• Tidak ada hasil yang ditemukan

55Sejalan dengan tujuan BCA untuk mempertahankan

Dalam dokumen Bank Central Asia Tbk 2014 (Halaman 57-63)

portofolio kredit yang berkualitas, Bank memfokuskan penyaluran kredit korporasi ke perusahaan-perusahan terkemuka di Indonesia yang memiliki stabilitas usaha dan reputasi yang sangat baik di bidangnya. Penyaluran kredit secara hati-hati ke segmen pasar yang terdiversifikasi dan terpetakan secara jelas telah meminimalkan eksposur risiko yang dapat timbul akibat penurunan kinerja suatu industri.

Pada tahun 2014, secara keseluruhan kredit korporasi menjadi pendorong utama pertumbuhan portofolio kredit BCA. Kredit korporasi tumbuh 16,9% menjadi Rp 120,5 triliun pada akhir tahun 2014. Permintaan kredit korporasi meningkat di sebagian besar industri dalam berbagai sektor ekonomi akibat terbatasnya sumber-sumber pendanaan alternatif bagi nasabah korporasi. Didukung oleh neraca keuangan yang kokoh, BCA merupakan salah satu bank utama penyalur kredit korporasi di Indonesia.

Fokus pada Kebutuhan Nasabah

Pada tahun 2014, di tengah situasi ekonomi yang kurang kondusif, debitur-debitur korporasi terus berupaya mencari pendanaan dari bank. Sejalan dengan komitmen BCA untuk membina hubungan yang erat dengan nasabah korporasi, Bank siap untuk memenuhi kebutuhan pendanaan bagi para nasabah korporasi yang berkualitas di tengah ketatnya kondisi likuiditas. Kerja sama yang erat dan kemampuan Bank dalam memenuhi kebutuhan pendanaan nasabah telah memungkinkan Perbankan Korporasi

untuk melanjutkan pendekatan berkesinambungan terhadap nasabah demi mempertahankan pertumbuhan bisnis jangka panjang. Bank menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit dengan fokus kepada nasabah berkualitas dan perusahaan-perusahaan terkemuka yang telah memiliki hubungan baik dengan BCA.

Pada tahun 2014, pertumbuhan kredit korporasi terutama berasal dari kredit investasi. Pertumbuhan ini sebagian besar berasal dari penarikan fasilitas yang telah menjadi komitmen BCA sebelumnya dan dari pemberian fasilitas baru untuk beberapa Badan Usaha Milik Negara yang terkemuka. Penyediaan fasilitas kredit investasi ini diharapkan dapat menciptakan permintaan akan kredit modal kerja, trade finance, dan beragam layanan perbankan lainnya di masa mendatang. Portofolio kredit investasi di segmen korporasi meningkat 23,4% menjadi Rp 63,7 triliun di tahun 2014 sedangkan kredit modal kerja tumbuh 10,4% menjadi Rp 56,8 triliun pada periode yang sama. Dengan demikian, secara keseluruhan portofolio kredit korporasi tumbuh 16,9% menjadi Rp 120,5 triliun pada tahun 2014. Pertumbuhan ini terutama berasal dari perusahaan migas milik pemerintah, Pertamina, dan beberapa perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan dan sektor pariwisata.

BCA memberikan sebagian besar fasilitas kredit dalam mata uang Rupiah sesuai dengan sumber pendanaan yang diperoleh Bank. Sekitar 90% dari

(dalam miliar Rupiah)

Rupiah Valuta Asing

2013 103.082 14.065 89.017 2014 120.485 18.914 101.571

(dalam miliar Rupiah)

Investasi Modal Kerja

2013 103.082 51.450 51.632 2014 120.485 56.792 63.693

56

total dana pihak ketiga Bank adalah dalam mata uang Rupiah. Sebagai salah satu bank utama di Indonesia, BCA dapat memberikan pinjaman dalam jumlah besar dengan tingkat suku bunga kredit yang kompetitif untuk nasabah-nasabah korporasi yang berkualitas di Indonesia. Kredit dalam denominasi Rupiah merupakan porsi terbesar dalam portofolio kredit korporasi, dimana pada tahun 2014 mencapai 84,3% dari total penyaluran kredit, sementara 15,7% adalah kredit korporasi dalam mata uang asing. BCA mempertahankan profil yang konservatif untuk kredit dalam mata uang asing. Kebijakan tersebut untuk meminimalkan risiko fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing. Sejak lama Bank telah menerapkan kebijakan penyaluran kredit valuta asing hanya kepada nasabah-nasabah korporasi yang memiliki pendapatan utama dalam mata uang US Dollar atau mata uang asing lainnya. Hal tersebut memastikan bahwa para nasabah korporasi memiliki sumber pendapatan yang sesuai dengan kewajiban kreditnya, guna meminimalkan risiko perubahan nilai tukar. Selain itu, BCA juga telah menetapkan batas maksimum eksposur kredit valuta asing pada portofolio Bank secara keseluruhan.

Berkat analisa industri yang komprehensif serta pemantauan secara seksama, BCA mampu mengembangkan portofolio kredit korporasi, dan

pada saat yang sama memitigasi risiko-risiko yang dihadapi sektor perbankan akibat penurunan kinerja sektor komoditas terutama pertambangan. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loans – NPL) kredit korporasi tercatat sebesar 0,4% di akhir tahun, dibandingkan posisi tahun lalu yang sebesar 0,1%. Kenaikan tersebut disebabkan oleh penurunan status dari satu kredit korporasi, yang sebelumnya telah direstrukturisasi dan menunjukkan tanda-tanda pelemahan dalam situasi lingkungan usaha saat ini. BCA memiliki cadangan kerugian kredit yang memadai untuk menutup dampak yang mungkin timbul dari kredit yang direstrukturisasi tersebut terhadap posisi keuangan Bank.

Bank berupaya memanfaatkan peluang dari meningkatnya arus perdagangan di Asia, terutama dengan penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015. Untuk itu, Bank terus memperkuat kerja sama dengan bank-bank di negara Asia lainnya seperti Thailand, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Filipina, guna melayani nasabah- nasabah korporasi dari negara-negara tersebut yang masuk ke pasar Indonesia. Dengan beragam layanan perbankan yang dimiliki, BCA berharap untuk dapat memenuhi kebutuhan perbankan para nasabah korporasi tersebut.

57

Kredit Sindikasi

Pada tahun 2014, Bank menyelesaikan transaksi kredit sindikasi sebesar Rp 45,2 triliun, menjadikan BCA sebagai salah satu pemain utama di bidang kredit sindikasi di Indonesia. Partisipasi underwriting kredit sindikasi yang dilakukan oleh BCA mencapai ekuivalen Rp 8,6 triliun, dimana sebesar Rp 7,7 triliun dibukukan di neraca BCA. Pada tahun 2014 kredit sindikasi disalurkan ke berbagai sektor seperti telekomunikasi; pembangkit listrik; transportasi; minyak dan gas; peternakan; dan properti.

Melalui kredit sindikasi, Bank berkontribusi dalam pengembangan infrastruktur di Indonesia dengan menyediakan pembiayaan kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT KAI Commuter Jabodetabek, Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk beserta entitas anaknya. Selain itu, kredit sindikasi juga disalurkan kepada PT Pertamina, perusahaan migas milik negara, dan PT Charoen Phokphand Indonesia Tbk, produsen pakan ternak ayam terkemuka. Pada sektor properti, Bank telah menyalurkan kredit sindikasi ke PT Pakuwon Jati Tbk dan PT Bali Raga Wisata, yang merupakan perusahaan pengembang properti terkemuka di Indonesia.

Peran BCA sebagai agen dalam kredit sindikasi juga berkontribusi penting dalam peningkatan fee-based income. Dalam menjalankan fungsinya sebagai agen, Bank dapat berperan sebagai agen fasilitas, agen jaminan, atau agen rekening dana sementara.

Layanan Berbasis Komunitas Bisnis

Bank aktif menciptakan dan mengembangkan jaringan komunitas bisnis yang menghubungkan nasabah korporasi dengan nasabah komersial dan UKM di dalam satu jaringan bisnis. BCA memanfaatkan jaringan perbankan yang luas di seluruh Indonesia untuk menyalurkan pinjaman di sepanjang rantai usaha (value chain) dengan nasabah berbasis komunitas tersebut.

Layanan berbasis komunitas ini menyediakan fasilitas pembiayaan kredit di sepanjang mata rantai (value chain) serta layanan cash management dan transaksi bagi perusahaan korporasi dan komersial & UKM.

10 Portofolio Kredit Korporasi Terbesar Berdasarkan Sektor Industri

Sektor Industri 2014 2013

Perkebunan dan Pertanian 11,2% 10,7%

Bahan Kimia dan Plastik 7,3% 7,6%

Pembangkit Energi dan Tenaga Listrik 6,3% 5,8%

Transportasi dan Logistik 5,9% 6,7%

Pembiayaan Konsumer 5,7% 7,5%

Telekomunikasi 5,5% 7,8%

Jasa Keuangan* 4,9% 5,7%

Makanan dan Minuman 4,6% 4,1%

Pariwisata 4,5% 3,2%

Properti dan Konstruksi 4,5% 3,8%

Total 60,4% 62,9%

58

Dengan peran penting sebagai penyedia layanan perbankan, BCA menyediakan kemudahan bagi nasabah korporasi dan para pemasoknya dalam mengatur aktivitas transaksi pembayaran sehari- hari sehingga pengelolaan uang tunai dapat berjalan dengan lebih efisien. Bank terus meningkatkan bisnis cash management, dengan menargetkan komunitas bisnis dan industri tertentu yang menjanjikan, khususnya pada suatu rantai usaha yang dapat memperkuat layanan transaksi perbankan dan pada akhirnya memperkuat posisi BCA dalam menjaga stabilitas saldo dana rekening transaksi (CASA). Layanan cash management Bank yang andal telah digunakan selama bertahun-tahun oleh berbagai komunitas nasabah strategis, termasuk pada jaringan Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) dan toko swalayan (minimarket). Nasabah individu pengguna jaringan SPBU dan toko swalayan juga mendapatkan manfaat dari layanan value chain dengan tersedianya produk transaksi pembayaran BCA, termasuk Kartu Kredit, Debit Card serta kartu Flazz untuk pembayaran mikro non-tunai.

Guna memenuhi kebutuhan nasabah korporasi yang terus berkembang, Bank terus meningkatkan infrastruktur cash management dan kapabilitas sistem interface untuk meningkatkan integrasi

dengan sistem cash management nasabah korporasi. Pengembangan jaringan value chain ini mendukung bisnis untuk terus bertumbuh serta memastikan kemampuan Bank dalam memperoleh peluang- peluang pertumbuhan yang berkelanjutan.

Bank berusaha meningkatkan hubungan antara nasabah korporasi, komersial dan UKM. Melalui berbagai aktivitas networking yang diselenggarakan dalam beberapa tahun terakhir, Bank aktif membangun interaksi antar nasabah korporasi. Pada tahun 2014, telah diadakan kegiatan networking lintas sektoral pada sektor-sektor tertentu yang memiliki kedekatan bisnis satu sama lain. Bank mempertemukan nasabah di komunitas transportasi, logistik dan otomotif dalam kegiatan bertema “Connecting the New Indonesia” guna membahas prospek konektivitas transportasi darat, udara dan laut di Indonesia. Selain itu, Bank juga mempertemukan nasabah di komunitas properti dengan nasabah di komunitas pariwisata dalam seminar mengenai pengembangan pariwisata di Indonesia. Interaksi antar nasabah tersebut diharapkan dapat menciptakan komunitas multi industri yang dinamis, sehingga pada akhirnya membentuk hubungan yang lebih erat antara BCA dengan komunitas-komunitas tersebut.

59

Melangkah Maju

BCA akan mencermati secara seksama perkembangan dan tren di masing-masing sektor industri dan kondisi ekonomi global maupun pembangunan nasional untuk menentukan industri-industri yang menjanjikan bagi aktivitas penyaluran kredit tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian Bank.

Kerja sama antara Perbankan Korporasi BCA dengan unit-unit bisnis lainnya akan terus ditingkatkan guna memperkuat layanan Bank di bidang value chain financing dan cash management yang terintegrasi. Bank akan melanjutkan pengembangan yang tengah berjalan atas sistem dan infrastruktur cash management yang lebih maju.

BCA akan melanjutkan kerja sama dengan bank-bank asing di kawasan Asia guna menangkap peluang Foreign Direct Investment dengan memberikan layanan pembiayaan, perdagangan, valuta asing dan cash management untuk korporasi asing yang ingin membangun bisnis di Indonesia.

60

BISNIS

Perbankan

Individu

Pertumbuhan jumlah masyarakat kelas menengah dan para profesional terus

mendukung peningkatan kebutuhan produk perbankan konsumer seperti kredit pemilikan rumah, kredit kendaraan bermotor, kartu kredit, produk asuransi maupun

produk dan layanan wealth

management

92T

Rp

KPR merupakan porsi terbesar dan memberi kontribusi 59,2% terhadap total kredit konsumer

61

Dalam dokumen Bank Central Asia Tbk 2014 (Halaman 57-63)