• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN INFORMASI INDUSTRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN INFORMASI INDUSTRI"

Copied!
191
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

INFORMASI INDUSTRI

2021

(2)
(3)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... ii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Maksud dan Tujuan ... 2

1.3. Ruang Lingkup ... 2

1.4. Keluaran ... 2

II. INFORMASI PERKEMBANGAN INDUSTRI ... 3

2.1. Pendahuluan... 3

2.2. Informasi Data SIINas ... 4

III. INFORMASI PERKEMBANGAN DAN PELUANG PASAR ... 6

3.1. Ekspor-Impor Tahun 2021 ... 6

3.1.1. Perkembangan Ekspor Impor bulan Januari 2021 ... 7

3.1.2. Perkembangan Ekspor Impor bulan Februari 2021 ... 14

3.1.3. Perkembangan Ekspor Impor bulan Maret 2021 ... 23

3.1.4. Perkembangan Ekspor Impor bulan April 2021 ... 32

3.1.5. Perkembangan Ekspor Impor bulan Mei 2021 ... 39

3.1.6. Perkembangan Ekspor Impor bulan Juni 2021 ... 48

3.1.7. Perkembangan Ekspor Impor bulan Juli 2021 ... 58

3.1.8. Perkembangan Ekspor Impor bulan Agustus 2021 ... 65

3.1.9. Perkembangan Ekspor Impor bulan September 2021 ... 72

3.1.10. Perkembangan Ekspor Impor bulan Oktober 2021 ... 79

3.1.11. Perkembangan Ekspor Impor bulan November 2021 ... 86

3.2. Informasi Konsumsi Produk Industri ... 93

3.3. Informasi Agenda Pameran Luar Negeri ... 94

3.3.1 Ambiente 2021 ... 95

3.3.2 ASEAN Online Sale Day 2021 ... 95

3.3.3 WORLD EXPO 2020 DUBAI ... 97

IV. INFORMASI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INDUSTRI ... 98

4.1 Informasi Hasil Riset Terapan terkait Bidang Industri ... 98

4.2 Informasi Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) ... 103

4.2.1 Tindak Pidana HKI ... 106

(4)

4.2.2 Prosedur Pengaduan Tindak Pidana HKI ... 110

4.2.3 Peta Persebaran Indikasi Geografis Terdaftar ... 111

V. INFORMASI PERKEMBANGAN INVESTASI INDUSTRI ... 114

5.1 Informasi Investasi ... 114

3.1.12. Perkembangan Investasi Industri Triwulan I 2021 ... 115

5.1.2 Perkembangan Investasi Industri Triwulan II 2021 ... 120

5.1.3 Perkembangan Investasi Industri Triwulan III 2021 ... 124

5.2 Informasi Investor ... 128

5.2.1 Investor terbesar berdasarkan Negara Asal ... 128

5.2.2 Dua puluh besar investor di Dunia ... 130

VI. INFORMASI PERWILAYAHAN INDUSTRI ... 132

6.1 Rencana Pembangunan Industri Provinsi Riau 2021-2042 ... 132

Letak Geografis dan Demografi ... 132

Infrastruktur Dasar ... 134

Potensi Alam ... 138

Infrastruktur Industri ... 139

VII. INFORMASI SARANA DAN PRASARANA INDUSTRI ... 145

7.1 Standar Nasional Indonesia (SNI) ... 145

VIII. INFORMASI SUMBER DAYA INDUSTRI ... 146

8.1 Informasi Sumber Daya Manusia Industri ... 146

8.1.1 Unit Pendidikan dan Pelatihan Binaan Kementerian Perindustrian ... 146

8.1.2 Spesialisasi Unit Pendidikan ... 146

8.1.3 Unit Pendidikan Berdasarkan Bidang Kejuruannya ... 148

8.1.4 Unit Pelatihan Sumber Daya Manusia Industri IKM (Balai Diklat Industri) ... 152

8.2 Informasi Analisis Pembiayaan Industri ... 153

Metodologi ... 153

Data dan Sumber Data ... 155

Isu Pembiayaan Industri Manufaktur Non-Migas ... 155

Karakteristik Industri Manufaktur Non-Migas ... 155

Hasil Analisa ... 158

8.3 Informasi Perkembangan Kredit Industri ... 160

Pinjaman/Kredit Industri Pengolahan dari Perbankan ... 160

Pinjaman Industri Pengolahan Asal Luar Negeri Swasta (Bukan Bank) ... 161

Komparasi Suku Bunga Bank Central Di Berbagai Negara ... 162

(5)

IX. INFORMASI KEBIJAKAN INDUSTRI, PERDAGANGAN, DAN FASILITAS INDUSTRI163

9.1. DAMPAK PANDEMI COVID-19 TERHADAP INDUSTRI OTOMOTIF ... 163

9.2. PERMASALAHAN DAN TANTANGAN INDUSTRI FARMASI ... 174

A. Peran Research and Development Dalam Industri Farmasi... 175

B. Pengembangan Bahan Baku Obat ... 183

(6)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

PP No. 2 tahun 2017 tentang Sarana dan Prasarana Industri pada pasal 39 mengamanatkan bahwa dalam rangka penyelenggaraan Sistem Informasi Industri Nasional diperlukan data dan/atau informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam Sistem Informasi Industri Nasional setidaknya dapat menyediakan 8 kelompok informasi antara lain a. informasi perkembangan Industri; b. informasi perkembangan dan peluang pasar; c. informasi perkembangan Teknologi Industri; d. informasi perkembangan investasi Industri; e. informasi perwilayahan Industri; f. informasi Sarana dan Prasarana Industri;

g. informasi sumber daya Industri; dan h. informasi kebijakan Industri, perdagangan, dan fasilitas Industri.

Informasi perkembangan Industri antara lain memuat informasi terkait kondisi industri terkini seperti pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja, utilisasinya, serta informasi industri dan kawasan industri. Informasi perkembangan dan peluang pasar antara lain memuat hasil pengolahan data ekspor dan impor, konsumsi produk industri seperti tren impor dunia. Informasi perkembangan Teknologi Industri antara lain memuat hasil riset terapan yang terkait bidang Industri. Informasi perkembangan investasi Industri antara lain memuat memuat hasil pengolahan data penanaman modal bidang Industri yang bersumber dari investor dalam negeri dan/atau asing.

Informasi perwilayahan Industri antara lain memuat rencana tata ruang wilayah, potensi sumber daya wilayah secara nasional, keunggulan sumber daya daerah, dan/atau peningkatan nilai tambah sepanjang rantai nilai. Informasi Sarana dan Prasarana Industri antara lain memuat hasil pengolahan Standardisasi Industri dan infrastruktur Industri. Informasi sumber daya Industri antara lain memuat sumber daya manusia Industri, sumber daya alam, pengembangan dan pemanfaatan Teknologi Industri; pengembangan dan pemanfaatan kreativitas dan inovasi, dan penyediaan sumber pembiayaan. Informasi kebijakan Industri, perdagangan, dan fasilitas Industri antara lain memuat hasil pengolahan data kebijakan Industri, perdagangan, dan fasilitas Industri di dalam negeri dan/atau negara mitra.

Dalam rangka menyelenggarakan amanat PP No. 2 tahun 2017 tersebut, Pusat Data dan informasi secara bertahap berupaya menyusun dashboard informasi industri yang rencananya akan memuat keseluruhan informasi tersebut. Untuk tahun 2021, Pusat Data dan Informasi telah menyusun 8 jenis kelompok informasi tersebut.

(7)

1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk menyediakan 8 informasi sebagaimana amanat PP No. 2 tahun 2017.Adapun tujuannya adalah memudahkan stakeholder untuk mengambil keputusan.

1.3. Ruang Lingkup

Informasi yang disediakan Pusat Data dan Informasi untuk setiap kelompok adalah informasi yang dihasilkan di tahun 2021 maupun tahun 2021 yang belum diupload dalam web maupun SIINas. Informasi tersebut antara lain :

1. Informasi perkembangan Industri,

2. Informasi perkembangan dan peluang pasar, 3. Informasi perkembangan Teknologi Industri, 4. Informasi perkembangan investasi Industri, 5. Informasi perwilayahan Industri,

6. Informasi Sarana dan Prasarana Industri, 7. Informasi sumber daya Industri, dan

8. Informasi kebijakan Industri, perdagangan, dan fasilitas Industri.

1.4. Keluaran

Keluaran dari 8 (delapan) kelompok informasi tersebut beraneka macam. Beberapa informasi telah dicetak dalam bentuk buku, beberapa informasi berupa file yang diupload pada SIINas maupun website Kementerian Perindustrian.

(8)

II. INFORMASI PERKEMBANGAN INDUSTRI

2.1. Pendahuluan

Industri Pengolahan masih menjadi salah satu sektor penyumbang terbesar bagi PDB Indonesia. Pada periode Triwulan III Tahun 2021, peran industri pengolahan tercatat sebesar 19,86% dimana peran Industri Pengolahan Non Migas sebesar 17,90% terhadap PDB Nasional. Jika dilihat dari pertumbuhannya, industri alat angkutan mengalami pertumbuhan tertinggi pada triwulan III tahun 2021 yaitu sebesar 27,84% yang disusul oleh industri Kulit, barang dari Kulit dan Alas Kaki sebesar 18,12% dibandingkan periode yang sama di tahun 2020. Sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada sektor Industri Barang Logam; Komputer, Barang Elektronik, Optik; dan Peralatan Listrik yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar 8,06%.

Pertumbuhan ekonomi industri pengolahan non migas ini dipengaruhi oleh banyak faktor.

Perbaikan ekonomi pasca pandemik menjadi salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi tersebut. Hal ini tampak dari mulai bergeliatnya kegiatan produksi industri manufaktur yang tampak dari peningkatan utilisasi dan ekspor impor yang dilakukan oleh pelaku industri, dalam hal ini perusahaan-perusahaan industri. Utilisasi industri pengolahan pada bulan September tercatat sebesar 66,8% atau meningkat 6,5% dibandingkan Januari 2021.

Sedangkan utilisasi bulan November 2021 tercatat mencapai 67,6% atau meningkat 0,8%

dibandingkan September 2021. Jika dilihat dari pertumbuhannya, ekspor impor pada tahun 2021 hingga triwulan III peningkatan yang cukup signifikan. Ekspor Januari – September 2021 tercatat meningkat 35,4% dibandingkan periode yang sama tahun 2020,sedangkan impornya meningkat 29,9%. Data menunjukkan surplus industri pengolahan mencapai US$

16,63 Miliar. Demikian pula tenaga kerja industri pengolahan mengalami peningkatan 6,93%

dibandingkan tahun 2020.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), BPS, bulan Agustus 2021 secara total tenaga kerja industri pengolahan mencapai 18.694.463 orang dengan kontribusi 14,26% terhadap tenaga kerja nasional. Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus 2020 dan Februari 2021.Jika dibandingkan Agustus 2020 tenaga kerja industri pengolahan meningkat 6,93% sedangkan jika dibandingkan Februari 2021 meningkat 4,89%.Namun demikian, jika dilihat dari jumlah tenaga kerja terdampak akibat covid-19 pada bulan

(9)

Provinsi Jumlah

Bali 261

Banten 4.660 Bengkulu 61

DI Yogyakarta 330

DKI Jakarta 3.002 Gorontalo 23

Jambi 108

Jawa Barat 9.168 Jawa Tengah 2.568 Jawa Timur 5.253 Kalimantan Barat 229

Kalimantan Selatan 198

Kalimantan Tengah 116

Kalimantan Timur 325

Kalimantan Utara 33

Kepulauan Bangka Belitung 82

Kepulauan Riau 832

Lampung 183

Luar Negeri 45

Maluku 15

Maluku Utara 19

Nangroe Aceh Darussalam 80

Nusa Tenggara Barat 35

Nusa Tenggara Timur 24

Papua 23

Papua Barat 26

Riau 395

Sulawesi Barat 15

Sulawesi Selatan 322

Sulawesi Tengah 63

Sulawesi Tenggara 41

Sulawesi Utara 77

Sumatera Barat 133

Sumatera Selatan 274

Sumatera Utara 721

Agustus 2021 berdasarkan data Sakernas tersebut juga mengalami peningkatan. Lebih detail, pada Agustus 2021 jumlah tenaga kerja yang sementara tidak bekerja sebesar 0,31% atau naik 0,03% dibandingkan Februari 2021, jumlah tenaga kerja yang mengalami pengurangan jam kerja sebesar 3,17% atau naik 0,34% dibandingkan Februari 2021, sehingga secara total tenaga kerja terdampak pada Agustus 2021 sebesar 18,65%.

Memperhatikan besarnya pengaruh peranan perusahaan industri, Kementerian Perindustrian membangun suatu sistem yang dinamakan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) untuk mendukung pembangunan industri nasional. Manfaat dari SIINas salah satunya adalah menyediakan data dan informasi industri serta memungkinkan pemangku kepentingan mengakses dan mendayagunakan data dan informasi dalam volume yang besar dengan cepat dan akurat.

Dalam laporan ini disajikan data dan informasi mengenai perusahaan-perusahaan industri yang tersedia di SIINas serta jumlah persebarannya di Indonesia.

2.2. Informasi Data SIINas

Hingga Desember 2021, tercatat 30.578 perusahaan industri (pabrik) dan 155 perusahaan kawasan industri telah terdaftar pada SIINas.Berdasarkan data SIINas, pabrik industri manufaktur terbesar berada di Provinsi Jawa Barat.

(10)

Jika dilihat lebih detail perusahaan yang banyak terdaftar di SIINas adalah perusahaan industri barang dari plastik untuk pengemasan yaitu sebanyak 1.186 pabrik atau 3,88%

dibanding total pabrik terdaftar, adapun rinciannya adalah sebagai berikut :

Meskipun sudah banyak perusahaan terdaftar pada SIINas, jumlah perusahaan yang menyampaikan laporan masih sedikit. Dari 30.578 perusahaan tersebut, hanya 5.701 perusahaan industri dan 43 perusahaan kawasan industri yang menyampaikan laporan semester 1 tahun 2021. Meskipun demikian berdasarkan data tersebut dapat dianalisis produksi dan bahan baku.

KBLI Jumlah share (%)

22220 - INDUSTRY BARANG DARI PLASTIK UNTUK PENGEMASAN 1.186 3,88

14111 - garment 1.040 3,40

31001 - INDUSTRI FURNITUR DARI KAYU 863 2,82

29300 - INDUSTRI SUKU CADANG DAN AKSESORI KENDARAAN BERMOTOR RODA EMPAT ATAU LEBIH 851 2,78 25920 - JASA INDUSTRI UNTUK BERBAGAI PENGERJAAN KHUSUS LOGAM DAN BARANG DARI LOGAM 829 2,71

10431 - Industri Palm oil 766 2,51

22299 - INDUSTRI BARANG PLASTIK YTDL 707 2,31

18111 - Industri percetakan umum 701 2,29

17022 - INDUSTRI KEMASAN DAN KOTAK DARI KERTAS DAN KARTON 568 1,86 20231 - Industri Sabun dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga 561 1,83

20232 - INDUSTRI KOSMETIK, TERMASUK PASTA GIGI,INDUSTRI SABUN DAN BAHAN PEMBERSIH KEPERLUAN RUMAH TANGGA 552 1,81 32909 - Industri Pengolahan Lainnya YTDL 467 1,53

16221 - INDUSTRI BARANG BANGUNAN DARI KAYU , BARANG DARI LOGAM SIAP PASANG UNTUK BANGUNAN DAN PERALATAN UMUM DAN BARANG DARI KAWAT SERTA ALAT TULIS DAN GAMBAR TERMASUK PERLENGKAPANYA 452 1,48

10710 - Industri Produk Roti dan Kue 439 1,44

30912 - INDUSTRI KOMPONEN DAN PERLENGKAPAN SEPEDA MOTOR RODA DUA DAN TIGA 405 1,32

(11)

III. INFORMASI PERKEMBANGAN DAN PELUANG PASAR

3.1. Ekspor-Impor Tahun 2021

Kinerja perdagangan Industri pengolahan non migas tahun 2021 menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal tersebut tercermin dari nilai surplus industri pengolahan Januari- Oktober 2021 yang mengalami peningkatan 69,07% dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Pada Januari – Oktober 2021 data BPS mencatat surplus industri pengolahan mencapai US$ 19,77 Miliar. Hal tersebut didorong adanya peningkatan ekspor yang cukup signifikan sepanjang Januari-Oktober 2021, dimana ekspor industri pengolahan non migas meningkat 35,53%

dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Meskipun impornya masih dibawah ekspornya, namun impor Januari-Oktober 2021 mengalami peningkatan yang mendekati ekspornya yaitu sebesar 31,37%. Nilai impor hingga Oktober telah mencapai US$ 123,99 Miliar, dimana sebagian besar merupakan bahan baku dan penolong yang menunjukkan pertumbuhan produksi industri pengolahan.

Jika dilihat lebih detail bulanan, ekspor industri pengolahan non migas telah mengalami peningkatan dari bulan Januari 2021, namun adanya gelombang ke-2 covid19 menyebabkan penurunan ekspor April dan Mei, namun segera membaik di bulan Juni 2021dan terus membaik hingga Oktober 2021. Jika dibandingkan Oktober 2020 pertumbuhan ekspor industri pengolahan mengalami kenaikan 26,75%.

110,50 125,10

130,12 127,38

131,09 143,76

108,24 122,17

147,62 137,92

116,96

123,99

2,26 2,93

(17,50) (10,54) 14,12 19,77

2016 2017 2018 2019 2020 2021*

Kinerja Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas 2016-2021* (Miliar US$)

Ekspor Impor Neraca * Ekspor- Impor Januari-Oktober 2021

(12)

Seperti ekspor, impor industri pengolahan non migas Indonesia juga mengalami peningkatan sejak Februari. Pada bulan Mei tahun 2021, impor industri pengolahan non migas mengalami penurunan pada titik terendah selama tahun 2021 hingga mencapai US$ 10,96 Miliar atau turun 15,61% dibandingkan April 2021. Kondisinya semakin membaik sejak Juni tahun 2020 dan merupakan nilai tertinggi sebesar US$ 13,63 Miliar.

3.1.1. Perkembangan Ekspor Impor bulan Januari 2021

Pada bulan Januari ini neraca perdagangan industri pengolahan non migas mencatatkan angka surplus sebesar US$ 1,12 Miliar atau naik 4,53% dibandingkan Desember 2020. Neraca perdagangan Januari ini jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun 2020 dimana nilainya mengalami defisit sebesar US$ 0,85 Miliar. Peningkatan surplus bulan Januari tersebut didorong oleh penurunan impor industri pengolahan non migas yang lebih besar dibandingkan ekspornya. Impor industri penolahan non migas pada Januari ini turun 8,21% sedangkan ekspor turun sebesar 7,15% dibandingkan Desember 2020. Penurunan nilai impor terbesar terjadi pada sektor industri komputer, barang elektronik dan optik sebesar US$ 287,7 Juta atau turun 15,6%, sedangkan penurunan nilai ekspor terbesar terjadi pada sektor industri makanan sebesar US$ 399.5 Juta atau turun 11,13% dibandingkan Desember 2020.

10,74 11,14 11,12 9,77 8,33 9,65 11,29 10,73 11,54 11,77 11,98 12,14 14,84

14,92 13,12 14,07 14,75 16,37 15,51

16,07

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt

Nilai Ekspor Industri Pengolahan Non Migas 2020-2021* (Miliar US$)

2020 2021

11,58

8,90 10,81 10,68

7,03 9,13 8,80 9,05 9,52 8,89 10,86 11,09 13,31 12,99 10,96 13,63 12,17 13,21 12,85 12,92

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt

Nilai Impor Industri Pengolahan Non Migas 2020-2021* (Miliar US$)

2020 2021

* Ekspor- Impor Januari-Oktober 2021

* Ekspor- Impor Januari-Oktober 2021

(13)

Terjadinya fenomena Holiday blues yang mendorong perekonomian mengalami slowdown, kenaikan dan penurunan harga komoditas, permasalahan ketersediaan kontainer dan kapal pengangkut merupakan beberapa faktor yang diduga mendorong terjadinya penurunan ekspor maupun impor. Meskipun demikian, neraca perdagangan industri pengolahan non migas bulan Januari masih surplus ditengah pandemik covid-19.

Beberapa harga komoditas yang mengalami penurunan yaitu minyak kelapa sawit turun 2,5%

dan karet turun hingga 12%. Sebaliknya, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga yaitu batu bara naik 4,58%, minyak kernel naik 11,98%, serta tembaga, timah, dan emas.

Kelangkaan kontainer dan kapal pengangkut yang terjadi secara global perlu perhatian lebih lanjut karena memiliki multiplayer effect pada utilisasi sektor industri. Selain menyababkan penumpukan barang di gudang pelabuhan sehingga meningkatkan biaya logistik dan kemungkinan kerusakan barang, kelangkaan kontainer menyebabkan kenaikan biaya pengiriman hingga 5(lima) kali lipat. Keterbatasan ruang pengiriman menyebabkan sebagian eksportir terpaksa membatalkan ekspornya yang apabila berlanjut dapat menyebabkan pengenaan wanprestasi dan kena penalti. Penumpukan barang ekspor yang terjadi juga berakibat pada pengurangan produksi sehingga utilitas industri menurun.

Berdasarkan lima belas besar negara mitra utama industri pengolahan non migas bulan Januari 2021, rata-rata perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 4,7 Juta namun turun 87,60%

dibanding Desember 2020 yang mengalami surplus sebesar US$ 37,85 Juta. Cina (0,91)

2,26 2,93

(17,50)

(10,54)

14,17

(2,08) (0,85)

1,07 1,12

2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jan 19 Jan 20 Des 20 Jan 21

Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas Januari 2021

(Miliar US$)

(14)

menyumbang defisit neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar pada Januari 2021.

Data BPS menunjukkan, neraca perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-Cina Januari 2021 defisit US$ 1,98 Miliar, naik 19,60% (US$ 325,1 Juta) dibandingkan Desember 2020 namun turun 17,67% dibandingkan Januari 2020. Kenaikan defisit pada Januari 2021 disebabkan ekspor industri pengolahan non migas ke Cina turun jauh lebih besar dibandingkan impornya. Ekspornya turun sebesar 22,35%, sedangkan impornya turun 3,13% dibandingkan Desember 2020. Penurunan nilai ekspor terbesar terjadi pada sektor industri logam dasar (turun US$ 212,5 juta atau 22,9%), salah satunya pada produk Oth than stainless steel in ingots/oth primary form,rectangular (oth than square)cross-section (HS 72189900) yang mengalami penurunan sebesar US$ 82,31 Juta atau 60,5%. Beberapa media menyebutkan habisnya stimulus tahun 2020 dan kembalinya konsumsi luar negeri ke pola sebelum pandemi menyebabkan turunnya ekspor dan impor di Cina. Selain itu, adanya musim liburan atau holiday blues serta tren perusahaan melakukan restroking pada awal tahun juga diduga menjadi penyebab penurunan ekspor Indonesia ke Cina.

Amerika serikat menyumbang surplus neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar pada Januari 2021. Data BPS mencatat, surplus perdagangan industri pengolahan non migas Amerika Serikat mencapai US$ 1,2 Miliar, turun sebesar 5,36% (US$ 69,8 Juta) dibandingkan Desember 2020. Hal ini ditopang oleh kecilnya nilai impor industri pengolahan dari Amerika Serikat yaitu hanya 25,4% dari ekspornya. Sama seperti Cina, pada Januari 2021

(2.500,00) (1.500,00) (500,00) 500,00 1.500,00

Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas pada 15 Negara Mitra Utama bulan Januari 2021

Jan20 Des 20 Jan 21

Juta US$

(15)

baik ekspor maupun impor industri pengolahan non migas Indonesia-Amerika Serikat mengalami penurunan. Ekspor turun sebesar US$ 180,7 Juta (10,93%), sedangkan impornya turun US$ 110,9 Juta (26,38%) dibandingkan Desember 2020. Penurunan nilai ekspor terbesar terjadi pada sektor industri pengolahan lainnya (turun US$ 62,34 juta atau 38,4%), dan industri makanan (turun US$ 59,45 juta atau 16,9%). Articles of jewellery of precious metal, whether or notplated or clad with (HS 71131990) menyumbang penurunan ekspor tertinggi hingga mencapai US$ 67,57 Juta atau turun 74,94% dibandingkan Desember 2020. Sedangkan Sports footwear not fitted with spikes/wrstling/weightlifting/the like oth (HS 64041190) menyumbang kenaikan ekspor tertinggi pada Januari 2021 sebesar US$ 10,98 Juta, naik 33,24% dibanding Desember 2020. Kelangkaan kontainer dan pandemik covid-19 yang menyebabkan penurunan daya beli diduga menjadi salah satu penyebab penurunan ekspor maupun impor ke Amerika Serikat.

Hambatan perdagangan non tarif merupakan salah satu ancaman bagi pengembangan ekspor industri pengolahan non migas saat ini. Tercatat terdapat 37 kasus trade remedies yang berasal dari berbagai negara. Negara – negara ASEAN menyumbang trade remedies terbanyak yakni sebanyak 12 kasus yaitu Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Terindikasi bahwa hambatan non tarif tersebut digunakan untuk melindungi industri dalam negerinya disaat tarif antar anggota ASEAN telah 0%. Hal tersebut perlu menjadi perhatian, mengingat Vietnam, Thailand, Malaysia dan Filipina termasuk dalam lima belas besar mitra perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia.

Ekspor industri pengolahan non migas mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Tercatat pada Januari 2021, ekspor industri pengolahan non migas mencapai US$

11,99 Miliar, turun 7,15% dibandingkan Desember 2020. Meskipun demikian, nilai tersebut naik 11,72% dibandingkan Januari 2020 dan merupakan nilai tertinggi antar Januari pada tiga tahun terakhir.

(16)

Penurunan ekspor pada Januari 2021 disumbang oleh sektor industri makanan (turun US$

399,5 Juta atau 11,13%), industri logam dasar (turun US$ 183,7 Juta atau 9,93%), dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia (turun US$ 121,41 Juta atau 5,43%). Crude palm oil (HS 15111000), menyumbang penurunan ekspor terbesar pada sektor industri makanan dengan penurunan mencapai US$ 286,99 Juta, turun 47,59%. Penurunan harga komoditas minyak kelapa sawit sebesar 2,5% diduga menjadi salah satu penyebab penurunan ekspor.

Meskipun demikian, masih terdapat beberapa sektor yang mengalami kenaikan seperti industri alat angkutan lainnya yang naik US$ 44,95 juta atau naik 17,99% dibandingkan Desember 2020. Jika dilihat detail per produk, refined copper for cathodes and sections of cathodes (HS 74031100) menyumbang kenaikan ekspor terbesar pada sektor industri logam dasar dengan kenaikan US$ 78,68 Juta atau naik 235,64% dibandingkan Desember 2020.

Cina, Amerika Serikat dan Jepang masih merupakan negara utama tujuan ekspor dengan total share sebesar 38,55% terhadap ekspor industri pengolahan non migas Indonesia. Liquid fractions of refined palm oil, with iodine value 55 or more but less than 60 (HS 15119037), Ferro alloy nickel (HS 72026000), dan Refined palm oil (HS 15119020) merupakan komoditas unggulan ekspor di bulan Januari 2021 dengan rata-rata ekspor mencapai US$ 630,23 Juta.

108,60 110,50

125,10 130,12 127,38 131,13

10,40 10,73 12,91 11,99

2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jan 19 Jan 20 Des 20 Jan 21

Nilai Ekspor Industri Pengolahan Non Migas Januari 2021

(Miliar US$)

(17)

Thailand menjadi negara dengan pertumbuhan ekspor tertinggi selama Januari 2021 diantara 10 negara utama tujuan ekspor. Sektor Industri Logam Dasar menjadi penyumbang kenaikan ekspor di Thailand. Dibandingkan Desember 2020, ekspor industri logam dasar naik sebesar US$ 37,95 Juta atau 230,84%. Refined copper for cathodes and sections of cathodes (HS 74031100), Oth motor car (Station Wagon&sport cars) Of Not 4WDgasoline of a cylinder 1,000

< cc <= 1,500, Not CKD (HS 87032259) merupakan produk unggulan yang diekspor ke Thailand pada Januari 2021.

Walaupun tidak masuk dalam sepuluh besar mitra dagang industri pengolahan non migas bulan Januari 2021, Myanmar dan Ukraina merupakan mitra yang penting. Ekspor industri pengolahan non migas ke Myanmar naik US$ 39,66 juta (32,73%) sedangkan ekspor ke Ukraina naik US$ 38.07 juta (69,26%) dibandingkan Desember 2020. Liquid fractions of refined palm oil, with iodine value 55 or more but less than 60 (HS 15119037) merupakan produk ekspor unggulan Indonesia ke Myanmar pada bulan Januari ini.

Impor industri pengolahan non migas terus mengalami kenaikan sejak Oktober tahun 2020.

Namun, pada Januari 2021 tercatat impor industri pengolahan non migas mengalami penurunan. Pada bulan ini, impornya mencapai US$ 10,87 Miliar atau turun sebesar 8,21%

dibandingkan Desember 2020. Sama seperti ekspor, nilai impor ini juga merupakan yang terendah antar Januari pada tiga tahun terakhir.

(30,00) (20,00) (10,00) - 10,00 20,00

- 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000

10 Negara Utama Tujuan Ekspor pada Januari 2021

Jan 20 Des 20 Jan 21 Pertumbuhan (mtm)

Juta US$ Persen (%)

(18)

Penurunan impor Januari 2021 disumbang oleh sektor industri komputer, barang elektronik dan optik (turun US$ 287,72 Juta atau turun 15,57%), industri mesin dan perlengkapan ytdl (turun US$ 260,05 Juta atau turun 14,03%), dan industri makanan (turun US$ 186,69 Juta atau turun 18,49%). Oth than defatted soya-bean flour, fit for human consumption (HS 23040090), Part of transmission aparatus, portable receivers for (HS 85177021), serta Telephones for cellular networks or for other wireless (HS 85171200) merupakan tiga besar produk yang mengalami penurunan impor pada Januari 2021.

Cina masih menjadi mitra impor utama industri pengolahan non migas Indonesia dengan share impor hingga 36,75% terhadap total impor industri pengolahan non migas. Vaccines for human medicine, Other than Tetanus toxoid & Pertussis, measles, meningitis or polio vaccines (HS 30022090) merupakan produk industri pengolahan non migas utama yang diimpor Indonesia dari Cina pada Januari 2021. Impornya mencapai US$ 166,46 juta, naik 632,28% dibandingkan Desember 2020. Namun demikian sharenya hanya 4,17% dari total impor industri pengolahan non migas Indonesia dari Cina. Produk lainnya yg memiliki nilai impor terbesar kedua adalah Part of transmission aparatus, portable receivers for (HS 85177021) dengan nilai impor US$

162,24 juta, turun 35,93% dibandingkan Desember 2020.

109,52 108,24

122,17

147,62

137,92

116,96

12,48 11,58 11,85 10,87

2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jan 19 Jan 20 Des 20 Jan 21

Nilai Impor Industri Pengolahan Non Migas Januari 2021

(Miliar US$)

(19)

Vietnam menjadi negara asal impor dengan pertumbuhan tertinggi selama Januari 2021 diantara 10 negara utama. Sektor industri komputer, barang elektronik dan optic menjadi penyumbang kenaikan impor dari Vietnam dengan share 24,04% terhadap total impor industri pengolahan non migas. Dibandingkan Desember 2020, impor industri komputer, barang elektronik dan optic naik sebesar US$ 22,21 Juta atau 35,86%. Oth printed circuit board;not assembled,for flat panel display (HS 85299094), Part of other printed circuit boards, assembled (HS 85177031) dan Part of transmission aparatus, portable receivers for (HS 85177021) merupakan produk utama sektor tersebut yang diimpor dari Vietnam. Selain itu, Other motorcycles (w/ or without side-cars) incl scooters with other cc, not CKD (HS 87112096) juga merupakan produk dengan persentase kenaikan impor terbesar pada bulan Januari 2021 yaitu sebesar 838,5% (US$ 4,05 juta) dibanding Desember 2020.

Data menunjukkan selain sepuluh besar negara mitra impor tersebut, pada Januari 2021 terdapat peningkatan nilai impor dari Afrika Selatan sebesar US$ 63,79 juta, naik 50,01 dibanding Desember 2020 atau naik 155,98% dibanding Januari 2020. Ferro alloy,chromium weight>4%carbon (HS 72024100) merupakan produk utama yang diimpor dari Afrika Selatan senilai US$ 113,7 juta, naik 126,78% (US$ 63,57 juta) dibandingkan Desember 2020.

3.1.2. Perkembangan Ekspor Impor bulan Februari 2021

Pada bulan Februari ini neraca perdagangan industri pengolahan non migas mencatatkan angka surplus sebesar US$ 1,04 Miliar atau turun 6,84% dibandingkan Januari 2021. Neraca

(30,00) (20,00) (10,00) - 10,00

- 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500

10 Negara Utama Asal Impor pada Januari 2021 Jan 20 Des 20 Jan 21 Pertumbuhan (mtm)

Juta (US$) Persen (%)

(20)

15

perdagangan Februari ini mengalami penurunan yang cukup signifikan (turun 53,47%) dibandingkan periode yang sama tahun 2020 dimana nilainya mengalami surplus hingga US$2,24 Miliar. Penurunan surplus tersebut didorong adanya peningkatan impor industri pengolahan non migas yang lebih besar dibandingkan ekspornya. Impor industri pengolahan non migas pada Februari ini meningkat 2,13% sedangkan ekspor meningkat 1,29%

dibandingkan Januari 2021. Meskipun demikian, nilai ekspor pada Februari 2021 masih lebih besar dibandingkan impornya.

Surplus neraca perdagangan disumbang oleh sektor industri makanan sebesar US$ 1,5 Miliar meskipun turun 35,97% dibandingkan Januari lalu, sedangkan defisit neraca perdagangan terbesar disumbang oleh sektor industri mesin dan perlengkapan ytdl sebesar US$1,15Miliar dan turun 12,19% dibandingkan Januari 2021. Namun demikian, peningkatan terbesar surplus neraca perdagangan terjadi pada sektor industri logam dasar yaitu meningkat 100,53% yang ditopang oleh peningkatan ekspor sebesar US$ 364,14 Juta (22,43%) dibandingkan Januari 2021.

Grafik 1. Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas (Februari 2021)

Adanya kebijakan pelarangan ekspor komoditas di awal tahun 2014 telah memicu tumbuhnya investasi di sektor pengolahan mineral dan turunannya, salah satunya nikel. Nikel merupakan salah satu unsur penting berbagai produk berbasis logam yang utamanya merupakan campuran untuk menghasilkan baja. Penggunaan pertama (first use) nikel pada Stainless Steel mencapai 70%, pada Alloy steels & castings sebesar 9%, Non Ferrous Alloys sebesar 9%, Batteries sebesar 3%, dan produk lainnya sebesar 1%. Dengan adanya kebijakan hilirisasi sektor pertambangan dan pelarangan ekspor komoditas tersebut, muncul berbagai industri terintegrasi pengolahan nikel dari hulu hingga hilir pada Kawasan industri Indonesia Morowali

2,26 2,93

(17,50)

(10,54)

14,17

2,24 1,12 1,04

2016 2017 2018 2019 2020 Feb-20 Jan-21 Feb-21

Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas Februari 2021

(Miliar US$)

(21)

Industrial Park, sehingga biaya produksi pengolahan baja nirkarat menjadi paling murah di dunia1. Akibatnya produk-produk semi baja nirkarat pada kawasan tersebut dapat dijual dengan harga lebih murah di dunia sehingga terjadi peningkatan ekspor produk-produk tersebut.

Ekspor sektor industri logam dasar dari pelabuhan Kolonedale merupakan yang terbesar selama 6 (enam) tahun terakhir (2016-2021). Total ekspornya tahun 2016-2021 mencapai US$

18,06 Miliar dengan kontribusi 22,8% dari total ekspor industri logam dasar di Indonesia.

Salah satu produk industri logam dasar dengan peningkatan ekspor tertinggi pada Februari ini adalah Oth than stainless steel in ingots/oth primary form,rectangular (oth than square)cross- section (HS 72189900) yang mengalami kenaikan ekspor sebesar US$ 75,16 Juta (naik 139,64%) dibandingkan Januari 2021 dan kenaikan tren mencapai 1.093,2% per tahun.

Meskipun penyumbang surplus neraca perdagangan terbesar, peningkatan impor industri makanan merupakan yang terbesar di bulan Februari ini. Impornya meningkat sebesar US$

270,57 Juta atau naik 33,19% dibandingkan Januari 2021. Peningkatan impor terbesar tersebut terjadi pada kelompok bahan baku dan penolong dengan kenaikan sebesar US$ 255,30 Juta (45,10%) dibandingkan Januari 2021. Golongan ampas/sisa industri makanan yaitu produk Oth than defatted soya-bean flour, fit for human consumption (HS 23040090) menyumbang kenaikan nilai impor bahan baku dan penolong terbesar yaitu sebesar US$ 113,51 Juta (97,88%) dibandingkan Januari 2021. Produk tersebut merupakan salah satu bahan baku pakan ternak. Peningkatan impor tersebut diduga merupakan dampak fasilitas BMDTP untuk industri terdampak covid-19 sebagaimana tertuang pada PMK 44 Tahun 2020 tentang Insentif Pajak untuk Wajib Pajak Terdampak Pandemi Corona Virus Disease 2019, yaitu kode 10801 - industri makanan hewan dan 10802 - industri konsentrat makanan hewan, dimana PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 22 impor ditanggung oleh pemerintah. Selain itu, diberikan pula fasilitas Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran PPN, dan Pengurangan Besarnya Angsuran PPh 25 (KLU 2012).

Berdasarkan lima belas besar negara mitra utama ekspor industri pengolahan non migas bulan Februari 2021, rata-rata perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 10,91 Juta naik 120,76% dibanding Januari 2021 yang mengalami surplus sebesar US$ 4,94 Juta. Cina menyumbang defisit neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar pada Februari 2021

.

(22)

Grafik 2. Neraca Perdagangan 15 Mitra Utama Ekspor (Februari 2021)

Data BPS menunjukkan, neraca perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-Cina Februari 2021 defisit US$ 1,79 Miliar, turun 9,41% (US$ 185,69 Juta) dibandingkan Januari 2021 namun naik 156,64% dibandingkan Februari 2020. Penurunan defisit pada Februari 2021 disebabkan kenaikan ekspor industri pengolahan non migas ke Cina dan penurunan impor.

Ekspornya naik sebesar 3,76%, sedangkan impornya turun 2,76% dibandingkan Januari 2021.

Peningkatan ekspor terbesar ke Cina bulan Februari adalah Oth than stainless steel in ingots/oth primary form,rectangular (oth than square)cross-section (HS 72189900) naik sebesar US$ 75,16 Juta (naik 139,66%) sedangkan penurunan impor terbesar adalah Vaccines for human medicine, Other than Tetanus toxoid & Pertussis, measles, meningitis or polio vaccines (HS 30022090) turun US$ 87,53 Juta (turun 52,58%) dibandingkan Januari 2021. Kontribusi ekspor industri pengolahan non migas ke Cina merupakan yang terbesar (17,20%) dibandingkan total ekspor industri pengolahan non migas Indonesia. Secara umum kontribusi ekspor Indonesia ke Cina hanya 1,35% terhadap total impor Cina (data 2019).

Amerika serikat menyumbang surplus neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar pada Februari 2021. Data BPS mencatat, surplus perdagangan industri pengolahan non migas Amerika Serikat mencapai US$ 1,37 Miliar, naik sebesar 11,08% (US$ 136,34 Juta) dibandingkan Januari 2021. Hal ini ditopang oleh kenaikan nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impornya. Ekspor naik sebesar US$ 177,95 Juta (10,78%), sedangkan impornya naik US$ 41,61 Juta (9,90%) dibandingkan Januari 2021. Kenaikan nilai ekspor terbesar terjadi pada Coconut (copra) oil and its fractions, not chemically modified, oth than crude oil and oth than 15131910 (HS 15131990) sebesar US$ 21,04 Juta atau naik 5.308,23% dibandingkan

(2.500) (2.000) (1.500) (1.000) (500) - 500 1.000 1.500 2.000

Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas pada 15 Negara Mitra Utama bulan Februari 2021*

Feb-20 Jan-21 Feb-21

Juta US$

*berdasarkan ekspor terbesar Februari 2021

(23)

Januari 2021. Sedangkan Other carbon black feedstock & creosote oils (HS 27079990) dan Machinery for processing material by heating, for themanufacture of PCB/PWB/PCA, electrically operated (HS 84198913) menyumbang kenaikan impor tertinggi pada Februari 2021 sebesar US$ 18,73 Juta(naik 155.711,14%) dan US$ 14,33 Juta (naik 405.394,34%) dibanding Januari 2021.

Australia merupakan salah satu dari lima belas mitra utama ekspor industri pengolahan non migas. Meskipun demikian, terkait implementasi kerjasama Indonesia-Australia CEPA, belum terlihat dampak positifnya bagi Indonesia. Indonesia telah menyelesaikan proses ratifikasi dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pengesahan Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (Indonesia–Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) pada tanggal 28 Februari 2020, dan telah dilakukan pertukaran notifikasi yang menyatakan bahwa proses ratifikasi telah selesai. Sejak tanggal 5 Juli 2020, IA-CEPA mulai berlaku dan dapat dimanfaatkan kedua negara. Namun demikian, hingga saat ini neraca perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-Australia masih defisit. Pada Februari 2021, neraca perdagangan Indonesia-Australia defisit US$ 42,87 Juta, naik 319,47% dibandingkan Januari 2021 atau naik 27,70% dibandingkan Februari tahun 2020.

Impor industri pengolahan non migas dari Australia pada Februari 2021 meningkat 17,77%

sedangkan kenaikan ekspornya hanya naik 3,52% dibandingkan Januari 2021. Peningkatan ekspor tersebut diduga juga dikarenakan adanya perang dagang Cina dan Australia akibat pandemi covid-19, mengingat jenis produk yang diekspor merupakan jenis yang dikenakan tarif oleh Cina yaitu jelai, wine, daging merah, kapas, kayu, batu bara, lobster, dan bijih besi.

Ekspor industri pengolahan non migas mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Tercatat pada Februari 2021, ekspor industri pengolahan non migas mencapai US$ 12,14 Miliar, naik 1,29% dibandingkan Januari 2021 atau naik 8,90% dibandingkan Februari 2020.

(24)

Grafik 3. Ekspor Industri Pengolahan (Februari 2021)

Ekspor tertinggi pada Februari 2021 disumbang oleh sektor industri makanan dengan ekspor senilai US$ 2,60 miliar meskipun demikian ekspor sektor industri makanan juga menyumbang penurunan ekspor tertinggi yaitu turun sebesar US$ 577,5 Juta (turun 18,20%). Sedangkan untuk kenaikan ekspor tertinggi disumbang oleh industri logam dasar (naik US$ 364,14 Juta atau 22,43%).

Cina, Amerika Serikat dan Jepang masih merupakan negara utama tujuan ekspor dengan total share sebesar 40,10% terhadap ekspor industri pengolahan non migas Indonesia. Secara umum pada tahun 2020, pangsa pasar ekspor produk Indonesia ke Cina hanya sebesar 1,82%, naik 10,65% dibanding tahun 2019, dengan tren meningkat 6,60% per tahun. Demikian juga dengan pangsa pasar ekspor produk Indonesia ke Amerika Serikat juga sangat kecil hanya sebesar 0,88% (tahun 2020), naik 7,19% dibanding tahun 2019 dengan tren meningkat 2,86%

per tahun. Sebaliknya pangsa pasar ekspor produk Indonesia ke Jepang cukup besar yaitu sebesar 2,43% (tahun 2020) namun turun 3,62% dibanding tahun 2019 dan memiliki tren menurun dengan penurunan 8,28% per tahun.

Liquid fractions of refined palm oil, with iodine value 55 or more but less than 60 (HS 15119037), Ferro alloy nickel (HS 72026000), dan Refined palm oil (HS 15119020) merupakan komoditas unggulan ekspor industri pengolahan non migas bulan Februari 2021 dengan total ekspor mencapai US$ 1,39 Miliar. Sedangkan Oth than stainless steel in ingots/oth primary form,rectangular (oth than square)cross-section (HS 72189900), Other carbon black feedstock

& creosote oils (HS 27079990), dan Semi-finish product iron/non-alloy steel weight<0.25%carbon,cross-section,measuring<twice thickness (HS 72071100) merupakan

110,50 125,10 130,12 127,38 131,13

11,14 11,98 12,14

2016 2017 2018 2019 2020 Feb-20 Jan-21 Feb-21

Ekspor Industri Pengolahan Non Migas Februari 2021

(Miliar US$)

(25)

komoditas dengan peningkatan ekspor tertinggi di bulan Februari 2021, rata-rata peningkatan ekspor mencapai US$ 67,59 Juta.

Grafik 4. Negara Utama Tujuan Ekspor (Februari 2021)

Dilihat dari sisi pertumbuhan ekspornya, Amerika Serikat menjadi negara dengan pertumbuhan ekspor tertinggi (tumbuh 10,78%) selama Februari 2021 diantara 10 negara utama tujuan ekspor. Sektor Industri makanan menjadi penyumbang kenaikan ekspor terbesar ke Amerika Serikat. Dibandingkan Januari 2021, ekspor industri makanan naik sebesar US$ 86,91 Juta atau 29,99%. Meskipun demikian, Sports footwear not fitted with spikes/bowling/wrstling/weight lifting/the like w/upper leathers (HS 64031990), New pneumatic tyres, of rubber, of a kind used on motor cars (including station wagons and racing cars) (HS 40111000) merupakan produk unggulan yang diekspor ke Amerika Serikat dengan nilai ekspor mencapai US$ 114,49 Juta pada Februari 2021.

Jika dilihat dari besaran pangsa pasar ekspornya, Filipina merupakan negara dengan pangsa pasar ekspor terbesar bagi Indonesia dibandingkan 9 negara lainnya. Pangsa pasar ekspor produk Indonesia ke Filipina tahun 2020 mencapai 6,46% terhadap dunia dengan tren meningkat 4,67% per tahun. Sehingga Filipina merupakan salah satu mitra tradisional yang potensial. Terkait dengan potensi ekspor, walaupun tidak masuk dalam sepuluh besar mitra dagang industri pengolahan non migas bulan Februari 2021, Liberia dan Latvia merupakan mitra yang potensial. Ekspor industri pengolahan non migas ke kedua negara tersebut naik 597,25% dan 415,31% dibandingkan Januari 2021 dengan nilai ekspor mencapai US$ 5,4 Juta dan US$ 9,18 Juta. Liquid fractions of refined palm oil, in packing of a net weight exceeding 25

-30,00 -25,00 -20,00 -15,00 -10,00 -5,00 0,00 5,00 10,00 15,00

- 500,00 1.000,00 1.500,00 2.000,00 2.500,00

Cina Amerika

Serikat

Jepang Malaysia Singapura Philipina India Thailand Viet Nam Korea Selatan

10 Negara Utama Tujuan Ekspor pada Februari 2021

Feb-20 Jan-21 Feb-21 Pertumbuhan

Juta US$ Persen (%)

(26)

kg, with iodine value more than 60 (HS 15119039) merupakan produk ekspor unggulan Indonesia ke Liberia, sedangkan Solid fractions of refined palm kernel oil, not chemically modified (HS 15132991) merupakan produk ekspor unggulan Indonesia ke Latvia pada bulan Februari ini. Liberia termasuk kawasan Afrika yang tidak memiliki tanki besar di pelabuhan untuk menyimpan stok minyak sawit dan lebih menyukai minyak sawit alami yang minim proses pengolahan, sehingga diversifikasi produk kelapa sawit memiliki potensi besar.

Sama seperti ekspor, impor industri pengolahan non migas terus mengalami kenaikan. Pada Februari 2021 tercatat impor industri pengolahan non migas mencapai US$ 11,09 Miliar atau naik sebesar 2,13% dibandingkan Januari 2021 atau naik 24,59% dibandingkan Februari tahun 2020. Kenaikan tersebut didorong oleh adanya kenaikan impor bahan baku dan penolong serta impor barang modal. Impor bahan baku dan penolong meningkat US$ 112,22 Juta (1,46%), sedangkan impor barang modal meningkat US$ 190,04 Juta (9,48%) dibandingkan Januari 2021. Sebaliknya, pada bulan ini impor barang konsumsi mengalami penurunan sebesar US$

44,99 Juta (3,72%) dibandingkan periode sebelumnya.

Grafik 5. Impor Industri Pengolahan (Februari 2021)

Jika dilihat per sektor, peningkatan impor Februari 2021 disumbang oleh sektor industri makanan (naik US$ 270,57 Juta atau naik 33,19%). Impor tertinggi pada sektor tersebut terjadi pada produk Raw sugar of oth cane sugar, in solid form, not cont added flavouring/colouring matter (HS 17011400). Impornya mencapai US$ 279,54 Juta, naik US$87,73 Juta (naik 45,74%) dibandingkan Januari 2021. Sebaliknya, industri mesin dan perlengkapan ytdl

108,24 122,17

147,62 137,92

116,96

8,90 10,86 11,09

2016 2017 2018 2019 2020 Feb-20 Jan-21 Feb-21

Impor Industri Pengolahan Non Migas Februari 2021

(Miliar US$)

(27)

menyumbang penurunan impor tertinggi selama Februari ini. Impornya turun hingga US$ 161,5 Juta, turun 10,22% dibandingkan Januari 2021 atau turun 17,23% dibandingkan Februari 2020.

Cina masih menjadi mitra impor utama industri pengolahan non migas Indonesia dengan share impor hingga 34,93% terhadap total impor industri pengolahan non migas. Telephones for cellular networks or for other wireless (HS 85171200) merupakan komoditi industri pengolahan non migas yang utama diimpor Indonesia dari Cina pada Februari ini. Impornya mencapai US$

212,37 Juta, naik 221,8% dibandingkan Januari 2021 atau naik 572,5% dibandingkan Februari 2020. Produk Vaccines for human medicine, Other than Tetanus toxoid & Pertussis, measles, meningitis or polio vaccines (HS 30022090) yang merupakan produk industri pengolahan non migas utama yang diimpor Indonesia dari Cina pada Januari 2021, pada Februari ini impornya turun hingga US$ 87,53 Juta atau turun 52,58%. Penurunan impor vaksin tersebut memang dikarenakan berkurangnya pengiriman dari Cina yaitu pengiriman gelombang pertama sebanyak 15 juta dosis pada 12 Januari 2021 dan pengiriman gelombang kedua sebanyak 10 juta dosis pada 2 Februari 2021. Pengiriman selanjutnya dilakukan pada awal Maret 2021 sebanyak 10 juta dosis. Meskipun Indonesia mengimpor vaksin dari berbagai negara, namun 89% impor vaksin berasal dari Cina. Selain vaksin, produk Water pumps with flow rate > 13,000 m3/h, whethe/notelectrically operated (HS 84138119) merupakan komoditi terbesar kedua setelah vaksin yang mengalami penurunan impor terbesar dari Cina pada Februari 2021.

Penurunan impornya mencapai 94,17% (turun US$17,78 Juta) atau turun 54,45% dibandingkan Februari 2020.

Grafik 6. Negara Utama Asal Impor (Februari 2021)

-30 -20 -10 0 10 20 30

- 1.000,0 2.000,0 3.000,0 4.000,0 5.000,0

Cina Jepang Thailand SingapuraKorea SelatanAmerika SerikatMalaysia India Viet Nam Taiwan

10 Negara Utama Asal Impor pada Februari 2021

Feb-20 Jan-21 Feb-21 Pertumbuhan

Juta US$ Persen (%)

(28)

Thailand menjadi negara asal impor dengan pertumbuhan tertinggi selama Februari 2021 diantara 10 negara utama. Raw sugar of oth cane sugar, in solid form, not cont added flavouring/colouring matter (HS 17011400) dan Fully assembled, Diesel/ semi-diesel engines, a cylinder capacity 2000< cc<=3500 cc, for vehicles of heading 87 (HS 84082022) merupakan produk utama yang diimpor dari Thailand. Impornya pada Februari 2021 mencapai US$ 57,95 Juta dan mengalami kenaikan rata-rata 46,61% dibandingkan Januari 2021. Tingginya ketergantungan impor raw sugar sebagai bahan baku gula rafinasi Indonesia dikarenakan kurangnya pasokan di dalam negeri. Defisit neraca gula tersebut akan semakin membesar dikarenakan semakin tingginya permintaan gula di dalam negeri. Menurut Ketua Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), rata-rata kenaikan kebutuhan gula sekitar 5%-6% mengikuti pertumbuhan industri makanan dan minuman. Thailand merupakan salah satu produsen raw sugar yang paling dekat dengan Indonesia, sehingga biaya impornya menjadi lebih murah dibandingkan impor dari negara lain.

Meskipun bukan negara mitra impor utama Indonesia, impor dari Brazil cukup signifikan dan memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi. Pada bulan Februari 2021, impor industri pengolahan non migas mencapai US$ 253, 89 Juta, meningkat US$ 151,65 Juta (148,33%) dibandingkan Januari 2021. Raw sugar of oth cane sugar, in solid form, not cont added flavouring/colouring matter (HS 17011400) juga merupakan komoditas utama yang diimpor dari Brazil. Nilai impornya pada Februari 2021 mencapai US$ 125,25 Juta, naik US$ 89,69 Juta (252,22%) dibandingkan Januari 2021. Hal ini diduga akibat terjadinya kegagalan panen gula di Thailand, sehingga impor raw sugar dialihkan ke negara lain walaupun akibatnya akan menambah lead- time impor menjadi lebih lama.

3.1.3. Perkembangan Ekspor Impor bulan Maret 2021

Pada Maret 2021, neraca perdagangan industri pengolahan non migas mencatatkan angka surplus sebesar US$ 1,53 Miliar atau naik 46,50% dibandingkan Februari 2021. Neraca perdagangan Maret 2021 juga mengalami pengingkatan yang cukup signifikan dibandingkan Maret 2020 (naik 395,18%) dimana pada bulan tersebut merupakan awal pandemi Covid-19.

Peningkatan surplus tersebut didorong adanya peningkatan ekspor industri pengolahan non migas yang lebih besar dibandingkan impornya. Ekspor industri pengolahan non migas pada Maret 2021 meningkat 22,24% dibandingkan Februari 2021 atau meningkat 33,42% dibanding periode yang sama tahun 2020. Sedangkan impor pada Maret 2021 meningkat 19,96%

dibandingkan Februari 2021 atau meningkat 23,10% dibanding periode yang sama tahun 2020.

(29)

Industri Makanan menjadi sektor dengan surplus neraca perdagangan terbesar yakni mencapai US$ 2,5 Miliar, naik 65,46% dibandingkan Februari 2021 Sementara sektor dengan defisit neraca perdagangan terbesar adalah sektor Industri Mesin dan Perlengkapan ytdl yakni US$

1,30 Miliar, meningkat 12,54% dibandingkan Februari 2021. Peningkatan persentase surplus neraca perdagangan terbesar terjadi pada sektor Industri Pengolahan Lainnya yang meningkat 116,02% akibat naiknya ekspor sebesar US$ 99,33 Juta (32,13%) dibandingkan Februari 2021, khususnya produk Articles of jewellery of precious metal, whether or notplated or clad with (HS 71131990) yang meningkat US$ 80,36 Juta (naik 92,36%).

Jika pada bulan sebelumnya Industri Logam Dasar mengalami peningkatan ekspor yang cukup signifikan yaitu sebesar US$ 364,32 Juta dibandingkan Januari 2021, maka pada bulan Maret 2021 Industri Logam Dasar justru mengalami peningkatan impor tertinggi, naik 41,03% (US$

494,42 Juta) dibandingkan Februari 2021 atau naik 20,34% dibandingkan Maret 2020.

Meskipun secara neraca Industri Logam Dasar masih mengalami surplus, namun surplus Industri Logam Dasar pada Maret 2021 ini turun 28,51% (turun US$ 223,03 Juta). Produk Oth than iron/non alloy steel,weight<0.25% carbon,crosssection,measuring<twice the thickness (HS 72071900) mengalami kenaikan impor US$ 93,75 Juta (naik 1.850,52%) dibandingkan Februari 2021. Hal ini diduga akibat produksi Indonesia di Industri Logam Dasar ini paling besar masih berupa produk antara (intermidiate) dan didominasi oleh produk kelas dua yaitu nickel pig iron (NPI) dan feronikel (FeNi) yang menggunakan bahan baku saprolite dengan nikel kadar tinggi.

Sementara itu untuk produk kelas satu yang memproduksi Ni Matte dan MHP yang menggunakan bahan baku limonite, produksinya masih kurang.

2,26 2,93

(17,50)

(10,54)

14,17

1,70 3,69

0,31 1,53

(20,00) (15,00) (10,00) (5,00) - 5,00 10,00 15,00 20,00

2016 2017 2018 2019 2020 Jan-Mar

2020

Jan-Mar 2021

Mar-20 Mar-21

Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas Maret 2021 (Miliar US$)

(30)

Berdasarkan lima belas besar negara mitra utama industri pengolahan non migas bulan Februari 2021, rata-rata perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 26,69 Juta. RRT menyumbang defisit neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar pada Maret 2021 mencapai US$ 987,35 Juta, sedangkan Amerika Serikat masih menjadi penyumbang surplus neraca perdagangan tertinggi sebesar US$ 1,52 Miliar.

Data BPS menunjukkan, neraca perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-RRT Maret 2021 masih mengalami defisit walaupun turun cukup signifikan 44,79% (US$ 801,1 Juta) dibandingkan Februari 2021 atau turun 35,6% dibandingkan Maret 2020. Penurunan defisit pada Maret 2021 disebabkan kenaikan ekspor industri pengolahan non migas ke RRT yang lebih besar dibandingkan kenaikan impornya. Ekspor ke RRT naik sebesar 39,92%, sedangkan impornya naik 0,82% dibandingkan Februari 2021. Peningkatan ekspor terbesar ke RRT bulan Maret adalah produk Liquid fractions of refined palm oil, with iodine value 55 or more but less than 60 (HS 15119037) yang naik sebesar US$ 200,64 Juta (naik 362,6%) sedangkan produk dengan penurunan impor terbesar adalah Telephones for cellular networks or for other wireless (HS 85171200) turun US$ 182,32 Juta (turun 85,85%) dibandingkan Februari 2021. Kontribusi ekspor industri pengolahan non migas ke RRT pada Maret 2021 masih merupakan yang terbesar (19,7%) dibandingkan total ekspor industri pengolahan non migas Indonesia, meningkat 7,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Secara umum kontribusi ekspor Indonesia ke RRT hanya 1,35% terhadap total impor RRT (data 2019).

(2.000,00) (1.500,00) (1.000,00) (500,00) - 500,00 1.000,00 1.500,00 2.000,00

Neraca Perdagangan Industri Pengolahan Non Migas pada 15 Negara Mitra Utama bulan Maret 2021*

Mar-20 Feb-21 Mar-21

*berdasarkan ekspor terbesar Maret 2021

Juta US$

(31)

Selain RRT, Korea Selatan menyumbang defisit neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar kedua pada Maret 2021. Data menunjukkan, defisit perdagangan industri pengolahan non migas Indonesia-Korea Selatan mencapai US$ 611,13 Juta atau meningkat 221,87% (naik US$ 421,26 Juta) dibandingkan Februari 2021. Peningkatan defisit tersebut terjadi akibat peningkatan impor yang cukup tajam hingga mencapai 78,38% (naik US$ 460,61 Juta), sedangkan ekspor hanya meningkat 9,89% (naik US$ 39,34 Juta). Adapun produk yang diimpor dengan nilai besar pada Maret ini adalah Tankers of gross tonnage > 50.000 (HS 89012080) senilai US$ 227,10 Juta. Sebelumnya pada bulan Februari 2021, kapal besar pengangkut barang ini diimpor juga dari Singapura senilai US$ 33 Juta. Selain itu, impor beberapa barang semifinish non aloy (Semi-finish product iron/non-alloy steel slabs<0.25%

carbon,cross-sect,measuring<twice the thickness) HS 72071210 dari Korea Selatan juga tercatat meningkat 49.016,32% (naik US$ 13,5 Juta).

Berbeda dengan RRT dan Korea Selatan, Amerika Serikat menyumbang surplus neraca perdagangan industri pengolahan non migas terbesar pada Maret 2021. Data BPS mencatat, surplus perdagangan industri pengolahan non migas Amerika Serikat mencapai US$ 1,52 Miliar, naik sebesar 11,26% (US$ 153,9 Juta) dibandingkan Februari 2021. Hal ini ditopang oleh nilai ekspor yang jauh lebih besar dibandingkan impornya. Ekspor industri pengolahan non migas ke Amerika Serikat pada Maret 2021 mencapai US$ 2,04 Miliar (naik 11,54%), sedangkan impornya US$ 0,51 Miliar (naik 12,36 %) dibandingkan Februari 2021. Ekspor industri pengolahan non migas ke Amerika Serikat masih didominasi oleh Industri Makanan dan Industri Pakaian Jadi dengan kontribusi keduanya mencapai 39,5% terhadap total ekspor industri pengolahan non migas. Kenaikan nilai ekspor terbesar terjadi pada Refined palm oil (HS 15119020) sebesar US$ 54,87 Juta atau naik 44,04% dibandingkan Februari 2021.

Sedangkan produk New pneumatic tyres, of rubber, of a kind used on motor cars (including station wagons and racing cars) (HS 40111000) menjadi produk yang paling banyak diekspor ke Amerika Serikat pada bulan Maret 2021.

Ekspor industri pengolahan non migas kembali mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Tercatat pada Maret 2021, ekspor industri pengolahan non migas mencapai US$

14,84 Miliar, naik 22,24% dibandingkan Februari 2021 atau naik 33,42% dibandingkan Maret 2020. Meskipun demikian, ekspor industri pengolahan non migas masih didominasi oleh ekspor bahan baku dan penolong dengan kontribusi sebesar 66,5% terhadap total ekspor industri pengolahan non migas.

(32)

Peningkatan ekspor Maret 2021 masih disumbang oleh sektor Industri Makanan (naik US$ 1,3 Miliar atau 50,24% (mtm)). Ekspor Industri Makanan juga masih didominasi oleh bahan baku dan penolong. Liquid fractions of refined palm oil, with iodine value 55 or more but less than 60 (HS 15119037), menyumbang kenaikan ekspor terbesar pada sektor Industri Makanan dengan kenaikan mencapai US$ 440,85 Juta, naik 86,02% dibandingkan Februari 2021. Sebaliknya Industri Produk dari Batubara dan Pengilangan Minyak Bumi menyumbang penurunan ekspor tertinggi. Ekspor Industri Produk dari Batubara dan Pengilangan Minyak Bumi turun US$ 5,3 Juta, turun 53,59% dibandingkan Februari 2021 atau turun 68,0% dibandingkan Maret 2020.

Selain Industri Makanan, Industri Logam Dasar masih menjadi sektor dengan nilai ekspor terbesar kedua dibulan Maret ini walupun peningkatannya tidak sebesar bulan sebelumnya.

Ekspor Industri Logam Dasar mencapai US$ 2,26 Miliar, naik 13,66% dibanding Februari 2021 atau naik 14,81% dibanding Maret 2020. Produk Ferro alloy nickel (HS 72026000) menyumbang kenaikan ekspor terbesar yaitu meningkat US$ 108,03 Juta (naik 24,20%) dibandingkan Februari 2021 dengan nilai ekspor mencapai US$ 554,36 Juta. Produk ini merupakan bahan baku pembuatan stainless steel dan RRT merupakan negara tujuan utama ekspor produk ini pada Maret 2021. Ekspornya ke RRTmencapai US$ 535,69 Juta atau 96,63%

dari total ekspor produk ini.

Pada bulan Maret ini seluruh industri pengolahan non migas kecuali Industri Produk dari Batubara dan Pengilangan Minyak Bumi mengalami kenaikan ekspor dengan rata-rata kenaikan mencapai US$ 117,36 Juta. Tingginya permintaan global menunjukkan terjadinya perbaikan ekonomi global pasca pandemi Covid-19 selaras dengan peningkatan Purchasing Managers'

110,50

125,10 130,12 127,38 131,13

33,00 38,95

11,12 14,84 -

20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00

2016 2017 2018 2019 2020 Jan-Mar

2020

Jan-Mar 2021

Mar-20 Mar-21

Nilai Ekspor Industri Pengolahan Non Migas Maret 2021 (Miliar US$)

Referensi

Dokumen terkait

Kota Tangerang yang paling maju dalam kegiatan sektor Industri Pengolahan Non Migas dibandingkan dengan daerah lainnya.. Kegiatan sektor Industri Pengolahan ini

Sektor industri makanan dan minuman berkontribusi sebesar 29,95% terhadap PDB industri pengolahan non migas, sedangkan industri non migas berkontribusi sebesar 86,4%terhadap

Kenaikan ekspor periode Januari-April tahun 2011 juga terjadi pada ekspor migas dan ekspor non migas yang masing-masing meningkat sebesar 34,01 persen dan 29,33 persen

Cina, Amerika Serikat dan Jepang masih merupakan negara utama tujuan ekspor dengan total share sebesar 38,55% terhadap ekspor industri pengolahan non migas

Jika dirinci, 3 (tiga) jenis industri pengolahan non migas dengan nilai impor terbesar dari Swiss pada bulan Juli 2022 adalah: (1) Industri Logam Dasar; (2) Industri Bahan

Jika dirinci, 3 (tiga) jenis industri pengolahan non migas dengan nilai impor terbesar dari Afrika Selatan pada bulan Oktober 2021 adalah: (1) Industri Logam Dasar;

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ekspor nasional dengan migas mengalami penurunan sebesar persen, dimana untuk komoditi non migas memberikan kontribusi sebesar

Apabila dilihat dari kontribusi secara relatif (lihat Tabel 8), ternyata pada masa krisis (1997-1999) kontribusi nilai ekspor pertanian terhadap total nilai ekspor non migas adalah