III. INFORMASI PERKEMBANGAN DAN PELUANG PASAR
3.1. Ekspor-Impor Tahun 2021
3.1.3. Perkembangan Ekspor Impor bulan Maret 2021
Pada Maret 2021, neraca perdagangan industri pengolahan non migas mencatatkan angka surplus sebesar US$ 1,53 Miliar atau naik 46,50% dibandingkan Februari 2021. Neraca perdagangan Maret 2021 juga mengalami pengingkatan yang cukup signifikan dibandingkan Maret 2020 (naik 395,18%) dimana pada bulan tersebut merupakan awal pandemi Covid-19.
Peningkatan surplus tersebut didorong adanya peningkatan ekspor industri pengolahan non migas yang lebih besar dibandingkan impornya. Ekspor industri pengolahan non migas pada Maret 2021 meningkat 22,24% dibandingkan Februari 2021 atau meningkat 33,42% dibanding periode yang sama tahun 2020. Sedangkan impor pada Maret 2021 meningkat 19,96%
dibandingkan Februari 2021 atau meningkat 23,10% dibanding periode yang sama tahun 2020.
Industri Makanan menjadi sektor dengan surplus neraca perdagangan terbesar yakni mencapai US$ 2,5 Miliar, naik 65,46% dibandingkan Februari 2021 Sementara sektor dengan defisit neraca perdagangan terbesar adalah sektor Industri Mesin dan Perlengkapan ytdl yakni US$
1,30 Miliar, meningkat 12,54% dibandingkan Februari 2021. Peningkatan persentase surplus neraca perdagangan terbesar terjadi pada sektor Industri Pengolahan Lainnya yang meningkat 116,02% akibat naiknya ekspor sebesar US$ 99,33 Juta (32,13%) dibandingkan Februari 2021, khususnya produk Articles of jewellery of precious metal, whether or notplated or clad with (HS 71131990) yang meningkat US$ 80,36 Juta (naik 92,36%).
Jika pada bulan sebelumnya Industri Logam Dasar mengalami peningkatan ekspor yang cukup signifikan yaitu sebesar US$ 364,32 Juta dibandingkan Januari 2021, maka pada bulan Maret 2021 Industri Logam Dasar justru mengalami peningkatan impor tertinggi, naik 41,03% (US$
494,42 Juta) dibandingkan Februari 2021 atau naik 20,34% dibandingkan Maret 2020.
Meskipun secara neraca Industri Logam Dasar masih mengalami surplus, namun surplus Industri Logam Dasar pada Maret 2021 ini turun 28,51% (turun US$ 223,03 Juta). Produk Oth than iron/non alloy steel,weight<0.25% carbon,crosssection,measuring<twice the thickness (HS 72071900) mengalami kenaikan impor US$ 93,75 Juta (naik 1.850,52%) dibandingkan Februari 2021. Hal ini diduga akibat produksi Indonesia di Industri Logam Dasar ini paling besar masih berupa produk antara (intermidiate) dan didominasi oleh produk kelas dua yaitu nickel pig iron (NPI) dan feronikel (FeNi) yang menggunakan bahan baku saprolite dengan nikel kadar tinggi.
Sementara itu untuk produk kelas satu yang memproduksi Ni Matte dan MHP yang menggunakan bahan baku limonite, produksinya masih kurang.
2,26 2,93
Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas Maret 2021 (Miliar US$)
Berdasarkan lima belas besar negara mitra utama industri pengolahan non migas bulan Februari 2021, rata-rata perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 26,69 Juta. RRT menyumbang defisit neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar pada Maret 2021 mencapai US$ 987,35 Juta, sedangkan Amerika Serikat masih menjadi penyumbang surplus neraca perdagangan tertinggi sebesar US$ 1,52 Miliar.
Data BPS menunjukkan, neraca perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-RRT Maret 2021 masih mengalami defisit walaupun turun cukup signifikan 44,79% (US$ 801,1 Juta) dibandingkan Februari 2021 atau turun 35,6% dibandingkan Maret 2020. Penurunan defisit pada Maret 2021 disebabkan kenaikan ekspor industri pengolahan non migas ke RRT yang lebih besar dibandingkan kenaikan impornya. Ekspor ke RRT naik sebesar 39,92%, sedangkan impornya naik 0,82% dibandingkan Februari 2021. Peningkatan ekspor terbesar ke RRT bulan Maret adalah produk Liquid fractions of refined palm oil, with iodine value 55 or more but less than 60 (HS 15119037) yang naik sebesar US$ 200,64 Juta (naik 362,6%) sedangkan produk dengan penurunan impor terbesar adalah Telephones for cellular networks or for other wireless (HS 85171200) turun US$ 182,32 Juta (turun 85,85%) dibandingkan Februari 2021. Kontribusi ekspor industri pengolahan non migas ke RRT pada Maret 2021 masih merupakan yang terbesar (19,7%) dibandingkan total ekspor industri pengolahan non migas Indonesia, meningkat 7,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Secara umum kontribusi ekspor Indonesia ke RRT hanya 1,35% terhadap total impor RRT (data 2019).
(2.000,00)
Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas pada 15 Negara Mitra Utama bulan Maret 2021*
Mar-20 Feb-21 Mar-21
*berdasarkan ekspor terbesar Maret 2021
Juta US$
Selain RRT, Korea Selatan menyumbang defisit neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar kedua pada Maret 2021. Data menunjukkan, defisit perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-Korea Selatan mencapai US$ 611,13 Juta atau meningkat 221,87% (naik US$ 421,26 Juta) dibandingkan Februari 2021. Peningkatan defisit tersebut terjadi akibat peningkatan impor yang cukup tajam hingga mencapai 78,38% (naik US$ 460,61 Juta), sedangkan ekspor hanya meningkat 9,89% (naik US$ 39,34 Juta). Adapun produk yang diimpor dengan nilai besar pada Maret ini adalah Tankers of gross tonnage > 50.000 (HS 89012080) senilai US$ 227,10 Juta. Sebelumnya pada bulan Februari 2021, kapal besar pengangkut barang ini diimpor juga dari Singapura senilai US$ 33 Juta. Selain itu, impor beberapa barang semifinish non aloy (Semi-finish product iron/non-alloy steel slabs<0.25%
carbon,cross-sect,measuring<twice the thickness) HS 72071210 dari Korea Selatan juga tercatat meningkat 49.016,32% (naik US$ 13,5 Juta).
Berbeda dengan RRT dan Korea Selatan, Amerika Serikat menyumbang surplus neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar pada Maret 2021. Data BPS mencatat, surplus perdagangan industri pengolahan non migas Amerika Serikat mencapai US$ 1,52 Miliar, naik sebesar 11,26% (US$ 153,9 Juta) dibandingkan Februari 2021. Hal ini ditopang oleh nilai ekspor yang jauh lebih besar dibandingkan impornya. Ekspor industri pengolahan non migas ke Amerika Serikat pada Maret 2021 mencapai US$ 2,04 Miliar (naik 11,54%), sedangkan impornya US$ 0,51 Miliar (naik 12,36 %) dibandingkan Februari 2021. Ekspor industri pengolahan non migas ke Amerika Serikat masih didominasi oleh Industri Makanan dan Industri Pakaian Jadi dengan kontribusi keduanya mencapai 39,5% terhadap total ekspor industri pengolahan non migas. Kenaikan nilai ekspor terbesar terjadi pada Refined palm oil (HS 15119020) sebesar US$ 54,87 Juta atau naik 44,04% dibandingkan Februari 2021.
Sedangkan produk New pneumatic tyres, of rubber, of a kind used on motor cars (including station wagons and racing cars) (HS 40111000) menjadi produk yang paling banyak diekspor ke Amerika Serikat pada bulan Maret 2021.
Ekspor industri pengolahan non migas kembali mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Tercatat pada Maret 2021, ekspor industri pengolahan non migas mencapai US$
14,84 Miliar, naik 22,24% dibandingkan Februari 2021 atau naik 33,42% dibandingkan Maret 2020. Meskipun demikian, ekspor industri pengolahan non migas masih didominasi oleh ekspor bahan baku dan penolong dengan kontribusi sebesar 66,5% terhadap total ekspor industri pengolahan non migas.
Peningkatan ekspor Maret 2021 masih disumbang oleh sektor Industri Makanan (naik US$ 1,3 Miliar atau 50,24% (mtm)). Ekspor Industri Makanan juga masih didominasi oleh bahan baku dan penolong. Liquid fractions of refined palm oil, with iodine value 55 or more but less than 60 (HS 15119037), menyumbang kenaikan ekspor terbesar pada sektor Industri Makanan dengan kenaikan mencapai US$ 440,85 Juta, naik 86,02% dibandingkan Februari 2021. Sebaliknya Industri Produk dari Batubara dan Pengilangan Minyak Bumi menyumbang penurunan ekspor tertinggi. Ekspor Industri Produk dari Batubara dan Pengilangan Minyak Bumi turun US$ 5,3 Juta, turun 53,59% dibandingkan Februari 2021 atau turun 68,0% dibandingkan Maret 2020.
Selain Industri Makanan, Industri Logam Dasar masih menjadi sektor dengan nilai ekspor terbesar kedua dibulan Maret ini walupun peningkatannya tidak sebesar bulan sebelumnya.
Ekspor Industri Logam Dasar mencapai US$ 2,26 Miliar, naik 13,66% dibanding Februari 2021 atau naik 14,81% dibanding Maret 2020. Produk Ferro alloy nickel (HS 72026000) menyumbang kenaikan ekspor terbesar yaitu meningkat US$ 108,03 Juta (naik 24,20%) dibandingkan Februari 2021 dengan nilai ekspor mencapai US$ 554,36 Juta. Produk ini merupakan bahan baku pembuatan stainless steel dan RRT merupakan negara tujuan utama ekspor produk ini pada Maret 2021. Ekspornya ke RRTmencapai US$ 535,69 Juta atau 96,63%
dari total ekspor produk ini.
Pada bulan Maret ini seluruh industri pengolahan non migas kecuali Industri Produk dari Batubara dan Pengilangan Minyak Bumi mengalami kenaikan ekspor dengan rata-rata kenaikan mencapai US$ 117,36 Juta. Tingginya permintaan global menunjukkan terjadinya perbaikan ekonomi global pasca pandemi Covid-19 selaras dengan peningkatan Purchasing Managers'
110,50
Nilai Ekspor Industri Pengolahan Non Migas Maret 2021 (Miliar US$)
Index (PMI) Maret 2021 tercatat sebesar 55,0 naik dibanding Februari 2021 yang mencapai 53,9, dan merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir (IHS Markit, 2021).
RRT, Amerika Serikat dan Jepang masih merupakan negara utama tujuan ekspor dengan total kontribusi sebesar 40,69% terhadap ekspor industri pengolahan non migas Indonesia. Liquid fractions of refined palm oil, with iodine value 55 or more but less than 60 (HS 15119037), Ferro alloy nickel (HS 72026000), dan Refined palm oil (HS 15119020) merupakan komoditas unggulan ekspor industri pengolahan non migas pada bulan Maret 2021 dengan total ekspor mencapai US$ 2,19 Miliar.
India menjadi negara tujuan ekspor dengan pertumbuhan tertinggi selama Maret 2021 diantara 10 negara utama tujuan ekspor.Crude palm oil (HS 15111000), Liquid fractions of refined palm oil, with iodine value 55 or more but less than 60 (HS 15119037) dan Pertussis, measles, meningitis or polio vaccines (HS 30022020) merupakan tiga produk utama dengan kenaikan nilai ekspor tertinggi pada Maret 2021. Kenaikan ekspor ketiganya mencapai US$ 229, 13 Juta.
Meskipun demikian, jika dilihat dari neraca perdagangannya, surplus neraca perdagangan Indonesia-India semakin mengecil. Pada Maret 2021, neraca perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-India hanya tinggal US$ 30,97 Juta atau turun 71,79% dibandingkan Februari 2021 atau turun 85,5% dibandingkan Maret 2020. Peningkatan impor hingga 104,47%
menjadi penyebab utama pengurangan surplus perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-India.
Jepang India Malaysia Singapura Philipina Viet Nam Korea Selatan
Thailand
10 Negara Utama Tujuan Ekspor pada Maret 2021
Mar-20 Feb-21 Mar-21 Pertumbuhan (mtm)
Juta US$ Persen (%)
Walaupun tidak masuk dalam sepuluh besar mitra dagang industri pengolahan non migas bulan Maret 2021, Italia merupakan mitra yang potensial. Ekspor industri pengolahan non migas ke Italia tercatat meningkat 119,09% menjadi US$ 238,89 Juta dibandingkan Februari 2021.
Refined palm oil (HS 15119020) merupakan produk ekspor unggulan Indonesia ke Italia.
Impor industri pengolahan non migas terus mengalami kenaikan. Pada Maret 2021 tercatat impor industri pengolahan non migas mencapai US$ 13,31 Miliar atau naik sebesar 19,96%
dibandingkan Februari 2021 atau naik 23,10% dibandingkan Maret 2020.
Peningkatan impor industri pengolahan non migas Maret 2021 terjadi hampir pada seluruh sektor. Hal ini mengindikasikan terjadinya perbaikan kinerja industri manufaktur di Indonesia mengingat 71,06% impor merupakan bahan baku dan penolong. Kondisi tersebut selaras dengan perbaikan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia bulan Maret 2021 yang mengalami kenaikan dari 50,9 pada Februari 2021 menjadi 53,2. Industri Logam Dasar, Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia menyumbang kenaikan impor tertinggi pada Maret 2021. Industri Logam Dasar mengalami kenaikan impor sebesar US$ 494,42 Juta atau naik 41,03%, sedangkan Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia mengalami kenaikan impor sebesar US$ 491,69 Juta atau naik 25,23% dibanding Februari 2021. Bahan baku pakan ternak, transmisi dan raw sugar masih menjadi komoditas terbesar impor industri pengolahan non migas bulan Maret 2021.
108,24 122,17
Nilai Impor Industri Pengolahan Non Migas Maret 2021 (Miliar US$)
Impor Oth than defatted soya-bean flour, fit for human consumption (HS 23040090) mencapai US$ 385,57 Juta atau naik 68,02% dibandingkan Februari 2021. Kebutuhan konsumsi ternak untuk persiapan bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri diduga menjadi penyebab kenaikan impor ini. Sedangkan impor Part of transmission aparatus, portable receivers for (HS 85177021) dan Raw sugar of oth cane sugar, in solid form, not cont added flavouring/colouring matter (HS 17011400) mencapai US$ 338,07 Juta dan 279,54 Juta. Meskipun demikian Tankers of gross tonnage > 50.000 (HS 89012080) menyumbang peningkatan nilai impor tertinggi hingga US$ 194,10 Juta. Sebaliknya, Telephones for cellular networks or for other wireless (HS 85171200) menyumbang penurunan impor tertinggi selama Maret 2021. Impornya turun hingga US$ 175,02 Juta, turun 81,18% dibandingkan Februari 2021.
Industri Tekstil, Peralatan Listrik, Furnitur, Pakaian Jadi dan Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman merupakan sektor industri pengolahan non migas yang mengalami penurunan impor pada Maret 2021. Industri Tekstil merupakan sektor dengan penurunan impor tertinggi dari kelima sektor tersebut hingga US$ 16,55 Juta atau turun 3,04% dibanding Februari 2021 atau turun 0,87% dibanding Maret 2020. Meskipun demikian, jika dilihat dari neraca perdagangannya, hanya sektor furnitur dan pakaian jadi yang masih mencatatkan surplus pada Maret 2021. Industri Tekstil mencatatkan defisit hingga US$ 129,20 Juta, Industri Peralatan Listrik mencatatkan defisit hingga US$ 102,41 Juta, sedangkan Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman mencatatkan defisit hingga US$ 8,33 Juta.
Terkait dengan rencana pembukaan akses pasar Indonesia-Bangladesh melalui kerjasama Bilateral khususnya untuk tekstil dan produk tekstil (TPT), menurut data BPS, impor Industri Tekstil Indonesia dari Bangladesh mengalami peningkatan sebaliknya impor Industri Pakaian Jadi mengalami penurunan. Pada Maret 2021, impor Industri Tekstil dari Bangladesh tercatat US$ 3,99 Juta, naik 125,29% dibandingkan Februari 2021 atau naik 86,72% dibandingkan Maret 2020. Sedangkan impor sektor pakaian jadi tercatat US$ 5,22 Juta, turun 10,79%
dibandingkan Februari 2021 atau turun 33,81% dibandingkan Maret 2020. Jika dibandingkan data utilisasi pada Maret 2021, sektor Industri Tekstil memiliki utilisasi hingga 71% atau naik 1%
dibandingkan Februari 2021, sedangkan Industri Pakaian Jadi memiliki utilisasi hingga 60%
atau turun 5% dibandingkan Februari 2021. Dengan melihat nilai impor industri TPT dari Bangladesh yang masih cukup tinggi dan utilisasi industri dalam negeri yang masih dibawah 75%, maka dikhawatirkan rencana kerjasama tersebut dapat mengancam keberlangsungan industri di dalam negeri.
RRT masih menjadi mitra impor utama industri pengolahan non migas Indonesia dengan kontribusi impor hingga 29,36% terhadap total impor industri pengolahan non migas. Part of transmission aparatus, portable receivers for (HS 85177021) merupakan komoditi impor terbesar oleh Indonesia dari RRT untuk industri pengolahan non migas pada Maret 2021 dengan nilai impor mencapai US$ 263,93 Juta, naik 40,70% dibandingkan Februari 2021.
Produk Vaccines for human medicine, Other than Tetanus toxoid & Pertussis, measles, meningitis or polio vaccines (HS 30022090) merupakan komoditi kedua terbesar yang diimpor dari RRT dengan impornya mencapai US$ 172,13 Juta, naik US$ 93,20 Juta atau naik 118,08%
dibandingkan Februari 2021. Peningkatan impor vaksin tersebut sejalan dengan datangnya vaksin Covid-19 dari RRT yaitu pengiriman gelombang kedua sebanyak 10 juta dosis.
Sebaliknya, produk Telephones for cellular networks or for other wireless (HS 85171200) merupakan komoditi yang mengalami penurunan impor terbesar dari RRT pada Maret 2021 mencapai US$182,32 atau turun 85,85% dibandingkan Februari 2021.
India menjadi negara asal impor dengan pertumbuhan tertinggi selama Maret 2021 diantara 10 negara utama. Raw sugar of oth cane sugar, in solid form, not cont added flavouring/colouring matter (HS 17011400) merupakan produk utama yang diimpor dari India. Impornya pada Maret 2021 mencapai US$ 197,62 Juta naik 371,73% dibandingkan Februari 2021. Ketergantungan Indonesia pada raw sugar impor dan terbatasnya stok dari Thailand karena terjadinya gagal panen, menyebabkan tingginya impor raw sugar Indonesia dari India ini. Terkait impor vaksin Covid-19 dari India, tidak terdapat data impor vaksin tersebut pada bulan Maret ini. Hal tersebut
10 Negara Utama Asal Impor pada Maret 2021
Mar-20 Feb-21 Mar-21 Pertumbuhan (mtm)
Juta US$ Persen(%)
dikarenakan adanya kebijakan pemerintah India untuk menghentikan ekspor vaksin akibat lonjakan kasus Covid-19 di negaranya.
Jika dilihat dari penggunaan ekonominya (Broad Economic Categories - BEC), impor kembali didominasi oleh impor barang baku dan penolong. Impornya naik US$ 1,8 Miliar (23,06%), selanjutnya diikuti oleh bahan modal dengan kenaikan impor US$ 278,76 juta (12,70%), dan impor barang konsumsi dengan kenaikan US$ 164,78 Juta (14,17%) dibandingkan Februari 2021. Kenaikan impor ini diduga tekait tingginya permintaan akibat persiapan menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri.