BAB III PEMAHAMAN DAN ANALISIS LAHAN (LANDFORM)
3.2.3 Ragam Topografi Lahan
Berdasar penampakan bentuknya, bagian lahan dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Lahan datar
2. Lahan cembung (convex landform) 3. Punggung bukit (ridge)
4. Lahan cekung (concave landform)
Lahan datar adalah bagian lahan yang dalam peta tergambarkan oleh garis-garis kontur yang jarang. Skala lahan datar bervariasi dari sebagian petak tapak (site), sebuah site, hingga suatu padang luas. Pada umumnya lahan datar memiliki sifat paling stabil di bandingkan dengan jenis lahan yang lain, sebab tanah di lahan datar relatif lebih statis, dan paling seimbang terhadap gaya grafitasi bumi. Secara arsitektural, dominasi horisontal, menciptakan rasa visual yang tenang dan statis. Namun begitu lahan datar miskin rasa 3 dimensi, terasa sangat terbuka dan tidak memberikan definisi suatu ruang luar.
13
Lahan cembung (bukit), merupakan massa solid positif dan ruang negatif (ruang yang terisi) yang tergambarkan oleh garis-garis kontur konsentrik dengan titik tertinggi di tengah.Berbeda dengan lahan datar, lahan cembung mengekspresikan rasa dinamis, aggresif dan kemegahan. Sebagai massa solid positif, lahan cembung dapat menjadi focal point dalam hamparan lansekap. Sedangkan sisi-sisinya dapat berfungsi sebagai dinding untuk mendefinisikan suatu ruang luar.
Bagian lahan yang hampir sama dengan lahan cembung adalah punggung bukit (ridge).
Perbedaannya adalah: punggung bukit (ridge) merupakan titik-titik puncak dari lahan yang membentuk garis linear, sedangkan lahan cembung cenderung kompak dan terpusat. Pada peta kontur, ridge di tampilkan oleh suatu kurva tertutup yang memanjang dan kadang bercabang-cabang secara organik.
Bagian lahan cekung atau lembah, merupakan solid negatif yang membentuk ruang positif berbentuk seperti mangkok. Lahan cekung/lembah menciptakan suatu ruang luar dengan tingkat keterlingkupan (enclosure) yang relatif kuat. Lembah dapat diidentifikasi pada peta kontur berupa area garis-garis konsentrik yang semakin ke tengah semakin rendah elevasinya.
Dari sisi hidrologi, lembah dan lahan datar merupakan area yang relatif kaya kandungan air dibandingkan area lahan cembung dan ridge.
Gambar 3.1 Ragam Topografi 3.2.4 Pengaruh Topografi dan Pemanfaatannya
Topografi dapat dikatakan sebagai sifat dasar dari lahan karena menentukan sistem alam yang lain: misalnya pola aliran air, yang pada akhirnya juga berpengaruh terhadap erosi dan sedimentasi. Bersamaan dengan kondisi air yang dibentuknya, topografi juga menentukan susunan tanah yang akhirnya menetukan pola tumbuh dan sebaran vegetasi.
14
Karena sifatnya, topografi menjadi faktor alam yang sangat menentukan pola pengembangan kawasan, posisi dan orientasi bangunan, tata jaringan utilitas, dan tata lansekap.3.3 PENUTUP
Pertanyaan: Untuk mengukur keberhasilan menguasai materi, anda dapat melakukan tes terhadap diri sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Jelaskan mengapa kita perlu mempelajari topografi dan sifat fisik tanah untuk keperluan praktek arsitektur?
15
BAB IVPEMAHAMAN DAN ANALISIS LAHAN (Pengertian dan Analisis Contur)
4.1 PENDAHULUAN 4.1.1 Deskripsi Singkat
Bagian ini berisi strategi pengolahan lahan untuk keperluan pembangunan. Terkait dengan topografi, prinsip-prinsip yang di sampaikan adalah teknik penggambaran dan interprestasi kontur menjadi informasi tapak yang lain (kemiringan, ketinggian), serta gagasan-gagasan pemanfaatan topografi dalam perencanaan tapak. Perihal geologi dan tanah, aspek pentingnya adalah pemahaman akan sifat dan perilaku batuan yang berkait dengan daya dukung dan kestabilan, potensi permasalahan, deliniasinya dalam peta, kondisi air tanah berkait dengan jenis dan permeabilitas, serta strategi penanganannya.
4.1.2 Manfaat (Relevansi)
Manfaat yang dapat diperoleh pada pembelajaran bab ini yaitu Dengan materi di bab ini mahasiswa dapat mengolah lahan dari bentuk lahan bagaimanapun jenisnya menjadi lahan yang dapat memiliki nilai jual lebih.
1.1.3 Learning Outcomes
Mampu menganalisis kontur dan melakukan pengolahan pemanfaatan lahan
4.2 URAIAN 4.2.1 Peta Kontur
Peta kontur adalah ekspresi topografi paling umum. Peta kontur berisi garis-garis yang menghubungkan semua titik berketingggian sama diukur dari suatu patokan bidang horisontal. Garis-garis tersebut membentuk suatu kurva tertutup. Harus di ingat bahwa garis kontur hanyalah garis artifisial yang tidak pernah tampak pada lahan nyata kecuali kebetulan terposisikan tepat pada batas sisi bidang datar, badan air tenang, garis pantai dan sejenisnya.
Dalam teori, kurva yang terbentuk oleh garis kontur akan tercipta bila suatu kaca datar memotong gundukan tanah.
4.2.2 Peta Ketinggian (Elevation)
16
Dari peta kontur dapat dihasilkan peta baru yang mengindikasikan klasifikasi bagian lahan berdasar ketinggian. Klasifikasi ketinggian pada umumnya di tetapkan berdasar standar atau kepentingan tertentu, misalnya batas area tergenang, potensial genangan, atau bahkan perbedaan karakter tanaman yang dapat hidup. Beda dengan peta kontur yang informasinya di ungkapkan dalam bentuk vektor, peta ketinggian memberikan informasi dengan poligon/area. Setiap area mengindikasikan bagian lahan dengan angka ketinggian tertentu. Untuk mempermudah pembacaan, peta ketinggian dapat dilengkapi dengan arsiran atau warna.
Gambar 4.1 Peta Ketinggian (elevasi)
Gambar 4.2 Interpretasi Arsiran pada Peta Ketinggian (Elevasi)
17
4.2.3 Peta Kemiringan (Slope)Peta kontur juga dapat di interprestasi menjadi peta kemiringan, yang di ungkapkan dalam satuan derajat atau: persentase. Kemiringan diperhitungkan dari dua garis kontur dengan menggunakan rumus phytagoras, yaitu dengan menarik garis antara dua garis kontur, mengukur jarak horisontal dan menjumlahkan intervalnya. Dari perhitungan berbagai titik sampel, kita dapat menghasilkan peta baru. Sama dengan peta ketinggian, peta kemiringan berupa peta data poligon. Setiap area dalam poligon mengindikasikan bagian lahan dengan klasifikasi kemiringan tertentu dan dapat dilengkapi dengan arsir dan warna. Klasifikasi kemiringan pada umumnya ditetapkan berdasar pertimbagan pembangunan. Berikut ini adalah contoh klasifikasi lahan berdasar kemiringannya (tanpa pertimbangan komponen lain, misalnya jenis tanah):
1. kemiringan < 1 %: aliran drainase jelek, mudah terjadi genangan kemiringan 1 – 3 %:
paling sedikit masalah karena aliran air bagus,
2. kemiringan 1 – 3 %: paling sedikit masalah karena aliran air bagus, karenanya paling optimal bagi pembangunan. Tetapi di lain sisi, lahan seperti juga paling bagus untuk pertanian.
3. kemiringan 3 – 5 %: relatif baik untuk pembangunan dengan konstruksi sederhana dan penutupan tanah sedikit.
4. kemiringan > 8 %: menyulitkan perancangan struktur, terutama dengan pondasi besar. Di lain pihak, kemiringan seperti ini memberikan kemewahan area pandang.
Gambar 4.3 Interpretasi Arsiran Pada Peta Kelerengan (elevasi)
18
Gambar 4.4 Perhitungan Penilaian Kelerengah LahanPrinsip penggambaran kontur:
1. garis kontur menghubungkan titik-titik selevel
2. Kontur membentuk kurva tertutup (walau tidak terlihat pada satu lembar peta)
3. satu garis kontur tidak dapat di pecah 4. antara garis kontur tidak dapat saling
memotong
5. Kerapatan antar garis kontur menggambarkan tingkat kemiringan lahan. Semakin rapat, kemiringan lahan semakin terjal.
19
4.3 PENUTUPTugas: Buatlah perencanaan cotages dengan metode cut and fill pada peta contur yang telah disediakan
20
BAB VPEMAHAMAN DAN ANALISIS HIDROLOGY
(Sistem Hidrologi dan Pemanfaatan Air Dalam Tapak)
5.1 PENDAHULUAN 5.1.1 Deskripsi Singkat
Air dalam tapak merupakan elemen desain yang penting. Air dapat dimanfatkan secara fungsional, misalnya untuk air minum dan pendingin udara, untuk keperluan estetika seperti kolam dan air terjun. Air juga berfungsi untuk kehidupan tanaman dan binatang. Tetapi dalam kondisi tertentu, bila salah mengelolanya, keberadaan air dapat menimbulkan bencana dalam tapak, misalnya munculnya banjir, genangan dan erosi. Untuk dapat mengolah air dalam tapak secara optimal, perencana harus memahami sifat/karakter dan perilaku air dalam tapak dan kaitannya dengan sistem air secara lebih luas.
5.1.2 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran pada bab ini adalah mahasiswa dapat mengelola pemanfaatan air dalam proses pembangunan wilayah.
5.1.3 Learning Outcomes
Mahasiswa Mampu memahami strategi dan teknik pengelolaan dan pemanfaatan air dalam tapak.
5.2 URAIAN
5.2.1 Sifat Fisik Air
Air adalah komponen lingkungan yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
Plastis: cair, tidak memilki bentuk tetap, bentuknya tergantung wadahnya.
Sensitif terhadap gravitasi: selalu bergerak mencari lokasi terendah.
Memiliki daya pantul (cermin) yang tinggi.
Daya serap dan daya simpan terhadap suhu dan gelombang energi yang tinggi.
Mampu meresap dalam tanah.
Dapat berubah bentuk dan berat jenis: air, uap, embun dan es.
21
5.2.2 Siklus airPada dasarnya air di alam ini selalu tetap jumlahnya. Yang terjadi hanyalah perubahan bentuk dan tempatnya saja. Dalam berbagai bentuk, air mengalami sirkulasi dalam suatu sistem siklus yang tertutup. Proses perubahan bentuk dan pergerakan air (sirkulasi) yang menentukan proporsi dan keseimbangan air di alam disebut siklus hidrologi. Dalam siklus hidrologi air dapat muncul dalam bentuk air, uap, embun, atau salju. Sedangkan proses yang terjadi adalah hujan, aliran, infiltrasi, penguapan, evapotranspirasi (penguapan dari tanaman), pengembunan, pembekuan, dan penyublinan.
Pada fase-fase tertentu dalam siklus, air dapat tersimpan atau melewati berbagai wadah (container). Air dapat tersimpan/melewati atmosfer, ruang di permukaan tanah, ruang di dalam tanah, serta dalam tubuh manusia, binatang dan tanaman. Masing-masing wadah tersebut dapat disebut sebagai sub sistem hidrologi.
Berdasarkan Ensiklopedia, Macam-Macam dan Tahapan Proses Siklus Hidrologi adalah:
A. Siklus Pendek / Siklus Kecil
1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
Gambar 5.1 Skema Siklus Air
22
2. Terjadi kondensasi dan pembentukan awan3. Turun hujan di permukaan laut B. Siklus Sedang
1.
Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari2.
Terjadi kondensasi3.
Uap bergerak oleh tiupan angin ke darat4.
Pembentukan awan5.
Turun hujan di permukaan daratan6.
Air mengalir di sungai menuju laut kembali C. Siklus Panjang / Siklus Besar1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari 2. Uap air mengalami sublimasi
3. Pembentukan awan yang mengandung kristal es 4. Awan bergerak oleh tiupan angin ke darat 5. Pembentukan awan
6. Turun salju
7. Pembentukan gletser
8. Gletser mencair membentuk aliran sungai
9. Air mengalir di sungai menuju darat dan kemudian ke laut
Sedangkan menurut peneliti air, William Waterway Marks, mengemukakan teori terbaru mengenai "Definisi terbaru siklus air di bumi". Menurutnya definisi lama itu hanya mencakup sepertiga dari siklus air bumi, dan tidak menggambarkan penelitian ilmiah terbaru. Definisi terbaru untuk siklus air sekarang dinamakan dengan "Waterway Cycle" atau
"Siklus Waterway".
Definisi ini menggambarkan penelitian ilmiah, dan yang paling utama memasukkan tiga siklus yang saling berkaitan yang diketahui sebagai "Cosmic Water Cycle (siklus air di kosmik)", "the Atmospheric Water Cycle (siklus air di atmosfer)" dan "the Oceanic Water Cycle (siklus air di lautan)". Tiga siklus air di bumi itu saling berkaitan dalam hal proses pergantian air di bumi.
Siklus air di lautan (oceanic water cycle) merupakan siklus yang terjadi di lautan dimana air laut di daur ulang secara terus menerus dengan cara diserap ke dalam bumi lalu dikeluarkan kembali. Untuk Siklus air di atmosfer (the Atmospheric water cycle) merupakan
23
siklus yang terjadi akibat adanya pemanasan oleh matahari terhadap bumi. Sedangkan Siklus air di kosmik adalah siklus yang terjadi antara bumi dengan ruang angkasa.5.2.3 Curah Hujan
Curah hujan merupakan unsur iklim dalam skala regional (dalam sistem lansekap adalah skala khorologi), misalnya skala kota atau bagian kota. Curah hujan merupakan sumber utama dari sistem air pada suatu daerah aliran sungai. Dalam suatu wilayah ekosistem regional, pada umumnya terdapat variasi curah hujan yang dipengarui oleh topografi, dan pada perkembangannya juga oleh aktifitas guna lahan. Deliniasi daerah curah hujan dari DAS dalam peta disebut dengan peta Isohyet.
5.2.4 Sirkulasi Air dalam Lansekap Regional
Dalam lansekap regional yang merupakan satu kesatuan wilayah sistem aliran air (daerah aliran sungai/watershed), air mengalami sirkulasi melalui atmosfer, permukan tanah dan di bawah tanah. Baik melalui permukaan ataupun dalam tanah, air mengalir dari area yang lebih tinggi menuju area yang lebih rendah. Area yang lebih tinggi di sebut area tangkapan (recharge area) dan mendapatkan air dari hujan. Sedangkan area yang lebih rendah disebut area buangan (dischrage area). Biasanya di area tangkapan, muka air tanah terletak relatif dalam, sedangkan pada area buangan air tanah relatif dangkal (mendekati muka tanah). Pola sirkulasi air dalam watershed tergantung pada:
a. Daerah iklim (posisinya terhadap matahari yang menetukan karakter curah hujan Topografi yang menetukan pola aliran;
b. Geologi serta sifat dan derajat ketertutupan tanah (termasuk adanya vegetasi) yang menetukan kemampuan infiltasi dan penyimpanan.
24
5.2.5 Sirkulasi Air RegionalPada dasarnya sumber air permukan adalah air hujan yang terjadi pada saat curah hujan melampui kecepatan infiltrasi, evaporasi, dan evapotransporasi. Jika air yang turun sebagai hujan (atau salju) tidak dapat diresapkan ke dalam tanah dan tidak habis pula diuapkan, air akan mengalir dipermukaan lahan sebagai limpasan permukaan. Limpasan permukaan terjadi di seluruh bagian lahan tempat air hujan jatuh, sebelum berkumpul ke dalam parit-parit kecil dan mengalir bersama-sama menuju sungai. Sungai mengangkut air menuju laut.
Pola limpasan alami suatu wilayah watershed yang muncul sebagai pola aliran sungai pada dasarnya sangat tergantung pada kondiri topografi dan geologi wilayah tersebut.
Berikut ini adalah ragam pola aliran sungai yang umum yang dipengaruhi dan mengindikasikan kondisi fisik lahan wilayah.
1. Denritik (seperti cabang pohon): daerah mempunyai struktur batuan yang homogen;
2. Rectangular (cabang-cabang aliran saling tegak lurus):
daerahnya mempunyai kekar-kekar atau sesar-sesar yang memiliki arah-arah tertentu;
3. Trellis (seperti sirip ikan): daerahnya merupakan daerah lipatan yang kuat atau lapisannya miring dengan macam-macam batuan (heterogen)
4. Radial menyebar: daerah gunung api (dome muda)
25
5. Annular (aliran melingkar dan menyebar ke segalka arah:dome dewasa yang telah banyak mengalami erosi;
6. Multi basinal (aliran terputus-putus): daerah karst dengan aliran hanya pada waktu hujan.
Pola limpasan permukaan akan termodifikasi dengan adanya penutupan lahan seperti vegetasi, bangunan, jalan, dan perkerasan.
5.2.6 Aliran Air Tanah dalam Struktur Lansekap
Jaring-jaring dan siklus hidrologi mencerminkan keterkaitan antar bagian dari sistem lansekap. Jaring-jaring ini muncul di permukaan, di atmosfer maupun di dalam tanah. Jejaring hidrologi pada permukaan lahan telah kita bahas secara singkat pada bagian limpasan permukaan regional. Sedangkan untuk memahami jejaring hidrologi dalam tanah, kita dapat mengadopsi konsep dari Toth (1963).
Berdasar konsep ini, aliran air dibawah tanah terdiri dari sistem jaringan yang bertingkat dan superimpose antara sub sistem hidrologi lokal dan regional. Pada prinsipnya, pada bagian-bagian lahan senantiasa ada bagian asupan (recharge area) dan bagian buangan (discharge area). Air selalu datang dari area asupan menuju area buangan. Sistem hidrologi lokal terjadi sebagai akibat dari kondisi topografi mikro (microlandform) dan kondisi tanahnya, sedangkan sistem hidrologi regional ditentukan oleh kondisi geologi dan topografi regional (macrolandform).
5.2.7 Lapisan Hidrogeologi
Bagian tanah yang dapat di masuki/dilalui air disebut sebagai lapisan tanah yang permeable, yaitu yang disebut sebagai lapisan aquifer. Di tempat inilah air tanah disimpan.
Tidak semua lapisan geologi memberi peluang terdapatnya air tanah. Berdasar pada sifat ini, pelapisan geologi dapat di bedakan menjadi:
1. Aquifer (lapisan pembawa air): lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan geologi yang memiliki permeabilitas tinggi sehingga dpat menyimpan dan mengalirkan air tanah dalam jumlah besar;
26
2. Aquitard (lapisan kedap air): lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan geologi yang memiliki permeable rendah yang hanya dapat menyimpan air tanah tetapi tidak dapat mengalirkannya;3. Aquiclude (lapisan kebal air) : lapisan, formasi,atau kelompok formasi satuan geologi yang impermeable, sama sekali tidak mengandung air.
Kondisi alami dan distribusi aquifer, aquitard dan aquiclude dalam sistem geologi ditentukan oleh lithologi, stratigrafi, dan struktur dari material simpanan geologi dan formasinya.
Tanah yang memiliki cukup rongga dapat untuk dimasuki air. Namun demikian, posisi bagian tanah ini juga mempengaruhi kapasitas kondisi air tanah pada suatu lahan. Secara geologi, bagian tanah yang menyimpan air dapat terletak di atas, di bawah, atau di antara suatu jenis tanah/batuan yang lain. Unconfined dan semiunconfined aquifer memiliki peluang untuk mendapatkan asupan air secara langsung mendapat dari permukaan tanah karena tidak adanya lapisan kedap air di atas lapisan ini. Lapisan-lapisan diatas dapat berulang secara vertikal. Berdasarkan posisinya, lapisan pembawa air (aquifer) dapat dibedakan menjadi:
1. Confined aquifer (lapisan pembawa air tertekan): Aquifer jenuh air yang terletak diantara aquiclude dan memiliki tekanan lebih besar dari tekanan atmosfer.
2. Unconfined aquifer (lapisan pembawa air bebas): Aquifer jenuh air yang dibatasi aquitard di bawahnya dan tidak memilki pembatas di atasnya.
3. Aquifer ini adalah aquifer yang memiliki muka air tanah (water table).
Terdapat 3 ragam unconfined aquifer adalah: akuifer lembah (danau dan sungai); akuifer aluvial. Artesian aquifer: merupakan confined aquifer, dimana konduktifitas hidroliknya lebih tinggi dari permukaan tanah, sehingga bila di lakukan pengeboran akan timbul pancaran ke atas (melawan gravitasi), hingga mencapai ketinggian hidroliknya.
Daerah-daerah yang banyak terdapat lapisan pembawa air (aquifer) adalah:
1. daerah dataran banjir 2. lembah-lembah mati 3. dataran pantai
4. dataran/lembah antar gunung
5. daerah batu gamping yang banyak rekahan 6. daerah bahan organik (mis: gambut)
27
Gambar 5.2 Posisi Lapisan Akuifer5.2.8 Muka Air Tanah
Sesuai dengan sifat dasar air, air tanah pada aquifer pun mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Relief bagian atas dari lapisan ini, atau yang disebut dengan muka air tanah, secara garis besar akan mengikuti/terefleksikan oleh topografi bila tidak ada perbedaan asupan maupun pengambilan di seluruh lahan. Namun bila terdapat asupan atau pengambilan air tanah, kedalam muka air tanah bervariasi. Pada bagian lahan yang banyak terjadi resapan air (misalnya tanah permeable dengan pepohonan rapat), muka air tanah akan menjadi dangkal. Bahkan pada suatu area lahan dengan elevasi rendah atau pada area lembah, muka air tanah dapat saja muncul ke permukaan, sejajar dengan muka air pada badan air seperti sungai, danau atau air tergenang. Hal ini menandakan bahwa pada tempat tersebut tanah dalam kondisi jenuh. Kebalikanya, muka air tanah akan turun bila terjadi pengambilan yang berlebihan. sebaran dan aliran ini sangat menentukan
5.2.9 Air Dalam Tanah
Air dalam tapak hanya merupakan potongan rangkaian kecil dari siklus hidrologi, bahkan masih relatif kecil dalam sirkulasi air pada daerah aliran sungai. Sirkulasi air dalam tapak tidak pernah dapat benar-benar tertutup dan hanya memiliki fase-fase yang sangat tidak lengkap. Namun demikian beberapa proses, seperti precipitasi, infiltrasi, run off, evaporasi, dan evapotransporasi tetap terjadi. Dalam tapak air juga berpeluang untuk
28
tersimpan atau mengalir di permukaan dan dalam tanah. Kejadian genangan, pola dan volume aliran permukaan serta besaran/simpanan air dalam tanah tergantung pada intensitas hujan, topografi dan jenis tanah pada tapak. Kondisi air permukaan dan air di dalam5.2.10 Air Permukaan dalam Tapak
Perilaku air permukaan sangat terkait dengan topografi. Terdapat hubungan kauasalitas yang timbal balik antara air permukaan dan topografi. Topograf menentukan lokasi, kecepatan aliran serta keberadaan genangan. Sebaliknya, perilaku air (bersama dengan angin dan komponen lain) yang membentuk/memodifikasi topografi kembali.
Pola aliran dan genangan air yang potensial muncul di atas permukan tanah dapat di interprestasikan dari peta kontur. Langkah pertama adalah mengindikasikan garis punggung bukit (ridgeline) dan lembah menerus (swaleline). Kemudian kita dapat menggambarkan arah aliran air (limpasan permukaan) dari sepanjang ridgeline menuju sepanjang swaleline.
Swaleline mengindikasikan jalur konsentrasi aliran air. Area lembah (lahan cekung) yang merupakan tempat bertemunnya beberapa swalelines merupakan area potensial genangan.
Besarnya limpasan permukaan terutama tergantung dari besarnya asupan curah hujan dan kapasitas infiltrasi. Sedangkan kecepatan (velocity) aliran air tergantung dari kondisi topografi lahan dan lapisan permukaannya.
Gambar 5.3 Pembagian Daerah Limpasan Air Pada Tapak Keterangan:
1. Punggung bukit (ridge) ditandai dengan garis putus-putus pada peta yang merupakan titik puncak dari lahan yang membentuk garis linear,
2. Swalelines (lembah aliran) bagian menyempit yang mengalirkan air dari punggung bukit
29
ke elevasi yang lebih rendah3. Arah aliran ditandai dengan garis panah yang menandakan arah aliran air menuju ke elevasi yang lebih rendah melalui lembah aliran.
4. Area genangan adalah bagian yang berkarakter cekung dipermukaan yang memiliki tingkat elevasi yang rendah sehingga berpotensi untuk menampung air/terjadinya genangan.
Kondisi permukaan
Koefisien run off untuk jangka waktu rancangan*
< 10 tahun 25 tahun 100 tahun Jalan, jalur kendaraan, pedestrian
Aspal
Halaman rumput pada tanah berpasir Halaman rumput pada tanah
lempung Padang rumput pada pasir
<2 % Padang rumput pada lempung
<2 % Lahan berpohon besar pada pasir
<2 %
30
5.2.11 Estimasi Debit Aliran PermukaanMetode paling sederhana untuk memperhitungkan debit aliran permukaan pada area yang tidak terlalu luas (skala tapak maksimum 0.8 Km2) adalah metode rasional dari Mulvaney (1850).
Rumus ini popular karena kemudahannya. Tetapi untuk keperluan perencanaan tapak harus di modifikasi dengan memperhatikan variasi dari variable-variable tersebut. Intensitas curah hujan dapat di anggap seragam untuk seluruh tapak, tetapi sebagaimana telah kita pelajari pada bab-bab sebelumnya, tidaklah demikian dengan kondisi topografi, jenis tanah, dan penutupan tanah. Variasi topografi dan kondisi tanah haruslah kita perhitungkan untuk itu perhitungan yang lebih realistis. Untuk itu koofisien C untuk seluruh tapak harus dimodifikasi.
Analisa limpasan pada tapak sebaiknya dilakukan setelah dilakukan pembagian watershed. Seperti telah dipelajari sebelumnya, pembagian watershed ditentukan oleh topografi dengan ridge (punggung bukit) sebagai batas yang membagi lahan menjadi beberapa watershed.
Dalam lingkup watershed, genangan juga di asumsikan mendapat air hanya dari lereng-lereng yang melingkupinya saja, kemudian lereng-lereng tersebut diperlakukan sebagai berikut:
1. klasifikasikanlahan berdasar kemiringan dan jenis tanah
1. klasifikasikanlahan berdasar kemiringan dan jenis tanah