V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Faktor-Faktor Strategis dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Hutan Rakyat di Kabupaten Donggala Hutan Rakyat di Kabupaten Donggala
5.2.4 Aspek Kelembagaan
5.2.4.3 Peran Pemda dalam Upaya Pengembangan Hutan Rakyat
Pembangunan kehutanan di tingkat pedesaan harus dipakai sebagai strategi untuk mengentaskan kemiskinan. Pembangunan kehutanan melalui pengembagan usaha kayu rakyat dengan melibatkan masyarakat yang berada di sekitar hutan, diharapkan akan berdampak pada peningkatan pendapatan yang akhirnya dapat membawa kesejahteraan bagi petani. Hal ini selaras dengan salah satu kebijakan prioritas sebagaimana yang tertera dalam Rencana Strategis Departemen Kehutanan tahun 2004-2009.
Pemda Kabupaten Donggala telah melakukan upaya nyata secara teknis melalui kegiatan Gerhan. Upaya tersebut merupakan wujud dukungan Pemda terhadap pemerintah untuk melakukan usaha merehabilitasi lahan kritis. Hal ini dapat terlihat dengan adanya hutan rakyat hasil program Gerhan yang tumbuh
dengan baik. Selanjutnya untuk mensukseskan program Gerhan Pemda melakukan pendekatan-pendekatan melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Kegiatan tersebut mampu mengubah pandangan masyarakat tentang pentingnya keberadaan hutan dalam suatu wilayah tertentu. Hal ini dapat dilihat dengan keterlibatan masyarakat secara nyata dalam menanam pohon pada lahan-lahan kritis. Di samping itu juga, lewat program Gerhan masyarakatpun terpacu untuk menanam pohon pada lahan-lahannya, baik dengan pola monokultur maupun
agroforestry.
Dari aspek kebijakan, upaya Pemda Kabupaten Donggala dalam pengembangan hutan rakyat, terlihat dari telah dirumuskannya Peraturan Bupati (Perbub) Nomor 14 Tahun 2009, tentang petunjuk pelaksana pemanfaatan hutan hak. Perda tersebut lebih bersifat mengatur tata cara produksi, peredaran, retribusi dan penatausahaan hasil hutan. Dalam konteks ini Pemda telah berusaha membuat suatu petunjuk teknis yang mengatur hal ihwal tentang hutan rakyat. Perbub tersebut memberikan penjelasan-penjelasan sesuai dengan kondisi lokal di lapangan. Aturan tersebut dibuat untuk mendukung peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.26/Menhut-II/2005 tentang pedoman pemanfaatan hutan hak.
Walaupun demikian, pada Perbub tersebut masih terdapat hal-hal yang belum sesuai dengan inti dari Permenhut. Nomor P 26/Menhut-II/2005. Seperti halnya dalam bab III, Pasal 10 yang mengatur hak pemilik hutan hak/rakyat dalam pemungutan kayu, masih terkesan tidak secara eksplisit memberikan hak yang sesungguhnya kepada petani. Bagaimanapun, sesuatu obyek yang adalah hak milik privat, secara otomatis berimplikasi dapat digunakan secara bebas oleh pemiliknya. Untuk jelasnya pasal 10 berbunyi demikian. Pemilik hutan hak berhak: a. melaksanakan kegiatan pemanfaatan hutan hak sesuai dengan bukti kepemilikan hak/alas titel yang dimilikinya pada hutan hak yang berfungsi
produksi; b. melaksanakan kegiatan pengangkutan, pengolahan dan/atau
pemasaran hasil hutan hak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Melihat bahwa penggunaan kata melaksanakan bermakna adanya suatu perintah. Hal ini berarti menjadi suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh
petani, akan tetapi bukan mengacu pada sesuatu yang harus diperoleh petani sebagai haknya. Hakikatnya Perbub tersebut harus memperhatikan peraturan yang lebih tinggi untuk memahami spirit dari aturan tersebut, sehingga tidak menimbulkan kesalahan persepsi yang berujung pada pembuatan Perbub yang kontra produktif. Pada Permenhut. Nomor P.26/Menhut-II/2005, pasal 20 yang mengatur hak pemegang hutan hak/rakyat dinyatakan bahwa pemegang hutan hak berhak: a. mendapatkan pelayanan; b. menikmati kualitas lingkungan; c.
memanfaatkan hutan sesuai dengan fungsinya; d. memperoleh insentif; dan e.
menentukan bentuk pemanfaatan hutan.
Jika dibandingkan dengan hak pemegang hutan hak yang ada pada pasal 10 Perbub. Nomor 14 Tahun 2009, dengan jelas dapat dilihat tidak terdapatnya
benang merah. Hal ini tentu berakibat langsung pada suatu sistem pelayanan
kepada pemegang hutan hak yang lebih menekankan pemungutan retribusi, tanpa melihat unsur insentif secara langsung yang dapat diberikan kepada pemilik hutan hak. Menurut Kotler et al. (2009) bahwa meskipun pembuatan suatu peraturan memiliki alasan yang sah, tapi peraturan tersebut mungkin memiliki dampak yang tidak terduga yang dapat mematikan inisiatif dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Karena itu, pemberian insentif kepada petani diharapkan dapat mendorong petani untuk terus mengembangkan hutan rakyat.
Setiap produk aturan (hukum) yang ditetapkan akan selalu memiliki fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dari atauran tersebut. Sebaliknya fungsi laten adalah apa yang tidak diharapkan maupun yang tidak diketahui. Fungsi laten bisa positif juga bisa negatif (Adi 2009). Implikasinya adalah apabila aturan yang dibuat sengaja menutupi fungsi latennya agar tidak menimbulkan keresahan atau penolakan dari masyarakat. Fungsi laten dari suatu aturan perlu diketahui oleh masyarakat, agar masyarakat sadar apakah aturan tersebut apabila diterapkan akan membawa keuntungan atau kerugian. Contohnya Perbub No.14 Tahun 2009 diterbitkan untuk mengatur proses peredaran kayu rakyat agar dapat dimonitor (fungsi manifes). Tetapi pada prakteknya akan terjadi pungutan liar, apabila kayu yang diangkut jumlah batang dan kubikasinya tidak sesuai dengan faktur/surat angkutan kayu (fungsi laten). Hal ini tentu akan merugikan pemilik kayu.
Sesuai hasil wawancara mendalam dengan pihak Dishutbun Kabupaten Donggala dapat dikemukakan bahwa, sampai saat ini Pemda baru menerbitkan satu buah Perbub yang terkait dengan pengolahan sumber daya hutan. Kegiatan pengembangan hutan rakyat yang ada dilakukan berdasarkan proyek yang sudah dianggarkan secara nasional. Di samping itu, saat ini belum ada upaya langsung dari Pemda berupa rencana aksi yang diatur dalam suatu rencana stratejik (renstra), yang dapat mendorong pengembangan hutan rakyat ke depan.
Menurut Kartodihardjo et al. (2004) bahwa lemahnya formulasi kebijakan pengelolaan hutan paling tidak disebabkan oleh tiga faktor, yaitu:
1) Lemahnya kapasitas dan kapabilitas lembaga kehutanan daerah. Kondisi sumberdaya birokrasi lembaga kehutanan di daerah tidak memungkinkan untuk merumuskan kebijakan yang dapat memecahkan permasalahan-permasalahan pengelolaan hutan.
2) Lemahnya koordinasi dan perbedaan kepentingan antar level pemerintahan (kabupaten/provinsi/pusat).
3) Adanya kepentingan individu elit lokal dan strategi pencapaiannya. Kepentingan individu elit lokal meliputi kepentingan ekonomi, pengembangan karir dan kepentingan untuk dukungan politik (political sponsorship). Dalam rangka pencapaian kepentingan tersebut para pengambil kebijakan melakukan apa yang disebut autonomus choice.
Sesuai hasil wawancara mendalam, bahwa peran yang dilakukan pemerintah selama ini masih terlalu pasif. Kalaupun ada pembinaan hal itu dilakukan dalam bentuk pelatihan-pelatihan singkat. Kegiatan tersebut lebih besifat tentatif yang mengikuti kegiatan proyek Gerhan. Karena itu, manfaat yang diperoleh pelaku usaha kayu rakyat dalam menambah pengetahuan tentang penanaman, pemeliharaan, pemanenan pohon, dan manfaatnya secara ekologis dirasa belum optimal. Selanjutnya tentang bagaimana membantu proses pemasaran kayu, menyampaikan informasi harga dan memperkuat modal usaha, belum banyak dilakukan Pemda.
Dengan demikian, strategi pengembangan usaha kayu rakyat di level masyarakat pedesaan, seharusnya didukung dengan kebijakan-kebijakan yang dapat merangsang peningkatan usaha pengembangan hutan rakyat, dan investasi
pelayanan sosial disatu sisi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan hubungan keterkaitan antara petani, pihak industri, dan Pemda sebagai regulator. Dengan demikian, usaha kayu rakyat tidak lagi berdiri sendiri, tetapi memadukan diri dengan industri kayu yang ada dalam satu alur produk vertikal (hulu-hilir) dalam suatu kelompok usaha. Hal ini tentunya akan membutuhkan dukungan pemerintah dalam aspek kebijakan, teknologi, kelembagaan, sumber daya manusia dan permodalan.
5.3Analisis Faktor-Faktor SWOT
Demi mendukung pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Donggala yang berkelanjutan, maka diperlukan arahan dan dukungan yang dijabarkan dalam bentuk suatu strategi. Penentuan strategi pengembangan ini dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity,
Threat). Analisis SWOT secara prinsip akan memberikan arahan, dukungan dan
kebijakan yang baik melalui hubungan yang sinergi antara faktor internal dan eksternal bagi stakeholders yang terlibat dalam usaha kayu rakyat.
Analisis SWOT dilakukan dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang berpengaruh dalam pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Donggala. Hal tersebut merupakan rumusan hasil wawancara mendalam dengan pejabat dan staf dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Donggala, Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah, BPDAS Palu–Poso, BP2HP Wilayah XIV Palu, petani dan masyarakat setempat. Pada masing-masing faktor internal dan eksternal dilakukan pembobotan. Hasil analisis dimaksud disajikan pada Tabel 29 dan 31.