NANGGROE ACEH DARUSSALAM (NAD) A Pemerintah Daerah NAD
E. Pilkada di NAD
1. Pemilihan Gubernur/ Wakil Gubernur
Gubernur dan Wakik Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam dipilih secara langsung setiap 5 tahun sekali melalui pemilihan yang demokratis, bebas, rahasia, serta dilaksanakan secara jujur dan adil. Seseorang yang dapat ditetapkan menjadi calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah warga Negara Republik Indonesia dengan syarat-syarat:
a) Menjalankan syariat agamanya
b) Setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah
c) Berpendidikan sekurang-kurangnya sekolah lanjutan tingkat atas atau yang sederajat.
d) Berumur paling sedikit 35 tahun e) Sehat jasmani dan rohani
f) Tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana
g) Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputudsan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hokum yang tetap; dan
h) Tidak pernah menjadi warga negara asing
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dilaksanakan oleh Komisi Independen Pemilihan dan diawasi oleh Komisi Pengawas Pemilihan, yang masing-masing dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Anggota Komisi Independen Pemilihan terdiri atas anggota Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia dan anggota masyarakat. Anggota Komisi Pengawas Pemilihan terdiri atas unsur anggota DPRD, unsure pengawas pemilu nasional, dan anggota masyarakat yang independen.
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dilaksanakan melalui tahap-tahap: pencalonan, pelaksanaan pemilihan, serta pengesahan hasil pemilihan dan pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur.
Tahap pencalonan dilaksanakan melalui:
a) pendaftaran dan seleksi administratif pasangan bakal calon oleh Komisi Independen Pemilihan
b) pemaparan visi dan misi pasangan bakal calon di depan DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
c) penetapan pasangan bakal calon oleh DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam d) konsultasi pasangan bakal calon oleh DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
kepada pemerintah
e) penetapan pasangan calon oleh DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam; dan f) pendaftaran pemilih oleh Komisi Independen Pemilihan bersama dengan
Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tahap pelaksanaan pemilihan meliputi :
a) pemilihan pasangan calon Gubernur yang dilaksanakan secara langsung oleh masyarakat pemilih serentak pada hari yang sama di seluruh wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
b) penghitungan suara secara traansparan dan terintegritasi yang dilaksanakan oleh Komisi Independen Pemilihan
c) penyerahan hasil penghitungan suara oleh Komisi Independen Pemilih kepada DPRD Provinsi nanggroe Aceh Darussalam; dan
d) pengesahan hasil penghitungan suara yang dilaksanakan oleh DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Tahap pengesahan dan pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih meliputi: a) penyerahan hasil pemilihan oleh DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
kepada presiden melalui menteri dalam negeri
b) pengesahan gubernur dan wakil gubernur terpilih oleh presiden dan
c) pelantikan gubernur dan wakil gubernur Provinsi Nanggroev Aceh Darussalam yang dilaksanakan oleh menteri dalam negeri atas nama presiden dan pengangkatan sumpahnya yang dilakukan di hadapan mahkamah syari’ah
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam siding paripurna DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Pengawasan proses pemilihan gubernur dan wakil gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dilakukan oleh Komisi Pengawas Pemilihan
2. Pemilihan Bupati/Wakil Bupati
Pemilihan Bupati/Wakil Bupati menggunakan ketentuan yang sama seperti pada pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur, tetapin terdapat beberapa pengecualian yaitu:
a) pemyerahan hasil pemilihan oleh DPRD Kabupaten/Kota kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur
b) pengesahan Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota terpilih oleh Menteri Dalam Negeri: dan
c) pelantikan Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/WakilWalikota oleh Gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri dan pengangkatan sumpahnya dilakukan dihadapan ketua Mahkamah Syari’ah dalam Sidang DPRD Kabupaten/Kota.
3. Implikasi Ketentuan Pilkada Langsung NAD
Pasal-pasal strategis dalam UU No 18 tahun 2001 berkaitan dengan proses pemilihan kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat. Pada tahun 2001, ProvinsiNAD adalah satu-satunya provinsi yang memiliki aturan khusus mengenai pemilihan kepala daerah secara langsung. Sementara pemilihan kepala daerah di provinsi lain di Indonesia masih dilaksanakan oleh DPRD masing-masing. Sebenarnya pemilihan kepala daerah langsung dapat membuka peluang bagi tercapainya perdamaian di Aceh apabila semua pihak yang bertikai memindahkan pertikaian dan persaingannya menuju pemilu. Sayangngya peluang ini tidak pernah dimanfaatkan karena tidak ada kemauan politik dari pemerintah nasional untuk benar-benar menerapkan UU No.18 tahun 2001 serta prinsip-prinsip otonomi khusus di Aceh. Khususnya untuk pilkada, seharusnya pelaksanaannya sepenuhnya diselenggarakan berdasarkan UU. No.18 tahun 2001 yang telah mengatur penyelenggaraan pemilihan gubernur, bupati dan walikota di Aceh. Bahkan DPRD Privinsi NAD telah menghasilkansuatu qanun (perda) mengenai penyelenggaraan pilkada langsung di Aceh yang memberi terobosan penting dengan
membuka peluang bagi pencalonan kandidat independen untuk pemilihan kepala daerah di Aceh.
Ada beberapa ketidaksesuaian antara UU No.18 tahun 2201 dengan UU No.32 tahun2004. Pertama menyangkut penyelenggara pilkada langsung di NAD. UU No.18 tahun 2001 menggariskan bahwa penyelenggara pilkada di NAD adalah Komisi Independen Pemilihan yang terdiri dari anggota KPU nasional. Qanun pilkada langsung menetapkan bahwa anggota KIP adalah 9 orang termasuk 1 orang anggota KPU nasional dengan masa jabatan 5 tahun. UU No. 32 tahun 2004 merinci keanggotaan KIP dengan menetapkan bahwa wakil KPU nsional dalam KIP adalah ketua dan anggota KPU Provinsi yang dibentuk berdasarkan UU No.12 tahun 2003 tentang Pemilu. Kini DPRD NAD mengalami dilemma karena telah menyeleksi dan melantik 8 orang anggota KIP, namun karena ketentuan UU No.32 tahun 2004 maka ada tekanan untuk melantik pula seluruh anggota KPU provinsi sebanyak 5 orang menjadi KIP sehingga keseluruhan anggota KIP menjadi 13 orang. Seharusnya bila pemerintah nasional menghormati prinsip otonomi khusus Provinsi NAD, maka perintah UU No.18 tahun 2001 serta Qanun No.2 tahun 2004 ditegakkan secara penuh dengan tetap hanya melantik 9 orang anggota KIP termasuk 1 wakil KPU Nasional yang dapat diisi oleh Ketua KPU Provinsi NAD sebagai wakil kolektif KPU Provinsi.
Ketidaksesuaian lain adalah menyangkut peluang kandidat independen dalam Qanun No.2 tahun 2004 tentang pilkada langsung di Aceh. Tentu ini bertentangan dengan UU No.32 tahun 2004 yang sama sekali tidak membuka peluangn adanya kandidat independen karena semua calon kepala daerah harus dicalonkan oleh parpol atau gabungan parpol.
1. Qanun
Pemberlakuan UU No.18 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi daerah Istimewa Aceh sebafgai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sesungguhnya memeberi peluang lahirnya peraturan perundang-undangan berupa Qanun yang mengatur aspek-aspek yang berhubungan antara relasi pemerintah dengan masyarakat.
Qanun adalah istilah yang digunakanm di Aceh untuk merujuk kepada Peraturan Daerah (Perda). Di dalam UU Pemerintahan Aceh, qanun diartikan sebagai Peraturan
perundang-undangan sejenis peraturan daerah yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan masyarkat di Aceh. UUPA memandatkan lahirnya sejumlah qanun. Saat ini, ada 59 qanun yang termuat di dalam Prolega (Program Legislasi Aceh- Prolegda).
Qanun dapat diinisiasi baik oleh lembaga eksekutif maupun lembaga legislative di Aceh. Setelah pengajuan, sebuah rancangan qanun (Raqan) akan dibawa ke dalam uji public dan pembahasan di dalam badan legislative (DPRA),. Setelah proses ini dan pemuatan usulan-usulan perubahan terhadap raqan tersebut, qanun akan disahkan oleh legislatif dan ditandatangani oelh badan eksekutif.
Beberapa contoh qanun yang berlaku di Aceh:
a. Qanun No.10 tahun2002 tantang Peradilan Syariat Islam. Disahkan pada tanggal 14 Oktober 2002 dan diundangkan 6 Januari 2003.
. b. Qanun No. 11 tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syariat Islam bidang Aqidah, Ibadah dan Syiar Islam. Disahkan tanggal 14 Oktober 2002, dan diundangkan tanggal 6 Januari 2003. Kandungan utama qanun ini berupaya memilah dan mengelaborasi lebih jauh paraturan daerah No.5 tahun 2003 Tentang
Pelaksanakan Syariat Islam.
c. Qanun No.12 tahun 2003 tentang Larangan Minuman Khamr dan sejenisnya. d. Qanun No.13 tahun 2003 tentang Maisir (perjudian)
BAB X
GOOD GOVERNANCE