BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
C. Proses Pembinaan Narapidana Terorisme
Tabel 4. 1 Tahapan dan Waktu Pembinaan
Tahapan Pembinaan Waktu Pelaksanaan Tahap Awal Tahap Akhir (Reintegrasi) 2/3 Masa Pidana s.d Bebas
1. Profiling dan Litmas
Dalam tindak langsungnya profiling tidak hanya dilakukan saat pertama kali napiter masuk ke dalam lapas, melainkan berkesinambungan idealnya 3 bulan sekali.
Karena untuk mengetahui track record, perubahan,
96 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Ibrahim selaku Pamong Narapidana Terorise di kedai Malabar Roti dan Kopi Jakarta, pada 11 Desember 2020 Pukul 16.40
perkembangan serta perolehan remisi yang akan napiter dapatkan. Dan hanya dijadikan sebagai alat ukur tambahan Litmas merupakan alat ukur untuk semua Lapas, sedangkan Profiling untuk terpidana khusus yang memang baru dibuat atau direalisasi sesuai dengan persetujuan ditjenpas, BNPT, polri, sebagai alat ukur terpidana khusus, khususnya teroris. Profiling ini juga digunakan hanya pada lapas yang memiliki napiter, sedangkan lapas umum tetap dengan proses Litmas. Selain itu pengaruh proses Litmas dengan Profiling sendiri, sudah lebih baku Litmas di bandingkan Profiling yang hingga hari ini masih pada tahap perbaikan serta perubahan dalam rakor.
“
lebih spesifik lagi, profiling itu tujuannya kan hampir sama dengan identifikasi, kalo identifikasi kan secara umum saja, sedangkan profiling lebih detail lagi lebih spesifik lagi. Dalam proses penyelidikan baru. Kalo dulu kan namanya identifikasi awal sebelum profiling, terus di buat terus tuh kita berapa kali rakor waktu itu keluarlah profiling persetujuan dari pihak pemasyarakatan, polri, bnpt. Tiga serangkai inih sepakat merubah namanya, lalu kita simpulin profiling ini apa maksudnya, tujuannya apa, jawabannya sebagai alat ukur suspect subjek hukum tadi.Yang bersangkutan dikategorikan minimum, medium, maximum (high risk). Hasil dari profiling ini adalah penempatan, sesuai dengan nomenklatur klasifikasi lapas, yaitu minimum, medium, maximum, high risk paling tinggi . Dengan profiling tadi bisa menentukan juga sebenarnya untuk Bapas sebagai alat ukur seorang napiter. karena di Bapas juga ada, tetapi namanya bukan profiling melainkan Litmas (penelitian kemasyarakatan).”
“ profiling diarahkan kepada narapidana terpidana khusus seperti terorisme, sedangkan narapidana dengan kasus umum hanya mendapatkan Litmas saja. Jika
seorang narapidana tadi hasil profilingnya tidak sesuai dengan nomenklatur klasifikasi lapas otomatis ada tindakan baru oh cara administrasi tidak kooperatif engga mau NKRI, engga mau ngurus dc, tempatnya bukan di lapas minimum yang penanganannya skala kecil engga bisa dipindahkan ke medium jika masih belum di pindahkan lagi ke super maximum yang lebih ketat lagi.
Profiling ini idealnya berkesinambungan yaitu 3 bulan sekali, idealnya seperti itu walau implementasinya sekali saja sudah dan tidak berkelanjutan, salah satu minusnya.
Karena namanya alat ukur penilaian, yang dilihat itu track record selama di dalam lapas bagaimana? Karena perilaku seseorang setiap detiknya bisa berubah, maka itu idealnya dilakukan berkesinambungan.”97
2. Assessment
Assessment Adalah sebuah Penilaian yang diberikan Lapas kepada para narapidana umum maupun narapidana khusus yaitu terorisme, diberikan bersamaan dengan Penelitian Masyarakat (Litmas) sesuai dengan hitungan waktu pembinaan. Yaitu 1/3 masa pidana atau dalam tahapan awal berupa administrasi dan orientasi, kemudian 1/3 sampai dengan 2/3 masa pidana atau telah masuk dalam tahapan lanjutan pembinaan dan asimilasi, dan yang terakhir ialah 2/3 masa pidana hingga seorang narapidana tersebut bebas yaitu tahap reintegrasi.
“Assessment dari narapidana adalah track recordnya di dalam lapas, idealnya dilakukan 3-9 bulan, Karena konsepnya pemasyarakatan adanya perubahan perilaku, tolak ukur dari adanya pembinaan ada
disitu. Yang menjadi penekanan dari assessment ini adalah perilaku narapidana tersebut, dalam beberapa indikator antara lain indikator penyesalan, indikator kedua ialah mereka sadar apa yang mereka lakukan begitu juga konsekuensinya, indikator ketiga adanya komitmen baru yaitu ingin kembali ke pihak keluarga.
Timbul ego masing masing, yang tidak peduli dengan pihak pihak manapun hanya fokus kepada keluarga, kembali lagi kepada anak istri.”98
3. Pembinaan Kemandirian
Adalah sebuah pembinaan bakat dan ketrampilan kepada warga binaan pemasyarakatan atau narapidana, agar dapat kembali berperan sebagai anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab. Tetapi dalam prakteknya terkendala karena klasifikasi pengamanan Lapas.
“Kalo kita kan memang dinyatakan sebagai lapas maximum, tapi tidak khusus. Artinya masih ada narapidana kasus lainnya. Makanya hanya bloknya yang kami pisahkan.”99
“Terkait pengamanan Lapas, Lapas Cipinang sendiri menyandang klasifikasi lapas Super Maximum Security dari empat klasifikasi pengamanan Lapas. Super maximum security disini diartikan sebagai lapas yang memiliki pembinaan khusus untuk teroris. Karena pembinaan yang bisa diberikan serta dilaksanakan hanya pembinaan kepribadian seperti menjalankan Ibadah dan Olahraga senam.seperti contoh yaitu dengan keberadaan Pondok Pesantren di dalam Lapas
98 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Ibrahim selaku Pamong Narapidana Terorise di kedai Malabar Roti dan Kopi Jakarta, pada 11 Desember 2020 Pukul 16.40
99 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Boy selaku Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Cipinang , Jakarta (Via Video Call) pada tanggal 18 November 2020 pukul 15.13
dengan menekankan Pemahaman wawasan keagamaan.
Dalam pemberian pemahaman wawasan keagamaan kami pamong atau wali napiter juga bersinergi dengan Kementrian Agama terutama oleh para penyuluh Agama, untuk memberikan proses pembinaan dengan metode tausyiah ataupun ta’lim yang rutin dilakukan, baik kepada para narapidana kasus umum ataupun narapidana kasus terorisme, Proses pembinaan kepribadian lainnya ialah olahraga yang rutin dilaksanakan.Pembinaan khusus atau kemandirian lainnya secara total berada di lapas dengan klasifikasi Medium Security. Klasifikasi lapas medium security saat ini yang dapat menampung narapidana teroris sendiri baru tersedia di Lapas Sentul yang memberikan pembinaan secara total.”100
4. Pembinaan Kepribadian
Adalah sebuah pembinaan mental dan watak agar warga binaan pemasyarakatan atau narapidana menjadi manusia seutuhnya, bertakwa dan bertanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Pak Boy Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Klas I Lapas Cipinang :
“terkait dengan pembinaan berjalan itu kami kategorikan dua lagi. Ada yang diberikan kepada narapidana terorisme yang sudah menyatakan diri NKRI dan yang belum menyatakan diri kembali ke NKRI. Nah untuk yang menyatakan diri kembali ke NKRI mereka setiap hari masih di berikan jam angin-angin, masih diberikan kesempatan sholat jum’at di masjid lapas cipinang berbaur dengan narapidana lainnya walaupun dengan pendampingan petugas pamong tadi. Jadi apa
100 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Ibrahim selaku Pamong Narapidana Terorise di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang , Jakarta yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2020 pukul 09.30
yang mereka interaksikan dan itu dalam pengawasan, kami juga menyertakan cctv khusus di blok terorisme tersebut. untuk yang belum menyatakan diri NKRI mereka hanya diberikan jam angin-angin satu minggu 2 kali, ya selasa dan kamis itu hanya diberikan jam angin-angin sekitar satu sampai dua jam dalam pengawasan petugas, tidak berbaur dengan narapidana lainnya”.101 5. Deradikalisasi
Deradikalisasi adalah suatu proses yang terencana, terpadu, sistematis dan berkesinambungan yang dilaksanakan untuk menghilangkan atau mengurangi dan membalikkan pemahaman radikal Terorisme yang telah terjadi.102 Program Deradikalisasi yang dilakukan BNPT bersinergi dengan Lapas dalam praktiknya dibantu penanganan programnya dalam setiap pembinaan yang diperoleh para narapidana terorisme, terutama dalam pembinaan kepribadian yang menekankan wawasan keagamaan dengan turut menghimbau para napiter untuk sholat jamaah, kajian bersama dengan narapidana lain di masjid Lapas, dan wawasan kebangsaan dalam satu atau dua kali kesempatan mengajak para napiter untuk menjadi petugas upacara kebangsaan yang dihadiri beberapa pejabat setingkat kementerian di dalam Lapas.
101 Hasil wawancara langsung dengan Bapak Boy selaku Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Cipinang , Jakarta (Via Video Call) pada tanggal 18 November 2020 pukul 15.13
102 Pasal 1 nomor 6, Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2019 tentang Pencegahan Tindak Pidana Terorisme dan Pelindungan terhadap Penyidik, Penuntut Umum, Hakim, dan Petugas Pemasyarakatan.