Mentah 35 Persen
7.2.7. Simulasi 7 : Penurunan Harga Impor Minyak
Persen, dan Kerosene 25 Persen
Simulasi 7 merupakan kombinasi dari simulasi 5 mengenai penurunan harga impor minyak mentah35 % dan simulasi 6 mengenai penurunan subsidi harga BBM solar 27 %, bensin 30 %, dan kerosene 25 %. Kombinasi simulasi 5 dan 6 merupakan kombinasi simulasi dengan tujuan yang berbeda. Simulasi penurunan harga impor minyak mentah mengakibatkan penurunan harga minyak mentah dan harga BBM (energi) dalam negeri, sedangkan penurunan subsidi harga BBM ditunjukkan oleh kenaikan harga minyak mentah, BBM, dan energi lainnya seperti gas alam serta batubara dalam negeri.
Penurunan harga impor minyak mentah 35 % mengakibatkan penurunan harga minyak mentah dalam negeri 14.10 %. Namun penurunan harga minyak mentah dalam negeri masih lebih rendah dibandingkan dengan
harga ekspor minyak mentah (harga minyak mentah di pasar internasional), sehingga menaikkan volume ekspor minyak mentah. Kenaikan volume dan nilai ekspor minyak mentah masing-masing 1.00 % dan 1.00 %. Pada sisi lain kebijakan penurunan subsidi harga BBM solar 27 %, bensin 30 %,
No.
dan
Tabel 32. Hasil Simulasi Historis Data Tahun 2000-2005: Dampak Penurunan Harga Impor Minyak Mentah 35 Persen serta Penurunan Subsidi Harga BBM Solar 27 Persen, Bensin 30 Persen, dan Kerosene 25 Persen terhadap Neraca Perdagangan Energi
Variabel Endogen Nilai Dasar Nilai Prediksi Perubahan (%)
I Nilai Ekspor Energi 76709902 77137159 0.557
1 Volume Ekspor Minyak Mentah 24513035 24755146 0.988
2 Nilai Ekspor Minyak Mentah 24143822 24363736 0.911
3 Volume Ekspor Gas Alam 32264889 32201582 -0.196
4 Nilai Ekspor Gas Alam 41328203 41536033 0.503
5 Volume Ekspor Batubara 79858366 79866960 0.011
6 Nilai Ekspor Batubara 11237877 11237391 -0.004
II Nilai Impor Energi 41678519 33428008 -19.796
1 Volume Impor BBM Solar 13330737 13203584 -0.954
2 Nilai Impor BBM Solar 18969802 18575828 -2.077
3 Volume Impor Minyak Mentah 22354673 22476653 0.546
4 Nilai Impor Minyak Mentah 22708718 14852180 -34.597
III Neraca Perdagangan Energi (I-II) 35031383 43709151 24.771
kerosene 25 % menaikkan harga BBM serta harga gas alam dan batubara dalam negeri, sehingga permintaan energi non-BBM meningkat.
Penurunan volume ekspor yang disertai dengan kenaikan harga ekspor gas alam yang tinggi akan meningkatkan nilai ekspor gas alam sebesar 0.50 %. Namun kenaikan volume ekspor batubara yang disertai dengan penurunan harga ekspor batubara yang relatif tinggi mengakibatkan nilai ekspor batubara
menurun 0.004 %. Kebijakan tersebut telah mengakibatkan nilai ekspor energi meningkat sebesar 0.56 %.
Penurunan permintaan kerosene oleh rumahtangga 0.03 %, menurunkan penggunaan bahan baku minyak mentah untuk pengilangan kerosene. Penurunan penggunaan bahan baku tersebut akan digunakan untuk peningkatan produksi kilang BBM solar dalam negeri, sehingga mengurangi volume impor BBM solar. Penurunan volume dan nilai impor BBM solar masing-masing 0.95 % dan 2.07 %.
Pada bagian lain dengan kenaikan Produk Domestik Bruto mendorong kenaikan volume impor minyak mentah 0.55 % dengan penurunan nilai impor 34.60 %. Penurunan nilai tersebut ditunjukkan oleh penurunan harga minyak mentah di pasar internasional dan mengakibatkan nilai impor energi menurun 19.80 %. Dengan demikian, hasil simulasi ketujuh menunjukkan surplus neraca perdagangan energi meningkat 24.77 %.
Penurunan pengeluaran negara sebesar 3.12 % disebabkan oleh penurunan anggaran subsidi untuk BBM 28.77 % yang meliputi penurunan anggaran subsidi BBM untuk solar 22.01 %, bensin 36.97 %, dan kerosene untuk rumahtangga 29.42 %. Penurunan anggaran subsidi tersebut lebih besar daripada kenaikan pengeluaran konsumsi pemerintah dan pembayaran hutang negara masing-masing 0.45 % dan 0.04 %.
Pada bagian lain melalui simulasi tersebut investasi pemerintah mengalami kenaikan 1.45 %. Kenaikannya meliputi kenaikan pada sub-sektor sarana transportasi angkutan jalan raya 22.30 %, sedangkan untuk bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial masyarakat menurun 0.02 %. Investasi pemerintah pada sektor publik dan anggaran untuk subsidi dapat dikatakan
sebagai biaya alternatif (opportunity cost) dari sisi pengeluaran negara yang selama ini menganut sistem defisit anggaran.
Penurunan pengeluaran negara sebesar 3.12 % disebabkan oleh penurunan anggaran subsidi untuk BBM 28.77 % yang meliputi penurunan anggaran subsidi BBM untuk solar 22.01 %, bensin 36.97 %, dan kerosene untuk rumahtangga 29.42 %. Penurunan anggaran subsidi tersebut lebih besar daripada kenaikan pengeluaran konsumsi pemerintah dan pembayaran hutang negara masing-masing 0.45 % dan 0.04 %.
Tabel 33. Hasil Simulasi Historis Data Tahun 2000-2005: Dampak Penurunan Harga Impor Minyak Mentah 35 Persen serta Penurunan Subsidi Harga BBM Solar 27 Persen, Bensin 30 Persen, dan Kerosene 25 Persen terhadap Defisit Fiskal
No. Variabel Endogen
Nilai Dasar Nilai Prediksi Perubahan (%) I Penerimaan Dalam Negeri 203645027 202978198 -0.327
1 Pajak Langsung 63205327 63247973 0.067
2 Pajak Tidak Langsung 54809535 54013250 -1.453
3 Bea Impor 7444779 6357981 -14.598
4 Pajak Pertambahan Nilai 40424810 40715323 0.719
5 Penerimaan Negara Bukan Pajak 65078420 65165231 0.133
6 Penerimaan Sumberdaya
Alam 48020678 48101203 0.168
7 Penerimaan Laba BUMN 4683150 4689436 0.134
II Pengeluaran Negara 235932233 228576669 -3.118
1 Konsumsi Pemerintah 38402384 38574733 0.449
2 Pembayaran Bunga dan Cicilan
Hutang 39928985 39942839 0.035
3 Investasi Pemerintah 34743727 35248795 1.454
4 Bidang Kesehatan dan Kese-
jahteraan Sosial Masyarakat 3728380 3727616 -0.020
5 sub-Sektor Sarana Transportasi
Angkutan Jalan Raya 2267939 2773771 22.304
6 Subsidi Bahan Bakar Minyak 27966417 19919582 -28.773
7 Subsidi BBM Solar 11271974 8791310 -22.007
8 Subsidi Kerosene untuk
Rumahtangga 8028718 5666574 -29.421
10 Subsidi 36717501 28670666 -21.916
III Defisit Fiskal (II-I) 32287206 25598471 -20.716
Penurunan pada penerimaan dalam negeri 0.33 % sebagai akibat dari penurunan penerimaan pajak tidak langsung 1.45 %, terutama karena penurunan yang cukup besar dari bea impor 14.60 %. Selanjutnya dari sisi penerimaan bukan pajak mengalami kenaikan 0.13 % yang diperoleh dari penerimaan sumberdaya alam 0.17 % dan laba BUMN 0.13 %. Dengan demikian, hasil simulasi ketujuh menunjukkan defisit fiskal menurun 20.72 %.
Tabel 34. Hasil Simulasi Historis Data Tahun 2000-2005: Dampak Penurunan Harga Impor Minyak Mentah 35 Persen serta Penurunan Subsidi Harga BBM Solar 27 Persen, Bensin 30 Persen, dan Kerosene 25 Persen terhadap Pertumbuhan ekonomi dan Kemiskinan
No. Variabel Endogen
Nilai Dasar Nilai Prediksi Perubahan (%) 1 Produk Domestik Bruto
(GDP) Sisi Produksi 1121800000 1129660000 0.701
2 Nilai Tambah sub-sektor
Pengamatan 78516623 79129818 0.781
3 Pajak Tidak Langsung 54809535 54013250 -1.453
4 Subsidi 36717501 28670666 -21.916
5 Pertumbuhan Ekonomi 40.9159 41.1052 0.463
6 GDP Menurut Biaya Faktor 1103710000 1104320000 0.055
7 Pendapatan Disposabel 995452307 996022856 0.057
8 Laju Inflasi 15.0555 14.8772 -1.184
9 Upah dan Gaji 91452405 92964880 1.654
10 Kemiskinan 37276807 37186434 -0.242
Tabel 34 menunjukkan bahwa dengan penurunan harga impor minyak mentah 35 % serta penurunan subsidi harga BBM solar 27 %, bensin 30 %, dan kerosene 25 % mengakibatkan Produk Domestik Bruto meningkat 0.70 %. Peningkatan tersebut diperoleh dari kenaikan nilai tambah sub-sektor
pengamatan 0.78 % dan penurunan subsidi 21.92 %, walaupun pajak tidak langsung mengalami penurunan sebesar 1.45 %.
Kenaikan Produk Domestik Bruto juga ditunjukkan oleh kenaikan Produk Domestik bruto menurut biaya faktor 0.05 %, pendapatan disposabel 0.06 %, serta upah dan gaji 1.65 %. Dengan demikian, hasil simulasi ketujuh menunjukkan pertumbuhan ekonomi meningkat 0.46 % yang disertai dengan penurunan jumlah penduduk miskin 0.24 %.
7.2.8. Simulasi 8: Penurunan Harga Impor Minyak Mentah 35 Persen