Internasional
Sebagian besar terdiri dari instrumen Bank Indonesia dansovereign jangka pendek dan jangka menengah
112
Rp
Portofolio Tresuri BCA mempertahankan posisi neraca yang solid, serta menjaga keseimbangan antara risiko dan imbal hasil dalam mengelola likuiditas.
BCA terus
mempertahankan posisinya dalam bisnis perbankan internasional dengan menyediakan layanan remittance dan trade finance
67
(dalam miliar Rupiah)
Surat-surat Berharga Lainnya
Obligasi Pemerintah
Instrumen-instrumen Bank Indonesia
(dalam USD miliar)
Volume Trade Finance Volume Remittance
2013 34.345 52.985 15.030 2014 22.412 29.018 60.633 PERBANKAN TRESURI
Sepanjang tahun 2014, BCA telah menjaga posisi likuiditasnya dengan mengelola portofolio investasi secara berhati-hati serta mempertahankan keseimbangan antara risiko dan imbal hasil investasi melalui penempatan jangka pendek dan jangka menengah. BCA juga berupaya meningkatkan hubungan dengan nasabah melalui penawaran produk dan layanan guna memenuhi berbagai kebutuhan akan valuta asing dan produk tresuri lainnya.
Mempertahankan Posisi Likuiditas yang Kokoh
Pada tahun 2014 industri perbankan Indonesia menghadapi tantangan ketatnya likuiditas dan cepatnya kenaikan biaya dana. Tantangan tersebut yang disertai dengan penurunan kegiatan usaha dan berlangsungnya pemilihan umum di tahun 2014, telah mengakibatkan perlambatan pertumbuhan kredit, dan pada saat yang sama faktor kualitas kredit mendapatkan perhatian yang lebih tajam. Dihadapkan pada kondisi-kondisi pasar tersebut, BCA memberikan respon dengan mengelola pendanaan dan aset yang dimiliki secara hati-hati.
Pada tahun 2014, BCA mampu menjaga posisi dana pihak ketiga dan franchise rekening transaksi yang solid. Dengan didukung oleh keunggulan jaringan perbankan transaksi yang dimilikinya, BCA mampu menjaga suku bunga yang relatif rendah pada rekening giro dan tabungan (Current Accounts and Savings Accounts – CASA). Pada tahun 2014, dana CASA tetap stabil dan memberikan kontribusi sebesar 75,1% terhadap total dana pihak ketiga.
Strategi BCA untuk memperkuat posisi likuiditas dengan lebih agresif dalam menetapkan suku bunga produk deposito, tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan biaya dana secara keseluruhan. Pada tahun 2014 biaya dana tercatat sebesar 2,6% dibandingkan 2,0% pada tahun 2013. Pada tahun 2014 BCA menerbitkan pinjaman jangka pendek senilai USD 270 juta dengan beberapa bank koresponden BCA. Langkah ini dilakukan untuk menguji kondisi pasar pinjaman USD dan untuk mengetahui kecukupan pasokan USD di pasar valuta asing untuk memperkuat pendanaan Rupiah melalui mekanisme hedging. Kemampuan untuk mendapatkan pinjaman dalam USD tersebut dan mengkonversi menjadi dana dalam Rupiah dapat dijadikan salah satu alternatif sumber pendanaan likuiditas BCA.
Di sisi aset, total aset produktif BCA tercatat sebesar Rp 483,9 triliun pada akhir tahun 2014, meningkat 11,2% dibandingkan dengan Rp 435,3 triliun pada akhir tahun 2013. Total dana investasi yang dikelola oleh Tresuri BCA mencapai Rp 112,1 triliun pada akhir tahun 2014, tumbuh 9,5% dari Rp 102,4 triliun pada akhir tahun 2013. Sebagian besar investasi ini ditempatkan dalam instrumen Bank Indonesia dan sovereign yang berisiko rendah seperti Term Deposit Bank Indonesia, Sertifikat Bank Indonesia, instrumen surat berharga Bank Indonesia yang dibeli dengan janji dijual kembali, obligasi pemerintah jangka pendek dan jangka menengah. Struktur investasi yang dikelola Tresuri BCA ini dirancang untuk menyeimbangkan likuiditas Bank dengan imbal hasil investasi yang optimum. Investasi tresuri
2014 9,0 82,0 2013 10,8 91,0
68
yang berkualitas tinggi tersebut mewakili 25,0% dari total dana pihak ketiga BCA per 31 Desember 2014. Persentase ini menunjukkan tetap kuatnya posisi likuiditas BCA terutama bila dibandingkan dengan sektor perbankan secara keseluruhan. Aset investasi yang dikelola Tresuri BCA serta total portofolio kredit BCA telah berhasil meningkatkan imbal hasil aset produktif secara keseluruhan pada tahun 2014. Yield aset produktif meningkat 90 bps menjadi 8,7% pada tahun 2014 dari 7,8% pada tahun 2013.
Dengan peningkatan yield aset produktif serta komposisi pendanaan yang solid, BCA berhasil membukukan marjin bunga bersih (Net Interest Margin – NIM) sebesar 6,5% pada tahun 2014, meningkat dari 6,2% pada tahun 2013.
BCA mengelola neraca dan posisi likuiditas dengan mempertimbangkan secara seksama prediksi cash flow serta risiko nilai tukar. Posisi neraca BCA berada pada posisi yang cukup solid menghadapi fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap valuta asing. Pada akhir tahun 2014, Posisi Devisa Neto (PDN) BCA tercatat sebesar 0,6% terhadap modal, jauh di bawah batas yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 20%.
Memfasilitasi Kebutuhan Nasabah
Selain mengelola aset dan kewajiban bank, Tresuri BCA juga menyediakan beragam layanan untuk memenuhi kebutuhan nasabah termasuk produk valuta asing, pasar modal dan jasa kustodian. Layanan diberikan kepada nasabah di segmen korporasi, komersial, UKM dan konsumer melalui kerja sama dengan para front-liners di seluruh jaringan cabang BCA.
BCA memanfaatkan perkembangan teknologi dalam pengembangan layanan transaksi valuta asing secara online bagi para nasabah korporasi dengan menggunakan fasilitas e-Rate. Terdapat 14 mata uang asing yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi melalui KlikBCA, fasilitas internet banking BCA. Pada tahun 2014, BCA melengkapi fitur KlikBCA Bisnis, dengan fasilitas khusus untuk penjualan USD yang memiliki nilai tukar yang lebih kompetitif apabila dibandingkan dengan aplikasi e-Rate reguler. Fitur ini masih dalam tahap awal pilot project dan akan dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan tanggapan para nasabah.
Pada tahun 2014 volume transaksi valuta asing nasabah meningkat menjadi 673,2 ribu transaksi dibandingkan dengan 596,6 ribu di tahun 2013. Walaupun terdapat kenaikan frekuensi transaksi, nilai transaksi keseluruhan mengalami penurunan menjadi sebesar USD 36,8 miliar di tahun 2014 dari USD 45,0 miliar di tahun 2013, yang disebabkan oleh melemahnya aktivitas ekspor dan impor dalam negeri.
Di bidang pasar obligasi, BCA merupakan salah satu bank yang menjadi agen resmi penjual Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan Sukuk Ritel (SR). Pada tahun 2014, Tresuri BCA menjual ORI011 senilai Rp 2,7 triliun dan SR006 senilai Rp 1,4 triliun, suatu peningkatan dari jumlah penjualan dari tahun 2013 terkait penjualan ORI010 sebesar Rp 2,1 triliun dan penjualan SR0005 sebesar Rp 857 miliar. Dalam penjualan SR006, BCA bekerja sama dengan UNICEF untuk membantu program Pengembangan Anak Usia Dini di Aceh dengan memberikan kontribusi dalam persentase tertentu dari setiap obligasi yang terjual. Selain itu, Tresuri BCA berpartisipasi dalam penjualan Saving Bonds Ritel perdana yang diterbitkan Pemerintah untuk investor ritel, dimana total penjualan melalui BCA mencapai Rp 260 miliar.
Pada tahun 2014, Tresuri BCA menerima beberapa penghargaan diantaranya penghargaan Best Domestic FX Bank dari Asiamoney Poll serta penghargaan dari Kementerian Keuangan atas kinerja tahun sebelumnya sebagai salah satu Agen Penjualan Terbaik untuk ORI010.
69
PERBANKAN INTERNASIONAL
Layanan Pengiriman Uang (Remittance)
BCA berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu bank utama penyedia layanan pengiriman uang (remittance) di Indonesia meskipun dihadapkan pada beberapa tantangan yang disebabkan oleh ketidakpastian pemulihan ekonomi global. Selama tahun 2014, BCA berhasil memproses remittance dengan total nilai sebesar USD 82,0 miliar.
Untuk mendukung perkembangan bisnis layanan remittance, valuta asing, bank notes, dan cross- border settlement lainnya, Perbankan Internasional BCA memiliki akses ke jaringan global melalui kerja sama dengan lebih dari 2.000 bank koresponden. Selanjutnya, kantor perwakilan BCA di Singapura dan Hong Kong hadir untuk mendukung dan mempererat kerja sama dengan bank koresponden. Perbankan Internasional BCA juga mengelola layanan remittance melalui BCA Finance Limited di Hong Kong. Saat ini, layanan remittance BCA tersedia dalam 14 jenis mata uang.
Sejak tahun 2007, BCA menyediakan sarana bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk melakukan pengiriman uang melalui layanan Financial Institution Remittance BCA (Fire Cash BCA) yang berbasis web. Didukung oleh bank-bank koresponden dan mitra- mitra BCA di luar negeri, Fire Cash BCA tersedia di lebih dari 100 negara di seluruh dunia terutama di negara-negara tujuan TKI. Pada tahun 2014, terdapat update sistem Fire Cash BCA untuk memperlancar pencairan kiriman uang tunai (remittance secara tunai) via EDC maupun pengiriman uang ke rekening BCA serta ke rekening bank lain di Indonesia dan Kantor Pos. BCA melanjutkan upayanya dalam mengembangkan kapasitas Fire Cash di Indonesia, untuk memfasilitasi transaksi-transaksi Fire Cash nasabah di seluruh Indonesia.
Layanan Perdagangan Internasional (Trade Finance)
Belum membaiknya harga komoditas unggulan seperti batu bara dan minyak sawit (CPO) serta melambatnya pertumbuhan ekonomi mitra-mitra dagang utama Indonesia, seperti Tiongkok, Jepang dan beberapa negara Eropa, berdampak pada penurunan ekspor Indonesia dan mempengaruhi permintaan terhadap komoditas Indonesia di tahun 2014. Di tengah kondisi tersebut, volume jasa perdagangan internasional BCA mengalami
penurunan baik produk impor maupun ekspor. Volume layanan trade finance yang ditangani BCA turun 16,2% menjadi USD 9,0 miliar pada tahun 2014. Namun, penurunan dalam volume perdagangan internasional sebagian dapat diimbangi dengan meningkatnya volume transaksi perdagangan domestik melalui instrumen Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) di tahun 2014 dibandingkan tahun 2013. Pertumbuhan perdagangan domestik ini terutama didukung oleh sektor industri besi baja, batu bara, farmasi dan kimia. Volume transaksi perdagangan domestik dengan instrumen SKBDN yang ditangani BCA meningkat 9,2% menjadi USD 2,7 miliar pada tahun 2014.
Di tengah situasi yang kurang kondusif pada tahun 2014, Perbankan Internasional BCA terus mengembangkan berbagai produk dan layanan trade finance. Disamping itu, kualitas sumber daya manusia terus diperkuat guna menghadapi persaingan yang lebih ketat dan mengakomodasi kebutuhan nasabah akan layanan perdagangan yang semakin kompleks.
MELANGKAH KE DEPAN
Kami memperkirakan bahwa ketidakpastian ekonomi global masih akan terus berlanjut di tahun 2015. Menghadapi kondisi tersebut, Tresuri BCA akan tetap fokus untuk mengelola likuiditas secara hati-hati, serta tetap berupaya mengoptimalkan profitabilitas Bank. BCA akan terus mencermati perkembangan ekonomi yang terjadi dan bersikap waspada terhadap dinamika yang mungkin terjadi.
Di bidang transaksi perdagangan internasional dan bisnis remittance, BCA akan terus berupaya untuk menggali peluang-peluang dengan memperluas jaringan kerja sama serta meningkatkan kualitas infrastruktur maupun sumber daya manusia. Hal ini penting dalam mengantisipasi peningkatan perekonomian Indonesia yang lebih baik di tahun- tahun mendatang.
70
BISNIS
Manajemen
Risiko
Menerapkan standarkehati-hatian dalam penyaluran kredit
0,6
Kredit Bermasalah (NPL)
BCA secara proaktif menelaah dan menyempurnakan kebijakan manajemen risiko yang disesuaikan dengan perubahan kondisi makro ekonomi dan mengacu kepada ketentuan regulator terbaru maupun international best practices