• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

1.2. Perumusan Masalah

Kebijakan subsidi harga BBM oleh pemerintah banyak menimbulkan penafsiran yang berbeda di kalangan masyarakat. Namun, ditinjau dari tujuannya bahwa kebijakan tersebut erat hubungannya dengan usaha untuk menurunkan defisit fiskal (kesenjangan APBN). Gambar 3 menampilkan perkembangan alokasi anggaran subsidi untuk BBM sejak tahun 1995 - 2005. Gambar tersebut menunjukkan perkembangan kenaikan defisit fiskal yang disebabkan oleh kenaikan anggaran subsidi untuk BBM. Sejak tahun 2004 kenaikan anggaran subsidi untuk BBM terus meningkat. Kenaikan tersebut lebih besar daripada kenaikan sumber penerimaan dalam negeri. Kebijakan subsidi harga BBM juga belum memberikan perbaikan ekonomi sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat terutama dari mereka yang kurang mampu, sehingga dipandang tidak memberikan keadilan, bahkan hingga sekarang kebijakan subsidi harga BBM dinilai tidak efisien.

Yusgiantoro (2000), menjelaskan bahwa konsep penetapan harga BBM di Indonesia secara umum mengacu dari tiga metode, yaitu: (1) harga pokok penjualan, (2) border price, dan (3) harga BBM patokan APBN. Harga pokok

0 50000000 100000000 150000000 200000000 250000000 300000000 350000000 400000000 450000000 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun Nila i SUBBBM PDN PEN

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2005g

Gambar 3. Penerimaan Dalam Negeri, Pengeluaran Negara, dan Jumlah Alokasi Anggaran Subsidi untuk Bahan Bakar Minyak Solar, Bensin, dan Kerosene untuk Rumahtangga Tahun 1996-2005

penjualan diperoleh dari selisih penerimaan hasil penjualan BBM dalam negeri dengan biaya-biaya yang dikeluarkannya, kemudian dibagi dengan besarnya volume BBM. Yusgiantoro dan Wahyuputro (1999), mengatakan bahwa selama berlakunya subsidi harga BBM, harga pokok penjualan selalu lebih kecil dibandingkan dengan harga BBM di pasar internasional, tetapi lebih besar dari harga BBM patokan APBN. Menurutnya harga pokok penjualan adalah harga yang memperhitungkan pembelian minyak mentah (impor minyak mentah), biaya produksi / pengilangan, biaya transportasi, asuransi, dan bunga. Apabila harga minyak mentah di pasar internasional menurun, berarti harga pokok penjualan mendekati harga BBM patokan APBN dan jumlah subsidi menurun. Namun, jika harga minyak mentah di pasar internasional meningkat, maka harga pokok penjualan berada jauh diatas harga

BBM patokan APBN dan akibatnya subsidi harga BBM meningkat. Pada bagian lain, jika rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS (US $) dan secara nominal masih lebih tinggi dari nilai tukar patokan APBN, maka hal tersebut mengakibatkan subsidi BBM meningkat.

Penetapan harga BBM menurut metode border price mengacu pada harga BBM hasil kilang Singapore (Mids Oil Platts of Singapore / MOPS) yang kompetitif, dan harga BBM hasil kilang tersebut dianggap mendekati harga efisien. Selain mengacu pada harga kompetitif, harga jual BBM di Indonesia ditambahkan dengan beberapa komponen biaya seperti biaya transportasi dan pajak, sehingga harga jual BBM akan melebihi harga pasar.

Harga BBM patokan APBN adalah harga yang didasarkan pada ketetapan pemerintah yang diberlakukan untuk konsumsi nasional. Harga ketetapan pemerintah tersebut berupa harga jual eceran BBM dalam negeri. Apabila harga BBM patokan APBN lebih kecil dari harga pokok penjualan atau border price yang ditetapkan P.T. Pertamina, Tbk., maka pemerintah berkewajiban memberikan subsidi kepada P.T. Pertamina, Tbk. sebesar selisih harga tersebut.

Kebijakan penurunan subsidi harga BBM tidak hanya ditujukan pada satu jenis BBM tertentu saja, tetapi untuk setiap jenis BBM, bahkan diberlakukannya secara bersama-sama. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketika dilakukan kebijakan penurunan subsidi harga BBM solar, hal yang sama juga berlaku terhadap BBM bensin, kerosene, dan jenis BBM lainnya, walaupun dengan tingkat presentasi subsidi harga yang berbeda-beda diantara setiap jenis BBM. Dengan demikian, jika harga BBM bensin atau kerosene

meningkat, maka kenaikan tersebut juga menunjukkan kenaikan harga BBM solar dalam negeri dan harga BBM lainnya.

Sub-sektor energi pemakai BBM solar diantaranya, yaitu : industri pengilangan BBM solar, industri pengilangan gas alam, industri pengilangan kerosene, industri pengilangan BBM bensin, perusahaan pengolahan batubara, dan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Jika harga BBM solar meningkat, maka mendorong biaya produksi untuk sub-sektor yang menghasilkan energi meningkat. Masing-masing sub-sektor, yaitu : industri pengilangan BBM solar, industri pengilangan gas alam, industri pengilangan kerosene, perusahaan pengolahan batubara, dan PLN.

Kenaikan harga BBM dan harga energi lainnya mendorong kenaikan biaya produksi untuk sektor-sektor non-energi dan menyebabkan kenaikan harga non-energi dalam negeri yang meliputi : bahan pangan termasuk beras, perumahan, sandang, pendidikan, serta transportasi dan komunikasi. Kenaikan harga energi dan non-energi menyebabkan kenaikan Indeks Harga Konsumen. Dengan demikian, ketika harga beras dalam negeri dan tarif dasar listrik meningkat selain mendorong kenaikan laju inflasi juga penurunan daya beli pendapatan rumahtangga konsumen. Penurunan tersebut ditunjukkan oleh hilangnya kesejahteraan masyarakat sebagai akibat dari penurunan konsumsi kebutuhan baku secara kualitas maupun kuantitas. Badan Pusat Statistik (2005h), menyajikan kebutuhan baku kalori untuk rumahtangga yang ditetapkan sebagai ukuran penentuan kemiskinan.

Daya beli pendapatan dan kemiskinan masyarakat menurut pola konsumsi selain dipengaruhi oleh laju inflasi, juga oleh penerimaan upah dan gaji. Artinya untuk memperoleh barang dan jasa, jika laju inflasi menunjukkan

kenaikan dan kenaikannya tidak diikuti oleh prosentasi kenaikan yang sama pada upah dan gaji, maka hal tersebut mengakibatkan penurunan daya beli pendapatan untuk membeli barang-barang konsumsi. Perbedaan tersebut seringkali dimunculkan melalui penuntutan kenaikan upah dan gaji oleh para pekerja. Harga BBM, harga energi non-BBM, dan harga pangan seperti beras juga merupakan faktor pemicu laju inflasi. Dengan demikian, kebijakan subsidi harga BBM selain berdampak terhadap kinerja fiskal dan pendapatan nasional juga terhadap kemiskinan.

Berdasarkan latar belakang kebijakan subsidi harga bahan bakar minyak dalam negeri, maka perlu dikaji beberapa permasalahan, yaitu : 1. Bagaimana dampak kebijakan subsidi harga BBM terhadap neraca

perdagangan energi yang terdiri atas ekspor energi: minyak mentah, gas alam, dan batubara; serta impor energi: minyak mentah dan BBM solar. 2. Bagaimana dampak kebijakan subsidi harga BBM terhadap defisit

(kesenjangan) fiskal yang terdiri atas pengeluaran negara: subsidi, pembayaran bunga dan cicilan hutang, investasi pemerintah, dan konsumsi pemerintah; serta penerimaan dalam negeri: penerimaan pajak dan bukan pajak.

3. Bagaimana dampak kebijakan subsidi harga BBM terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan.