PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN IPA TERPADU DENGAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM
PROSENTAS PENILAIAN OLEH OBSERVER
NO ASPEK YANG DIAMATI RERATA
PERTEMUAN I RERATA PERTEMUAN II RERATA PERTEMUAN III Pra Pembelajaran 1 Memotivasi siswa 89.10 89.10 100.00 1 2 Melakukan apersepsi 82.85 90.77 96.94
Rerata Kegiatan Pra Pembelajaran 85.98 89.93 98.47
2 Kegiatan Inti Pembelajaran
Penguasaan Materi Pembelajaran
3 Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran 94.58 94.58 100.00
4 Mengatitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan dan realita kehidupan 94.86 94.86 99.63
5 Menyampaikan materi dengan jelas sesuai dengan hirarkhi belajar dan karakteristik siswa 96.25 96.25 97.29
6 Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 91.53 96.53 68.61
A
Rata - rata 94.31 95.56 91.38
Penguasaan Model Pembelajaran
7 Melaksanakan Pembelajaran sesuai dengan Kompetensi
(tujuan) yang akan dicapai dan karakteristik siswa 91.81 91.81 100.00
8 Melaksanakan pembelajaran dengan runtut 86.25 91.81 98.96
9 Menguasai kelas 86.67 96.94 98.33
B
PROSENTAS PENILAIAN OLEH OBSERVER
NO ASPEK YANG DIAMATI RERATA
PERTEMUAN I RERATA PERTEMUAN II RERATA PERTEMUAN III 11 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu
yang direncanakan 86.32 93.82 94.86
12 Melaksanakan pembelajaran holistic/kolaboratif berbasis
masalah 93.13 93.61 100.00
Rata - rata 88.32 93.92 98.41
Pemantapan Sumber Belajar/Media Pembelajaran
13 Menggunakan media secara efektif 85.28 91.67 97.57
14 Menghasilkan pesan yang menarik 84.52 93.82 100.00
C
Rata - rata 84.90 92.74 98.79
Pembelajaran yang Memicu dan Memelihara Ketertiban Siswa 15 Menumbuhkan partisipasi akif, keceriaan dan antuasiasme
siswa dalam pembelajaran 90.81 96.53 100.00
16 Mennjukkan sikap keterbukaan terhadap respon dari siswa 88.40 97.57 98.96
D
Rata - rata 89.61 97.05 99.48
Penilaian Proses dan Hasil Belajar
17 Memantau kemampuan belajar selama proses 85.07 95.49 97.57
18 Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi/tujuan 96.25 96.25 97.29
E
Rata - rata 90.66 95.87 97.43
Penggunaan Bahasa
19 Menggunakan bahasa lesan/tulis secara jelas, baik, benar 83.89 95.14 96.53
20 Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai 89.44 95.49 98.61
F
Rata - rata 86.67 95.31 97.57
Rerata Kegiatan Inti 89.08 95.08 97.18
3 Kegiatan Penutup
21 Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan
siswa 82.54 89.65 95.90
22 Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan 85.90 89.65 95.90
Rerata Kegiatan Penutup 84.22 89.65 95.90
Prosentase Rata-Rata Perolehan Nilai Aktivitas Kinerja Guru (%) 86.42 91.55 97.18
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, 59,18% dari responden berpendapat bahwa pembelajaran IPA Terpadu perlu diterapkan tetapi 67,34% responden memerlukan bantuan dalam mengembangkan dan menerapkan pembelajaran IPA Terpadu. Pendapat ini menguatkan alasan pentingnya penelitian ini dilakukan.
Pembelajaran IPA Terpadu diyakini oleh para responden memudahkan peserta didik dalam memahami konsep-konsep IPA secara menyeluruh.
Topik-topik yang dikembangkan mengenai fenomena ataupun proses yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat mendorong timbulnya rasa ingin tahu peserta didik disatu pihak, sedangkan di pihak lain mudah pemahamannya. Responden yang terdiri atas guru-guru IPA SMP sebagian besar (69,38%) setuju jika pelaksanaan pembelajaran IPA Terpadu secara tim antara guru Fisika dengan Biologi karena guru lulusan pendidikan IPA masih sangat sedikit di lapangan.
Pengembangan perangkat pembelajaran dilaksanakan melalui LS dengan guru-guru IPA SMP 30 Semarang. Langkah pertama dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini dimulai dengan curah pendapat peserta LS dalam rangka melakukan pemetaan SK dan KD. Melalui curah pendapat dan diskusi ini akhirnya muncul 6 tema yang dirasa sesuai. Selanjutnya tim peneliti mengembangkan silabus dari 6 tema yang telah disetujui. Berdasarkan silabus yang telah dikembangkan lalu disusun RPP dan Bahan Ajarnya. Setiap anggota Tim mendapat bagian untuk mengembangkan silabus beserta RPP dan Bahan Ajarnya. Setelah jadi, dibahas bersama melalui LS untuk mendapatkan masukan sebagai bahan perbaikan perangkat pembelajaran yang sudah dikembangkan. Setelah semua perangkat siap barulah dikirim ke Pakar untuk direview. Berdasarkan hasil review Pakar Pendidikan dari FMIPA UNY dan FKIP Jurusan MIPA UNS, RPP maupun Bahan Ajar diperbaiki lagi.
Melalui pelaksanaan LS ini ternyata kemampuan guru IPA tersebut
meningkat, baik dalam hal menyusun perangkat pembelajaran maupun dalam hal mengajarkan materi di kelas. Ini dapat dilihat dari Tabel 6 yang menunjukkan bahwa prosentase rata-rata perolehan nilai aktivitas kinerja guru pada pertemuan I sebesar 86,42%, pada pertemuan II 91,55% dan pada pertemuan III menjadi 97,18%. Hal ini sesuai dengan pendapat Bogner (2007) yang menyatakan, LS (LS) adalah metode yang digunakan sistem pendidikan di Jepang lebih dari satu abad, dalam mengamati pembelajaran peserta didik. Kegiatan LS melibatkan guru dan stakeholder sekolah, melaksanakan kegiatan secara kolaboratif untuk mengamati proses pendidikan yang dilakukan dan mempelajarinya untuk mendapatkan
masukan dan solusi demi perbaikan proses pembelajaran berikutnya sehingga berhasil meningkatkan kemampuan guru (Isoda, M. et.al. 2007).
Kalau kita cermati lebih lanjut pada Tabel 6 ternyata ada satu hal yang mengalami penurunan yaitu pada kemampuan guru dalam mengaitkan materi dengan realitas kehidupan. Pada pertemuan I menunjukkan kinerja sebesar 91,53% meningkat menjadi 96,53% pada pertemunan ke II. Tetapi pada pertemuan ke III justru menurun drastic menjadi 68,61%. Hal ini ternyata disebabkan karena sifat materinya. Materi pada pertemuan I dan II adalah Peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan. Materi ini memang mudah dikaitkan dengan kehidupan nyata. Sedangkan materi pada pertemuan ke III adalah Nama unsur dan rumus kimia sederhana, yang relatif lebih sulit untuk mengaitkannya dengan kehidupan nyata.
Refleksi dalam tahapan kegiatan LS, mengajarkan kita lebih luas tentang usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, yang mana inti dari pembelajaran LS adalah memusatkan para guru untuk mengamati penampilan guru itu sendiri ataupun guru lain (Fernandez, 2003). Guru harus bekerja sama sebagai satu tim untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik (Windarso. 2008).Hal ini diperkuat dari hasil penelitian Winarsih (2009), yang menyimpulkan
bahwa kegiatan LS yang meliputi kegiatan plan, do, see, telah dapat
meningkatkan profesionalisme guru IPA SMP Negeri 30 Semarang yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase perolehan nilai dalam kompetensi pedagogik, profesionalisme, kepribadian dan sosial. Salah satu penyebab peningkatan profesionalisme guru adalah dengan diadakannya refleksi untuk perbaikan pembelajaran berikutnya.
Berdasarkan penilaian dari pakar, bahan ajar yang dikembangkan telah layak baik dari segi isi maupun penyajian. Meskipun demikian ada saran-saran yang diberikan untuk perbaikan bahan ajar tersebut. Agar bahan ajar menjadi lebih sempurna, bahan ajar tetap direvisi sesuai masukan yang diberikan oleh pakar. Dengan kegiatan LS ini ternyata kemampuan guru dalam mengembangkan RPP, Bahan Ajar maupun cara mengajarkannya meningkat. Ini berarti kompetensi pedagogik dan kompetensi profesionalnya meningkat.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Telah berhasil dikembangkan perangkat pembelajaran IPA Terpadu yang
meliputi (a) Silabus, (b) RPP, (c) Bahan Ajar IPA Terpadu, dan (d) soal- soal evaluasi untuk kelas VII melalui LS. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah divalidasi oleh Pakar Pendidikan dari UNS dan UNY sehingga siap diujicobakan pada tahun kedua penelitian.
2. Dengan melaksanakan LS, kompetensi guru-guru IPA SMP 30 yang
meliputi kompetensi pedagogic, professional, kepribadian dan social meningkat.
Saran
1. Kegiatan LS perlu dikembangkan dan dilaksanakan karena terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan guru secara berkelanjutan.
2. Kegiatan LS dapat dilaksanakan baik di tingkat sekolah maupun di tingkat MGMP.
3. Pelaksanaan LS disarankan dilaksanakan berkolaborasi dengan perguruan tinggi (LPTK) untuk memperoleh pengayaan materi maupun metode pembelajaran yang inovatif. Sedangkan bagi dosen juga dapat mengetahui secara langsung bagaimana pelaksanaan pembelajaran di sekolah sehingga dapat merancang materi perkuliahan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Jadi dengan LS betul-betul akan terjadi mutual learning dan membangun komunitas belajar.
4. Pelaksanaan LS sebaiknya diagendakan secara rutin dan dirancang dengan baik agar diperoleh hasil yang maksimal.
5. Kepala Sekolah agar memberikan dukungan positif bagi pelaksanaan LS di sekolahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Alimah dkk. 2006. Penerapan Peta Konsep dengan Pendekatan JAS pada Perkuliahan Taksonomi Hewan di Jurusan Biologi FMIPA UNNES.
Hendayana, S. 2007. LS. Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik. Bandung: UPI Press.
Bogner, L. 2007. Using LS as an Instrument to Find the Mental Models of Teaching and Learning Held by Career and Technical Education
Instructors. Published by The International Journal of Learning. Volume 15, Issue 1, pp.239-244. Article: Print (Spiral Bound). Article: Electronic (PDF File; 693.295KB).
BSNP. 2006. Model Pembelajaran Terpadu IPA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Fernandez, C., Cannon, J., & Chokshi, S. 2003. A U.S.-Japan LS collaboration reveals critical lenses for examining practice. Teaching and Teacher Education, 19(2), International Journal of Mathematical Education in Science and Technology, 171-185.
Isoda, M., Miyakawa, T., Stephens, M., and Ohara, Y. 2007. Japanese LS In Mathematics, Its Impact, Diversity and Potential for Educational Improvement. International Journal of Mathematical Education in Science and Technology. Table of Contents. Chapter 1: Japanese Education and LS: An Overview.
Marianti, A. 2006 . Jelajah Alam Sekitar (JAS) Suatu Pendekatan dalam
Pembelajaran Biologi dan Implementasinya. Bunga Rampai Pendekatan
Pembelajaran Jelajah Alam Sekitar (JAS) Upaya membelajarkan Biologi Sebagaimana Seharusnya Belajar Biologi. Penyunting A. Marianti. Jurusan Biologi FMIPA UNNES.
Sukaesih, dkk. 2006. Model Pembelajaran Conceptual Change Yang
Diintegrasikan Dengan Alternative Assessment Bernuansa JAS Di SMP 27 Semarang. Laporan Penelitian. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Supriatna, A. 2007. Perencanaan Kegiatan LS. Makalah Seminar Nasional. IKIP
PGRI Semarang, 4 Juni 2007.
Widianti, T. dkk. 2007. Implementasi Pembelajaran Berbasis Riset Dengan Pendekan JAS Pada Mata Kuliah Genetika di Jurusan Biologi FMIPA UNNES. Laporan Penelitian. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Winarsih, A. 2009. Peningkatan Profesionalisme Guru IPA melalui LS dalam
Pengembangan Model Pembelajaran PBI pada Materi Ekosistem. Tesis.
Semarang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang.
Windarso. 2008. Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui LS. Artikel pada