• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Peningkatan Perlindungan Nasabah

SELURUH KEWAJIBAN PERSEROAN PER TANGGAL 31 DESEMBER 2010 TELAH DIUNGKAPKAN SELURUHNYA DALAM PROSPEKTUS INI

B. Bidang Lingkungan

IX. INDUSTRI PERBANKAN DI INDONESIA

6. Program Peningkatan Perlindungan Nasabah

Program ini bertujuan untuk memberdayakan nasabah melalui penetapan standar penyusunan mekanisme pengaduan nasabah, pendirian lembaga mediasi independen, peningkatan transparansi informasi produk perbankan dan edukasi bagi nasabah. Dalam waktu dua sampai lima tahun ke depan diharapkan program-program tersebut dapat meningkatkan kepercayaan nasabah pada sistem perbankan.

Fase Implementasi

Program implementasi API dilaksanakan secara bertahap dan dimulai tahun 2004 dengan perincian sebagai berikut:

1. Program penguatan struktur perbankan nasional

No. Kegiatan (Pilar I) Pelaksanaan Periode

1 Memperkuat permodalan Bank

a. Meningkatkan persyaratan modal minimum untuk Bank Umum dan Bank Syariah

(termasuk BPD) menjadi Rp80 milliar 2007

b. Meningkatkan persyaratan modal minimum untuk Bank Umum dan Bank Syariah

(termasuk BPD) menjadi Rp100 milliar 2010

c. Pengaturan persyaratan minimum modal disetor Rp3 milliar untuk bank umum hingga 1

Januari 2011 2004 - 2010

d. Penetapan persyaratan minimum modal disetor Rp1 milliar untuk bank Syariah 2005 e. Penetapan persyaratan modal sebesar Rp500 miliar untuk Bank Syariah yang berada

dalam lingkup Unit Bisnis Syariah 2006

f. Pengurangan tenggat waktu bagi Bank Perkreditan Rakyat untuk kewajiban persyaratan

minimum modal disetor dari tahun 2010 ke 2008 2008

2 Memperkuat daya saing Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Perkreditan Rakyat Daerah

a. Meningkatkan linkage program antara bank umum dengan Bank Perkreditan Rakyat 2007 b. Pengimplementasian program aliansi strategis antara institusi keuangan Syariah dan

Bank Perkreditan Rakyat Syariah melalui kerjasama pembangunan UMKM 2007 c. Mempromosikan pendirian Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Perkreditan Rakyat

Syariah diluar Jawa dan Bali 2006 - 2007

d. Memfasilitasi pembukaan kantor cabang Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Perkreditan

Rakyat Syariah yang memenuhi ketentuan kriteria 2004 - 2006

e. Mempercepat pembentukan fasilitas jasa untuk Bank Perkreditan Rakyat dan Bank

Perkreditan Rakyat Syariah (termasuk institusi APEX) 2006 - 2007 3 Pengembangan akses kredit dan pendanaan kepada UMKM

a. Memfasilitasi pembentukan dan pengawasan skema penjaminan kredit dan finansial 2004 - 2007 b. Mendorong bank-bank untuk meningkatkan penyaluran kredit bagi UMKM, terutama untuk masyarakat desa dan berpenghasilan minimum 2004 - 2009 c. Meningkatkan akses keuangan Syariah bagi UMKM melalui pengembangan program jaminan dalam keuangan Syariah 2010 d. Mendorong bank-bank Syariah untuk meningkatkan persentase bagi hasil mereka 2010

2. Program untuk peningkatan kualitas pengaturan perbankan

No. Kegiatan (Pilar II) Pelaksanaan Periode

1 Memformalkan proses sindikasi dalam pembuatan kebijakan perbankan

a. Melibatkan pihak ketiga dalam setiap pembuatan kebijakan perbankan 2004

b. Membentuk panel ahli dalam bidang perbankan 2004

c. Memfasilitasi pembentukan lembaga riset perbankan pada tingkat pusat dan daerah 2006 2 Implementasi dari standar Internasional terbaik

a. Kebijakan 25 Basel Core untuk supervisi perbankan yang efektif 2004 - 2013

b. Basel II mulai 2008

3. Program peningkatan fungsi pengawasan

No. Kegiatan (Pilar III) Pelaksanaan Periode

1 Meningkatkan koordinasi antar lembaga pengawas

a. Penyusunan MoU dengan agen supervisi institusi perbankan lainnya untuk

mengembangkan pola supervisi yang paling efektif bagi bank-bank dan SSK 2004 2 Me-reorganisasi struktur perbankan di Bank Indonesia

a. Memperbaiki High Level Organization Structure (HLOS) dari sektor perbankan di Bank

Indonesia 2004 - 2006

b. Mengkonsolidasikan fungsi pengawasan dan pemeriksaan, termasuk pembentukan tim

khusus untuk pemeriksa spesialis (specialist examiners) 2004 - 2006 c. Konsolidasi antara Direktorat Pengawas Bank Perkreditan Rakyat dan Biro Kredit pada

Bank Indonesia, termasuk pengalihan fungsi untuk: 1) penelitian dan pengembangan UMKM dalam Biro Kredit kepada Unit Special Assets Management, 2) Pemeriksaan kredit dari Biro Kredit kepada Direktorat Pengawas Bank Umum

2006 - 2007 d. Perbaikan struktur organisasi dalam Direktorat Pengawasan Bank Perkreditan Rakyat

(DPBPR) untuk menunjang pengalihan kegiatan penjaminan dari Bank Perkreditan Rakyat kepada Agen Deposito Asuransi, dan pengalihan perizinan dari Bank-Bank Perkreditan Rakyat yang baru, berikut kegiatan penelitian dan pengawasan dengan unit kerja lainnya di Bank Indonesia

2005 - 2006 e. Perbaikan pada struktur organisasi Direktorat Perbankan Syariah 2005 - 2006 3 Pengembangan Infrastruktur Pendukung dari Pengawasan Perbankan

a. Pengembangan kualitas dari kegiatan pengawasan pada masing-masing bank Syariah dan bank umum, serta Bank Perkreditan Rakyat melalui program sertifikasi dalam agen

pengawasan internasional 2004 - 2005

b. Pelatihan Spesialis Pengawasan 2006 - 2007

c. Pengembangan Teknologi Informasi untuk pengawasan perbankan 2005 - 2006 d. Pengembangan sistem pelaporan pada Bank Perkreditan Rakyat 2005 - 2007 e. Pengembangan pengelolaan proses dokumentasi dari pengawasan perbankan 2005 - 2006 4 Pengembangan implementasi dari sistem pengawasan berdasarkan risiko

a. Pengembangan panduan dan instrumen pengawasan untuk meningkatkan implementasi

pengawasan berdasarkan risiko di bank-bank umum dan Syariah 2004 - 2005 5 Meningkatkan efektivitas enforcement

a. Pengembangan proses investigasi pada kejahatan perbankan 2004 - 2005

b. Peningkatan transparansi pengawasan dan enforcement 2006

c. Peningkatan perlindungan hukum bagi pengawas bank 2006

4. Program peningkatan kualitas manajemen dan operasional perbankan

No. Kegiatan (Pilar IV) Pelaksanaan Periode

1 Meningkatkan Good Corporate Governance (GCG)

a. Pembentukan standar minimum untuk GCG pada bank-bank umum dan Syariah, berdasarkan (Pilar IV) Jadwal Implementasi Program Peningkatan Kualitas Manajemen

dan Operasional Bank 2004 - 2007

b. Mensyaratkan bank-bank untuk melakukan penilaian internal terhadap implementasi GCG

mereka 2007

c. Mendorong bank-bank untuk menjadi perusahaan terbuka (go public) 2004 - 2007 2 Peningkatan kualitas manajemen risiko perbankan

a. Mensyaratkan sertifikasi untuk manajer-manajer risiko pada bank-bank umum dan Syariah 2004 - 2007 b. Pengembangan kualitas dan standar sumber daya manusia pada Bank-Bank Perkreditan

Rakyat dan Bank-Bank Perkreditan Rakyat Syariah melalui program sertifikasi profesional pada seluruh direktur Bank-Bank Perkreditan Rakyat dan Bank-Bank Perkreditan Rakyat Syariah

2005 - 2008 3 Memperkuat kapasitas operasional bank

a. Mendorong bank-bank untuk melakukan sharing penggunaan fasilitas operasional untuk

meminimalisasi biaya 2006 - 2008

5. Program pengembangan infrastruktur perbankan

No. Kegiatan (Pilar V) Pelaksanaan Periode

1 Mengembangkan Biro Kredit

a. Melakukan inisiatif pembentukan Biro Kredit 2004 - 2005

b. Mengembangkan Sistem Informasi Debitur untuk Institusi Keuangan Non-Bank 2006 - 2008 2 Mempromosikan pembentukan Pasar Keuangan Islam

a. Penyusunan dan pengembangan peraturan pasar keuangan Islam 2006 - 2010 b. Penyusunan peraturan yang berhubungan dengan instrumen pasar keuangan Islam 2006 - 2010 3 Peningkatan peran institusi kebijakan Syariah dan institusi arbitrasi Syariah untuk meningkatkan

pemenuhan prinsip-prinsip kebijakan Syariah dalam perbankan Syariah 2004 - 2010

6. Program pengembangan perlindungan nasabah

No. Kegiatan (Pilar VI) Pelaksanaan Periode

1 Pembentukan standar untuk mekanisme pengaduan nasabah

a. Menetapkan persyaratan minimum mekanisme pengaduan konsumen 2004 - 2005 b. Mengawasi dan mengevaluasi kepatuhan mekanisme pengaduan konsumen 2006 - 2010 2 Pembentukan agen mediasi independen – memfasilitasi pembentukan agen mediasi

independen tersebut 2004 - 2008

3 Penyusunan peraturan untuk transparansi dari informasi produk

a. Memfasilitasi penyusunan standar minimum untuk transparansi dari informasi produk

perbankan 2004 - 2005

b. Pengawasan dan evaluasi untuk implementasi dari peraturan mengenai transparansi

informasi produk 2006 - 2010

4 Mempromosikan edukasi publik bagi nasabah

a. Mendorong bank-bank untuk mendidik nasabah mengenai produk finansial awal 2004 b. Meningkatkan efektivitas program pendidikan publik mengenai perbankan Syariah melalui

Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) awal 2004

Single Presence Policy

Pada tahun 2006, Bank Indonesia memberlakukan Single Presence Policy berkaitan dengan bank-bank Indonesia, di mana seorang pemegang saham pengendali di sebuah bank hanya boleh memegang saham di satu bank umum. Seorang pemegang saham pengendali didefinisikan sebagai badan hukum, seorang individu atau suatu kelompok usaha yang: 1) memegang 25,0% atau lebih dari saham yang dikeluarkan bank dan hak suara; atau 2) kurang dari 25,0% dari modal saham yang dikeluarkan dan hak suara bank, tetapi mengontrol bank baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sejak berlakunya peraturan ini, pihak-pihak yang menjadi pemegang saham pengendali di lebih dari satu bank diwajibkan untuk menyesuaikan struktur kepemilikan sebagai berikut: 1) mengalihkan sebagian atau seluruh kepemilikan saham mereka dalam satu atau lebih bank di bawah kendali mereka kepada pihak lain, maka mereka hanya menjadi pemegang saham pengendali pada satu bank; atau 2) melaksanakan merger atau konsolidasi bank-bank di bawah kendali mereka; 3) mendirikan bank holding company dengan membentuk badan hukum baru sebagai bank holding company atau menugaskan salah satu bank di bawah kendali mereka sebagai bank holding company.

Penyesuaian struktur kepemilikan diperlukan untuk dapat diselesaikan selambat-lambatnya akhir Desember 2010. Berdasarkan permintaan dari pemegang saham pengendali dan bank-bank di bawah pengawasan mereka, Bank Indonesia dapat memberikan perpanjangan waktu untuk penyesuaian struktur kepemilikan apabila menurut Bank Indonesia kerumitan masalah yang dihadapi oleh pemegang saham pengendali dan/atau bank-bank di bawah kendali dapat menyebabkan perubahan dalam struktur kepemilikan.

Implementasi Basel II

Basel II akan dilaksanakan secara bertahap dimana pelaksanaannya dimulai pada tahun 2008. Semua bank umum akan diminta untuk memenuhi persyaratan modal oleh awalnya mengadopsi pendekatan yang paling sederhana. Selanjutnya, setiap bank yang mampu membuat perubahan sistem yang diperlukan dan memenuhi semua persyaratan yang memadai akan diizinkan untuk bergerak ke arah pendekatan yang lebih canggih atas persetujuan Bank Indonesia. Diharapkan bahwa pada tahun 2010 kerangka kerja Basel II akan diterapkan di lingkup penuh yang mencakup seluruh pilar.