• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. STRUKTUR PEREKONOMIAN PROPINSI TERKAIT

6.3. Struktur Perekonomian Propinsi Nusa Tenggara Barat 1. Analisis Permintaan dan Penawaran

6.3.6. Perdagangan Propinsi Nusa Tenggara Barat

Perdagangan antar wilayah antara propinsi Nusa Tenggara Barat dengan propinsi Jawa Timur, Bali dan ROI, dapat dilihat pada struktur penawaran dan permintaan sektor produksi di propinsi Nusa Tenggara Barat. Sama halnya dengan dua propinsi terdahulu, struktur permintaaan terhadap barang dan jasa di Nusa Tenggara Barat menggambarkan berapa banyak barang dan jasa yang berasal dari propinsi Nusa Tenggara Barat yang dipergunakan oleh Nusa Tenggara Barat sendiri, berapa banyak barang dan jasa yang diekspor ke Jawa Timur, Bali, wilayah lain di Indonesia (ROI), dan luar negeri, yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan faktor produksi dan konsumsi akhir. Sedangkan dari sisi penawaran memperlihatkan berapa besar output barang dan jasa yang diproduksi oleh propinsi Nusa Tenggara Barat dan berapa banyak barang dan jasa yang diimpor oleh propinsi Bali, dari propinsi Jawa Timur, daerah lain di Indonesia dan dari luar negeri.

Posisi perdagangan propinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2000 menunjukkan angka surplus sebesar Rp. 1 679.7 milyar, sebagaimana disajikan pada Lampiran 14. Total nilai impor barang dan jasa propinsi Nusa Tenggara Barat sebesar Rp. 4 340.2 milyar, dengan perincian impor domestik (dari propinsi lain di Indonesia) bernilai Rp. 1 503.2 milyar ( 34.6 persen dari total impor) sedangkan impor dari luar negeri bernilai Rp. 2 836.9 milyar ( 65.4 persen dari total impor). Nilai ekspor propinsi Nusa Tenggara Barat sebesar Rp. 6 019.8 milyar, dimana Rp. 1 068.6 milyar adalah ekspor domestik (17.7 persen dari nilai ekspor total) dan ekspor luar negeri sebesar Rp. 4 951.2 milyar (82.3 persen dari nilai ekspor total). Khusus untuk perdagangan luar negeri yang dilakukan oleh propinsi Nusa Tenggara Barat, nilai ekspor luar negeri sebesar Rp.4 951.2 milyar dan nilai impor luar negeri sebesar Rp. 2 836.9 milyar, dengan demikian propinsi

Nusa Tenggara Barat mengalami surplus perdagangan luar negeri sebesar Rp 2 114.3 milyar.

Lima sektor di propinsi Nusa Tenggara Barat yang termasuk nilai impornya terbesar, secara berurutan adalah sektor-sektor :

1. Pertambangan batubara, biji logam dan penggalian lainnya dengan nilai impor Rp. 857.4 milyar, dengan komposisi 28.0 persen impor domestik, dan sisanya 72.0 persen diimpor dari luar negeri.

2. Bangunan dengan nilai impor Rp.788.8 milyar, dengan komposisi 21.6 persen impor domestik dan 78.4 persen impor berasal dari luar negeri.

3. Angkutan darat dengan nilai impor Rp 743.5 milyar, dengan komposisi 29.3 persen impor domestik dan 70.7 persen impor dari luar negeri.

4. Perdagangan dengan nilai impor Rp.608.9 milyar, dengan komposisi 30.9 persen impor domestik dan 69.1 persen impor dari luar negeri.

5. Industri makanan dan tembakau dengan nilai impor Rp. 215.6 milyar, dengan komposisi 81.9 persen impor domestik dan 18.1 persen impor berasal dari luar negeri.

Selanjutnya, lima sektor di propinsi Nusa Tenggara Barat dengan nilai ekspor terbesar, secara berurutan adalah sektor-sektor :

1. Pertambangan batubara, biji logam dan penggalian lainnya dengan nilai ekspor Rp. 4 510.7 milyar, dengan komposisi 2.76 persen ekspor domestik (ekspor ke luar Nusa Tenggara Barat tetapi masih di dalam wilayah Indonesia) dan sisanya 97.24 persen di ekspor ke luar negeri.

2. Industri makanan, minuman dan tembakau dengan nilai ekspor Rp. 468.0 milyar, dengan komposisi 99.7 persen ekspor domestik, dan 0.3 persen di ekspor keluar negeri.

3. Tanaman perkebunan dengan nilai ekspor Rp. 276 milyar, dengan komposisi 100 persen ekspor domestik.

4. Perdagangan dengan nilai ekspor Rp.269.8 milyar, dengan komposisi 16.3 persen ekspor domestik, dan 83.7 persen diekspor ke luar negeri.

5. Angkutan darat dengan nilai ekspor Rp. 162.4 milyar, dengan komposisi 2.5 persen ekspor domestik, dan 97.5 merupakan ekspor ke luar negeri.

Pada Tabel 38. disajikan sektor produksi di propinsi Nusa Tenggara Barat yang termasuk kategori 5 besar dalam impor dan ekspor, dan sektor-sektor yang mengalami surplus atau defisit dalam perdagangan.

Tabel 38. Lima Sektor Produksi dengan Nilai Impor, Ekspor, Surplus, dan Defisit terbesar Dalam Perdagangan Propinsi Nusa Tenggara Barat

Sektor Produksi No.

Urut Impor Ekspor Surplus Defisit

1 Pertamb. Batubara, biji logam, dan penggalian lainnya Pertamb. Batubara, biji logam, dan penggalian lainnya Pertamb. Batubara, biji logam, dan penggalian lainnya Bangunan 2 Bangunan Industri makanan, minuman, dan tembakau Industri makanan, minuman, dan tembakau Angkutan darat

3 Angkutan Darat Tanaman bahan makanan lainnya

Tanaman bahan makanan lainnya

Perdagangan

4 Perdagangan Perdagangan Industri lainnya Padi

5 Ind.makanan, minuman dan tembakau

Angkutan darat Industri dasar

besi dan baja Peternakan dan hasilnya

Ekspor Propinsi Nusa Tenggara Barat

Perdagangan barang dan jasa yang berasal dari propinsi Nusa Tenggara Barat ke propinsi Jawa Timur, Bali, dan propinsi-propinsi lainnya yang tergabung dalam Rest of Indonesia (ROI), berupa barang dan jasa yang dipergunakan untuk input produksi dan konsumsi akhir. Total permintaan barang dan jasa yang berasal dari propinsi Nusa Tenggara Barat bernilai Rp. 20 265 milyar, dengan perncian untuk permintaan antara (input produksi ) Rp.5 967 milyar, untuk konsumsi akhir Rp.14 298 milyar. Bagian dari konsumsi akhir yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke luar negeri sebesar Rp. 4 951 milyar.

Selanjutnya pada Tabel 39. dapat dilihat perdagangan barang propinsi Nusa Tenggara Barat ke wilayah atau propinsi lain di dalam negeri ataupun

ekspor ke luar negeri. Barang dan jasa yang yang diproduksi di Nusa Tenggara Barat tetapi dipergunakan sebagai input produksi oleh sektor lainnya yang ada di propinsi Nusa tenggara Barat sendiri bernilai Rp.5 453 milyar (setara dengan 91.4 persen dari total permintaan antara), di ekspor ke propinsi Jawa timur nilainya Rp. 278 milyar (setara dengan 4.7 persen), ekspor ke propinsi Bali nilainya hanya Rp. 47 milyar (setara dengan 0.8 pesen), sedangkan ekspor ke seluruh propinsi lainnya di Indonesia (Rest of Indonesia /ROI) nilainya Rp. 189 milyar (setara dengan 3.1 persen). Barang dan jasa yang di ekspor ke Jawa Timur dan Bali, yang digunakan sebagai input produksi, jumlahnya hanya 5.5 persen dari total permintaan antara. Barang dan jasa yang diekspor ke kedua propinsi tersebut bervariasi mulai dari produk-produk primer, sekunder dan tersier, tetapi dominan pada sektor primer (pertanian dan pertambangan).

Tabel 39. Ekspor Propinsi Nusa Tenggara Barat ke Propinsi Jawa Timur, Bali,

Rest of Indonesia, dan Luar Negeri

Nilai (Milyar Rp) No. Perdagangan

Sub-Total Total

1 Barang dan jasa untuk input produksi 5.967

a. Lokal Nusa Tenggara Barat 5 453 (91.4)

b. Ekspor ke Jawa Timur 278(4.7)

c. Ekspor ke Bali 47(0.8)

d. Ekspor Rest of Indonesia 189(3.1)

e. Ekspor domestik (b+c+d) 514(8.6)

2 Barang dan jasa untuk konsumsi akhir 14.298

a. Lokal Nusa Tenggara Barat 8 793(61.5)

b. Ekspor Jawa Timur 282(2.0)

c. Ekspor Bali 27(0.2)

d. Ekspor Rest of Indonesia 246(1.7)

e. Ekspor Domestik (b+c+d) 555(3.9)

f. Ekspor Luar Negeri 4 951(34.6)

3 Total 20.265

Keterangan : angka dalam kurung ( ) menunjukkan persen.

Permintaan barang dan jasa untuk konsumsi akhir di propinsi Nusa Tenggara Barat sendiri besarnya Rp. 8 793 milyar (setara dengan 61.5 persen dari seluruh permintaan akhir), ekspor barang dan jasa untuk konsumsi akhir di Jawa Timur besarnya Rp.282 milyar (setara dengan 2.0 persen dari seluruh

permintaan akhir), ekspor barang dan jasa untuk konsumsi akhir di Bali Rp 27 milyar (setara dengan 0.2 persen dari total permintaan akhir), ekspor ke propinsi lainnya di Indonesia (ROI) besarnya Rp. 246 milyar (setara dengan 1.7 persen dari total permintaan akhir), dan permintaan akhir untuk ekspor luar negeri sebesar Rp. 4 951 milyar (atau setara dengan 34.6 persen dari total permintaan akhir).

Ekspor barang dan jasa untuk konsumsi akhir ke propinsi Jawa Timur dan Bali hanya sebesar 2.2 persen dari total permintaan akhir propinsi Nusa Tenggara Barat. Permintaan barang dan jasa oleh propinsi lain di Indonesia (permintaan domestik) walaupun secara sektoral cukup bervariasi, tetapi konsumsi terbesar pada sektor primer.

Impor barang dan jasa oleh propinsi Nusa Tenggara Barat dimaksudkan sebagai komplemen barang dan jasa produksi lokal Nusa Tenggara Barat, untuk memenuhi permintaan barang dan jasa. Total kebutuhan barang dan jasa di Nusa Tenggara Barat senilai Rp.20 265.4 milyar, sedangkan nilai produksi lokal Nusa Tenggara Barat nilainya Rp. 15 925.2 milyar. Kekurangannya barang dan jasa tersenut senilai Rp. 4 340.2 milyar diperoleh melalui impor dari wilayah lain di Indonesia dan dari luar negeri. Pada Lampiran 15. disajikan struktur impor propinsi Nusa Tenggara Barat per sektoral.

Sebagaimana yang telah di uraikan pada sub-bab di depan, lima sektor di Nusa Tenggara Barat sebagai pengimpor terbesar adalah secara berturut-turut adalah : sektor pertambangan batubara, biji logam, dan sektor penggalian lainnya, sektor bangunan, sektor angkutan darat, sektor perdagangan, dan sektor industri makanan,minuman dan tembakau. Nilai impor barang dan jasa dari wilayah lain di indonesia ( impor domestik) besarnya Rp.1 503.2 milyar (setara dengan 34.5 persen dari total impor Nusa Tenggara Barat), dengan perincian impor yang berasal dari Jawa Timur nilainya Rp.659.9 milyar (setara dengan 15.2 persen dari total impor Nusa Tenggara Barat), impor dari Bali senilai Rp. 129.7 milyar (setara dengan 2.9 persen dari total impor Nusa Tenggara Barat), dan sisanya senilai Rp. 713.6 milyar diimpor dari Rest of Indonesia (setara dengan 16.4 persen dari total impor Nusa Tenggara Barat). Impor barang dan jasa Nusa Tenggara Timur senilai Rp.2 837.0 milyar berasal dari luar negeri (setara dengan 65.5

persen dari total impor Nusa Tenggara Barat.) Dengan demikian, total impor Nusa Tenggara Barat senilai Rp.4 340.2 milyar , seperti yang disajikan pada Tabel 40.

Berdasarkan data impor di atas, ternyata propinsi Jawa Timur juga memiliki arti yang cukup penting dalam penyediaan barang dan jasa domestik bagi propinsi Nusa Tenggara Barat. Barang-barang dan jasa yang dibutuhkan oleh Nusa Tenggara Barat, sebanyak 15.2 persen diimpor dari Jawa Timur. Sedangkan propinsi Bali hanya memberikan kontribusi 2.9 persen bagi penyediaan barang dan jasa di Propinsi Nusa Tenggara Barat.

6.4. Komparasi Struktur Perekonomian dan Perdagangan Antar Propinsi