• Tidak ada hasil yang ditemukan

37Total dana pihak ketiga tumbuh 9,4% menjad

Dalam dokumen Bank Central Asia Tbk 2014 (Halaman 39-45)

Rp 447,9 triliun pada akhir tahun 2014, dengan portofolio dana CASA sebesar Rp 336,4 triliun, meningkat 4,2% dibandingkan tahun 2013. Tren pertumbuhan positif dari keseluruhan dana pihak ketiga memperkokoh posisi pendanaan dan memperkuat penyangga likuiditas Bank. Posisi penempatan dana jangka pendek dan obligasi pemerintah tercatat sebesar 20,7% dari total dana pihak ketiga, selain cadangan primer yang mencapai 8,7% dari total dana pihak ketiga. Rasio LDR BCA tetap berada pada tingkat yang sehat yaitu 76,8%.

Kehati-hatian Dalam Penyaluran Kredit

Sektor perbankan mengalami perlambatan pertumbuhan kredit di tahun 2014 dibandingkan tahun 2013. Pertumbuhan PDB yang lebih moderat, ketatnya kondisi likuiditas serta tingkat suku bunga yang lebih tinggi dipandang sebagai kendala- kendala yang membatasi pertumbuhan kredit sektor perbankan pada tahun 2014. Pertumbuhan kredit sektor konsumer melambat secara signifikan disebabkan oleh peningkatan suku bunga pasar, serta penerapan regulasi yang lebih ketat dalam penyaluran kredit konsumer. Pada tahun 2014, peningkatan NPL sektor perbankan telah mengindikasikan kualitas aset yang melemah, meskipun masih dalam rentang yang dapat ditoleransi. Menghadapi situasi ini, BCA menerapkan pendekatan yang berhati-hati dalam melakukan penyaluran kredit dengan penekanan kepada kualitas kredit dan posisi likuiditas sektor perbankan, khususnya, kondisi likuiditas BCA sendiri.

Relationship banking merupakan pendekatan utama BCA dalam menyalurkan kredit. Penyaluran kredit difokuskan pada pengembangan usaha debitur, terutama perusahaan-perusahaan yang telah menjalin hubungan dengan BCA dan memiliki pengalaman di bidangnya. BCA memantau secara cermat perkembangan aktivitas berbagai sektor bisnis dan konsumer untuk menyelaraskan upaya pemberian kredit dengan tingkat toleransi risiko yang disesuaikan. Proses penyaluran kredit terus ditopang oleh keandalan infrastruktur perkreditan di cabang maupun di kantor pusat yang dirancang untuk mendukung pertumbuhan kredit yang berkualitas dan berkelanjutan.

Proses administrasi kredit dan kemampuan memantau portofolio kredit secara real time terus ditingkatkan guna mendukung praktik pemberian pinjaman yang

sehat. BCA terus mengembangkan kapasitas dan kemampuan account officer melalui pelatihan dan fokus pada keseimbangan antara keterampilan pemasaran dan pengetahuan risiko.

Pada tahun 2014 portofolio kredit BCA tumbuh sebesar 11,0% menjadi Rp 346,6 triliun, terutama ditopang oleh penyaluran kredit kepada sektor bisnis. Berkat kebijakan kredit yang berhati-hati, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL pada tahun 2014 sebesar 0,6% dari total kredit.

Pengembangan Bisnis Melalui Anak Usaha

Dalam rangka meningkatkan pelayanan terhadap nasabah, BCA melakukan diversifikasi portofolio layanan keuangan dengan menawarkan produk dan jasa keuangan yang beragam. BCA berharap langkah

ini akan meningkatkan pendapatan imbal jasa (fee

based income), yang merupakan bagian penting dari pendapatan dan profitabilitas masa depan.

Dalam beberapa tahun terakhir BCA telah mengembangkan berbagai produk dan jasa keuangan yang lebih komprehensif, termasuk pengembangan lini- lini bisnis baru bersama dengan entitas anak di bidang perbankan Syariah (BCA Syariah), sekuritas (BCA Sekuritas), asuransi umum (BCA Insurance), dan kredit kendaraan bermotor roda dua (Central Santosa Finance). Bisnis-bisnis tersebut terus menunjukkan hasil yang positif dan diharapkan dapat berkontribusi lebih baik terhadap profitabilitas BCA di masa mendatang. Pada kuartal keempat 2014, BCA Life (asuransi jiwa), yang dimiliki oleh BCA Sekuritas, telah mulai beroperasi dan akan menambah kemampuan BCA dalam menyediakan produk-produk dan solusi keuangan yang lebih beragam bagi nasabah BCA. Entitas anak BCA yang telah mapan, BCA Finance (pembiayaan kendaraan roda empat), terus memberikan kontribusi yang signifikan terhadap profitabilitas BCA.

Basis nasabah BCA yang besar, yang dibangun melalui keunggulan dalam transaksi perbankan dan penyaluran kredit, telah memberikan landasan yang kuat untuk pertumbuhan produk-produk keuangan non-bank. Ke depan, lini-lini produk baru ini akan memberi BCA peluang untuk memperluas basis nasabah yang dimiliki dan akan menjadi daya tarik bagi masyarakat Indonesia yang belum menjadi nasabah BCA.

38

Subur Tan

Direktur

Eugene Keith Galbraith

Wakil Presiden Direktur

Rudy Susanto

Direktur

Dhalia Mansor Ariotedjo

Direktur

Suwignyo Budiman

39

Henry Koenaifi

Direktur

Jahja Setiaatmadja

Presiden Direktur

Erwan Yuris Ang

Direktur Independen

Anthony Brent Elam

Direktur

Armand Wahyudi Hartono

40

Perkembangan lini-lini usaha baru tersebut sangat penting bagi BCA sebagai upaya untuk memperkuat hubungan dengan nasabah. Dengan bertambahnya populasi kelas menengah disertai dengan kebutuhan yang semakin beragam, produk dan jasa perbankan menjadi semakin tidak terpisahkan dari produk dan jasa non-perbankan.

Melangkah ke depan, BCA akan terus mendukung pertumbuhan anak-anak usaha serta terus memperkuat sinergi dengan bisnis utama BCA. Dengan demikian, anak-anak usaha tersebut dapat memberikan kontribusi lebih besar kepada BCA di masa depan.

TANTANGAN YANG DIHADAPI TAHUN 2014 SERTA TARGET VS PENCAPAIAN

Meskipun sedikit lebih rendah dari yang diharapkan sebelumnya, BCA mencatat pertumbuhan kredit yang positif sebesar 11,0% pada tahun 2014. Sepanjang tahun, BCA memusatkan perhatian terhadap penyaluran kredit kepada nasabah berkualitas dengan kemampuan yang telah teruji dalam bertahan menghadapi kondisi politik dan ekonomi yang berfluktuasi. Secara keseluruhan, segmen kredit korporasi dan komersial merupakan penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan total kredit BCA pada tahun 2014. Pertumbuhan kredit tersebut dicapai dengan terjaganya kualitas aset secara keseluruhan dimana rasio NPL tercatat 0,6%. Rasio NPL BCA berada pada posisi yang lebih baik dibandingkan dengan sektor perbankan sebesar 2,2%.

Sebagai langkah proaktif untuk mengantisipasi pertumbuhan CASA yang moderat, BCA proaktif menghimpun dana dari produk deposito melalui penyesuaian tingkat suku bunga secara bertahap. Sebagai hasilnya, BCA mampu membukukan total dana pihak ketiga Rp 447,9 triliun pada akhir 2014, dengan tingkat pertumbuhan 9,4%. Hal ini sesuai dengan kisaran target pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 8-11%. Pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang baik telah menghasilkan kinerja keuangan dan pertumbuhan profitabilitas yang solid. Pendapatan bunga bersih meningkat 21,2% menjadi Rp 32,0 triliun pada tahun 2014, dibandingkan dengan Rp 26,4 triliun pada tahun 2013, menghasilkan marjin bunga bersih 6,5% dibandingkan 6,2% pada tahun sebelumnya. Pendapatan operasional selain bunga tumbuh 13,6% menjadi Rp 9,0 triliun selama tahun 2014. Pada tahun 2014 rasio efisiensi biaya (cost efficiency ratio) berada pada level 44,2%, sedikit mengalami peningkatan dibandingkan dengan 42,9% di tahun 2013. Laba bersih BCA secara keseluruhan tumbuh 15,7% menjadi Rp 16,5 triliun pada akhir 2014. BCA mencatat tingkat pengembalian atas aset (Return on Assets – ROA) dan tingkat pengembalian atas ekuitas (Return on Equity – ROE) masing-masing tercatat sebesar 3,9% dan 25,5%, lebih tinggi dibandingkan target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Ikhtisar Keuangan BCA (dalam miliar Rupiah)

2014 2013 Δ%

Total Aset 552.424 496.305 11,3%

Kredit 346.563 312.290 11,0%

Dana Pihak Ketiga 447.906 409.486 9,4%

Pendapatan Bunga Bersih 32.027 26.425 21,2%

Pendapatan Operasional selain Bunga 9.024 7.947 13,6%

Beban Operasional (18.307) (14.631) 25,1%

Laba Sebelum Pajak 20.741 17.816 16,4%

Laba Bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk 16.486 14.254 15,7%

EPS (dalam Rupiah) 669 579 15,7%

Rasio-Rasio Keuangan Utama (tidak konsolidasi)

2014 2013 Δ bps

ROA 3,9% 3,8% 10

ROE 25,5% 28,2% -270

NIM 6,5% 6,2% 30

LDR 76,8% 75,4% 140

Cost Efficiency Ratio (CER) 44,2% 42,9% 130

NPL 0,6% 0,4% 20

41

PENINGKATAN KUALITAS PENERAPAN TATA KELOLA PERUSAHAAN

Di tengah berbagai tantangan eksternal dan meningkatnya kompleksitas bisnis perbankan, BCA percaya bahwa penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik merupakan fondasi bagi terbentuknya infrastruktur perbankan dan budaya perusahaan yang kokoh. Hal tersebut akan berkontribusi terhadap kelangsungan kinerja usaha sekaligus membantu dalam meminimalisasi risiko-risiko yang dihadapi.

Kualitas penerapan Tata Kelola Perusahaan di BCA terus disempurnakan dengan mengacu kepada praktik-praktik dan standar terbaik di Indonesia, termasuk ASEAN

Corporate Governance Scorecard. Selanjutnya, BCA telah mengkaji tata nilai perusahaan sesuai dengan perkembangan dan tuntutan usaha saat ini. Seluruh kegiatan usaha dilakukan dengan berpedoman terhadap prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik dan didukung oleh sistem pengendalian internal dan manajemen risiko yang andal.

Langkah-langkah yang diambil untuk meningkatkan kualitas penerapan Tata Kelola Perusahaan akan memperkuat BCA secara kelembagaan, menjadikan BCA lebih mudah untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan usaha yang semakin kompetitif dan pada akhirnya memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan. BCA telah menerima berbagai penghargaan atas Tata Kelola Perusahaan yang Baik selama beberapa tahun terakhir, yang merupakan bukti bahwa publik mengakui prestasi dan upaya BCA untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan yang Baik.

PERUBAHAN KOMPOSISI ANGGOTA DIREKSI

Kami melaporkan telah terdapat perubahan komposisi anggota Direksi pada tahun 2014. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 7 April 2014 telah menyetujui pengunduran diri Bapak Renaldo Hector Barros selaku salah satu anggota Direksi. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya serta mengucapkan terima kasih kepada Bapak Renaldo Hector Barros atas kontribusi yang signifikan dalam karir beliau selama 11 tahun di BCA baik sebagai anggota Dewan Komisaris maupun anggota Direksi.

RUPS tersebut juga telah mengangkat Bapak Rudy Susanto sebagai anggota Direksi yang baru. Kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak Rudy Susanto sebagai anggota Direksi berlaku efektif sejak 21 Juli 2014 sesuai dengan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan.

Terkait dengan perubahan komposisi anggota Direksi tersebut, Dewan Komisaris sesuai dengan wewenang yang diberikan oleh RUPS, telah menetapkan pembagian tugas dan wewenang baru di antara anggota Direksi dengan menunjuk Bapak Armand W. Hartono sebagai Direktur Bidang Teknologi Informasi dan Operasi menggantikan Bapak Renaldo Hector Barros; serta menunjuk Bapak Rudy Susanto sebagai Direktur Kredit. Selanjutnya kami juga melaporkan bahwa sesuai dengan peraturan baru seperti yang tertuang dalam Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia dan dengan tidak mengurangi independensi anggota Direksi lainnya, RUPS juga menetapkan Bapak Erwan Yuris Ang selaku Direktur Independen BCA.

42

TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

Sebagai bagian dari komunitas usaha yang bertanggung jawab, BCA memiliki komitmen untuk mendukung kegiatan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility - CSR) agar dapat melakukan sumbangsih yang berarti bagi kesejahteraan komunitas. Aktivitas CSR BCA khususnya diarahkan pada bidang- bidang yang menjadi fondasi masa depan bangsa, yaitu bidang pendidikan, kesehatan, serta pelestarian budaya dan lingkungan.

Di bidang pendidikan, BCA mensponsori berbagai program beasiswa melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, selain mengelola learning center untuk perbankan dan keuangan.

BCA memiliki kebijakan untuk menerima karyawan magang guna mendukung kebutuhan dunia usaha akan tenaga kerja yang terampil. Para karyawan magang menjalani rotasi penugasan di BCA untuk memaksimalkan eksposur terhadap aktivitas perbankan dan menciptakan profesional-profesional yang terampil. Sebagian karyawan magang tersebut kemudian akan direkrut oleh BCA, sementara lainnya diambil oleh perusahaan-perusahaan lain di berbagai sektor industri yang sedang bertumbuh di Indonesia. Kami percaya bahwa proses yang efektif ini turut berkontribusi pada pertumbuhan jangka panjang baik bagi BCA maupun Indonesia.

Selanjutnya, BCA aktif dalam mendukung pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM); melakukan pelestarian budaya Indonesia, khususnya kesenian wayang kulit tradisional; serta memberikan dukungan fasilitas kesehatan bagi berbagai komunitas. BCA juga menjadi salah satu sponsor utama pada kejuaraan bulu tangkis Indonesia Open 2014 yang diadakan di Jakarta.

TINJAUAN PROSPEK USAHA DAN STRATEGI 2015

Di tengah ketidakpastian di pasar global yang masih berlanjut, kami melihat bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2015 masih berada dalam fase konsolidasi sebelum bertumbuh lebih cepat ke depannya. Indonesia masih perlu mewaspadai potensi ancaman yang dapat

timbul dari defisit transaksi berjalan, risiko melemahnya harga komoditas, serta pembalikan arus modal asing sejalan dengan normalisasi kebijakan tingkat suku bunga dari Bank Sentral Amerika Serikat.

Meskipun demikian, kami meyakini bahwa Pemerintah dan regulator akan bekerja efektif dalam mengarahkan perekonomian Indonesia dan membangun landasan yang kokoh bagi pertumbuhan berkelanjutan di masa-masa mendatang. Pemerintah secara bijaksana berencana untuk mengalihkan sebagian besar anggaran Pemerintah dari pengeluaran untuk subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke bidang lain seperti proyek- proyek infrastruktur utama guna memicu pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Realisasi belanja Pemerintah dan arus investasi akan menciptakan likuiditas yang signifikan untuk memperkuat perbankan Indonesia. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan mulai diterapkan pada tahun 2015 berpotensi menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Kompetisi perbankan diperkirakan akan meningkat di Indonesia, negara yang merupakan salah satu pilar utama perekonomian MEA. Oleh karena itu, BCA akan terus meningkatkan keunggulan di bidang perbankan transaksi dan memperkuat infrastruktur penyaluran kredit dengan fokus utama mendukung perkembangan bisnis dalam negeri. BCA juga akan melakukan aliansi bisnis dan mempererat hubungan dengan beberapa bank terkemuka di Asia dalam menggarap berbagai peluang bisnis dari perusahan-perusahaan potensial ASEAN yang membutuhkan layanan perbankan di Indonesia. Sementara itu, sinergi dengan anak-anak usaha akan terus ditingkatkan baik dari sisi strategi usaha maupun operasional.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut secara keseluruhan, rencana kerja di berbagai lini bisnis BCA akan disertai dengan rencana pengelolaan likuiditas yang berhati-hati, permodalan yang kuat dan manajemen risiko kredit yang kokoh. Kami akan senantiasa mencermati perkembangan situasi makro, dan secara proaktif melakukan penyesuaian- penyesuaian program kerja dan rencana usaha jika diperlukan, khususnya dalam menghadapi hal-hal yang tidak terduga.

43

Dalam dokumen Bank Central Asia Tbk 2014 (Halaman 39-45)