Pelayanan V Tasikmalaya, yang dilaksanakan Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp
1) Program Penanggulangan Bencana Alam dan Perlindungan Masyarakat a) Pelaksanaan Program
(1) Kegiatan Peningkatan Kesadaran Masyarakat Terhadap Bencana di Daerah Bencana, yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 850.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 808.136.500850.000.000,-,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah tersebarnya informasi dan pemahaman masyarakat melalui penyebaran informasi cegah siaga penanggulangan bencana, terlatihnya SDM TRC dan tersedianya model penanggulangan bencana di Jawa Barat.
(2) Kegiatan Pelatihan Pemuda Siaga Bencana di Jawa Barat, yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 350.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 347.235.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah terlatihnya 100 orang pemuda siaga bencana dari unsur pemuda karang taruna.
(3) Kegiatan Tanggap Darurat Bencana serta Penyediaan Alat Evakuasi bagi Korban Bencana di Jawa Barat, yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 2.750.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp.
2.617.715.050,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah tersedianya alat evakuasi korban bencana di Jawa Barat seperti ( Personal Equitment, Team Equitment, Tenda Regu, Tenda Pleton, Perahu Karet, Mesin Perahu, Pelampung, Karmantel, Genset, Radio Komunikasi, Komputer dll).
(4) Kegiatan Penyediaan Buffer Stock untuk Penanganan Tanggap Darurat di Jawa Barat, yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 900.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 892.440.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah tersedianya Buffer Stock dalam rangka tanggap darurat bencana di Jawa Barat seperti Mie Instan, Sarden, Kecap Saos, Minyak Goreng, Air Mineral Botol dan Cup, Susu Bayi, Bubur Bayi, Selimut, Karung Plastik.
(5) Kegiatan Fasilitasi dan Koordinasi Penyusunan Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat, yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 824.266.798,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 711.065.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah tersusunnya dan terinformasikannya Modul RAD PRB di Jawa Barat untuk rencana induk penanggulangan bencana.
(6) Kegiatan Penyusunan Model Pemulihan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana, yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana
LPPD Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2011 178 Daerah, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 500.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 489.710.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah tersusunnya model pemulihan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana sebagai pedoman peningkatan pendapatan masyarakat dalam kurum waktu pemulihan.
(7) Kegiatan Pengembangan Mitigasi Bencana di Daerah Rawan Bencana, yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 700.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 622.664.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah tersusunya pedoman pengembangan mitigasi melalui jaringan komunikasi dan informasi kebencanaan di daerah rawan bencana di Jawa Barat dan terbentuknya kelompok kerja jaringan komunikasi dan informasi kebencanaan di Jawa Barat.
(8) Kegiatan Penyusunan Pedoman SOP Penanggulangan Bencana, yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 250.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 250.000.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah tersusunnya draft SOP Penanggulangan Bencana di Jawa Barat sebagai dasar dan acuan kegiatan kedaruratan pada saat terjadi bencana.
(9) Kegiatan Media Sosialisasi Mitigasi Bencana Daerah Rawan Bencana di Jawa Barat, yang dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 1.000.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 911.799.800,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah meningkatnya kesiapsiagaan dan kesadaran masyarakat (mitigasi bencana/pengurangan resiko) dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana di Jawa Barat.
(10) Kegiatan Siaga dan Tanggap Bantuan bagi Korban Bencana Alam Kabupaten/Kota di Wilayah III, yang dilaksanakan Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah III Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 500.000,000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 384.055,250,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah terkoordinasinya pemberian bantuan makanan dan bahan lainnya bagi korban bencana di Wilayah III.
(11) Kegiatan Penanganan Tanggap Darurat Bencana Alam di Wilayah I, yang dilaksanakan Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah I Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi
anggaran sebesar Rp. 500.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 0,-. Kegiatan tersebut tidak diserap /dicairkan karena kegiatan
tersebut bersifat on call, sehingga baru bisa dicairkan apabila terjadi bencana atau atas permintaan dari Kabupaten/Kota yang mengalami bencana alam.
LPPD Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2011 179 (12) Kegiatan Penanggulangan Korban Bencana, yang dilaksanakan Dinas
Sosial Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 2.700.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 2.602.944.300,-.
Hasil pelaksanaan kegiatan adalah meningkatnya peran serta masyarakat dalam penanggulangan bencan melalui sosialisasi penanggulangan bencana 280 orang, terlatihnya 302 orang Tagana terampil, dan terpulangkannya 479 orang terlantar ke daerah asalnya.
(13) Kegiatan Sosialisasi Potensi dan Daerah Rawan Bencana kepada Masyarakat, yang dilaksanakan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp.150.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp.147.730.800,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah terinformasikannya potensi dan daerah rawan bencana geologi kepada masyarakat di Kabupaten Cianjur dan Garut.
(14) Kegiatan Pemantauan dan Peninjauan Bencana Geologi di Jawa Barat, yang dilaksanakan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp.150.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 149.590.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah terpantaunya kejadian bencana alam geologi di Jawa Barat.
(15) Kegiatan Koordinasi dan Fasilitasi Penanggulangan Bencana di Jawa Barat, dilaksanakan oleh Biro Pengembangan Sosial, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 80.000.000,-, dan terealisasi sebesar Rp.
78.325.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah terlaksananya Rakor Standard Operation Procedure (SOP) Penanganan Bencana dan Rakor Penanggulangan Bencana di Jawa Barat, yang dikuti oleh peserta dari Kabupaten/Kota.
(16) Kegiatan Penanggulangan Darurat Bencana Alam, yang dilaksanakan Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat dengan alokasi anggaran
sebesar Rp. 10.000.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 9.291.325.742,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah terlaksananya
tanggap darurat untuk jalan dan jembatan dengan hasil pelayanan prasarana jalan dan jembatan tidak terganggu.
(17) Kegiatan Penanganan Bencana Alam, yang dilaksanakan Dinas Permukiman dan Perumahan Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi
anggaran sebesar Rp. 750.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 686.187.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah dapat
melaksanakan bantuan tanggap darurat bencana ke masyarakat di lokasi yang terkena bencana alam dengan cepat.
(18) Kegiatan Penanggulangan Bencana Alam di 3 (tiga) Wilayah Sungai di Jawa Barat, yang dilaksanakan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air
LPPD Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2011 180
Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 10.052.513.700,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 8.977.651.500,-.
Hasil pelaksanaan kegiatan adalah berfungsinya kembali jaringan irigasi akibat bencana alam.
(19) Kegiatan Penanggulangan Bencana Banjir dan Kekeringan (Dana on Call), yang dilaksanakan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp.
2.750.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 2.734.830.050,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah terpasangnya bahan banjiran di 28 titik yaitu 13 sungai, 14 daerah irigasi dan 1 situ.
(20) Kegiatan Perbaikan Infrastruktur Sumber Daya Air Pasca Banjir Bandang Sungai Cipalebuh dan Cikaso di Kabupaten Garut yang dilaksanakan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 5.000.000.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 4.261.243.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah terlindunginya penduduk akibat bencana alam banjir bandang pada 2 sungai di Kabupaten Garut.
(21) Kegiatan Koordinasi, Fasilitasi, Monitoring dan Bantuan Tanggap Darurat ke Daerah Rawan Bencana di Wilayah II, yang dilaksanakan oleh Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah II Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 750.250.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 37.210.000,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah terbangunnya lokasi penampungan bencana dan termanfaatkannya bahan makanan untuk korban bencana di wilayah tersebut.
(22) Kegiatan Koordinasi dan Fasilitasi Tanggap Darurat Daerah Rawan Bencana di Wilayah IV, yang dilaksanakan Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah IV Provinsi Jawa Barat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 750.125.000,-, realisasi anggaran sebesar Rp. 0,-. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah meningkatnya kesiagaan Pemerintah Daerah dalam penanggulangan bencana alam di Wilayah IV, tersedianya bahan bantuan bencana alam bagi korban di Wilayah IV dan terwujudnya penanganan bencana alam secara terkoordinasi.
b) Permasalahan dan Solusi
(1) Penanganan dan penanggulangan bencana di Kabupaten/Kota masih belum optimal, hal ini karena penanganan bencana baik pada saat pra bencana, saat bencana maupun pasca bencana masih dilakukan secara parsial terutama di Kabupaten/Kota yang belum memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Solusinya yaitu penguatan
LPPD Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2011 181 kelembagaan BPBD Provinsi maupun Kabupaten/Kota serta sinergitas program dan kegiatan agar memudahkan koordinasi dalam penanggulangan bencana, baik pada pra bencana, tanggap darurat maupun pasca bencana serta mendorong Kabupaten/Kota untuk membentuk BPBD.
(2) Kurang optimalnya pemanfaatan iptek dalam mengurangi risiko bencana, termasuk pemanfaatan sistem peringatan dini berbasis teknologi. Solusinya yaitu meningkatkan sistem penanggulangan bencana berbasis informasi geografis yang handal, sehingga pada saat penanggulangan bencana dapat terarah, terpadu, terorganisasi dan menyeluruh.
(3) Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, penyelenggaraan penanggulangan bencana lebih diarahkan pada pencegahan dan kesiapsiagaan dalam upaya pengurangan risiko bencana.
(4) Belum optimalnya program-program pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko serta penataan ruang yang berdasarkan pemetaan dan pengkajian risiko bencana, sehingga menyulitkan penanganan kedaruratan bencana.
(5) Pada kegiatan Penanggulangan Bencana Alam WS Cimanuk Cisanggarung untuk pembangunan talang beton tumpu Daerah Irigasi Sentig di Kabupaten Sumedang pada saat pelaksanaan pekerjaan telah terjadi bencana alam longsor setempat, sehingga dari target panjang 126 meter hanya dapat diselesaikan sepanjang 75 meter. Namun demikian saluran irigasi darurat yang sudah ada untuk melayani areal seluas 1.617 Ha masih dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagai solusinya, penyelesaian pembangunan akan dilanjutkan pada tahun anggaran 2012.
(6) Pelaksanaan pemantauan dan peninjauan seharusnya melibatkan aparat Pemerintah Kabupaten. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten.
(7) Pelaksanaan Rapat Koordinasi harus ditunjang dengan penyebaran informasi berupa Peta Kerentanan Gerakan Tanah. Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan evaluasi terhadap Peta Kerentanan Gerakan Tanah yang sudah dimiliki.
(8) Pelaksanaan pemantauan atau peninjauan daerah kejadian bencana geologi yang memiliki kontur terjal dan sulit dilalui, dibutuhkan kendaraan roda empat khusus (4 WD). Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu menyediakan kendaraan roda empat khusus untuk pemantauan dan peninjauan bencana geologi.
LPPD Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2011 182 (9) Pemerintah Kabupaten/Kota belum seluruhnya memiliki Dinas/Instansi/
Lembaga yang secara khusus menangani masalah kesejahteraan sosial baik dilihat dari nomenklatur lembaga dan fungsinya. Solusinya, Pemerintah Kabupaten/Kota segera membentuk Lembaga/Instansi yang khusus menangani pembangunan kesejahteraan sosial.
(10) Terbatasnya sarana dan prasarana/alokasi anggaran pembangunan bidang kesejahteraan sosial. Solusinya yaitu meningkatkan sinergitas dan koordinasi antar Pemerintah Kabupaten/Kota dan lembaga kesejahteraan dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial, melalui penganggaran khusus untuk menangani masalah kesejahteraan sosial.
2) Program Pendidikan Politik Masyarakat