• Tidak ada hasil yang ditemukan

Simulasi 5: Penurunan Harga Impor Minyak Mentah 35 Persen

DAFTAR LAMPIRAN

7.2. Dampak Kebijakan Subsidi Harga Bahan Bakar Minyak terhadap Kinerja Fiskal dan Pendapatan Nasional

7.2.5. Simulasi 5: Penurunan Harga Impor Minyak Mentah 35 Persen

Simulasi 5 merupakan penurunan harga impor minyak mentah 35 %. Hasil dari simulasi lima diantaranya, yaitu penurunan nilai ekspor energi 2.42 % dan nilai impor energi 5.99 %. Penurunan nilai impor lebih besar daripada penurunan nilai ekspor sehingga mengakibatkan surplus nilai transaksi perdagangan meningkat 1.82 %.

Tabel 26. Hasil Simulasi Historis Data Tahun 2000-2005: Dampak Penurunan Harga Impor Minyak Mentah 35 Persen terhadap Neraca Perdagangan Energi

No. Variabel Endogen

Nilai Dasar Nilai Prediksi Perubahan (%)

I Nilai Ekspor Energi 76709902 74850924 -2.423

1 Volume Ekspor Minyak Mentah 24513035 24755535 0.989

2 Nilai Ekspor Minyak Mentah 24143822 24364303 0.913

3 Volume Ekspor Gas Alam 32264889 31130967 -3.514

4 Nilai Ekspor Gas Alam 41328203 39250778 -5.027

5 Volume Ekspor Batubara 79858366 79850545 -0.010

6 Nilai Ekspor Batubara 11237877 11235844 -0.018

II Nilai Impor Energi 41678519 39181911 -5.990

1 Volume Impor BBM Solar 13330737 16284358 22.156

2 Nilai Impor BBM Solar 18969802 24421922 28.741

3 Volume Impor Minyak Mentah 22354673 22359102 0.020

4 Nilai Impor Minyak Mentah 22708718 14759989 -35.003

III Neraca Perdagangan Energi (I-II) 35031383 35669013 1.820

Penurunan harga impor minyak mentah (harga minyak mentah di pasar internasional) mengakibatkan penurunan harga minyak mentah dalam negeri. Namun penurunan harga minyak mentah dalam negeri lebih kecil daripada

penurunan harga minyak mentah di pasar intrnasional akibatnya mendorong kenaikan volume dan nilai ekspor minyak mentah masing-masing 0.99 % dan 0.91 %. Selain disebabkan oleh kenaikan harga, Indonesia memiliki suatu jenis produk minyak mentah dengan kualitas tinggi (kondensat) yang bernilai tinggi di pasar internasional.

Penurunan harga minyak mentah dalam negeri juga menyebabkan penurunan harga BBM, sehingga menurunkan harga gas alam dan batubara. Penurunan harga gas alam dan batubara dalam negeri menyebabkan permintaan dan penggunaannya meningkat dan akibatnya volume dan nilai ekspor menurun. Penurunan volume dan nilai ekspor gas alam masing-masing 3.50 % dan 5.00 % serta penurunan volume dan nilai ekspor batubara masing-masing 0.01 % dan 0.02 %. Penurunan tersebut lebih besar daripada kenaikan nilai ekspor minyak mentah, sehingga nilai ekspor energy menurun 2.42 %.

Penurunan harga minyak mentah dalam negeri mendorong kenaikan permintaan minyak mentah produk dalam negeri oleh industri pengilangan kerosene untuk rumahtangga. Selama ini subsidi harga kerosene rumahtangga sangat tinggi dan harga jual eceran sangat rendah. Kenaikan permintaan kerosene oleh rumahtangga memerlukan penggunaan bahan baku minyak mentah yang besar, sehingga bahan baku menjadi sedikit untuk memproduksikan BBM yang lain terutama BBM solar. Dengan demikian, semakin besar permintaan dan pemakaian kerosene oleh rumahtangga, semakin besar pula impor BBM solar. Pada tingkat harga minyak mentah menurun 35 %, permintaan kerosene oleh rumahtangga meningkat 5.76 %, sehingga volume dan nilai impor BBM solar meningkat masing-masing 22.16 % dan 28.74 %.

Penurunan harga minyak mentah dalam negeri mengakibatkan penurunan nilai impor minyak mentah. Nilai penurunan impor minyak mentah sebesar 35.00 %, sehingga secara keseluruhan nilai impor energi menurun 5.99 %. Dengan demikian, hasil simulasi kelima menunjukkan surplus neraca perdagangan energi meningkat 1.82 %.

Tabel 27. Hasil Simulasi Historis Data Tahun 2000-2005: Dampak Penurunan Harga Impor Minyak Mentah 35 Persen terhadap Defisit Fiskal

No. Variabel Endogen

Nilai Dasar Nilai Prediksi Perubahan (%)

I Penerimaan Dalam Negeri 203645027 203168996 -0.234

1 Pajak Langsung 63205327 63206310 0.002

2 Pajak Tidak Langsung 54809535 54391051 -0.764

3 Bea Impor 7444779 7053819 -5.251

4 Pajak Pertambahan Nilai 40424810 40397287 -0.068

5 Penerimaan Negara Bukan Pajak 65078420 65019890 -0.090

6 Penerimaan Sumberdaya

Alam 48020678 47960041 -0.126

7 Penerimaan Laba BUMN 4683150 4685256 0.045

II Pengeluaran Negara 235932233 236279681 0.147

1 Konsumsi Pemerintah 38402384 38413664 0.029

2 Pembayaran Bunga dan Cicilan

Hutang 39928985 39928175 -0.002

3 Investasi Pemerintah 34743727 34714384 -0.084

4 Bidang Kesehatan dan Kese-

jahteraan Sosial Masyarakat 3728380 3727447 -0.025

5 sub-Sektor Sarana Transportasi

Angkutan Jalan Raya 2267939 2239529 -1.253

6 Subsidi Bahan Bakar Minyak 27966417 28332738 1.310

7 Subsidi BBM Solar 11271974 11190612 -0.722

8 Subsidi Kerosene untuk

Rumahtangga 8028718 8631478 7.508

9 Subsidi BBM Bensin 8665725 8510649 -1.790

10 Subsidi 36717501 37083822 0.998

Tabel 27 menunjukkan penerimaan dalam negeri yang mengalami penurunan sebesar 0.23 %. Penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan sumber penerimaan pajak tidak langsung 0.76 % dan penerimaan negara bukan pajak 0.09 %. Penurunan pada pajak tidak langsung disebabkan oleh penurunan bea impor 5.25 % dan pajak pertambahan nilai 0.07 %. Penurunan pada penerimaan negara bukan pajak disebabkan oleh penurunan penerimaan sumberdaya alam 0.13 %, walaupun penerimaan laba BUMN mengalami kenaikan 0.05 %.

Pada bagian lain pengeluaran negara mengalami kenaikan 0.15 % disebabkan oleh kenaikan konsumsi pemerintah 0.03 % dan anggaran subsidi BBM 1.31 %. Anggaran subsidi kerosene untuk rumahtangga meningkat 7.51 %, karena sampai saat ini pemerintah masih memberikan subsidi harga yang tinggi untuk kerosene, sehingga ketika harga minyak mentah turun dan menurunkan harga kerosene dalam negeri, permintaan kerosene oleh rumahtangga meningkat 5.76 % dan akibatnya subsidi untuk kerosene meningkat 7.51 %. Pada sisi lain kenaikan konsumsi pemerintah disebabkan oleh penurunan laju inflasi 0.80 %. Dengan demikian, hasil simulasi kelima menunjukkan defisit fiskal (kesenjangan fiskal) meningkat 2.55 %.

Simulasi penurunan harga impor minyak mentah 35 % juga mengakibatkan Produk Domestik Bruto sisi produksi menurun 0.07 %. Penurunan tersebut ditunjukkan oleh penurunan nilai tambah sub-sektor pengamatan 0.05 %, penurunan pajak tidak langsung 0.76 %, dan kenaikan anggaran subsidi 1.00 %. Penurunan Produk Domestik Bruto tersebut juga mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi 0.13 %. Produk Domestik Bruto menurut biaya faktor juga mengalami penurunan 0.004 % dan

mengakibatkan penurunan pada pendapatan disposabel 0.004 %. Selain penurunan tersebut juga menurunkan upah dan gaji 0.18 %. Dengan demikian,

Tabel 28. Hasil Simulasi Historis Data Tahun 2000-2005: Dampak Penurunan Harga Impor Minyak Mentah 35 Persen terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan

No. Variabel Endogen

Nilai Dasar Nilai Prediksi Perubahan (%)

1 Produk Domestik Bruto

(GDP) Sisi Produksi 1121800000 1120980000 -0.073

2 Nilai Tambah sub-sektor

Pengamatan 78516623 78480793 -0.046

3 Pajak Tidak Langsung 54809535 54391051 -0.764

4 Subsidi 36717501 37083822 0.998

5 Pertumbuhan Ekonomi 40.9159 40.8644 -0.126

6 GDP Menurut Biaya Faktor 1103710000 1103670000 -0.004

7 Pendapatan Disposabel 995452307 995415494 -0.004

8 Laju Inflasi 15.0555 14.9348 -0.802

9 Upah dan Gaji 91452405 91286500 -0.181

10 Kemiskinan 37276807 37246364 -0.082

hasil simulasi kelima menunjukkan pertumbuhan ekonomi menurun 0.12 % dan jumlah penduduk miskin menurun 0.08 %.

7.2.6. Simulasi 6: Penurunan Subsidi Harga BBM Solar 27 Persen, Bensin 30 Persen, dan Kerosene 25 Persen

Kebijakan penurunan subsidi harga BBM solar, bensin, dan kerosene masing-masing sebesar 27 %, 30 %, dan 25 % merupakan suatu kebijakan pemerintah dengan tujuan untuk mengatasi kenaikan defisit fiskal. Kebijakan tersebut sebagai kebijakan untuk menaikkan harga BBM dalam negeri (harga jual eceran). Kebijakan tersebut bertujuan untuk mengatasi (menurunkan) permintaan dan pemakaian BBM bersubsidi oleh masyarakat yang selama ini membebani APBN. Melalui kebijakan tersebut juga dapat meniadakan ekspor

kembali BBM bersubsidi oleh pihak tertentu. Kebijakan tersebut dapat menghemat anggaran subsidi BBM yang selanjutnya dapat digunakan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu melalui investasi pemerintah. Tabel 29. Hasil Simulasi Historis Data Tahun 2000-2005: Dampak

Penurunan Subsidi Harga BBM Solar 27 Persen, Bensin 30 Persen, dan Kerosene 25 Persen terhadap Neraca Perdagangan Energi

No. Variabel Endogen

Nilai Dasar Nilai Prediksi Perubahan (%)

I Nilai Ekspor Energi 76709902 79048635 3.046

1 Volume Ekspor Minyak Mentah 24513035 24512561 -0.002

2 Nilai Ekspor Minyak Mentah 24143822 24143113 -0.003

3 Volume Ekspor Gas Alam 32264889 33365493 3.408

4 Nilai Ekspor Gas Alam 41328203 43665460 5.650

5 Volume Ekspor Batubara 79858366 79881180 0.029

6 Nilai Ekspor Batubara 11237877 11240061 0.019

II Nilai Impor Energi 41678519 35496466 -14.833

1 Volume Impor BBM Solar 13330737 9976878 -25.159

2 Nilai Impor BBM Solar 18969802 12638946 -33.373

3 Volume Impor Minyak Mentah 22354673 22478210 0.553

4 Nilai Impor Minyak Mentah 22708718 22857521 0.655

III Neraca Perdagangan Energi (I-II) 35031383 43552168 24.323

Ekspor kembali BBM dilakukan oleh pihak tertentu, karena adanya perbedaan harga yaitu harga BBM bersubsidi dalam negeri dan harga BBM menurut harga pasar di negara tujuan. Penurunan subsidi harga BBM seiring dengan

Kebijakan penurunan subsidi harga BBM jenis solar 27 %, bensin 30 %, dan kerosene 25 % menaikkan harga jual BBM (harga jual eceran) untuk

solar 9.03 %, bensin 14.57 %, dan kerosene 21.63 %. Kenaikan harga jual BBM dalam negeri juga mengakibatkan kenaikan harga energi lainnya seperti harga gas alam dan batubara dalam negeri, karena industri pengilangan gas kenaikan harga minyak mentah dipasar internasional.

alam dan perusahaan pengolaan batubara masing-masing memakai solar dan bensin sebagai bahan bakarnya. Selanjutnya akibat kenaikan harga gas alam dan batubara menurunkan permintaan dan pemakaian gas alam serta batubara dalam negeri, sehingga menaikkan volume ekspor gas alam dan batubara. Kenaikan volume dan nilai ekspor gas alam masing-masing 3.41 % dan 5.65 %, sedangkan kenaikan volume dan nilai ekspor batubara masing-masing 0.03 % dan 0.02 %.

Penurunan subsidi harga BBM dalam negeri sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak mentah dalam negeri. Padahal kenaikan harga minyak mentah dalam negeri juga dipengaruhi oleh harga impor minyak mentah (harga minyak mentah di pasar internasional). Namun harga minyak mentah dalam negeri bersaing dengan harga impor minyak mentah, sehingga meredam volume ekspor minyak mentah. Penurunan volume dan nilai ekspor minyak mentah masing-masing 0.002 % dan 0.003 %. Nilai total ekspor energi mencapai 3.05 %.

Pada bagian lain dengan kenaikan harga BBM dalam negeri terutama BBM solar menurunkan permintaan BBM solar termasuk BBM solar impor. Penurunan volume dan nilai impor BBM solar masing-masing 25.16 % dan 33.37 %, sedangkan kenaikan volume impor minyak mentah selain dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak mentah dalam negeri 0.05 % juga oleh kenaikan Produk Domestik Bruto 0.79 %. Kenaikan volume dan nilai impor minyak mentah masing-masing 0.55 % dan 0.65 %. Nilai impor secara keseluruhan menurun 14.83 %. Dengan demikian, hasil simulasi keenam menunjukkan surplus nilai transaksi perdagangan energi meningkat 24.32 %.

Tabel 30 menunjukkan tentang kebijakan penurunan subsidi harga BBM solar 27 %, bensin 30 %, dan kerosene 25 % secara bersamaan dimaksudkan untuk menurunkan lebih besar lagi anggaran subsidi untuk BBM. Kebijakan tersebut diperlukan sebagai usaha mengimbangi kenaikan defisit APBN yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah. Melalui kebijakan tersebut menurunkan anggaran subsidi BBM untuk solar 21.53 %, bensin 36.88 %, dan kerosene 37.85 % sehingga menurunkan total anggaran subsidi untuk BBM sebesar 31.16 %.

Penurunan anggaran subsidi ketiga jenis BBM tersebut juga mengakibatkan kenaikan Produk Domestik Bruto baik dari sisi produksi

Tabel 30. Hasil Simulasi Historis Data Tahun 2000-2005: Dampak Penurunan Subsidi Harga BBM Solar 27 Persen, Bensin 30 Persen, dan Kerosene 25 Persen terhadap Defisit Fiskal

No. Variabel Endogen

Nilai Dasar Nilai Prediksi Perubahan (%)

I Penerimaan Dalam Negeri 203645027 203497069 -0.073

1 Pajak Langsung 63205327 63257559 0.083

2 Pajak Tidak Langsung 54809535 54396319 -0.754

3 Bea Impor 7444779 6697147 -10.042

4 Pajak Pertambahan Nilai 40424810 40759226 0.827

5 Penerimaan Negara Bukan Pajak 65078420 65291447 0.327

6 Penerimaan Sumberdaya Alam 48020678 48224464 0.424

7 Penerimaan Laba BUMN 4683150 4692391 0.197

II Pengeluaran Negara 235932233 227955208 -3.381

1 Konsumsi Pemerintah 38402384 38568426 0.432

2 Pembayaran Bunga dan Cicilan

Hutang 39928985 39947419 0.046

3 Investasi Pemerintah 34743727 35297480 1.594

4 Bidang Kesehatan dan Kese-

jahteraan Sosial Masyarakat 3728380 3728979 0.016

5 sub-Sektor Sarana Transportasi

Angkutan Jalan Raya 2267939 2821093 24.390

6 Subsidi Bahan Bakar Minyak 27966417 19251162 -31.163

7 Subsidi BBM Solar 11271974 8796856 -21.958

Rumahtangga

9 Subsidi BBM Bensin 8665725 5442382 -37.196

10 Subsidi 36717501 28002247 -23.736

III Defisit Fiskal (I-II) 32287206 24458138 -24.248

maupun menurut biaya faktor. Kenaikan Produk Domestik Bruto sisi produksi mengakibatkan penerimaan pajak pertambahan nilai meningkat

0.83 %, sedangkan dengan kenaikan Produk Domestik Bruto menurut biaya faktor mengakibatkan kenaikan penerimaan pajak langsung 0.08 %. Kebijakan penurunan subsidi harga tersebut juga menaikkan penerimaan negara bukan pajak 0.33 % masing-masing diperoleh dari penerimaan sumberdaya alam 0.42 % dan penerimaan laba BUMN 0.20 %. Dengan demikian, kebijakan keenam menunjukkan defisit fiskal menurun 24.25 %.

Tabel 31. Hasil Simulasi Historis Data Tahun 2000-2005: Dampak Penurunan Subsidi Harga BBM Solar 27 Persen, Bensin 30 Persen, dan Kerosene 25 Persen terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan No. Variabel Endogen Nilai Dasar Nilai Prediksi Perubahan (%) 1 Produk Domestik Bruto

(GDP) Sisi Produksi 1121800000 1130920000 0.813

2 Nilai Tambah sub-sektor

Pengamatan 78516623 79332533 1.039

3 Pajak Tidak Langsung 54809535 54396319 -0.754

4 Subsidi 36717501 28002247 -23.736 5 Pertumbuhan Ekonomi 40.9159 41.1639 0.606 6 GDP Menurut Biaya Faktor 1103710000 1104520000 0.073 7 Pendapatan Disposabel 995452307 996215985 0.077 8 Laju Inflasi 15.0555 14.9979 -0.383

9 Upah dan Gaji 91452405 93201972 1.913

Kenaikan Produk Domestik Bruto sisi produksi 0.79 % selain diakibatkan oleh penghematan (penurunan) anggaran subsidi 23.74 % dan kenaikan nilai tambah sub-sektor pengamatan 1.04 %, walaupun penerimaan pajak tidak langsung mengalami penurunan 0.75 %. Penurunan penerimaan pajak tidak langsung disebabkan oleh penurunan penerimaan bea impor 10.04 %. Kenaikan Produk Domestik Bruto tersebut mengakibatkan kenaikan pertumbuhan ekonomi 0.61 %. Kenaikan Produk Domestik Bruto menurut biaya faktor 0.07 % mengakibatkan kenaikan pendapatan disposabel 0.08 % serta upah dan gaji 1.91 %. Dengan demikian, hasil simulasi keenam menunjukkan kenaikan pertumbuhan ekonomi 0.61 % yang disertai dengan penurunan jumlah penduduk miskin 0.17 %.

7.2.7. Simulasi 7: Penurunan Harga Impor Minyak Mentah 35 Persen