BAB II: PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP ANAK SEBAGAI
4. Pertanggungjawaban Pidana
a. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana
Pertanggungjawaban pidana diartikan sebagai diteruskannya celaan yang secara objektif yang ada pada perbuatan pidana secara subjektif terhadap pembuatnya. Dasar adanya perbuatan pidana adalah asas legalitas, sedangkan dasar dapat dipidananya pembuat adalah asas kesalahan.76
Pertanggungjawaban pidana pada prinsipnya didasarkan pada asas kesalahan yang secara tegas menyatakan bahwa tiada pidana tanpa kesalahan. Artinya seorang baru dapat dimintai pertanggungjawaban dalam hukum pidana karena telah
76 Mahrus Ali, Op.Cit., hlm. 156.
melakukan perbuatan yang bersifat melawan hukum apabila dalam diri orang itu terdapat kesalahan. Apabila dalam diri orang itu tidak ada kesalahan, maka terhadap orang itu tidak dapat dimintai pertanggungjawaban.77
Roeslan Saleh berpendapat bahwa dalam pengertian perbuatan pidana tidak termasuk hal pertanggungjawaban, perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarangnya perbuatan. Apakah orang yang telah melakukan perbuatan itu kemudian juga dipidana tergantung pada soal apakah dia dalam melakukan perbuatan itu memang mempunyai kesalahan atau tidak. Apabila orang yang melakukan perbuatan pidana itu memang mempunyai kesalahan, maka tentu ia akan dipidana.78
b. Unsur-Unsur Pertanggungjawaban Pidana 1) Kesalahan Pelaku Tindak Pidana
Adagium “tiada pidana tanpa kesalahan” dalam hukum pidana lazimnya dipakai dalam arti tiada pidana tanpa kesalahan subjektif atau kesalahan tanpa dapat dicela, akan tetapi sesungguhnya pasti dalam hukum pidana orang tidak dapat berbicara tentang kesalahan tanpa adanya perbuatan yang tidak patut.79
Pelaku yang apabila adalah seorang manusia, maka hubungannya dengan kesalahan adalah mengenai hal kebatinan, yaitu hal kesalahan si pelaku tindak pidana (schuld-verband). Hanya dengan [hubungan] batin ini perbuatan yang terlarang dapat
77 Tongat, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Perspektif Pembaharuan, (Malang : UMM Press, 2008), hlm. 225.
78 Repository.unpas.ac.id. diakses pada tanggal 18 Juni 2019 Pukul 20.00 Wib.
79 D. Schaffmeister, dkk. Op.Cit., hlm. 77.
di pertanggungjawabkan pada si pelaku. Dan baru kalau ini tercapai maka betul-betul ada suatu tindak pidana yang pelakunya dapat dijatuhi hukuman pidana (geen strafbaar feit zonder schuld).80
Kesalahan dalam arti luas meliputi sengaja, kelalaian, dan dapat dipertanggungjawabkan, ketiga-tiganya merupakan unsur subjektif syarat pemidanaan atau jika kita mengikuti golongan yang memasukkan unsur kesalahan dalam arti luas kedalam pengertian delik sebagai unsur subjektif delik, ditambahkan pula bahwa tiada alasan pemaaf merupakan pula bagian keempat dari kesalahan.81
Kesalahan selalu hanya mengenai perbuatan tidak patut, melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Ditinjau secara seksama kesalahan memandang hubungan antara perbuatan tidak patut dan pelakunya sedemikian rupa sehingga perbuatan itu dalam arti kata yang sesungguhnya merupakan perbuatannya, perbuatan orang ini tidak hanya tidak patut secara objektif tetapi juga dapat dicelakan kepadanya.82
a) Kesengajaan (opzet)
Kesengajaan adalah unsur yang bersifat subjektif untuk menentukan dapat atau tidaknya seseorang dibebani pertanggungjawaban atas tindak pidana yang
80 Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, (Bandung : Refika Aditama, 2003), hlm. 65.
81 Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1987), hlm. 229.
82 Schaffmeister dkk, Op.Cit., hlm. 79.
dilakukan. Seseorang yang melakukan perbuatan dengan mengetahui dan menghendakinya, maka dirinya dapat dicela melakukan kesengajaan.83
Ditinjau dari sifatnya, didalam hukum pidana pada umumnya dikenal tiga jenis kesengajaan, antara lain :84
1. Kesengajaan sebagai maksud atau tujuan
Kesengajaan sebagai maksud atau tujuan (opzet als oogmerk) atau disebut dolus directus adalah jenis kesengajaan yang paling sederhana, jenis kesengajan ini lebih mudah dilakukan pembuktian dengan melihat kenyataan-kenyataan yang menghubungkan antara si pelaku dengan tindak pidana yang dilakukan. Seseorang dapat dikatakan opzet als oogmerk apabila ia dengan sengaja melakukan suatu perbuatan dengan maksud atau bertujuan untuk menimbulkan suatu akibat dari perbuatan itu.
2. Kesengajaan sebagai kesadaran akan kepastian
Kesengajaan sebagai kesadaran akan kepastian adalah kesengajaan untuk melakukan suatu perbuatan dengan tujuan menimbulkan suatu akibat yang pasti atau akibat yang menjadi keharusan. Artinya jenis kesengajaan ini yang menjadi ukuran penilaian adalah suatu akibat yang ditimbulkan dari suatu perbuatan yang sengaja dilakukan oleh seseorang.
83 Roni Wiyanto, Op.Cit., hlm. 202.
84 Ibid., hlm. 208-216.
Kesengajaan semacam ini ada apabila si pelaku dengan perbuatannya tidak bertujuan untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari delik, tetapi ia tahu benar bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan itu.
3. Kesengajaan sebagai kesadaran akan kemungkinan
Kesengajaan sebagai kesadaran akan kemungkinan atau obzet met waarschijnlijkheids bewustzijn, adalah kesengajaan yang dilakukan seseorang untuk menimbulkan sesuatu akibat yang tertentu, tetapi ia menyadari bahwa perbuatan itu juga akan memungkinkan timbulnya suatu akibat lain yang sebenarnya tidak dikehendaki dan akibat itu juga dilarang oleh undang-undang. Artinya seseorang itu menyadari akan kemungkinan timbul suatu akibat yang tidak dikehendaki dan akibat itu bersifat melawan hukum, tetapi ia tidak mengurungkan niatnya untuk tidak melakukan suatu perbuatan.
b) Kealpaan (culpa)
Kealpaan (culpa) diartikan sebagai kesalahan pada umumnya, akan tetapi culpa dalam ilmu pengetahuan hukum mempunyai arti teknis yaitu suatu macam kesalahan sebagai akibat kurang berhati-hati, sehingga secara tidak sengaja sesuatu terjadi. Untuk terjadinya culpa maka yang harus diambil sebagai ukuran ialah
bagaimanakah sebagian besar orang dalam masyarakat bersikap tindak dalam suatu keadaan yang nyata-nyata terjadi.85
E.Y. Kanter berpendapat bahwa kealpaan adalah salah satu bentuk dari kesalahan, yang bentuknya lebih rendah derajatnya daripada kesengajaan, karena bilamana dalam kesengajaan suatu akibat yang timbul itu dikehendaki pelaku, maka dalam kealpaan justru akibat itu tidak dikehendaki walaupun pelaku dapat menyadari sebelumnya.86
Simons dikutip dalam buku Mahrus Ali mengatakan bahwa pada umumnya kealpaan itu terdiri atas dua bagian, yaitu tidak berhati-hati melakukan suatu perbuatan disamping dapat menduga akibatnya. Namun meskipun suatu perbuatn dilakukan dengan hati-hati masih mungkin juga terjadi kealpaan, yang berbuat itu telah mengetahui bahwa dari perbuatan itu mungkin akan timbul suatu akibat yang dilarang undang-undang. Kealpaan terjadi apabila seseorang tetap melakukan perbuatan itu meskipun ia telah mengetahui atau menduga akibatnya.87
2) Kemampuan Bertanggungjawab
Kemampuan bertanggungjawab dapat diartikan sebagai kondisi batin yang normal atau sehat dan mampunya akal seseorang dalam membeda-bedakan hal-hal yang baik dan yang buruk. atau dengan kata lain mampu untuk menginsyafi sifat
85 C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Pokok-Pokok Hukum Pidana, (Jakarta : Pradnya Paramita, 2004), hlm. 53.
86 Htpps :// core.ac.uk˒pdf. diakses pada tanggal 19 Juni 2019 Pukul 20.00 Wib.
87 Mahrus Ali, Op.Cit., hlm. 177.
melawan hukumnya suatu perbuatan dan sesuai dengan keinsyafan itu mampu untuk menentukan kehendaknya.88
Akal yaitu dapat membedakan antara perbuatan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan, sedangkan kehendak yaitu dapat menyesuaikan tingkah lakunya dengan keinsyafan atas sesuatu yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan.
Keadaan batin yang normal atau sehat ditentukan oleh faktor akal pembuat. Akalnya dapat membeda-bedakan perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dilakukan.89
3) Tidak Ada Alasan Pemaaf
Alasan pemaaf merupakan alasan yang menghapus kesalahan terdakwa, perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukum dan merupakan perbuatan pidana tetapi ia tidak dipidana karena tidak ada kesalahan.
Adapun macam-macam alasan pemaaf yang dimaksud adalah :
1. Perbuatan yang dilakukan oleh orang yang tidak mampu bertanggungjawab
Pasal 44 KUHP menyatakan “ Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana. Alasan pemaaf karena jiwa yang cacat tubuhnya atau gangguan penyakit mempunyai sifat perseorangan dimana
88 Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, Dua Pengertian Dasar Dalam Hukum Pidana, Cetakan Ketiga, (Jakarta :Aksara Baru, 1983), hlm. 80.
89 Mahrus Ali, Op.Cit. hlm. 177.
perbuatannya itu sendiri tetap dipandang bersifat melawan hukum, akan tetapi berhubung keadaan si pembuat di situ kesalahannya tidak ada padanya, dan karena itu pula kepadanya tidak dipidana.90
2. Perbuatan yang dilakukan karena terdapat daya paksa
Pasal 48 KUHP menyatakan bahwa “ Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana. Simons mengatakan bahwa harus dipisahkan antara daya paksa sempit dengan keadaan darurat. Dalam hal pertama disitu tidak ada kesalahan (alasan pemaaf) sedangkan yang kedua yang hapus ialah sifat melawan hukum perbuatan (alasan pembenar). Van Hattum berpendapat bahwa Pasal 48 hanya ada alasan pemaaf.
3. Perbuatan karena pembelaan terpaksa melampaui batas
Pasal 49 ayat (2) KUHP menyatakan “Pembelaan terpaksa yang melampaui batas yang langsung disebabkan oleh keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu tidak dipidana”. Melampaui batas yang perlu ada dua macam, pertama, orang yang diserang sebagai akibat keguncangan jiwa yang hebat melakukan pembelaan pada mulanya sekejap pada saat diserang. Kedua, orang yang
90 Bambang Poernomo, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1992), hlm.
202.
berhak membela diri karena terpaksa akibat keguncangan jiwa yang hebat sejak semula memakai alat yang melampaui batas.91
4. Perbuatan yang dilakukan untuk menjalankan perintah jabatan yang tidak sah
Perbuatan yang dilakuan untuk menjalankan perintah jabatan yang tidak sah diatur dalam Pasal 51 ayat (2) KUHP yang menyatakan “Perintah jabatan tanpa wewenang tidak menyebabkan hapusnya pidana, kecuali jika yang diperintah dengan itikad baik mengira bahwa perintah diberikan dengan wewenang dan pelaksanaannya termasuk dalam lingkungan pekerjaannya”.
Syarat subjektif Pasal 51 ayat (2) KUHP ini adalah pembuat harus dengan itikad baik memandang bahwa perintah itu datang dari yang berwenang. Sedangkan syarat objektifnya adalah pelaksanaan perintah harus terletak dalam ruang lingkup pembuat sebagai bawahan. Pasal 51 ayat (2) masuk kedalam alasan pemaaf, karena perbuatan tetap melawan hukum, hanya pemberat tidak bersalah karena ia beritikad baik mengira menjalankan perintah pejabat yang berwenang, padahal tidak.
B. Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Anak Sebagai Orang Yang Membantu Melakukan Tindak Pidana Pembunuhan Berencana
1. Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum
Anak yang berhadapan dengan hukum adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak
91 Andi Hamzah, Asas…Op.Cit., hlm. 159.
pidana. Yang dimaksud dengan Anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.92
Anak yang menjadi korban tindak pidana yang selanjutnya disebut anak korban adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana. Sedangkan anak saksi tindak pidana yang selanjutnya disebut anak saksi adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar, dilihat, dan dialaminya sendiri.93
Anak yang berkonflik dengan hukum yang diduga melakukan tindak pidana dijamin hak-haknya oleh Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, yaitu diantaranya mengupayakan kepentingan terbaik bagi anak, menjamin seluruh hak-hak anak dengan dan menghindari pembalasan bagi anak. Perampasan kemerdekaan dan pemidanaan adalah sebagai upaya terakhir, atau dengan kata lain perampasan kemerdekaan hanya dapat dilakukan dalam hal anak
92 Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
93 Pasal 1 angka 4 dan angka 5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
melakukan tindak pidana yang ancaman hukuman pidananya 7 (tujuh) tahun atau lebih.94
2. Penyertaan Dalam Tindak Pidana a. Pengertian Penyertaan (Deelneming)
Deelneming berasal dari kata deelnemen (Belanda), deelnemen artinya “ikut mengambil bagian”, sedangkan deelneming diartikan sebagai “pengambilan bagian”.95 Deelneming diartikan sebagai “penyertaan”. Deelneming dipermasalahkan dalam hukum pidana karena berdasarkan kenyataan sering suatu delik dilakukan bersama oleh beberpa orang, karena jika hanya satu orang yang dipertanggungjawabkan bukan termasuk deelneming.
Orang-orang yang terlibat dalam kerja sama yang mewujudkan tindak pidana tersebut, masing-masing dari mereka berbeda satu dengan yang lain, tetapi dari perbedaan-perbedaan yang ada pada masing-masing itu terjalin suatu hubungan yang sedemikian rupa eratnya dimana perbuatan yang satu menunjang perbuatan yang lain, yang semuanya mengarah pada satu yaitu terwujudnya tindak pidana.96
94 Lihat ketentuan Pasal 2 dan Pasal 32 ayat (2) huruf „b‟ Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
95 Wojowasito, Kamus Umum Belanda Indonesia, (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001), hlm. 136.
96 Mulyati Pawennei dan Rahmanuddin Tomalili, Hukum Pidana, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2015), hlm. 127.
b. Bentuk-Bentuk Penyertaan (deelneming) 1) Mereka Yang Melakukan
Mereka yang melakukan adalah orang yang melakukan secara material, melakukan sendiri suatu perbuatan yang dirumuskan di dalam setiap delik. Ketentuan Pasal 55 KUHP ini tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan pidana kepada dader tetapi kepada pleger.97
Pelaku (dader) yang dimaksud adalah orang yang memenuhi semua unsur delik sebagaimana dirumuskan oleh undang-undang, baik unsur subjektif maupun unsur objektif. Umumnya pelaku dapat diketahui dari jenis delik yakni:
1. Delik formil, pelakunya adalah barangsiapa telah memenuhi semua unsur tindak pidana ;
2. Delik materil, pelakunya adalah barangsiapa yang menimbulkan akibat yang dilarang dalam perumusan delik ;
3. Delik yang memuat unsur kualitas atau kedudukan, pelakunya adalah barangsiapa yang memiliki unsur kedudukan atau kualitas sebagaimana yang dirumuskan. Misalnya, dalam kejahatan jabatan pelakunya adalah Pegawai Negeri.98
97 Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, Edisi Revisi, (Depok : Raja Grafindo Persada, 2017), hlm.
212.
98 Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana, (Jakarta ; Sinar Grafika, 2005), hlm.
78.
2) Mereka Yang Menyuruh Melakukan
Merujuk pada keterangan yang ada di dalam MvT WvS Belanda yang menyatakan bahwa “Yang menyuruh melakukan adalah juga dia yang melakukan tindak pidana akan tetapi tidak secara pribadi, melainkan dengan perantaraan orang lain sebagai alat dalam tangannya, apabila orang lain itu berbuat tanpa kesengajaan, kealpaan dan tanpa tanggungjawab karena keadaan yang tidak diketahui, disesatkan atau tunduk pada kekerasan.99
R. Soesilo berpendapat bahwa dalam hal mereka yang menyuruh melakukan sedikitnya ada dua orang, yang menyuruh (doen pleger) dan yang disuruh (pleger).
Jadi bukan orang itu sendiri yang melakukan peristiwa pidana, akan tetapi ia menyuruh orang lain. Meskipun demikian ia dipandang dan dihukum sebagai orang yang melakukan sendiri peristiwa tindak pidana, akan tetapi menyuruh orang lain, disuruh itu harus hanya merupakan suatu alat (instrument) saja, maksudnya ia tidak dapat dihukum karena tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.100
Menyuruh melakukan perbuatan (doen plegen) terjadi apabila seorang lain menyuruh si pelaku (yang disuruh) melakukan perbuatan pidana, tetapi oleh karena beberapa hal si pelaku (yang disuruh) tidak dapat dikenai hukuman pidana. Jadi dapat disimpulkan bahwa si pelaku (dader) seolah-olah menjadi alat belaka (instrument) yang dikendalikan oleh si penyuruh.
99 Adami Cazawi, Op.Cit., hlm. 88.
100 R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, (Bogor : Politea, 1998), hlm. 73.
3) Mereka Yang Turut Serta Melakukan
Medeplegen merupakan bentuk deelneming, dimana terdapat seseorang atau lebih yang turut serta melakukan suatu tindak pidana yang dilakukan oleh pelakunya.
Suatu tindak pidana dalam keadaan medeplegen, tiap-tiap orang terlibat secara langsung sebagai peserta pelaku tindak pidana, sehingga tiap-tiap orang dipandang sebagai mededader dari peserta lain atau orang yang turut serta melakukan tindak pidana.101
Siapa yang dimaksud dengan turut serta melakukan (medepleger), oleh MvT WvS Belanda diterangkan bahwa yang turut serta melakukan ialah setiap orang yang sengaja turut berbuat (meedoet) dalam melakukan tindak pidana. Pandangan sempit yang dianut oleh Van Hamel dan Trapman yang berpendapat bahwa turut serta melakukan terjadi apabila perbuatan masing-masing peserta memuat semua unsur tindak pidana.102
4) Mereka Yang Sengaja Menganjurkan
Orang yang sengaja menganjurkan adalah orang yang sengaja menganjurkan (pembuat penganjur : uitlokker/actor intelectualis) atau dengan memberi upah,
101 Roni Wiyanto, Op.Cit., hlm. 258.
102 Adami Cazawi, Op.Cit., hlm. 100.
perjanjian, salah memaakai kekuasaan atau martabat, memakai paksaan, dengan sengaja menghasut supaya melakukan perbuatan itu.103
5) Mereka Yang Membantu Melakukan
Simons dikutip dalam buku Lamintang, berpendapat bahwa medeplichtigheid itu merupakan suatu onzelfstandige deelneming atau suatu keturutsertaan yang tidak berdiri sendiri. Unsur sengaja dalam medelictige ini merupakan unsur yang tidak dapat diabaikan karena unsur sengaja ditujukan pada perbuatan atau sikap dalam memberi bantuan.104
Pasal 56 KUHP merumuskan sebagai berikut :
Dipidana sebagai pembantu kejahatan :
1. Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan ; 2. Mereka yang sengaja memberikan kesempatan, sarana atau keterangan untuk
melakukan kejahatan ;
Syarat-syarat yang harus dipenuhi bilamana seseorang dapat dianggap dengan sengaja memberi bantuan atau pertolongan pada waktu tindak pidana dilakukan sebagai berikut :
a. Seseorang itu harus diliputi unsur kesengajaan (obzet), yaitu sengaja untuk memberi bantuan adanya tindak pidana.
103 Sughandi, KUHP dan Penjelasannya, (Surabaya : Usaha Nasional, 1980), hlm. 68.
104 Lamintang, Op.Cit., hlm 646.
b. Bantuan yang diberikan itu harus dilakukan pada waktu tindak pidana dilakukan oleh orang lain.
c. Bentuk bantuan yang diberikan dapat berupa apapun, baik bantuan yang bersifat materiil maupun idiil.105
3. Tindak Pidana Pembunuhan dan Tindak Pidana Pembunuhan Berencana
a. Tindak Pidana Pembunuhan
Kesengajaan menghilangkan nyawa orang lain itu oleh kitab undang-undang hukum pidana yang dewasa ini berlaku telah disebut sebagai suatu pembunuhan.
Untuk menghilangkan nyawa orang lain itu seseorang pelaku harus melakukan sesuatu atau suatu rangkaian tindakan yang berakibat dengan meninggalnya orang lain dengan catatan bahwa obzet pelakunya itu harus ditujukan pada akibat berupa meninggalnya orang lain tersebut.106
Tindak pidana pembunuhan merupakan tindak pidana materil atau materiel delict, yakni suatu tindak pidana yang baru dapat dianggap sebagai telah selesai dilakukan oleh pelakunya dengan timbulnya akibat yang terlarang atau yang tidak dikehendaki oleh undang-undang.107
Pasal 338 KUHP yang bunyinya “Barangsiapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang dihukum karena bersalah melakukan pembunuhan
105 Roni Wiyanto, Op.Cit., hlm. 272.
106 Lamintang dan Theo Lamintang, Op. Cit., hlm. 1.
107 Ibid., hlm. 28.
dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun”. Setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menghilangkan /merampas jiwa orang lain adalah pembunuhan.108
Unsur-unsur pembunuhan adalah :109
1. Unsur subjektif : Opzettelijk atau dengan sengaja.
2. Unsur objektif :
a. Beroven atau menghilangkan.
b. Leven atau nyawa.
c. Een ander atau orang lain.
Ajaran causaliteitsleer atau ajaran mengenai sebab akibat mempunyai arti yang sangat menentukan bagi usaha untuk memastikan tentang siapa yang sebenarnya dapat dipandang sebagai pelaku dari suatu tindak pidana pembunuhan, karena yang dapat dipandang sebagai pelaku dari suatu tindak pidana pembunuhan itu pastilah orang yang tindakannya dapat dipandang sebagai penyebab timbulnya akibat berupa hilangnya nyawa orang lain. Sama halnya dengan ajaran deelneming tentang siapa yang sebenarnya dapat dipandang sebagai pelaku pembunuhan itu.110
Para guru besar berpendapat bahwa ketentuan di dalam Pasal 55 KUHP tidak telah bermaksud untuk menyamakan mereka yang menyuruh melakukan, mereka
108 Leden Marpaung, Tindak Pidana Terhadap Nyawa Dan Tubuh, (Jakarta : Sinar Grafika, 2000), hlm. 22.
109 Lamintang dan Theo Lamintang, Op.Cit., hlm. 28.
110 Ibid., hlm. 29.
yang turut melakukan, dan mereka yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana itu dengan pelaku dari tindak pidananya sendiri, melainkan hanya bermaksud untuk mengatur pertanggungjawaban dari mereka yang terlibat dalam suatu tindak pidana kecuali pelakunya sendiri menurut hukum pidana, karena tanpa ada ketentuan pidana seperti itu akan membuat orang-orang tersebut dipidana.111
b. Tindak Pidana Pembunuhan Berencana
Pasal 340 KUHP yang bunyinya “Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain dihukum karena salahnya pembunuhan berencana, dengan hukuman mati atau hukuman seumur hidup atau penjara selama-lamanya dua puluh tahun “. Menurut Tirtaamidjaja dikutip dalam buku Leden Marpaung mengutarakan “direncanakan terlebih dahulu” bahwa ada suatu jangka waktu bagaimanapun pendeknya untuk mempertimbangkan, untuk berpikir dengan tenang.112
Di dalam tindak pidana pembunuhan biasa, pengambilan putusan untuk menghilangkan nyawa orang lain dan pelaksanaannya merupakan suatu kesatuan, sedangkan pada tindak pidana pembunuhan berencana terlebih dahulu kedua hal itu terpisah oleh suatu jangka waktu yang diperlukan guna berfikir secara tenang tentang
111 Ibid.
112 Leden Marpaung, Op.,Cit. hlm. 31.
pelaksanaannya, juga waktu untuk memberi kesempatan guna membatalkan pelaksanaannya.113
Tindak pidana pembunuhan dengan direncanakan lebih dahulu dapat diketahui bahwa tindak pidana pembunuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 KUHP mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :
1. Unsur subjektif :
a. Opzettelijk atau dengan sengaja
b. Voorbedachte raad atau direncanakan terlebih dahulu 2. Unsur objektif :
a. Beroven atau menghilangkan b. Leven atau nyawa
c. Een ander atau orang lain.114
Simons berpendapat sebagaimana dikutip dalam buku Lamintang bahwa orang hanya dapat berbicara tentang adanya perencanaan lebih dulu, jika untuk melakukan suatu tindak pidana itu pelaku telah menyusun keputusannya dengan mempertimbangkannya secara tenang, demikian pula telah mempertimbangkan tentang kemungkinan-kemungkinan dan tentang akibat-akibat dari tindakannya.
113 Mochhamad Anwar, Hukum Pidana Bagian Khusus (KUHP Buku II), (Bandung : Alumni, 1986), hlm. 93.
114 Lamintang dan Theo Lamintang, Op.Cit., hlm. 52.
Antara waktu seorang pelaku menyusun rencananya dengan waktu pelaksanaan dari rencana tersebut selalu harus terdapat suatu jangka waktu tertentu.115
4. Jenis-Jenis Sanksi Bagi Anak
Pengaturan sanksi dalam undang-undang pengadilan anak telah dirumuskan dalam bentuk sanksi yang berupa pidana dan tindakan. Namun undang-undang pengadilan anak masih berpijak pada filosofi pemidanaan yang bersifat pembalasan
Pengaturan sanksi dalam undang-undang pengadilan anak telah dirumuskan dalam bentuk sanksi yang berupa pidana dan tindakan. Namun undang-undang pengadilan anak masih berpijak pada filosofi pemidanaan yang bersifat pembalasan