BUMD,
• Kapasitas produksi s/d 2.000 m3
per-tahun hanya dapat diberikan kepada perorangan dan koperasi.
Untuk IUIPHHK Rakyat, pemohon adalah: perorangan, koperasi dan badan usaha milik masyarakat adat (BUMMA). Hanya mengatur pemberian ijin dengan kapasitas dibawah 6000 m3
Wajib memiliki RPBBI RPBBI sebagai syarat teknis dalam permohonan ijin
Sumber
Bahan Baku • IUPHHK/IUPHHK-MHA/IPK • Limbah Pembalakan • IPHHK
• Kayu Lelang
• Hutan Tanaman Rakyat • ISL
Jenis Produk • Kayu gergajian;
• Serpih Kayu (Wood Chip); • Vinir (Veneer);
• Plywood; dan
• Laminated Veneer Lumber
• Kayu Gergajian • Moulding • Flooring
Tujuan
Pemasaran • Pemasaran lokal, regional, nasional dan eksport • Khusus bahan baku dari IPHHK
hanya untuk pemasaran lokal Permohonan
Diajukan Pada
• Permohonan IUIPHHK kapasitas produksi s/d 6.000 m3/tahun disampaikan kepada Gubernur dengan tembusan kepada Menteri dan Bupati/Walikota.
• Gubernur dapat melimpahkan kewenangan penerbitan IUIPHHK dengan kapasitas produksi s/d 2.000 m3/tahun kepada Bupati/Walikota.
• Bupati/walikota untuk kapasitas dibawah 2000 m3/tahun
• Gubernur untuk kapasitas 2000 – 6000 • Dapat diberikan bersamaan dengan
IUPHHK MHA
Persyaratan
Administrasi • Rekomendasi teknis Bupati/walikota • Akte pendirian
Perusahaan/Koperasi beserta perubahannya atau copy KTP untuk pemohon perorangan;
• NPWP;
• Izin Gangguan; • Izin Lokasi;
• Izin Tempat Usaha;
• Laporan kelayakan investasi pembangunan industrinya; • Jaminan pasokan bahan baku.
• Rekomendasi Kepala Dinas Kabupaten/Kota
• Fotocopy KTP untuk pemohon
perorangan dan akte pendirian beserta perubahannya untuk Koperasi
• SIUP • SITU
Persyaratan
Teknis • Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)
• RPBBI
• Daftar nama, tipe dan jenis peralatan • Perjanjian kerjasama suplai bahan
baku dengan pemegang ijin pemanfaatan/pemungutan hasil hutan kayu
• Rencana pengelolaan lingkundan dan rencana pemantauan lingkungan
Penerbit Ijin • Gubernur/Bupati/Walikota
• Dapat dilimpahkan kepada Kepala Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota
Lama Ijin • Berlaku selama industri yang bersangkutan beroperasi yaitu apabila industri berproduksi secara kontinyu, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan paling sedikit 1 kali dalam 3 tahun
• 10 tahun bagi yang tidak memiliki jaminan suplai bahan baku • Selama jangka waktu perijinan
IUPHHK-MHA bagi yang memiliki jaminan suplai bahan baku
• Apabila industri tidak beroperasi selama satu tahun dikenakan sanksi pencabutan izin usaha industrinya.
Perbedaan di atas hanya potret kecil dari sejumlah perbedaan lainnya yang berpotensi menimbulkan permasalahan.37Contoh permasalahan lainnya adalah terkait alas hak atas tanah di mana peraturan yang dibuat oleh Departemen Kehutanan secara kontekstual tidak sesuai dengan kondisi di Papua. Seperti Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.51/Menhut-II/2006 tentang Penggunaan Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU) untuk Pengangkutan Hasil Hutan Kayu Yang Berasal Dari Hutan Hak, yang diperkirakan akan menimbulkan chaos di Papua, jika diterapkan.38 Hal ini dikarenakan alat pembuktian untuk hutan hak adalah berdasarkan alas titel/ hak atas tanah berupa sertifikat hak milik dan lain. Di negara Indonesia, sertifikat hak milik tanah diberikan kepada perorangan, atau badan hukum, dan lain-lain, tetapi belum bisa diberikan kepada masyarakat adat pemilik adat atas sumberdaya hutan mereka berupa sertifikat yang bersifat komunal. Hal ini dikarenakan sistem kepemilikan tanah adat di Papua adalah bersifat komunal. Seharusnya alas hak yang sesuai dengan kondisi Papua yang telah diakomodir dalam UU Otonomi Khusus dan Perdasus Kehutanan lah yang digunakan sebagai landasan untuk implementasi berbagai kebijakan di Papua. Karena pemaksaan penerapan kebijakan nasional dapat menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat adat Papua
Permasalahan lain yang cukup besar dan berdampak luas di Papua adalah terkait IPKMHA yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Papua kepada masyarakat adat Papua yang memiliki Koperasi/Kopermas. Sesungguhnya kebijakan yang diterbitkan sebagai dasar pelaksanaan dari bentuk keberpihakan dan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan kehutanan secara nasional sudah diterapkan tetapi masih terjadi kegamangan di pihak pemerintah sehingga kebijakan tersebut setelah diterbitkan kemudian ditarik kembali. Selengkapnya mengenai hal ini dapat dilihat pada Boks.
37 Diperlukan sebuah studi khusus untuk membedah dan menemukan ketidaksinkronan peraturan di level nasional dengan Papua untuk kemudian merumuskan langkah-langkah menuju sinkronisasi dan harmonisasi keduanya.
38 Dalam sebuah acara sosialisasi peraturan-peraturan kehutanan yang dilakukan oleh Kementerian Kehutanan di Jayapura, semua pemangku kepentingan yang terlibat menyatakan bahwa P.51 tahun 2006 tidak bisa dilaksanakan di Papua.
Ketidakharmonisan ini ditunjukkan juga pada saat diterbitkannya Peraturan Gubernur
Provinsi Papua Nomor 72 Tahun 2002 tentang Ketentuan Ekspor Kayu Bulat Jenis Merbau di Provinsi Papua. Dengan berbagai pertimbangan, terutama berdasarkan otonomi khusus, pemerintah Daerah Provinsi Papua membuat peraturan tersebut tetapi kemudian mendapat pertentangan dari Departemen Kehutanan. Sebenarnya sebagai upaya mengatasi potensi konflik dikarenakan perbedaan-perbedaan tersebut, pada tahun 2006, Menteri
Kehutanan membentuk Tim Harmonisasi yang melibatkan
pemerintah pusat dan pemerintah daerah Provinsi Papua untuk membahas kebijakan kehutanan di Provinsi Papua. Tim
pemerintah c.q. Departemen
Kehutanan diisi oleh para pejabat Eselon I Departemen
Kehutanan sedangkan di pihak Pemerintah
Provinsi Papua diisi oleh para pimpinan SKPD, akademisi dan LSM. Dalam membahas kebijakan-kebijakan tersebut masih terus ada perbedaan-perbedaan pandangan akan prinsip-prinsip dalam tata kepengurusan hutan
Boks
Kasus IPKMHA di Provinsi Papua
Menjelang akhir tahun 1998, masyarakat khususnya masyarakat adat atau masyarakat lokal memperoleh tempat dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan dalam bentuk Hak Pengusahaan Hutan Kemasyarakatan (HPHKm), yakni sejak diterbitkan dan diberlakukannya SK Menhut No. 677/Kpts-II/1998. Bahkan pada awal tahun 1999, Pemerintah menerbitkan PP No. 6 Tahun 1999 tentang Pengusahaan Hutan dan Pemungutan Hasil Hutan pada Hutan Produksi, yang pada intinya membatasi luas HPH bagi setiap pemegang HPH. Dari kebijakan ini selanjutnya Pemerintah melakukan redistribusi sumberdaya hutan dengan sasaran utama masyarakat dalam bentuk HPHKm dan Hak Pemungutan Hasil Hutan Masyarakat Hukum Adat (HPHHMHA) pada Areal Hutan Produksi.
Pengelolaan hutan di Provinsi Papua selama ini dilaksanakan dalam bentuk HPH dan sejak tahun 1999 Pemerintah memberikan kesempatan kepada masyarakat khususnya masyarakat pemilik hak ulayat dalam pengelolaan hutan. Dalam rangka desentralisasi pengelolaan sumberdaya hutan di Papua, Pemerintah Daerah telah menempuh langkah awal dengan memberikan IHPHHMHA (Ijin Hak Pemungutan Hasil Hutan oleh Masyarakat Hukum Adat) kepada Kopermas dengan luas 250 hektar, dimana masa berlaku dari ijin ini hanya 1 (satu) tahun. Dasarnya adalah dengan diterbitkannya SK Menhut No. 317/Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999 tentang HPHHMHA pada Areal Hutan Produksi. Sebagai tindak lanjut SK Menhutbun tersebut, Gubernur Provinsi Papua menerbitkan surat Nomor : 522.2/ 3386/SET tanggal 22 Agustus 2002 tentang Pengaturan Pemungutan Hasil Hutan oleh Masyarakat Hukum Adat dalam bentuk IPKMHA dengan petunjuk pelaksanaannya sesuai Surat Keputusan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Nomor : KEP-522.1/1648 tanggal 22 Agustus 2002.
Secara legalitas, pengusahakan hutan dengan izin IPKMHA oleh masyarakat adat Papua melalui badan-badan usaha yang dibentuk
(koperasi/kopermas) tetap jalan sejak digulirkan pada tahun 1999. Akan tetapi dengan terbitnya regulasi tentang IPKMHA yang belum dibarengi dengan peraturan teknis yang memadai yang diharapkan dapat mewujudkan pengelolaan hutan lestari di Tanah Papua, telah terjadi penyalahgunaan perizinan, dimana sering ditemukan kasus pemilik izin “menggadaikan” izinnya kepada pihak luar atau pihak investor untuk menggarap hutan yang berada di wilayah /teritori adat mereka. Proses ini kemudian memicu terjadinya aktivitas illegal logging masif di Tanah Papua. Proses ini berlanjut terus tanpa ada perbaikan atau perhatian dari Pemerintah. Bahkan oleh beberapa pihak sebagai pemerhati lingkungan menengarai kalau ada proses pembiaran selama beberapa tahun yang dilakukan oleh Pemerintah.
Akan tetapi kondisi tersebut diatas kemudian menimbulkan reaksi dari pemerintah pusat dengan mencabut SK Menhutbun No. 317/ Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999 tentang Hak Pemungutan Hasil Hutan Masyarakat Hukum Adat pada Areal Hutan Produksi pada tahun 2005 melalui Peraturan Menteri Kehutanan nomor P07/Menhut-II/2005. Kemudian kegiatan logging yang dilakukan Kopermas semakin dianggap sebagai kegiatan illegal. Sebagai tindak lanjut peraturan tersebut, maka sejak tanggal 1 Januari 2005 IPKMHA ditutup dan hanya bisa melakukan stock opname sampai 31 Januari 2005, dan hasil perhitungan stok opname hanya diijinkan sampai tanggal 31 Maret 2005. Langkah ini diambil Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua berdasarkan Surat Keputusan 522.1/072 tertanggal 12 Januari 2005 sebagai upaya memberantas illegal logging yang banyak dikaitkan dengan praktek kopermas ini (Patay 2005:55).
yang ada dalam draft perdasus tentang pengelolaan hutan lestari di Papua. Perbedaan prinsip yang tajam di antara kedua belah pihak inilah yang menyebabkan dead lock dalam pertemuan terakhir di Hotel Salak Bogor.
Satu hal penting lainnya terkait topik ini, adalah ketika segala bentuk kebijakan (UU Otonomi Khusus, Perdasus No 21 dan 23, dan segala peraturan turunannya), belum ‘dimanfaatkan’ secara efektif untuk mengimbangi kebijakan nasional. Seolah-olah masih ada ‘sesat pikir’ dalam keseluruhan kebijakan yang sifatnya policy affirmative, atau bahkan minim pemahaman dari publik di Provinsi Papua terhadap isi kebijakan yang melindunginya . Contoh kecil tersebut menunjukkan bahwa selain pada substansi kebijakan yang tidak harmonis, juga sebenarnya terdapat ketidaksiapan institusi (baik di level pusat maupun daerah) dalam implementasi kebijakan. Lebih lanjut mengenai permasalahan terkait hal ini dapat dilihat pada sub bab berikut.
3.2.2 Permasalahan Terkait Kapasitas Organisasi dan Sumberdaya Manusia