DATARAN TINGGI DI KECAMATAN PASIRWANGI KABUPATEN GARUT
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMAS
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Analisis Nilai Ekonomi Konservasi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peluang Adopsi Konservasi Usahatani Kentang Dataran Tinggi di Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Januari 2013
RINGKASAN
DINDA ASYIFA DEVI. Analisis Nilai Ekonomi Konservasi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peluang Adopsi Konservasi Usahatani Kentang Dataran Tinggi di Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut. Dibimbing oleh SUTARA HENDRAKUSUMAATMAJA.
Sektor pertanian memegang peranan yang cukup penting dalam pembangunan karena merupakan penyedia kebutuhan pangan bagi rakyat Indonesia yang terus bertambah, penyedia bahan baku industri, penyumbang devisa, penyerap tenaga kerja atau penciptaan kesempatan kerja dan sebagai jaminan pendapatan bagi sebagian besar penduduk, serta penunjang utama kelestarian lingkungan hidup. Besarnya manfaat sektor pertanian membuat kegiatan pertanian dilakukan di lahan sawah serta lahan kering. Tanaman semusim yang dominan ditanam di lahan kering adalah jagung, kentang, kubis, tomat, wortel, tembakau dan berbagai jenis bunga. Beberapa jenis tanaman seperti kentang, tomat, buncis, wortel, dan lainnya hanya dapat tumbuh dan menghasilkan dengan baik pada ketinggian tempat tertentu, sehinga terdapat sentra-sentra produksi untuk tanaman-tanaman tersebut (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005).
Berdasarkan luas tanam per tahun, Kabupaten Bandung dan Garut merupakan sentra penghasil kentang terbesar di Provinsi Jawa Barat (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, 2010). Pada tahun 2010 Kabupaten Garut memiliki produktivitas yang lebih tinggi yaitu 21,74 ton/ha dibandingkan dengan Kabupaten Bandung yang hanya memiliki produktivitas sebesar 20,48 ton/ha. Berdasarkan data luas panen, produksi dan produktivitas, di Garut mengalami perkembangan yang negatif, bahkan pada tahun 2009 dan 2010 persentase penurunan produksi lebih besar dibandingkan dengan persentase penurunan luas lahan. Penyebab penurunan produktivitas kentang ini diduga oleh terjadinya erosi. Erosi menyebabkan banyak unsur hara dan bahan organik tanah hilang melalui sedimen yang terangkut aliran permukaan, pencemaran tanah, air, dan lingkungan. Oleh karena itu, untuk melestarikan sumberdaya lahan di daerah-daerah sentra produksi ini perlu dilakukan pengelolaan lahan yang tepat dengan menerapkan tindakan konservasi tanah (Katharina, 2007).
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani kentang dataran tinggi untuk mengadopsi konservasi, dan (2) menghitung nilai ekonomi dari usahatani kentang yang melakukan konservasi. Penelitian dilakukan di Desa Padaawas dan Desa Barusari Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut. Lokasi ini dipilih secara tertuju (purposive) karena merupakan salah satu sentra penghasil kentang terbesar di Kabupaten Garut dengan kemiringan lahan yang beragam. Metode pengambilan contoh yang digunakan adalah simple random sampling. Jenis data yang digunakan adalah data cross section. Pengambilan data primer dilakukan selama bulan Juni 2011 – Juli 2011. Data primer dikumpulkan melalui wawancara langsung kepada petani kentang dataran tinggi, dengan menggunakan kuesioner. Metode analisis yang digunakan yaitu model logit untuk melihat faktor yang mempengaruhi adopsi konservasi dan analisis nilai ekonomi konservasi usahatani kentang. Pengolahan data menggunakan SPSS 16.0.
iv Pada penelitian ini petani yang melakukan konservasi adalah petani yang melakukan sistem penanaman dengan membentuk jalur-jalur tumpukan tanah yang memanjang menurut kontur atau melintang lereng (guludan searah kontur). Sebaliknya apabila jalur tersebut dibuat kearah bawah lereng atau searah lereng maka petani dikatakan tidak melakukan konservasi, karena pada alur-alur diantara tumpukan tanah akan terkumpul air yang akan mengalir dengan cepat ke bawah (Arsyad, 2000) sehingga mempercepat degradasi lahan yang menyebabkan lahan kritis dan usahatani tidak berkelanjutan (Henny, 2012). Berdasarkan hasil wawancara, petani yang melakukan pola konservasi sebanyak 36 petani (72 persen), dan yang tidak melakukan pola konservasi sebanyak 14 petani (28 persen). Dari 14 petani yang tidak melakukan pola konservasi, diperoleh informasi bahwa salah satu alasan mereka melakukan sistem penanaman guludan searah lereng adalah lebih mudah dibuat, jalur-jalur yang dibuat mempermudah pemeliharaan tanaman, dan dapat menghemat tenaga kerja.
Dilihat dari kriteria ekonomi, hasil analisis regresi logit menunjukkan umur, pendapatan, tingkat kecuraman lereng, dan status kepemilikan lahan yang merupakan variabel dummy, mempunyai tanda positif terhadap keputusan petani dalam mengadopsi konservasi. Artinya, jika umur petani, pendapatan, dan tingkat kecuraman lereng meningkat, maka peluang petani untuk mengadopsi konservasi meningkat. Dummy status kepemilikan lahan menunjukkan bahwa petani pemilik memiliki peluang untuk melakukan adopsi konservasi lebih tinggi dibandingkan petani penyewa. Pendidikan, luas lahan, jumlah tanggungan keluarga, dan pengalaman memiliki tanda negatif. Artinya, peningkatan pendidikan, luas lahan, jumlah tanggungan keluarga, dan pengalaman, akan menurunkan peluang petani melakukan adopsi konservasi. Variabel yang sesuai dengan hipotesis yaitu status kepemilikan lahan, pendapatan, tingkat kecuraman lereng, dan jumlah tanggungan keluarga. Selanjutnya berdasarkan kriteria statistik, variabel yang berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata α = 20 persen yaitu status kepemilikan lahan, luas lahan, pendapatan, tingkat kecuraman lereng, dan pengalaman bertani.
Usahatani dengan konservasi memberikan pendapatan atas biaya tunai dan atas biaya total yang lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani tanpa konservasi. Dilihat dari aspek lingkungan pendapatan total dapat menunjukkan nilai ekonomi konservasi. Nilai ini didapat dengan menghitung selisih pendapatan atas biaya total antara petani yang melakukan konservasi dan tidak melakukan konservasi. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai ekonomi konservasi usahatani kentang sebesar Rp 10.163.428,60.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat dirumuskan saran (1) Perlu dilakukan penyuluhan yang membahas mengenai konservasi secara lebih mendalam tidak hanya fokus pada budidaya tanaman. Hal ini perlu dilakukan agar petani lebih paham mengenai manfaat yang dapat diterima dan biaya yang harus ditanggung secara lebih jelas sehingga tingkat adopsi konservasi dapat meningkat, (2) Penyuluhan lebih baik diarahkan pada petani yang menggarap lahan di kecuraman lahan tinggi karena memiliki peluang adopsi konservasi yang lebih tinggi, dan (3) Pemerintah perlu memperkecil laju konversi tanah agar mengurangi perambahan lahan kehutanan sehingga satus penguasalahan menjadi jelas dan adopsi konservasi dapat dilakukan dengan lebih baik.
v
ANALISIS NILAI EKONOMI KONSERVASI
DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PELUANG ADOPSI KONSERVASI USAHATANI KENTANG
DATARAN TINGGI DI KECAMATAN PASIRWANGI
KABUPATEN GARUT
DINDA ASYIFA DEVI