• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Ekspor Impor bulan April 2021

Dalam dokumen LAPORAN INFORMASI INDUSTRI (Halaman 37-44)

III. INFORMASI PERKEMBANGAN DAN PELUANG PASAR

3.1. Ekspor-Impor Tahun 2021

3.1.4. Perkembangan Ekspor Impor bulan April 2021

Ekspor industri pengolahan non migas kembali mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Tercatat pada April 2021, ekspor industri pengolahan non migas mencapai US$

14,92 Miliar, naik 0,57% dibandingkan Maret 2021 atau naik 52,67% dibandingkan April 2020.

Meskipun demikian, kenaikan ekspor bulan April ini jauh lebih rendah dibandingkan persentase kenaikan ekspor bulan Maret 2021 yang mencapai 22% dibandingkan bulan sebelumnya.

Berbeda dengan bulan Maret 2021, dimana sektor Industri Makanan menyumbang kenaikan ekspor industri pengolahan non migas terbesar, pada April ini industri logam dasar menyumbang kenaikan terbesar. Ekspornya naik hingga US$ 306,83 Juta (naik 13,58%

(mtm)). Oth than stainless steel in ingots/oth primary form,rectangular (oth than square)cross-section (HS 72189900) merupakan salah satu produk dengan kenaikan ekspor terbesar yaitu

110,50

2016 2017 2018 2019 2020 Jan-Apr2020 Jan-Apr 2021 Apr-20 Apr-21

Ekspor Industri Pengolahan Non Migas April 2021 (Miliar US$)

sebesar US$ 122,95 Juta (naik 69,22%). Sebaliknya Ekspor Industri Makanan mengalami penurunan yang sangat signifikan hingga US$ 369,56 Juta (turun 9,48% (mtm)).

Penurunan ekspor industri makanan diduga akibat penurunan stok kelapa sawit yang cukup signifikan. Meningkatnya permintaan domestik selama Ramadhan dan persiapan lebaran tidak diimbangi oleh peningkatan produksi. GIMNI menyebutkan jumlah cadangan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia diprediksi mencapai jumlah terendahnya sejak Maret 2019 yaitu 3,1 juta ton pada akhir April 2021 jauh dibawah prediksi survei Bloomberg sebesar 3,72 juta ton. Data lain menyebutkan, produksi minyak sawit (CPO dan PKO) Indonesia bulan April hanya sebesar 4.097 ribu ton, relatif tidak bertambah dari bulan Maret sebesar 4.020 ribu ton. Disisi lain ekspor produk berbasis sawit (KBLI 1511) mencapai 58,44% dari total ekspor industri makanan bulan April 2021, sehingga penurunannya akan mempengaruhi kinerja ekspor industri makanan. Data menunjukkan penurunan ekspor KBLI 1511 mencapai 475,04 Juta ton atau US$ 391,98 Juta.

Jika dilihat dari negara mitra utama tujuan ekspor, Korea Selatan menjadi negara tujuan ekspor dengan pertumbuhan tertinggi selama April 2021 diantara 9 negara lainnya. LCD,LED and other flat panel display type (HS 85287292) merupakan produk yang paling banyak diekspor dari Korea Selatan. Nilai ekspornya mencapai US$ 42,47 Juta atau naik 21,41% dibandingkan Maret 2021. Selain itu, ekspor Anhydrous ammonia (HS 28141000) juga menjadi yang tertinggi nilai pertumbuhan ekspornya. Pada April ini ekspornya naik US$ 28,78Juta, atau naik 350,88%

dibandingkan bulan lalu. Anhydrous ammonia pada umumnya digunakan sebagai bahan dasar pupuk namun juga dapat dijadikan sintesis untuk molekul lain.

(15,00)

10 Negara Utama Tujuan Ekspor pada April 2021

Apr-20 Mar-21 Apr-21 Pertumbuhan (mtm)

Persen (%)

Juta US$

Meskipun tidak termasuk sepuluh besar mitra utama ekspor industri pengolahan non migas, Swiss merupakan salah satu negara potensial. Pertumbuhan ekspornya pada bulan April 2021 mencapai 185,41% dibandingkan Maret 2021. Produk perhiasan, Articles of jewellery of precious metal, whether or notplated or clad with (HS 71131990), merupakan produk yang paling banyak diekspor pada April ini dan memiliki pertumbuhan ekspor yang paling tinggi yaitu mencapai US$169,98 Juta atau mencapai 302,79%.

Sama seperti ekspor, impor industri pengolahan non migas secara kumulatif terus mengalami kenaikan. Impor industri pengolahan Januari-April 2021 mengalami kenaikan 605,38%

dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang merupakan awal pandemi covid-19. Hal tersebut menjadi pertanda perbaikan kinerja industri pengolahan non migas mengingat sebagian besar impor merupakan bahan baku dan penolong. Hal ini selaras dengan peningkatan nilai PMI industri manufaktur yang terus mengalami ekspansi dari Januari hingga April 2021. Meskipun demikian, pada April 2021 impor industri pengolahan non migas mengalami sedikit penurunan. Data BPS mencatat impor industri pengolahan non migas pada bulan April sebesar US$ 12,99 Miliar atau turun sebesar 2,40% dibandingkan Maret 2021 namun naik 21,64% dibandingkan April 2020.

Peningkatan impor industri pengolahan non migas April 2021 terjadi pada 14 sektor dengan peningkatan tertinggi terjadi pada industri peralatan listrik. Impor industri peralatan listrik naik US$ 117,52 Juta atau naik 17,89% dibandingkan Maret 2021. Oth equipment/machine for

2016 2017 2018 2019 2020 Jan-Apr2020Jan-Apr 2021 Apr-20 Apr-21

Impor Industri Pengolahan Non Migas April 2021 (Miliar US$)

removal dust particle&curingmaterial by UV light for mfg of printed circuit boards (HS 85437090 ) merupakan produk dengan kenaikan nilai impor terbesar yaitu naik US$ 17,62 Juta atau naik 297,98%. Meskipun demikian, kenaikan volume impor terbesar pada sektor ini terjadi pada produk Part of equipment railways,tramways,road,waterway,parking facilities,etc (HS 85309000) dan Optical fibre cable of telephone, telegraph, radio relay cables,submarine (HS 85447010) dimana kenaikan volume impornya mencapai 1,27 Juta ton (naik 24.727,37%) dan 1,69 Juta ton (naik 2.230,58%) dibandingkan Maret 2021.

Sebaliknya, penurunan impor industri pengolahan non migas terbesar terjadi pada industri alat angkutan lainnya yaitu turun US$ 261,71 Juta (56,63%). Penurunan impor ini dikarenakan impor tanker Tankers of gross tonnage > 50.000 (HS 89012080) bulan Maret yang lalu dan tidak dilakukan lagi pada bulan April ini, serta berkurangnya impor Tankers of gross tonnage>

5.000 ton but <= 50.000 (HS 89012070) yang semula US$21,35 Juta menjadi US$ 4,22 Juta.

RRT menjadi negara asal impor industri pengolahan non migas dengan pertumbuhan tertinggi selama April 2021 diantara 10 negara utama. Impornya pada April 2021 mencapai US$ 4,41 Miliar naik 12,74% dibandingkan Maret 2021. Jika dilihat dari volume impornya, Prefabricated structural components for building or civilengineering (HS 68109100) merupakan produk yang paling banyak diimpor. Kenaikan impornya mencapai 70,65 juta ton dengan kenaikan nilai impor mencapai US$ 8,71 Juta.

10 Negara Utama Asal Impor pada April 2021

Apr-20 Mar-21 Apr-21 Pertumbuhan (mtm)

Persen (%)

Juta US$

Selain RRT, impor industri pengolahan non migas dari Hongkong mengalami kenaikan persentase yang cukup tinggi. Impornya naik 36,88% dibandingkan Maret 2021 dan menyumbang kenaikan defisit sebesar 5.550,8%. Kenaikan impor terbesarnya terjadi pada produk emas, Gold in lumps, ingots or cast bars (HS 71081210) yang meningkat US$ 128,12 Juta atau naik 8.847.721,89%. Meningkatnya impor emas ini didorong oleh naiknya permintaan emas dalam negeri. Menurut ANTAM penjualan produk emas ANTM melesat 65,76% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari semula Rp 3,97 triliun pada kuartal I 2020 menjadi Rp 6,58 triliun di kuartal I 2021.

Kinerja industri pengolahan non migas pada April 2021 dapat dinilai membaik dibandingkan Maret 2021, selaras dengan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mengalami kenaikan dibandingkan bulan lalu. PMI Indonesia April 2021 tercatat sebesar 54,6 atau naik 1,4 poin dibandingkan Maret 2021, dan merupakan nilai tertinggi sejak April 2011. Hal tersebut tergambar dari nilai ekspor yang meningkat, nilai impor yang sedikit menurun dan surplus neraca perdagangan yang meningkat.

Pada April 2021, neraca perdagangan industri pengolahan non migas mencatatkan angka surplus sebesar US$ 1,93 Miliar, naik 26,51% dibandingkan Maret 2021. Neraca perdagangan April 2021 juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan April 2020 (naik 313,56%). Peningkatan surplus tersebut didorong adanya peningkatan ekspor dan didorong oleh penurunan impor industri pengolahan non migas dibandingkan Maret 2021. Secara umum, ekspor industri pengolahan non migas meningkat 0,57% dibandingkan Maret 2021 atau meningkat 52,67% dibanding April 2020. Sedangkan impornya turun 2,40% dibandingkan Maret 2021 namun meningkat 21,64% dibanding April 2020.

Industri Makanan masih menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar hingga mencapai US$ 2,26 Miliar, walaupun turun 9,58% dibandingkan Maret 2021. Sementara sektor Industri Mesin dan Perlengkapan ytdl masih menjadi penyumbang defisit terbesar pada April 2021 yaitu US$ 1,30 Miliar, dan naik 0,74% dibandingkan Maret 2021. Berdasarkan pesentase pertumbuhannya, Industri pengolahan lainnya memiliki persentase pertumbuhan surplus tertinggi (91,55%) dikarenakan kenaikan ekspornya sebesar US$ 167,13 Juta (40,92%) dibandingkan Maret 2021 yang didominasi oleh ekspor mainan HS 95030099-Other toys or parts (naik US$ 163,68 Juta). Meskipun demikian, industri logam dasar menyumbang

pertumbuhan nilai surplus terbesar yaitu meningkat sebesar US$ 295,2 Juta dibandingkan Maret 2021.

Peningkatan harga komoditas, dan pertumbuhan permintaan pasar masih menjadi pendorong utama naiknya surplus perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia.

Dilihat dari kinerja kerjasama perdagangan dengan negara mitra, kinerja perdagangan Indonesia dan Korea Selatan menyumbang penurunan nilai defisit terbesar pada April 2021.

Sebelumnya, kinerja perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-Korea Selatan mengalami defisit hingga US$ 611,13 Juta, namun pada April 2021 defisit perdagangannya berkurang US$ 432,17 Juta menjadi US$ 178,96 Juta. Pengurangan defisit ini didominasi oleh penurunan impor industri pengolahan non migas hingga 34,07% dan peningkatan ekspor sebesar 17,16% dibandingkan Maret 2021. Penurunan impor terbesar tersebut adalah impor kapal tanker yang diimpor bulan Maret senilai US$ 237,18 Juta yang tidak lagi diimpor pada bulan April ini sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Sedangkan peningkatan nilai surplus perdagangan industri pengolahan non migas terbesar terjadi pada perdagangan Indonesia-Swiss dimana meningkat US$ 175,67 Juta dibandingkan Maret 2021.

Hal ini terjadi karena peningkatan ekspor industri pengolahan non migas 185,41% dan penurunan impornya 17,52% pada April 2021 dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ekspor industri pengolahan non migas ke Swiss terjadi pada produk emas dan perhiasan yang meningkat hingga US$ 182,26 Juta dimana porsinya ekspor produk ini hingga 94,13% dari total ekspor Indonesia ke Swiss bulan April 2021.

2,26 2,93

Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas April 2021 (Miliar US$)

Berdasarkan lima belas besar negara mitra utama industri pengolahan non migas bulan April 2021, rata-rata perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 57,05 Juta. Dari kelima belas mitra tersebut, RRT menyumbang defisit neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar pada April 2021 mencapai US$ 1,26 Miliar naik 27,89% dibandingkan Maret walaupun turun 37,8% jika dibandingkan April 2020. Sebaliknya, Amerika Serikat masih menjadi penyumbang surplus perdagangan tertinggi sebesar US$ 1,46 Miliar, walaupun turun 1,46%

dibandingkan Maret 2021, namun meningkat 96,8% dibandingkan April 2020.

Lebih detail, peningkatan defisit pada April 2021 disebabkan kenaikan impor industri pengolahan non migas dari RRT yang lebih besar dibandingkan kenaikan ekspornya. Impor dari RRT naik sebesar 12,74%, sedangkan ekspornya naik 7,62% dibandingkan Maret 2021.

Meningkatnya impor tersebut salah satunya diduga akibat adanya kenaikan harga tembaga global. Kenaikan harga tembaga tersebut tidak lepas dari sentimen positif pertumbuhan industri manufaktur RRT pasca pandemik covid-19, dimana 50% permintaan tembaga berasal dari RRT. Bloomberg menyampaikan harga tembaga berjangka di London Metal Exchange (LME) pada pertengahan April 2021 terpantau berada pada level US$8.899,50 per metrik ton (naik 0,43%). Dengan kenaikan harga tembaga diduga mempengaruhi harga produk terkait yang diimpor dari RRT, salah satu produk telepon selular. Nilai impor Telephones for cellular networks or for other wireless (HS 85171200) naik cukup signifikan dibandingkan volume impornya. Nilai impor produk tersebut naik sebesar US$ 86,41 Juta atau naik 287,54%

sedangkan volume impornya naik sebesar 25,85 ton, hanya naik 72,04%.

(2.500,00)

Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas pada 15 Negara Mitra Utama bulan April 2021*

Apr-20 Mar-21 Apr-21

*berdasarkan ekspor terbesar April 2021

Tidak seperti perdagangan dari dan ke RRT, kinerja perdagangan Indonesia-Amerika Serikat dapat dikatakan menurun. Walaupun masih menjadi penyumbang surplus terbesar, neraca perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-Amerika Serikat turun 3,76% pada April 2021. Hal tersebut dikarenakan terjadinya penurunan ekspor industri pengolahan non migas ke Amerika Serikat sebesar 2,14%. Penurunan ekspor terbesar terjadi pada beberapa komoditas seperti karet/ban, pakaian jadi/rajutan dan alas kaki. Terdapat sumber yang menyatakan bahwa Indonesia tidak dapat memanfaatkan peluang perang dagang Amerika Serikat – RRT dengan mengisi produk-produk ekspor yang semula diekspor oleh RRT. Hal tersebut dikarenakan perbedaan preferensi produk RRT dan Indonesia di Amerika Serikat. Hal tersebut tentu menghambat ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Disisi lain impornya dari Amerika Serikat mengalami peningkatan 2,60%. Peningkatan impor terbesarnya masih terjadi pada impor pakan ternak, Oth than defatted soya-bean flour, fit for human consumption (HS 23040090) yang naik 138,87% atau senilai dengan US$ 16,32 Juta. Diperlukan sinergi dan kebijakan yang implementatif untuk dapat mengurangi ketergantungan impor pakan ternak Indonesia.

Dalam dokumen LAPORAN INFORMASI INDUSTRI (Halaman 37-44)